Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Air Mata Sedap Malam
Damar berdiri di ambang pintu ballroom dengan jas yang basah kuyup.
Air menetes dari ujung rambutnya ke kerah kemeja. Bahu jasnya gelap oleh hujan. Sepatunya meninggalkan jejak basah di karpet merah marun yang tebal. Dua petugas hotel berdiri di belakangnya dengan payung yang sudah tidak ada gunanya lagi.
Dua ratus kepala menoleh ke arahnya. Juru lelang berhenti dengan palu terangkat di udara.
Nala tidak bisa bernapas.
Damar tidak menatap siapa pun. Dia berjalan lurus melewati meja-meja, melewati tamu-tamu yang menahan napas, sampai dia berdiri di samping meja nomor tujuh. Dia mengambil papan nomor dari tangan Nala yang hampir menyentuh meja, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Angkat papan tanpa batas."
Hening.
Juru lelang mengedip. "Maaf, Pak?"
"Berapa pun yang ditawarkan," kata Damar. Suaranya tenang dan jelas, terdengar sampai ke sudut ruangan. "Saya ikut. Saya tambah. Papan ini tidak akan turun."
Bisik-bisik meledak di seluruh ballroom. Seseorang di meja depan tertawa tak percaya. Lampu-lampu kilat ponsel menyala satu per satu seperti kunang-kunang.
Di seberang ruangan, Arka bersandar di kursinya. Dia menatap Damar lama. Lalu dia tersenyum, dan mengangkat papannya.
"Tiga miliar."
"Meja tujuh," kata juru lelang dengan suara bergetar. "Tiga setengah?"
Papan di tangan Damar tidak bergerak.
"Empat," kata Arka.
"Empat setengah, meja tujuh."
Papan itu tetap di atas.
Arka memiringkan kepalanya, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu yang lucu. Dia mengangkat papannya sekali lagi.
"Empat setengah," katanya. "Sebetulnya aku cuma penasaran."
"Lima miliar, meja tujuh."
Lima miliar.
Nala merasakan angka itu masuk ke dadanya seperti air dingin. Lima miliar. Angka yang sama yang diteriakkan di sebuah ruangan bawah tanah di Batam, ketika dia berdiri di bawah lampu sorot dengan kain merah tipis di tubuhnya. Angka yang sama, dari laki-laki yang sama di seberang ruangan ini.
Kali ini, untuk sebuah cincin. Kali ini, yang mengangkat papan adalah laki-laki di sampingnya, yang tidak tahu apa-apa.
Arka menatapnya. Bukan Damar. Dia.
Lalu dia tertawa pelan dan meletakkan papannya di atas meja.
"Silakan," katanya ke arah Damar. "Kayaknya ada yang lebih butuh."
Palu diketuk tiga kali. "Lima miliar. Terjual kepada meja tujuh!"
Ballroom itu pecah. Tepuk tangan, siulan, tawa yang tidak percaya. Seorang perempuan bergaun perak di meja sebelah berkata cukup keras, "Ya ampun, siapa itu perempuannya?" Seseorang sudah mengetik di ponsel dengan kecepatan penuh.
Reza menyandarkan kepalanya ke meja. "Mar. Kamu gila."
Damar mengembalikan papan nomor itu ke tangan Nala. Jarinya dingin dan basah.
"Ayo," katanya.
***
Di luar, hujan sudah berubah jadi gerimis tipis. Lampu-lampu Thamrin memantul di aspal basah, kuning dan merah. Mobil-mobil berderet menunggu tamu di bawah kanopi lobi.
Damar berhenti di anak tangga teratas. Seorang petugas hotel menyusul mereka dengan kotak beludru kecil di atas nampan perak, dan Damar mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih.
Dia membuka kotak itu.
Cincin itu berkilau bahkan di bawah lampu kanopi yang suram. Lingkaran berlian putih, dan di tengahnya, setetes merah muda yang tampak seperti akan jatuh.
"Tangan," kata Damar.
Nala mengulurkan tangan kanannya.
Damar memegang pergelangan tangan itu. Jarinya yang dingin menyentuh nadi Nala, dan Nala tahu dia bisa merasakan betapa cepat nadi itu berdenyut. Dia mengambil cincin itu dari kotaknya dan mengarahkannya ke jari manis.
Jari manis tangan kanan. Jari tempat orang-orang menyematkan cincin tunangan. Cincin pernikahan.
Tangan kiri Nala bergerak lebih cepat dari pikirannya. Dia menggenggam tangan Damar. Menahannya.
Damar berhenti. Dia mendongak.
Nala tidak menjelaskan. Dia hanya menggeser tangan Damar sedikit, satu jari ke samping, dan menuntun cincin itu masuk ke jari tengahnya.
Pas. Sedikit longgar, tapi pas.
Damar menatap cincin di jari tengah itu lama. Lalu dia menatap wajah Nala. Sesuatu bergerak di matanya, pertanyaan yang tidak dia ucapkan.
"Ini apa?" tanya Nala lebih dulu. Suaranya serak. "Lima miliar untuk apa?"
"Ganti bunga yang kubuang."
Nala hampir tertawa. Hampir. "Bunga itu harganya mungkin lima ratus ribu."
"Aku tidak suka barang murah."
Gerimis jatuh di bahu Damar yang sudah basah. Dia tidak peduli. Dia masih memegang tangan Nala, ibu jarinya mengusap pinggiran cincin itu.
"Kamu tahu artinya sedap malam?" tanyanya tiba-tiba.
Nala menahan napas.
"Bunga yang mekar malam-malam, waktu semua orang tidur." Damar menatap tetesan merah muda di jari Nala. "Orang bilang itu bunga untuk orang yang suka bersenang-senang di tepi bahaya."
