NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Dua Belas Payung

Senin pagi, hujan turun seperti ada yang membalik ember raksasa di atas Bandung.

Lia berdiri di pintu rumah kontrakannya dengan payung lipat yang sudah karatan di ujung rangkanya. Angin menerpa, dan payung itu melengkung ke arah yang salah dengan bunyi krek yang menyedihkan. Ia menatapnya sebentar, lalu menghela napas, memasukkannya ke tas, dan memesan taksi daring dengan harga dua kali lipat karena hujan.

Sampai di kantor, ia basah di ujung rok dan sepatu. Dinda menyambutnya di lobi dengan handuk kecil dari tas. "Kamu dikutuk hujan, ya?"

"Aku dikutuk pekerjaan. Hujan cuma bonus."

Pukul sembilan tepat, seperti biasa, Lia masuk ke ruangan kaca itu untuk laporan harian. Ia sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan tidak masuk akal berikutnya. Halaman berapa. Warna apa. Bahasa apa. Ia bahkan sudah menyiapkan jawaban datar untuk semuanya.

Tapi Navin hanya mendengarkan.

Ia duduk di balik meja, mencatat sesekali, dan tidak menyela. Ketika Lia selesai, ia berkata, "Terima kasih. Lanjutkan." Lalu ia menunduk ke berkasnya lagi. Tidak ada satu pun pertanyaan konyol. Tidak ada tatapan yang menahan lama.

Lia berdiri di tempat selama satu detik lebih lama dari perlu. "Ada yang lain, Pak?"

"Tidak. Silakan."

Ia keluar dengan alis mengerut. Sepanjang hari, telepon di mejanya tidak berdering satu kali pun. Pukul sepuluh, sebelas, dua belas. Pukul dua. Tidak ada stabilo, tidak ada halaman tujuh, tidak ada bahasa kontrak. Ia terus memandangi pesawat telepon itu seperti memandangi anjing yang biasanya menggonggong dan tiba-tiba diam.

"Kamu kecewa?" bisik Dinda.

"Aku lega."

"Kamu menatap telepon itu dari tadi."

"Aku sedang memastikan telepon itu tidak rusak."

"Ophelia Puspa, kamu sedang berbohong padaku dan pada dirimu sendiri."

Lia menyerahkan map ke Dinda tanpa menjawab. Ia teringat Kamis dua pekan lalu, ketika ia keluar dari ruangan kaca itu dengan jemari gemetar. Kini ia keluar dengan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan: bukan gemetar, melainkan kehilangan pegangan.

Pukul lima sore, langit Bandung berubah gelap seperti menjelang malam. Petir menggelegar, membuat Sinta menjerit kecil di balik mejanya, dan hujan yang tadinya deras menjadi tembok air. Staf-staf berkemas, berdiri berkelompok di lobi sambil menatap ke luar dengan wajah cemas.

Sinta, di balik meja resepsionis, bergerak gelisah. "Kak Lia, aku minta maaf. Semua payung kantor tadi pagi dipinjam divisi penjualan buat kunjungan klien. Baru dibawa Pak Rangga tiga puluh menit lalu, dan katanya nanti dikembalikan."

"Dua belas semuanya?"

"Semuanya. Aneh, ya? Tiba-tiba diminta Pak Dimas dikumpulkan buat 'keperluan inspeksi'."

Lia mengangkat alis. Tapi sebelum ia sempat menanyakan lebih lanjut, satu per satu rekannya dijemput atau menembus hujan dengan jas hujan seadanya. Dinda dijemput suaminya, dan wajahnya yang tegang sedikit melembut ketika ia melambaikan tangan. Lia melambaikan tangan balik dan dengan sadar tidak memikirkan apa pun.

Sepuluh menit kemudian, lobi hampir kosong. Hanya ada Sinta yang sedang menghitung uang kas, seorang satpam di pintu, dan satu sosok lain yang berdiri di dekat dinding kaca dengan tangan di saku.

Navin.

Ia menatap hujan dengan punggung lurus. Bayangan tubuhnya jatuh panjang di lantai marmer yang basah. Lia mendadak menyadari betapa sepinya ruangan itu.

Sinta membungkuk dan berbisik, "Kak Lia, Pak Navin sudah berdiri di situ setengah jam. Katanya menunggu sopir."

"Terus?"

