NovelToon NovelToon
DEWATA COSPLAYERS : BALI

DEWATA COSPLAYERS : BALI

Status: tamat
Genre:Action / Komedi / Drama / Tamat
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: INDKaeda00

Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.

​Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.

​Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Day

"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."

Beberapa hari berlalu sejak event akhir pekan yang meriah di hotel tersebut. Suasana mendadak berubah menjadi tegang ketika Dewi, seorang anggota komunitas, tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita kenalan lama di sebuah area publik. Dewi datang bersama pacarnya yang berdiri setia di sisi menemaninya.

​Pertemuan yang awalnya tampak biasa itu langsung menegang ketika topik pembicaraan mengarah pada masa lalu. Wanita di hadapan mereka mulai melontarkan pertanyaan bernada menyudutkan mengenai alasan mengapa pacar Dewi sempat mendekatinya belakangan ini.

​"Sebenarnya, apa maksud pacarmu ini masih saja mendekati dan menghubungiku akhir-akhir ini, Dewi? Jangan bilang kalian ada masalah di belakang?" tanya wanita itu dengan nada sinis, melirik tajam ke arah pria di sebelah Dewi.

​Dewi menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjawab dengan suara tenang namun tegas. "Kamu salah paham. Dia sudah tidak pernah mendekatimu lagi sejak kami resmi berpacaran. Dia tahu batasan dan komitmen kami, jadi tolong jangan berasumsi sembarangan."

​Mendengar jawaban itu, wanita tersebut justru mendengus sinis dan menaikkan nada suaranya. "Hih, membela pacar ya? Jelas-jelas dia sendiri yang genit dan mencari perhatian duluan di belakangmu! Jangan terlalu naif jadi perempuan, Dewi. Bisa saja dia sengaja mempermainkan kalian berdua!" tuduh wanita itu sambil melipat tangan di dada, membalikkan keadaan untuk menyerang pacar Dewi secara langsung.

​Suasana semakin memanas. Melihat wanita itu mulai menyudutkan kekasihnya, beberapa pria rekan dari kelompok wanita tersebut yang berdiri di belakang langsung maju mendekat. Mereka mencoba memberikan tatapan tajam dan gestur mengintimidasi untuk menekan sang pacar secara fisik maupun mental.

​"Hei, dengar ya. Jangan coba-coba membuat masalah atau cari perkara di sini kalau tidak mau urusan kalian makin panjang," ancam salah satu pria berbadan tegap dengan nada suara yang ditinggikan, mencoba menciutkan nyali pacar Dewi.

​Meskipun dikerumuni dan diintimidasi secara terang-terangan oleh beberapa pria sekaligus, pacar Dewi sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Ia berdiri tegak, menarik napas sejenak, lalu menjawab dengan kepala dingin dan nada bicara yang sangat tenang.

​"Kalian tidak perlu membuang tenaga untuk mengintimidasi saya seperti ini, karena penjelasan yang Dewi katakan tadi adalah kebenaran yang sesungguhnya," ucap pacar Dewi dengan nada stabil tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ia menatap satu persatu pria-pria yang mencoba melototinya. "Kalau kehadiran kami di sini hanya membawa masalah dan drama yang tidak berujung, saya rasa sudah cukup jelas apa yang harus dilakukan."

​Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada kekasihnya, lalu tersusun rapi senyuman kecil di bibirnya. "Dewi, lebih baik kita pergi dari sini. Mulai sekarang, saya memutuskan untuk keluar sepenuhnya dari komunitas Trooper ini. Lingkungan seperti ini sudah tidak sehat untuk kita."

​Setelah mengatakan hal itu, pacar Dewi langsung menggenggam tangan wanita yang dicintainya dengan erat, lalu menariknya perlahan untuk melangkah pergi meninggalkan kelompok tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi, membiarkan orang-orang itu terpaku dengan keputusan tegas yang diambilnya.

Setelah berhasil menjauh dari kerumunan dan kelompok tersebut, Dewi dan pacarnya berjalan mencari tempat yang lebih tenang untuk meredakan emosi. Rasa kesal yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah begitu saja dari benak Dewi.

​"Ih, benar-benar menyebalkan banget perempuan tadi! Bisa-bisanya dia memutarbalikkan fakta dan menuduhmu yang macam-macam di depan orang banyak, padahal jelas-jelas mereka yang sengaja cari gara-gara!" gerutu Dewi dengan nada tinggi, napasnya masih memburu karena marah. Ia melipat tangannya di dada, meluapkan kekesalan mendalam terhadap wanita itu dan komunitas Trooper yang baru saja mereka tinggalkan.

