NovelToon NovelToon
Pengantin Buta Pengganti Sang Mafioso

Pengantin Buta Pengganti Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Paula menezes

Sehari sebelum pernikahannya dengan Don Camorra, sang kakak kabur bersama kekasih gelapnya.

Otavio Martini tidak punya hati. Sejak kecil ia dibentuk menjadi mesin pembunuh, dan kini seluruh Sisilia gemetar bila namanya disebut. Pernikahan dengan putri sang konsiglier hanyalah kewajiban yang harus ia tuntaskan. Maka ketika pengantinnya menghilang, ia tahu persis siapa yang harus membayar: seluruh keluarga si pelarian.

Bianca, adik sang pengantin, hanya gadis buta berlidah tajam yang tak pernah menginginkan dunia mafia. Dengan pistol menempel di kepalanya dan nyawa ibunya dipertaruhkan, ia hanya punya satu pilihan: mengenakan gaun pengantin kakaknya dan menjadi istri pria yang bahkan tak sudi menatapnya lembut.

"Aku tidak bisa bersikap baik. Tapi kau milikku, Bianca, dan tak seorang pun boleh menyentuh milikku."

Sebuah pernikahan yang dimulai dengan ancaman. Seorang Don yang tak percaya cinta. Seorang istri pengganti yang menolak tunduk. Dan musuh-musuh yang bersembunyi di balik meja Dewan, di dalam rumah, bahkan di dalam keluarga sendiri.

Berapa lama sebuah hati yang katanya sudah mati sanggup bertahan, ketika satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya adalah gadis yang seharusnya tak pernah ada di altar itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paula menezes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Otavio pulang larut malam. Bianca dan Ellen duduk gelisah di ruang tamu. Ellen berkali-kali mencoba menelepon rumah sakit untuk mencari kabar, tetapi tak ada yang memberi informasi. Mereka juga sempat ingin ke sana, namun kepala keamanan melarang dan mengunci pintu rumah demi alasan keamanan. Atas perintah Jhon saat mengantar Bianca, mereka tidak boleh keluar, bahkan ke taman sekalipun.

Tak lama pintu terbuka dan Otavio masuk. Ellen, yang tadi menangis karena takut kehilangan putranya, langsung tersenyum dan bergegas menyambutnya.

Mendengar Ellen memanggil putranya, Bianca berdiri. Ia lega mengetahui Otavio baik-baik saja, tetapi juga cemas, sebab ia ingat dokter menyuruh Otavio beristirahat.

Setelah memeluk ibunya, Otavio menghampiri gadis kecilnya dan memeluknya. Tanpa peringatan, ia melumat bibir Bianca dengan ciuman panas penuh gairah. Saat mereka kehabisan napas, Bianca jadi salah tingkah karena Ellen berdiri tak jauh dari situ.

"Otavio..."

"Setiap kali dekat denganmu, aku tidak bisa menahan diri."

"Bianca, jangan pedulikan aku. Aku senang kalian sudah akur," kata Ellen. "Nak, bagaimana keadaanmu? Bianca sudah cerita apa yang menimpa kalian pagi tadi. Siapa kira-kira yang tega melakukan itu pada kalian, Nak?"

"Otavio, kenapa kamu sudah di rumah? Harusnya kamu istirahat," sela Bianca. "Berita juga bilang kamu koma, padahal waktu aku pergi kamu baik-baik saja. Ellen sudah mencoba menelepon kamu dan rumah sakit, tapi tidak ada yang mengangkat, Jhon juga tidak. Kami khawatir sekali."

Otavio tersenyum puas mendengar Bianca mengkhawatirkannya. Ia sengaja menggoda dengan nada sarkastis.

"Jadi istri kecilku ini cemas?"

"Kamu paham maksudku, Otavio."

"Begini saja. Aku mandi dulu, melepas baju yang penuh darah ini. Nanti sambil makan malam, kujelaskan semuanya."

"Darah di bajumu itu darahmu, Nak? Kamu luka parah?"

"Bukan, Bu. Itu darah beberapa bajingan yang menghalangi jalanku."

Ellen dan Bianca terdiam mendengarnya. Otavio naik tangga untuk mandi.

Ellen dan Bianca pergi ke ruang makan. Ellen meminta pelayan menyiapkan makan malam, karena mereka belum makan sama sekali saking khawatirnya.

Beberapa saat kemudian Otavio turun dan duduk makan bersama mereka. Matanya tak lepas dari Bianca. Sekarang, dengan tenang, ia bisa memperhatikan luka-luka di lengan dan wajah gadis itu. Ia murka. Hanya karena ulah seseorang, Bianca sampai terluka.

Ellen meminta Otavio menjelaskan semuanya. Otavio pun bercerita, lalu Bianca menceritakan bagaimana ia menarik Otavio keluar dari mobil dan betapa takutnya ia saat itu.

Setiap kata Bianca membuat Otavio makin kagum. Meski bertubuh kecil dan punya keterbatasan fisik, tak ada yang bisa menghentikannya. Itulah yang paling menarik perhatian Otavio. Sebab walau seseorang punya keterbatasan fisik, kalau di dalam dirinya ada keberanian dan tekad, tak ada yang bisa menghentikan atau membungkamnya.

Selesai makan, tak lama kemudian mereka naik ke kamar. Otavio berdiri di dekat jendela, tenggelam dalam pikirannya, sementara Bianca sudah duduk di tempat tidur.

"Otavio, apa yang terjadi setelah aku pergi?"

"Sebaiknya kamu tidak tahu, Kecilku. Yang bisa kukatakan, aku akan melindungimu dengan nyawaku."

"Bagaimana perasaanmu?"

"Percayalah, Bianca, ini bukan pertama kalinya aku terluka. Badanku sakit dan lelah, tapi tidak ada yang tidak sembuh oleh waktu."

Otavio menghampiri Bianca dan berbaring di sampingnya. Ia menciumnya, lalu meletakkan kepala gadis itu di dadanya dan memeluknya. Keduanya tidur berdampingan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!