NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Calon Suami

Penyesalan Seorang Calon Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Pengantin

Setelah malam yang panjang, pagi kembali menyapa. Dan seperti hari kemarin, Angga tidak lagi menikmati sarapan. Dan karena Angga sudah berangkat ke kantor lebih pagi, Ayana tidak lagi menyiapkan sarapan pagi. Ia pun langsung berangkat dan memilih sarapan di kantin rumah sakit.

Mereka masih tinggal di rumah yang sama, Nlnamun ada banyak hal yang sudah berubah. Mereka tidak lagi berbicara tentang masa depan sesering dulu. Tidak ada lagi percakapan panjang mengenai rumah yang ingin mereka tempati setelah menikah, dan candaan tentang siapa yang akan lebih sering bangun pagi untuk menyiapkan sarapan setelah menikah nanti.

Bahkan persiapan pernikahan yang sebelumnya menjadi bagian dari keseharian mereka kini terasa seperti sesuatu yang berjalan sendiri.

Beberapa hari sebelumnya, Ayana masih sibuk memilih warna bunga, model undangan, dan susunan meja untuk acara pernikahan mereka.

Sekarang, semua itu hanya tergeletak di ruang tengah. Ayana masih melihatnya, tetapi tidak lagi dengan perasaan yang sama.

Menjelang sore, Ayana pulang lebih cepat dari rumah sakit. Ia masuk ke dalam rumah dan meletakkan tas di sofa. Matanya kemudian tertuju pada sebuah kotak besar yang berada di sudut ruang tengah. Kotak itu sudah beberapa hari berada di sana.

Kotak berisi gaun pengantinnya. Gaun yang beberapa minggu lalu membuatnya begitu bersemangat. Gaun yang ia pilih setelah berjam-jam melihat berbagai model. Gaun yang seharusnya ia kenakan pada hari ketika dirinya berjalan menuju altar dan menjadi istri Angga.

Ayana berdiri cukup lama di depan kotak tersebut. Tangannya perlahan menyentuh permukaan kotak. Ia dan mengusapnya pelan. Entah kenapa, kali ini jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia kemudian membuka kotak itu, dan kain putih perlahan terlihat dari dalam.

Ayana menarik napas panjang. Ia mengangkat gaun tersebut dengan hati-hati lalu membawanya ke kamar. Tidak ada yang berubah, gaun itu masih terlihat indah. Potongannya masih sama, warna putihnya masih membuat kain itu terlihat bersih dan lembut. Bahkan ketika Ayana menyentuh bagian lengannya, ia masih bisa mengingat hari ketika ia pertama kali memilih gaun tersebut.

Saat itu ia tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Ia bahkan sempat mengirim foto kepada Angga. Angga membalas dengan mengatakan bahwa apa pun yang Ayana pilih akan terlihat indah.

Kenangan itu membuat Ayana tersenyum kecil. Namun senyum tersebut hanya bertahan sebentar. Ia kemudian berdiri di depan cermin dan menempelkan gaun itu di tubuhnya.

Untuk beberapa saat, Ayana hanya menatap bayangannya sendiri. Seorang perempuan dengan wajah yang terlihat lebih dewasa dibandingkan beberapa minggu lalu. Perempuan yang seharusnya sedang mempersiapkan hari bahagia. Tetapi mengapa sekarang ia justru merasa begitu berat?

Ayana mengusap permukaan kain gaun itu. “Kenapa semuanya jadi seperti ini?” gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban, ia hanya bisa melihat bayangannya sendiri di cermin.

Beberapa detik kemudian, suara pintu kamar terbuka. Ia buru-buru menggantung kembali gaun tersebut dan menutup pintu lemari.

Tidak lama kemudian, Angga muncul di ambang pintu kamar.

“Na, kamu sudah pulang?” Tanya Angga.

Ayana mengangguk. “Iya,” jawabnya.

Angga melangkah masuk dan melihat Ayana berdiri di depan lemari. Tatapannya kemudian teralih pada kotak gaun pengantin yang masih terbuka di atas lantai.

“Kamu baru melihat gaunnya?” Tanga Angga.

“Iya.” Ayana kembaki mengangguk.

Angga berjalan mendekat. “Apakah bagus?” tanyanya.

Ayana tersenyum tipis. “Masih sama seperti waktu pertama kali aku memilihnya.”

Angga ikut tersenyum. “Berarti kamu masih suka.”

Ayana tidak langsung menjawab. Ia menatap lemari yang di dalamnya terdapat gaun tersebut.

“Aku suka gaunnya.”

Angga mengernyitkan kening.

Ayana menggeleng. “Tidak ada apa-apa.” lanjutnya cepat.