​Melihat kekasihnya yang masih dirasuki amarah, sang pacar menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Dewi dengan lembut, lalu merangkul pundaknya dengan penuh ketenangan untuk meredakan emosi gadis itu.

​"Sudah, Dewi... Jangan biarkan emosimu tersulut dan memikirkan hal-hal seperti itu lagi. Buat apa kita meladeni orang-orang yang memang sengaja mencari celah?" ucap pacar Dewi dengan nada bicara yang sangat tenang dan menyejukkan. "Mereka itu sebenarnya cuma ingin mencari-cari kesalahan kita saja supaya kita terlihat buruk. Kalau kita ikutan emosi, justru itu yang mereka harapkan."

​Dewi terdiam sejenak, meresapi setiap kata-kata bijak yang diucapkan oleh kekasihnya di tengah situasi yang tidak menyenangkan ini. Perlahan-lahan, ketegangan di wajahnya mulai mengendur dan amarahnya mereda.

​Dewi mengangguk paham, lalu menghela napas panjang untuk melepaskan sisa kekesalannya. "Iya juga ya... Kamu benar. Maaf ya gara-gara aku, kamu jadi harus ikut terseret masalah dan bahkan harus keluar dari komunitas itu," ucap Dewi dengan nada sedikit merasa bersalah.

​Pacar Dewi tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala pelan sambil menggenggam tangan Dewi erat. "Tidak apa-apa, keputusan buat keluar sudah bulat. Yang terpenting sekarang kita bisa jauh dari drama toxic seperti itu, dan fokus ke hal-hal yang jauh lebih penting."

Suasana di dalam sebuah kafe yang nyaman sore itu terasa hangat, dihiasi dengan alunan musik latar yang lembut. Di salah satu meja sudut, Helena, Ariel, Aragoto, dan Evelia berkumpul untuk menikmati waktu luang bersama sambil memesan beberapa makanan ringan serta minuman.

​Obrolan di meja mereka perlahan mengalir, membahas berbagai dinamika serta isu-isu hangat yang akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan di antara komunitas-komunitas kreatif dan hobi di Bali.

​"Eh, kalian tahu nggak sih, akhir-akhir ini tuh lagi banyak banget drama nggak jelas antar komunitas. Rasanya ada saja masalah baru tiap minggunya," buka Helena sambil menyesap minuman di depannya.

​Aragoto mengangguk setuju di balik kacamatanya, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Iya, benar juga. Aku juga sempat dengar sekilas dan penasaran sebenarnya akar masalahnya dari mana saja. Kadang masalah sepele malah dibesar-besarkan," tanggap Aragoto.

​Mendengar hal itu, Helena menoleh ke arah pria di sebelah kanannya, lalu terkekeh kecil sambil menunjuk Ariel dengan dagunya. "Ngomong-ngomong soal ribut antar komunitas, ingat nggak waktu si Ariel ini sempat hampir adu argumen sama salah satu pemilik komunitas medieval sebelah? Duh, pokoknya masalah apa gitu waktu itu sampai aku lupa detail pastinya," kenang Helena sambil tertawa ringan.

​Ariel yang diseret dalam topik tersebut hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, membiarkan kekasihnya menceritakan kisah lama.

​Tidak mau kalah dengan topik tersebut, Aragoto lantas ikut membagikan pengalaman pribadinya yang tak kalah menggelitik. "Wah, kalau soal gesekan sama komunitas medieval lain, aku juga sempat punya pengalaman aneh beberapa waktu lalu," cerita Aragoto sambil merapikan kacamatanya. "Waktu itu aku bahkan sempat disuruh menemui salah satu pentolan mereka. Katanya, komunitas Kingsguards yang kubangun nggak bisa masuk atau gabung karena dianggap nggak sesuai standar. Padahal, kan, jelas-jelas komunitas kami mengusung tema medieval fantasy, ada unsur fantasinya! Tapi mereka sepertinya nggak mau paham perbedaan itu."

​Mendengar cerita tersebut, Ariel langsung terkekeh geli dan mengangguk membenarkan. "Haha, iya juga ya. Padahal kata 'fantasy' itu sendiri sudah tertera jelas di nama konsepnya, tapi masih saja dipermasalahkan dan dipersulit," timpal Ariel sambil tersenyum miring.