Bersenang-senang di tepi bahaya. Nala mendengarkan kalimat itu dan di saat yang sama, di kepalanya, ada suara lain. Suara yang lebih lembut, di sebuah teras di Bandung, dengan bau sedap malam dari pot di pojok.
Kebebasan yang tidak pernah mati.
Dua arti untuk satu bunga. Satu dari laki-laki yang memegang tangannya sekarang. Satu dari laki-laki yang tidak akan pernah memegang tangannya lagi.
Dia menarik tangannya dari genggaman Damar dengan pelan dan menyembunyikannya di balik lipatan gaun.
"Pak Ujang sudah menunggu," katanya.
Damar menatapnya sebentar lagi. Lalu dia berjalan turun lebih dulu.
Akhir bulan ini dia tidak akan pindah dari paviliun. Dia tahu itu sekarang, di anak tangga yang basah ini, dan dia benci betapa mudahnya keputusan itu datang.
Nala mengikutinya dua langkah di belakang. Di jari tengahnya, cincin itu terasa lebih berat dari kalung teratai merah di lehernya. Dia tidak menunduk untuk melihatnya. Dia tidak perlu. Dia sudah tahu persis seperti apa bentuknya. Dia sudah tahu persis seperti apa jari manisnya yang kosong.
***
Mereka tidak pulang. Damar menyuruh Pak Ujang ke SCBD.
"Bapak kehujanan di mana?" tanya Nala begitu pintu mobil tertutup.
Damar tidak menjawab. Pak Ujang yang menjawab, sambil menyodorkan handuk kecil ke belakang.
"Macet total dari bandara, Bu. Di depan Sarinah sudah nggak gerak sama sekali. Bapak turun, lari." Pak Ujang melirik spion dengan wajah yang masih belum pulih dari kaget. "Saya bilang pakai payung, Pak, Bapak nggak dengar."
"Ujang," kata Damar.
"Siap, Pak. Maaf, Pak."
Nala menatap laki-laki di sebelahnya. Dari Sarinah ke hotel ini, di tengah hujan deras, dengan sepatu kulit dan jas wol. Untuk sebuah lelang yang bahkan tidak dia tahu akan seperti apa.
Damar menatap ke depan, telinganya sedikit memerah.
"Desain Bukit Selatan," katanya, sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk itu. "Pemilik lahan minta revisi masuk hari Jumat. Dengan konsep yang kamu presentasikan kemarin."
"Konsep itu belum ada desainnya, Pak."
"Makanya malam ini."
Lantai tiga puluh dua sudah gelap ketika mereka sampai. Damar menyalakan lampu ruang rapat kecil. Nala menyalakan laptop, menyambungkan proyektor, dan menggelar peta kontur Bukit Selatan di atas meja.
Reza datang setengah jam kemudian dengan tiga gelas kopi dari kedai di lobi dan wajah yang masih tidak percaya.
"Udah viral," katanya sambil menjatuhkan diri ke kursi. "Ada akun gosip yang upload. Bos Hadiwijaya angkat papan tanpa batas demi cincin. Komentarnya tiga ribu. Separuh nanya buat siapa."
Damar tidak mengangkat kepala dari peta.
"Mar. Kamu dengar nggak?"
"Desainernya," kata Damar. "Kita butuh orang yang bisa gambar konsep wisata, bukan arsitek gedung."
Reza menegakkan punggungnya, tiba-tiba bersemangat. "Aku punya kenalan. Mahasiswi, masih kuliah, tapi gambarnya bagus banget. Aku bisa telepon dia sekarang, dia pasti belum tidur. Anak itu kalau malam..."
"Kalau mau ngejar orang," potong Damar, "kejar sendiri. Jangan pakai proyekku."
Reza tersedak kopinya. Wajahnya memerah sampai ke telinga.
Nala menatap mereka berdua bergantian. Ada sesuatu di antara keduanya yang tidak dia pahami, lelucon lama atau rahasia lama, dan Damar terlihat hampir seperti tersenyum.
Hampir.
***
Pukul sebelas lewat seperempat, ponsel Damar yang tergeletak di meja menyala.
Damar sedang di toilet. Reza sedang menelepon di luar. Nala tidak berniat membaca. Tapi layar itu terbalik ke arahnya, dan nama pengirimnya terlalu aneh untuk tidak dibaca.
Si Cengeng.
Mas, transfer buat boba dong. Yang banyak. Oh iya, kakak sekretarisnya cantik nggak? Aku liat videonya di IG, yang pakai gaun biru itu kan?
Nala menatap layar itu. Si Cengeng. Dua tahun dia mengatur jadwal Damar, membaca surelnya, mengangkat teleponnya. Dia tahu nama setiap direktur, setiap klien, setiap anggota keluarga besar yang pernah menghubungi laki-laki ini.
Dia tidak pernah tahu ada seseorang bernama Si Cengeng.
Layar itu menyala lagi.
Aku pulang malam ini, jangan kunci pintu ya! Udah di jalan dari bandara! Jangan bilang Eyang dulu!!!
Pintu ruang rapat terbuka. Damar masuk sambil menggulung lengan kemejanya yang masih lembap. Dia melihat ponselnya menyala, mengambilnya, membaca, dan untuk pertama kalinya malam itu wajahnya benar-benar berubah.
Bukan marah. Bukan dingin.
Panik.
"Pulang," katanya. "Sekarang."
Nala menutup laptopnya. Di jari tengah tangan kanannya, tetesan merah muda itu menangkap cahaya lampu dan berkilau sekali, seperti air mata yang tidak jadi jatuh.