NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Udara di dalam terowongan panas dan pengap, bercampur bau tanah basah dan belerang yang menempel di langit-langit mulut. Elang berjalan dengan satu tangan menyentuh dinding batu, dan lampu-lampu di langit-langit sudah mati semua. Satu-satunya cahaya datang dari pendar tipis yang naik di punggung tangannya, cukup untuk melihat jalan beberapa meter ke depan.

Ia berhenti di tempat terowongan itu tertutup sepenuhnya. Tumpukan batu setinggi dua orang dewasa menyumbat jalan, dan di sela-selanya masih ada debu halus yang turun pelan. Dari balik tumpukan itu terdengar ketukan logam yang kini lebih jelas, satu kali, jeda, tiga kali.

"Aku dengar kalian," kata Elang dengan suara cukup keras untuk menembus batu. "Menjauh dari dinding. Aku akan membuka jalan."

Ia merentangkan kedua tangannya, dan lapisan perak merambat dari bawah lengan bajunya sampai ke pundak. Di punggungnya, lapisan itu melebar dan menebal menjadi bentuk lengkung yang menempel pada langit-langit terowongan. Retakan di atas kepalanya sempat berderak, tetapi lapisan itu menahan dan tidak bergeser. Setelah memastikan langit-langit aman, Elang menempelkan kedua telapak tangan pada batu terbesar dan mendorong.

Batu itu bergeser pelan, lalu terlepas dari tumpukan dengan suara seperti benda berat diseret di lantai kayu. Elang memindahkannya ke samping tanpa mengeluh, kemudian mengangkat batu kedua, lalu yang ketiga. Setiap kali ia menyingkirkan satu batu, bunyi ketukan di baliknya menjadi semakin jelas, dan suara-suara manusia mulai terdengar, parau dan putus-putus.

Ketika celah itu cukup lebar untuk dilewati satu orang, seorang pria berambut putih merangkak keluar dengan wajah penuh debu. Napasnya tersengal, dan tangan kirinya menggenggam sebatang besi pendek yang ia gunakan untuk mengetuk. Ia menatap Elang dengan mata berair dan hampir tidak percaya.

"Siapa... siapa kau, Nak?"

"Keluarkan dulu orang-orangmu." Elang menarik lengan pria itu dan membantunya berdiri. "Aku akan menahan jalan ini sampai semuanya lewat."

Satu per satu pekerja merangkak keluar. Wajah mereka kelabu oleh debu, beberapa terbatuk-batuk, beberapa tidak mampu berjalan dan harus diseret oleh rekannya. Elang menghitung dengan tenang sambil menopang batu-batu yang mulai bergeser di sisi celah. Dua puluh. Tiga puluh. Tiga puluh sembilan.

Dua orang terakhir dibawa keluar di atas papan kayu. Yang pertama pemuda berusia dua puluhan dengan kaki terjepit, dan yang kedua laki-laki gemuk yang bibirnya sudah membiru. Elang berlutut di samping mereka dan menempelkan telapak tangannya di dada masing-masing. Lapisan perak mengalir dari tangannya, menyebar melewati bahu dan dada, dan setelah beberapa detik napas laki-laki gemuk itu berubah teratur. Kaki pemuda itu masih memar, tetapi darahnya berhenti mengalir.

Para pekerja yang masih sadar menatap semuanya dengan mulut terbuka. Tidak ada yang berani bertanya.

...-------...

Pak Kusno duduk bersandar di dinding terowongan dengan dada naik turun. Ia sudah dua puluh dua tahun bekerja di bawah tanah, dan dalam dua puluh dua tahun itu ia belum pernah melihat seorang pemuda mengangkat batu seberat truk tanpa mengeluh.

Ia memperhatikan pemuda itu berdiri dan menepuk celananya. Sarung tangan hitam di tangan kanannya masih menyala samar, dan Pak Kusno merasa ia harus mengatakan sesuatu sebelum waktunya habis.

"Nak." Suaranya serak sampai ia harus berdeham dua kali. "Tolong dengarkan orang tua ini sebentar."

Pemuda itu menoleh, dan sorot matanya cukup tajam untuk membuat Pak Kusno ragu. Tetapi ia sudah terlalu tua untuk takut pada orang yang menolongnya.

"Tambang ini tidak berizin. Sudah tiga bulan gaji kami tidak dibayar, dan setiap kali ada yang bertanya, mandor bilang uangnya sudah dikirim ke pusat." Pak Kusno menarik napas. "Hari ini mereka bilang akan ada peledakan sore hari. Tapi peledakan itu terjadi sebelum jam kerja, tanpa peringatan, tepat saat kami sedang memindahkan berkas dari ruang kecil di ujung Blok 7."

"Berkas apa?"

"Entahlah. Pak Bram menyuruh kami memindahkannya ke tempat lain karena katanya ada pemeriksaan." Pak Kusno menggeleng. "Tapi aku lihat sendiri kotak-kotak itu belum dibawa keluar. Orang-orang Bram yang menaruh bahan peledak di dekat pintu ruangan itu. Mereka mau menguburnya, Nak. Menguburnya bersama kami."

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lorong di belakang Pak Kusno, ke arah gelap yang belum terjamah, dengan wajah yang tampak sedang menghitung sesuatu.

"Terima kasih," katanya akhirnya. "Bapak dan semuanya keluar duluan. Aku akan memeriksa ruangan itu."

...------...

Elang berjalan menyusuri sisa lorong dengan langkah mantap. Ruang kecil di ujung Blok 7 ternyata tidak seluruhnya tertutup runtuhan. Pintunya miring, dan engselnya patah, tetapi di dalamnya masih berdiri rak-rak baja yang terisi tumpukan map cokelat dan kotak karton yang sudah berdebu.

Ia mengambil salah satu map dari rak paling atas dan membuka sampulnya. Huruf-huruf tebal tercetak di halaman pertama.

KARANG DASA MINERAL.

Di bawahnya ada kolom tanda tangan. Elang membaca nama yang tertera di sana, dan sudut bibirnya tidak naik sama sekali.

Ray Nugroho.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!