​Di tengah obrolan serius bercampur tawa itu, Evelia tampak duduk dengan tenang di salah satu sisi meja. Sambil asyik mengunyah sepotong kue manis yang ada di piring kecilnya, ia menyimak setiap percakapan yang keluar dari mulut teman-temannya dengan mata mengerjap polos, lalu mengangguk-angguk kecil tanda menyimak meski otaknya sibuk menikmati kelezatan makanan di depannya.

Suasana di meja kafe yang tadinya santai tiba-tiba berubah menjadi sedikit serius ketika Aragoto mendadak teringat pada topik panas yang sedang hangat diperbincangkan belakangan ini.

​"Ah, ngomong-ngomong soal drama komunitas, kalian sempat update berita soal EO Onigiri akhir-akhir ini nggak?" tanya Aragoto dengan nada penasaran. "Masalahnya makin melebar ke mana-mana, bahkan kudengar media luar juga ikut-ikutan membahas kasus mereka."

​Helena mengangguk santai sambil menyesap minumannya, lalu menanggapi, "Oh, kasus itu? Kemungkinan besar sih mereka bakal kena cancel culture parah dari publik. Sudah nggak bisa ditolong lagi citranya."

​Tidak berhenti sampai di situ, Helena, dengan ekspresi geram, mulai membeberkan berbagai borok dan sisi buruk dari EO Onigiri yang selama ini menjadi rahasia umum di kalangan komunitas. "Parahnya lagi, bukan cuma masalah internal biasa. Dulu mereka sempat melakukan eksploitasi anak, memperlakukan para idol di bawah naungan mereka dengan sangat tidak adil, bahkan ada anggota yang hampir mengalami pelecehan," ungkap Helena dengan nada ketus.

​Ariel ikut menimpali pernyataan kekasihnya dengan raut wajah serius. "Bukan cuma itu saja," tambah Ariel. "Bahkan ada kasus lain di mana salah satu dari mereka benar-benar sempat dilecehkan secara langsung, hanya saja sengaja ditutup-tutupi dan tidak dipublikasikan ke media demi menjaga nama baik agensi abal-abal itu."

​Mendengar fakta-fakta kelam yang begitu mengejutkan tersebut, Aragoto sontak terperanjat kaget. Ia terdiam dengan mulut terbuka lebar, syok mendengar betapa parahnya borok EO tersebut.

​Melihat Aragoto yang melongo karena terlalu kaget, Evelia yang duduk di sebelah ketua komunitas itu dengan santai langsung mengambil sepotong kecil kue manis dari piringnya, lalu menyuapkannya langsung ke mulut Aragoto yang sedang menganga. "Awas nanti kemasukan lalat, Aragoto. Makanya ditelan dulu kuenya sambil didengerin," ujar Evelia polos.

​Setelah mengunyah suapan kue dari Evelia, Aragoto mengerjap-kerjap pelan, lalu menoleh ke arah Evelia yang menimpali percakapan, "Lalu... kalau sudah separah itu, selanjutnya bakal jadi gimana?" tanya Evelia penasaran.

​Ariel mengangkat kedua tangannya ke udara sambil mendengus kecil. "Mau gimana lagi? Mungkin ini bakal jadi puncaknya. Semua orang dan talent di sana sekarang sudah mulai berbondong-bondong mengundurkan diri karena gerah," jawab Ariel.

​Aragoto menghela napas panjang, raut wajahnya menyiratkan rasa iba. "Sayang banget sama para idol yang ada di sana... Kalau semuanya pada keluar, nasib mereka ke depannya bagaimana dan mau pada lari ke mana ya?" gumam Aragoto menyayangkan masa depan para idol korban agensi tersebut.

Helena mengangkat bahunya dengan santai, lalu menjawab, "Ya paling-paling mereka bakal pindah ke EO sebelah yang manajemennya lebih sehat dan profesional. Toh, beberapa EO alternatif sekarang juga sudah mulai bangkit dan menata ulang skena event kita."

​Mendengar ucapan tersebut, Evelia mengerutkan keningnya sambil menggeleng pelan. Ia menimpali dengan nada prihatin, "Tapi, pasti ada juga di antara mereka yang ngerasa trauma berat kan setelah kejadian separah itu? Nggak semudah itu buat langsung percaya sama agensi baru."