Angga berdiri di samping Ayana. Untuk beberapa saat, keduanya salin bertatapan.

“Semua persiapan masih bisa dilanjutkan,” ucap Angga kemudian.

Ayana menoleh.

“Aku sudah bilang aku akan mencari cara lain.” lanjut Angga.

Ayana diam.

“Aku sedang mengurus beberapa hal,” ucap Angga lagi. “Aku belum bisa memastikan hasilnya, tapi aku tidak ingin masalah Rara mengganggu rencana pernikahan kita.”

Ayana menatap wajah Angga. “Jadi kamu masih ingin melanjutkan semuanya?”

“Tentu.”

Jawaban itu terdengar begitu cepat. Ayana hanya mengangguk. “Baiklah.”

Angga menatapnya beberapa saat. “Kamu masih ingin menikah denganku, kan?”

Pertanyaan itu membuat Ayana terdiam. Dulu, mungkin ia akan langsung menjawab. Sekarang, ia justru membutuhkan beberapa detik untuk menemukan jawabannya.

“Aku masih mencintaimu.” Jawabnya “Tapi…” Ayana menatap Angga dengan lekat. “Aku tidak tahu apakah kita masih menginginkan kehidupan yang sama.”

Wajah Angga berubah. “Na…”

“Aku tidak mengatakan aku ingin pergi.” Ayana menggeleng pelan. “Aku hanya mengatakan aku sedang mencoba memahami semuanya.”

Angga menghela napas. “Aku juga sedang berusaha. Jadi jangan berpikir aku tidak memikirkan perasaanmu.”

Ayana tersenyum kecil. “Aku tidak pernah berpikir begitu.”

Namun senyum itu justru membuat Angga semakin tidak nyaman. Karena ia tahu Ayana sedang berusaha mempercayainya. Dan ia tidak yakin apakah dirinya masih mampu memberikan keyakinan yang sama seperti sebelumnya.

Malam itu mereka makan malam bersama. Meskipun percakapan berlangsung singkat, tapi tidak ada pertengkaran, apa lagi pembahasan panjang tentang Rara.

Namun setelah makan malam selesai, Ayana kembali masuk ke kamar dan berdiri di depan lemari. Ia membuka pintu lemari tersebut. Gaun pengantin itu masih tergantung di sana dan Ayana menariknya keluar sekali lagi. Ia menatap kain putih tersebut dalam diam.

Dulu, gaun itu adalah simbol dari sebuah awal. Sekarang, gaun itu justru membuat Ayana bertanya apakah awal yang selama ini ia impikan masih bisa terjadi. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk gaun tersebut.

Tidak ada air mata yang jatuh, tapi dadanya terasa berat. Ayana tidak ingin menyalahkan Angga. Ia juga tidak ingin menyalahkan Rara. Ia tahu tidak ada seorang pun yang bangun setiap pagi lalu merencanakan untuk menghancurkan hubungan mereka.nSemua bermula dari masalah yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan.

Namun terkadang, masalah yang terlihat kecil bisa membawa seseorang pada keputusan yang mengubah banyak hal.

Ayana memandang cincin pertunangan di jarinya. Cincin itu juga masih melingkar di jarinya Begitu pula gaun pengantin di tangannya. Semua tanda bahwa pernikahan mereka masih direncanakan, masih ada. Undangan belum dibatalkan, gedung juga belum dibatalkan. Gaun masih tersimpan dan Angga masih mengatakan bahwa dirinya ingin menikahi Ayana.

Tetapi hati Ayana tidak lagi merasakan ketenangan yang sama. Ia mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya tentang hari ketika mereka mengenakan pakaian terbaik dan berdiri di hadapan banyak orang.

Pernikahan adalah kehidupan setelah semua tamu pulang. Tentang keputusan yang harus dibuat berdua dan masalah yang harus dihadapi bersama. Pernikahan juga bagaimana seseorang menjaga perasaan pasangannya ketika dunia sedang memberikan banyak alasan untuk memilih jalan lain.

Ayana mengusap gaun itu perlahan. “Aku ingin menikah denganmu, Ga.” Suaranya begitu pelan, nyaris tidak terdengar. “Tapi aku tidak ingin menikah hanya karena kita sudah menyiapkan semuanya.” Ia menundukkan kepala. “Aku ingin menikah karena kita benar-benar yakin ingin menjalani ini bersama.”

