NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: BAYANG-BAYANG DI BALIK BUKTI

BAB 4: BAYANG-BAYANG DI BALIK BUKTI

Matahari pagi belum sepenuhnya terbit saat kabut tipis masih membungkus area parkir gedung VPCI. Meskipun kasus pembunuhan Hartawan telah resmi ditutup oleh pihak kepolisian dan nama VPCI meroket di berbagai media massa, suasana di dalam kantor agensi justru terasa sangat berbeda.

Ada ketegangan sunyi yang menggantung di udara, sebuah riak halus yang ditinggalkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Di ruang laboratorium medis lantai bawah, dr. Sara Maheswari berdiri di depan papan transparansi kaca. Tangannya memegang spidol spidol hitam, mencoret-coret garis alur kronologi otopsi Hartawan. Di sebelahnya, Nadia sibuk mengurutkan sampel jaringan yang telah disterilkan untuk disimpan ke dalam arsip permanen.

"Ada selisih waktu empat menit, Nadia," ujar dr. Sara tiba-tiba, memecah keheningan lab yang hanya dihiasi dengung pendingin ruangan.

Nadia menghentikan jemarinya pada kotak spesimen. "Selisih waktu apa, Dok?"

"Antara saat Reno menyentuh kancing kemeja di ruang rapat, sampai dia menyuruhku memeriksa sela jari kaki," dr. Sara membalikkan badan, menatap asistennya dengan pandangan tajam.

"Reno tidak melakukan perhitungan matematis. Dia tidak melihat sampel darah di bawah mikroskop. Dia hanya memegang kancing logam itu selama beberapa detik, lalu... boom. Dia menyebutkan dua lokasi spesifik trauma fisik yang sama sekali belum tersentuh oleh tim medis."

Nadia menelan ludah secara refleks. Sebagai asisten yang paling sering berinteraksi dengan Sara, ia tahu betul betapa terobsesinya sang dokter pada logika ilmiah. "Mungkin... Mas Reno punya sumber informasi lain yang tidak dia sebutkan, Dok? Atau mungkin analisanya memang sejenius itu?"

"Tidak ada analis genius yang bisa memprediksi diameter jarum suntik sembilan belas gauge hanya dari melihat kancing kemeja yang robek, Nadia," bisik dr. Sara pelan. Suaranya sarat akan rasa penasaran yang nyaris membakar ketenangannya.

"Ada sesuatu yang disembunyikan Reno. Dan aku akan mencari tahu apa itu."

Sementara itu, di ruang kerja utama VPCI, suasana tidak kalah sibuk. Dion 'Zero' Prasetya sedang mengunyah donat dingin sambil menatap layar monitornya yang menampilkan laporan pembayaran dari istri alm. Hartawan. Dana segar dalam jumlah fantastis telah masuk ke rekening operasional agensi.

"Kita resmi kaya raya, Guys!" seru Dion sambil mengangkat cangkir kopinya ke udara.

"Kasus pertama sukses besar, bonus klien cair, dan nama VPCI masuk kolom berita utama hari ini!"

Widya Kusuma yang baru masuk sambil membawa tumpukan dokumen baru hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Dion.

"Jangan senang dulu, Dion. Suksesnya kasus pertama berarti ekspektasi publik—dan para pelaku kriminal di luar sana akan semakin tinggi pada kita. Pagi ini saja sudah ada empat permintaan investigasi baru yang masuk ke surel agensi."

Reno Devano melangkah keluar dari ruang kerjanya. Mantel hitamnya terpasang rapi, meski raut wajahnya menyiratkan kelelahan yang mendalam. Penglihatan psychometry kemarin tidak hanya menguras fisiknya, tetapi juga meninggalkan beban mental.

Setiap kali ia menyentuh barang bukti dan menyerap detik-detik terakhir kehidupan seorang korban, penderitaan dan rasa takut korban seolah ikut tertanam di dalam ingatannya.

"Pilih kasus yang paling membutuhkan bantuan kita, Widya," kata Reno datar, menuangkan air putih ke gelasnya. "Kita bukan agensi gosip pemergok perselingkuhan. Fokus pada kasus-kasus kriminal yang macet di tangan kepolisian."

"Siap, Bos," jawab Widya singkat.

Tepat saat itu, pintu geser laboratorium terbuka. dr. Sara melangkah keluar dengan jas putihnya, memegang satu lembar berkas analisis tambahan. Matanya langsung mengunci keberadaan Reno.

"Reno, aku butuh bicara sebentar. Di laboratorium. Sendirian," tegas dr. Sara dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Dion dan Widya saling pandang secara refleks, merasakan atmosfer dingin yang mendadak menyeruak. Reno menghentikan tegukan airnya, menatap dr. Sara tenang sebelum mengangguk pelan. "Baiklah."

Pintu kaca kamar jenazah tertutup rapat, secara otomatis mengaktifkan peredam suara ruangan. Di antara meja stainless steel yang dingin dan aroma antiseptik yang khas, dr. Sara berdiri bersedekah tangan di depan Reno.

"Ada bukti baru yang tertinggal?" tanya Reno membuka percakapan, mencoba mengarahkan fokus pada pekerjaan.

"Tidak ada bukti baru dari jasad Hartawan," sahut dr. Sara dingin. Ia melangkah mendekati Reno hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Tapi ada bukti kejanggalan dari caramu bekerja, Reno."