"Mobilnya sudah parkir di depan sejak tadi. Sopirnya duduk di dalam. Aku lihat sendiri."

Lia menoleh. Benar. Sebuah mobil hitam terparkir di depan pintu lobi dengan lampu menyala, dan seorang pria berseragam duduk santai di kursi kemudi sambil melihat ponsel.

"Barangkali dia sedang berpikir," gumam Lia.

"Berpikir di lobi, di tengah hujan, sambil menatap pintu keluar?"

"Sinta."

"Iya, iya, aku diam."

Lia mengambil napas, merapikan tasnya, dan berjalan ke arah pintu. Ia hanya perlu melewati pria itu. Lima langkah. Tiga langkah.

"Payungmu?"

Ia berhenti. Navin tidak menoleh. Suaranya rendah, hampir tenggelam dalam gemuruh hujan.

"Patah, Pak. Angin tadi pagi."

"Sopir saya bisa mengantar."

"Terima kasih, Pak, tapi tidak perlu. Saya bisa naik taksi."

"Taksi tidak akan datang. Jalan raya banjir."

Lia menatap punggungnya. Ia tidak bisa membantah, karena ia tahu itu benar. Ia melirik ponselnya. Ojek daring: tidak tersedia. Taksi: tidak tersedia. Jarak ke halte terdekat delapan ratus meter.

Navin merogoh sesuatu di balik dinding kaca, entah dari mana, dan menyodorkan sebuah payung hitam besar dengan gagang kayu. Payung itu tampak mahal dan bersih, seakan belum pernah dibuka.

"Saya kebetulan membawa dua," katanya, masih tidak menatapnya.

"Kenapa Bapak membawa dua?"

"Prakiraan cuaca."

"Prakiraan cuaca menyuruh Bapak membawa dua payung?"

"Ya."

"Dan Bapak tidak memakai satu pun untuk pulang?"

Sunyi. Dari sudut matanya, Lia melihat rahang pria itu menegang sedikit. "Saya diantar sopir."

"Sopir yang sudah menunggu setengah jam."

"Ophelia."

"Ya, Pak?"

"Ambil payungnya."

Nada itu tidak memerintah. Lebih mirip orang yang meminta tolong tanpa tahu bagaimana caranya. Lia akhirnya mengulurkan tangan dan menerima gagang kayu itu. Jemarinya tidak sengaja menyentuh telapak tangan pria itu, dan ia merasakan hangat yang tertinggal di kayu.

"Terima kasih, Pak."

"Ya."

Sunyi lagi. Navin membuka mulut, lalu menutupnya. Ia mengambil napas seperti orang yang bersiap menyelam.

"Ophelia, mengenai hari Kamis..."

"Ya, Pak?"

Ia menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka bertemu, dan Lia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di wajah pria itu: kegugupan yang telanjang, seperti anak kecil yang lupa isi pidatonya.

"...Hati-hati di jalan," ucap Navin akhirnya.

Lia berkedip. "Baik, Pak."

Ia berbalik, membuka payung, dan melangkah ke dalam hujan. Payung itu berbau samar, kayu cendana dan sesuatu yang hangat, yang mengingatkannya pada ruangan kaca itu. Payung itu lebar, cukup untuk dua orang, dan di bawahnya suara hujan menjadi bunyi lembut di kejauhan. Ia berjalan lima belas langkah sebelum menoleh sekali saja.

Pria itu masih berdiri di lobi. Tapi sekarang, tanpa payung di tangan, ia melangkah keluar dan mengangkat jasnya untuk melindungi kepala, lalu berlari kecil menuju mobil yang menunggu. Sopir buru-buru keluar membukakan pintu. Navin masuk dengan bahu basah kuyup dan rambut menempel di dahi.

Dari jauh, Lia melihat pemandangan itu dan, tanpa bisa dicegah, sudut bibirnya naik.

Ia baru sadar setelah dua detik. Ia menekan bibirnya rapat-rapat dan mempercepat langkah, tapi terlambat. Aturan kedua di buku catatannya, tidak tersenyum kecuali diperlukan, baru saja gugur di depan seorang CEO yang berlari menembus hujan.

Dan yang membuatnya makin kesal, ia sama sekali tidak menyesal. Ia bersumpah dalam hati untuk tidak menceritakan hal ini pada Dinda, sampai akhir hayat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!