Ayana kemudian melipat kembali bagian bawah gaun tersebut. Untuk pertama kalinya, ia tidak membayangkan dirinya mengenakan gaun itu di hadapan Angga. Ia justru membayangkan bagaimana rasanya berdiri di depan banyak orang dengan hati yang tidak lagi yakin. Dan jawaban yang muncul di dalam pikirannya membuat dada Ayana terasa semakin sesak. Ia tidak ingin menjalani pernikahan seperti itu.

Ayana kemudian memasukkan kembali gaun tersebut ke dalam kotaknya. Ia menutup kotak itu perlahan. Tidak ada keputusan besar malam itu.

Belum, Ayana masih memberikan kesempatan kepada Angga. Masih menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki itu. Masih berharap Angga benar-benar menemukan jalan lain.

Tetapi untuk pertama kalinya, Ayana mulai mempersiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk. Bahwa mungkin gaun itu memang tidak akan pernah ia pakai. Dan mungkin, pernikahan yang selama ini mereka rencanakan tidak akan pernah terjadi.

Ayana mematikan lampu kamar. Ia berbaring di tempat tidur dengan membelakangi sisi tempat Angga biasanya tidur.

Beberapa menit kemudian, Angga masuk ke kamar. Laki-laki itu tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mematikan lampu lalu berbaring di sisi lain tempat tidur.

Jarak di antara mereka sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, jarak tersebut terasa begitu panjang.

Ayana menutup matanya. Di dalam hati, ia masih mencintai Angga. Tetapi cinta saja ternyata tidak selalu cukup untuk membuat seseorang merasa aman dalam sebuah hubungan.

Dan malam itu, Ayana mulai memahami satu hal. Ia mungkin masih ingin menjadi istri Angga. Tetapi ia tidak lagi yakin apakah mereka masih memiliki tujuan yang sama dengan pernikahan ini.

1
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Good bye sama perusahaan Angga. Bangkit dan berusaha
sunaryati jarum
Sekarang tidak ada orang yg membantu mencarikan investor,maka kebangkrutan yang menunggumu
sunaryati jarum
Kamu lelaki paling egois,orang harus memahami dan mengalah padamu,jika terjadi terus menerus ya lelah.
sunaryati jarum
Terima dan nikmatilah karma atas tindakan kamu pada Ayana.Orang membantumu dari balik layar hingga kau sukses kau tukar dengan mantanmu hamil.Bertanggung jawai tidak harus menampungnya dan kembali padanya,tapi bentuk finansial dan keamanan itu cukup,tapi kebaikan kau balas dengan keburukan ,semua hidupmu jadi buruk.Kau tidak mendapatkan Ayana juga Rara.Rara hanya bisa menuntut sedangkan Ayana yang membantumu membangun perusahaan, ditinggalkan Ayana jadi hancur kan.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
sutiasih kasih: angga bodohnya sdh tak trtolong kak....
mau"nya memungut mantan yg dlu jelas" meninggalknnya demi laki" lain....
total 2 replies
sunaryati jarum
😂😂😂 😭 bukan kerja keras kamu dulu berhasil , emak menarik kesimpulan itu karena bantuan Ayana
sunaryati jarum
Berusahalah seberapa keberhasilan kamu tanpa bantuan Ayana, Angga
sutiasih kasih
selamat mnikmati karmmu angga....
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....

lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....
sunaryati jarum
Sekarang saja buktinya ngga. setelah Ayana pergi hampir semua mitra kerja pergi
sunaryati jarum
Setelah Ayana tidak turun tangan perusahaan kamu gonjang ganjing
sunaryati jarum
Keenakan terus lupa orang berjasa membuka jalan kesuksesan kamu bahkan menyakitinya
sunaryati jarum
Setelah tidak ada penopang baru ingat.Kebaiksn kau balas dengan pengkhianatan, nikmati hidupmu seperti sebelum Ayana datang.Apa yang dapat diperbuat Rara untukmu,Angga?
sunaryati jarum
Sebentar lagi perusahaan kamu akan hancur,Angga
sunaryati jarum
Syokoooor
sunaryati jarum
Saat kamu memilih Rara dan membatalkan pernikahan dengan Ayana
sunaryati jarum
Rasain dengan tidak ada Ayana yang selalu membantu perusahaan kamu akan hancur
sunaryati jarum
Karmamu datang Angga,kau menyia- nyiakan wanita yang berjuang bersama kamu dari nol tapi kami pilih mantan pengacau
sunaryati jarum
Kamu akan lebih menyesal lagi,jika perusahaan tanpa campur tangan Ayana, tidak berjalan dengan baik
sunaryati jarum
Alhamdulillah akhirnya Yana menerima lamaran Kenan
sunaryati jarum
Semoga dengan perhatian dan cinta yang besar dari Keenan kamu segera melupakanmu Angga calon suami plin-plan itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!