Reno tak bergeming. "Aku tidak paham maksudmu, Sara."

"Jangan berakting di depanku," potong dr. Sara cepat, suaranya bergetar menahan emosi yang terpendam sejak kemarin. "Aku sudah mengulang rekaman CCTV ruang rapat puluhan kali. Saat kamu mengambil kancing kemeja Hartawan dari kantong spesimen, tubuhmu merinding seketika.

Detak napasmu memburu, matamu membelalak kosong seperti orang yang sedang mengalami trauma hebat, dan wajahmu pucat pasrah selama lima detik."

Reno memicingkan mata. Ia lupa bahwa dr. Sara bukan hanya ahli membaca jaringan tubuh mayat, tetapi juga sangat jeli membaca bahasa tubuh manusia yang masih hidup.

"Itu hanya reaksi kelelahan, Sara.."

"Bukan!" sela dr. Sara tajam, melangkah satu tindak lebih dekat. "Itu bukan kelelahan! Kamu bereaksi seolah-olah kamu melihat atau merasakan kejadian pembunuhan itu secara langsung saat jemarimu menyentuh kancing tersebut! Bagaimana bisa kamu tahu ada dua pelaku?

Bagaimana bisa kamu tahu letak tusukan di sela jari kaki sebelum aku membuka pembungkus jasadnya?!"

Suasana kamar jenazah mendadak menjadi sangat senyap. Hanya suara berdengung dari lemari pendingin sampel yang terdengar di antara mereka. Reno menatap mata dr. Sara yang memancarkan kejujuran, ketegasan, sekaligus kebingungan yang amat dalam.

Sang dokter butuh jawaban yang masuk akal demi memuaskan dahaga logikanya, sementara Reno memegang rahasia yang tidak boleh bocor kepada siapapun demi keselamatan dan kredibilitas agensi ini.

Reno menarik napas panjang, merendahkan nada suaranya hingga terdengar begitu dalam dan penuh intrik.

"Sara... dalam dunia investigasi, ada garis tipis antara apa yang bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan apa yang dirasakan oleh naluri manusia," ujar Reno pelan.

"Kamu memiliki ilmu medis untuk membuktikan kejahatan di atas meja otopsi. Tapi aku... aku punya caraku sendiri untuk menemukan ke mana arah bukti itu harus dicari."

"Caramu tidak rasional, Reno!" bisik dr. Sara, matanya berkaca-kaca menahan rasa frustrasi. "Sains adalah fondasi utama VPCI! Jika kamu bekerja berdasarkan keajaiban atau hal-hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bagaimana kita bisa mempertahankannya di pengadilan saat ada kasus yang lebih besar?!"

"Bukankah kemarin bukti fisiknya tetap berhasil kamu temukan secara ilmiah?" balik tanya Reno tenang namun menohok.

"Aku tidak pernah memintamu memalsukan laporan medis. Aku tidak pernah memintamu membawa 'naluriku' ke meja hijau. Yang kulakukan hanya memberimu petunjuk dan kamulah, dengan kejeniusan medismu, yang mengubah petunjuk itu menjadi bukti hukum yang sah."

dr. Sara bungkam. Kata-kata Reno menghantamnya tepat di ulu hati. Memang benar, Reno tak pernah menyuruhnya berbohong. Reno hanya bertindak seperti sebuah 'kompas' rahasia yang menunjuk ke arah kegelapan, dan dr. Sara-lah yang menyalakan apinya.

Sebelum dr. Sara sempat membalas, sirine darurat kecil di sudut atas dinding laboratorium mendadak menyala merah berkedip-kedip tanda bahwa ada panggilan darurat utama dari ruang operasional di atas.

Bip! Bip! Bip!

Suara Dion bergema dari speaker interkom laboratorium, terdengar sangat panik dan terengah-engah.

"Reno! Dokter Sara! Cepat naik ke atas sekarang!" teriak Dion dari interkom. "Kita punya kasus darurat baru! Ini bukan klien biasa... Polisi baru saja menemukan jasad seorang hakim senior di dalam mobilnya yang tenggelam di danau kota!"

Reno dan dr. Sara saling pandang seketika. Ketegangan pribadi di antara mereka mendadak lebur, tergantikan oleh panggilan tugas yang mendesak.

"Ada pesan aneh yang ditinggalkan pelaku di kaca mobil korban," lanjut suara Dion, semakin cemas. "Pelaku melukis lambang mata bersinar menggunakan cat merah... dan menuliskan pesan khusus yang ditujukan untuk agensi kita!"

Mata Reno membelalak. Lambang mata bersinar. Lambang yang sangat identik dengan visi kilas balik yang selalu muncul di dalam kepalanya saat indra ke-6 nya aktif.

Reno tidak menunggu lama lagi. Tanpa mengucap sepatah kata pun pada dr. Sara, ia memutar tubuhnya dan berlari cepat keluar dari kamar jenazah menuju tangga utama. dr. Sara menyambar tas medisnya dan menyusul tepat di belakangnya.

Rahasia indra ke-6 Reno mungkin belum sepenuhnya terbongkar di hadapan timnya, tetapi sebuah bayangan ancaman baru yang tampaknya mengenal rahasia tersebut kini telah melambaikan tangannya dari kegelapan, menyeret VPCI ke dalam permainan misteri yang jauh lebih berdarah dan berbahaya.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!