​Ariel mengangguk mantap membenarkan argumen Evelia. Wajahnya tampak serius saat ia menambahkan pandangannya. "Betul banget. Masalahnya, nggak semua orang punya keberanian buat speak up. Banyak dari mereka yang akhirnya cuma bisa memendam semuanya sendirian dalam diam karena rasa takut, ditambah lagi mereka nggak punya backingan atau pelindung yang kuat di belakangnya," pungkas Ariel penuh empati.

Mendengar pembahasan soal kasus dan rasa takut para korban, Aragoto mendadak teringat pada satu informasi meresahkan yang sempat ia dengar dari lingkaran teman-temannya belakangan ini.

​"Oh iya, ngomong-ngomong soal keamanan, akhir-akhir ini aku juga sempat dengar info dari anak-anak kalau ternyata masih ada penguntit yang berkeliaran di area event," ujar Aragoto dengan nada heran dan tidak menyangka. "Padahal kupikir masalah seperti itu sudah nggak ada lagi sekarang."

​Ariel terkekeh kecil menanggapi kepolosan Aragoto, lalu menjawab dengan santai namun bernada sarkas. "Ah, kalau soal penguntit mah jangan ditanya, sampai sekarang juga masih ada. Dan dijamin backing-an mereka pasti kuat, makanya berani bergerak berkelompok begitu."

​Mendengar hal itu, emosi Aragoto sedikit terpancing. Tanpa berpikir panjang, ia melontarkan usulan spontan dengan nada geram, "Wah, parah juga... Kalau ketemu langsung sama orangnya, dihajar atau dipukul di tempat saja sekalian nggak sih biar kapok?"

​Mendengar reaksi spontan Aragoto yang ingin main hakim sendiri, Ariel langsung menggelengkan kepala sambil melambaikan tangan menolak. "Jangan gegabah begitu. Kalau kita pakai cara kekerasan, nanti yang ada malah nama baik seluruh komunitas cosplay kita yang kena imbas dan jadi jelek di mata orang awam," jelas Ariel mengingatkan agar tetap kepala dingin dalam menghadapi situasi tersebut.

Meski melarang Aragoto untuk bertindak gegabah, Ariel perlahan menarik napas dalam-dalam, lalu terkekeh kecil sambil menggaruk belakang kepalanya. "Tapi, jujur saja... Sebenarnya dalam hati kecilku aku juga kepikiran ingin memukul orang-orang kayak gitu sih. Gemas banget rasanya," aku Ariel setengah bercanda.

​Mendengar pengakuan jujur dari kekasihnya itu, Helena langsung menepuk pelan pundak Ariel sambil tertawa lepas. "Hahaha, dasar! Bilang saja kamu juga pengikut aliran garis keras kalau ketemu langsung," ledek Helena geli.

​Setelah gelak tawa kecil mereda, Ariel mengalihkan pandangannya ke arah Aragoto dan Evelia yang duduk berdampingan. Dengan nada usil khasnya, Ariel melontarkan pertanyaan yang membuat suasana meja seketika berubah. "Oh ya, omong-omong... Sejak kapan kalian berdua jadi kelihatan selengket dan sedekat ini, hm?" tanya Ariel sambil menaik-naikkan alisnya penuh selidik.

​Mendengar pertanyaan langsung tersebut, raut wajah Aragoto dan Evelia langsung berubah drastis menjadi salah tingkah. Suasana di antara mereka mendadak terasa canggung. Dengan rona merah yang jelas terlihat di pipi keduanya, Aragoto berdehem pelan lalu menjawab malu-malu, "Ah... U-umm, kami sebenarnya... sudah resmi berpacaran."

​Mendengar pengakuan tersebut, mata Helena langsung berbinar antusias. Ia bertepuk tangan kecil dengan penuh semangat. "Waaah! Akhirnya official juga! Duh, kalau bisa ya, langgeng terus sampai nanti ke jenjang pernikahan, ya!" seru Helena heboh menggoda mereka berdua.

​Pujian dan doa langsung dari Helena itu membuat rona merah di wajah Aragoto dan Evelia semakin pekat hingga menjalar ke telinga. Mereka berdua tampak semakin salah tingkah dan tidak bisa berkata apa-apa karena terlalu malu.

​Namun, di tengah rasa malunya yang luar biasa, Evelia tiba-tiba menarik napas, menegakkan punggungnya, lalu menjawab dengan senyuman lebar dan penuh percaya diri, "Astungkara, doakan ya semoga langgeng sampai pelaminan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!