NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.

Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!

Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)

Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26: Perjalanan kereta kuda, bisnis kosmetik,dan kuping pangeran yang pengang

Siang itu, seluruh tenda darurat di sektor selatan Hutan Terlarang telah dibongkar habis tanpa sisa. Pasukan khusus bergerak dalam formasi siaga satu. Di barisan tengah, sebuah kereta kuda besi berjeruji rapat membawa si pembunuh bayaran berwajah arang yang dijaga ketat oleh Xie Jian. Sementara di depannya, melaju kereta kuda utama yang membawa Pangeran Mo Cheng dan Xie Yufei beserta pelayannya, Xiao Mei.

Awalnya, Yufei mengira dia akan naik kereta terpisah bersama Xiao Mei. Namun, dengan alasan "keamanan tingkat tinggi dan perlindungan saksi ahli medis", Pangeran Mo Cheng dengan otoritas mutlaknya memerintahkan Yufei untuk berada di dalam satu kereta bersamanya.

Suasana di dalam kereta kuda mewah itu terasa sangat kontras. Pangeran Mo Cheng duduk bersila dengan mata terpejam, pura-pura bermeditasi mengontrol hawa murni tubuhnya. Sementara di sisi lain, Yufei duduk dengan secarik kertas perkamen dan kuas di tangannya, sibuk mencorat-coret dengan dahi berkerut serius.

Di luar, Yufei terlihat seperti nona bangsawan yang sedang belajar menulis kaligrafi dengan anggun. Namun, di dalam kepalanya, Pangeran Mo Cheng terpaksa harus mendengarkan presentasi proposal bisnis dengan volume yang sangat berisik:

(Oke, mari kita hitung break-even point alias BEP-nya. Kalau Mas Jenderal beneran ngasih bunga lili salju dari puncak utara sama bubuk mutiara laut selatan, ini modalnya udah premium tingkat dewa. Bahan gembel kayak sereh kemarin aja bisa bikin mata pembunuh bayaran melepuh, apalagi kalau gue bikin Anti-Aging Serum dan Whitening Cream pakai bubuk mutiara! Target pasarnya jelas: para selir istana yang haus belaian kaisar dan nona-nona bangsawan yang mukanya kusam gara-gara kebanyakan bedak timbal kationik! Gue bakal kasih nama mereknya: Royal Glow by Yufei. Wah, fix bakal kaya raya tujuh turunan gue!)

Pangeran Mo Cheng yang sedang bermeditasi perlahan membuka satu matanya. Alisnya bertaut rapat. Break-even point? Anti-aging? Whitening cream? Bedak timbal kationik? Kepala sang panglima perang rasanya mau pecah mendengar istilah-istilah gaib yang melompat-lompat dari otak gadis di hadapannya.

"Nona Xie," panggil Pangeran Mo Cheng akhirnya, tidak tahan lagi menjadi pendengar gelap proposal bisnis dadakan. "Apa yang sedang sibuk kau tulis sejak tadi?"

Yufei buru-buru menyembunyikan kertas perkamennya di balik lengan jubah luasnya, lalu tersenyum manis tanpa dosa. "Ah, Yang Mulia. Hamba hanya sedang... mencatat resep obat-obatan penenang jiwa untuk Anda. Hamba berpikir, setelah konspirasi besar yang kita hadapi semalam, Yang Mulia pasti membutuhkan ramuan herbal khusus agar bisa tidur nyenyak tanpa diganggu beban pikiran kerajaan."

(Boong deng! Gue lagi bikin skema marketing jalur influencer alias gosip antar selir istana, Mas. Tapi gapapa lah ya, bohong demi kebaikan dompet itu legal hukumnya!)

Pangeran Mo Cheng menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan diri agar tidak langsung menyentil dahi Yufei. Gadis ini benar-benar lihai bermuka dua. Di depan bicara soal kesehatan jiwanya, di dalam hati sedang memanfaatkannya demi kelancaran dompet pribadi.

"Begitukah? Terima kasih atas perhatianmu," sahut Pangeran Mo Cheng dengan suara datar andalannya. "Namun sebaiknya kau simpan dulu kuasmu. Kita hampir keluar dari perbatasan Hutan Terlarang. Jalur di depan adalah Lembah Tengkorak, area terbuka yang sangat rawan untuk penyergapan."

Mendengar kata 'Lembah Tengkorak' dan 'penyergapan', kuas di tangan Yufei hampir saja merosot jatuh. Xiao Mei yang duduk di sudut kereta bahkan langsung memeluk buntalan pakaian mereka dengan wajah ketakutan.

(Waduh! Nama tempatnya serem amat, Lembah Tengkorak! Kenapa gak sekalian Lembah Kuntilanak aja sih? Ini fiks musuh yang punya tato bulan sabit semalam pasti gak bakal tinggal diam. Mereka pasti mau bungkam si pembunuh berwajah arang itu sebelum masuk gerbang ibu kota!)

Tepat setelah Yufei selesai membatin, dugaan akuratnya langsung terbukti.

SRAAAKKK! CLANG!

Suara desingan anak panah yang membelah udara terdengar bersahut-sahutan di luar kereta, disusul oleh dentingan logam saat para prajurit pasukan khusus menangkis serangan tersebut dengan pedang mereka. Kereta kuda mendadak berhenti dengan hentakan keras yang membuat Yufei terlempar ke depan.

"Kyaaa!" Yufei memekik pelan saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Namun, sebelum tubuhnya menghantam lantai kereta yang keras, sebuah tangan yang kokoh, kekar, dan sangat hangat menangkap pinggangnya dengan sigap. Dalam satu gerakan cepat, Pangeran Mo Cheng menarik Yufei ke dalam dekapan dadanya yang bidang, melindunginya dari kemungkinan anak panah yang menembus dinding kereta.

DEG! Wajah Yufei tenggelam sempurna di dada bidang sang pangeran. Aroma kayu cendana yang maskulin dan hawa hangat tubuh Mo Cheng langsung mengepung seluruh inderanya.

(MAMAAAKKK!!! Ini simulasi dipeluk pelindung negara secara live dan aesthetic?! Jantung gue langsung disko brutal woy! Mana dadanya keras banget kek papan gilasan, tapi kok nyaman banget ya? Tolong, oksigen gue menipis!)

Mendengar bunyi batin Yufei yang mulai panik romantis di tengah situasi hidup dan mati, Pangeran Mo Cheng hanya bisa mengencangkan pelukannya sesaat untuk memastikan gadis itu aman, meski wajahnya sendiri diam-diam memanas.

"Tetap di bawah dan jangan bergerak, Nona Xie. Jaga pelayanmu," bisik Pangeran Mo Cheng tepat di dekat telinga Yufei, suaranya terdengar sangat berat dan penuh otoritas.

Pangeran Mo Cheng melepaskan pelukannya perlahan, lalu menyambar pedang panjangnya yang tergeletak di samping tempat duduk. Dengan gerakan secepat kilat, dia menyibak pintu kereta dan melompat keluar untuk memimpin pertempuran, meninggalkan Yufei yang masih memegangi dadanya dengan wajah semerah kepiting rebus.

Di luar, suara teriakan pertempuran dan dentingan senjata mulai pecah dengan hebat.

1
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦kocak....kocak
paijo londo
🤭🤭🤭yeee pangeran mo Cheng salah tingkah tuh
Siskasuryaningsih
bagus thor, tapi jangan terlalu lebay iya thor, mcam novel mu yg lalu
heldahell: novelku yg mana ya kak? apa udah ku hapus ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!