NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 KOTA SANDERIA

Dua kilometer terasa seperti dua puluh ketika setiap langkah membuat dadaku berdenyut.

Vivi terbang rendah di depanku, sesekali berbalik untuk memastikan aku belum tumbang. Kami melewati dua kemah kroco dengan menyusup lewat semak berduri. Sekali, seekor kroco bertelinga lancip hampir menoleh ke arah kami, tapi Vivi buru-buru menarik ujung bajuku dan menyeretku ke balik batu. Aku menahan napas sampai langkah kasar itu menjauh.

"Kamu bernapas terlalu keras, arka" bisik Vivi.

"Ini Aku sedang menahannya tu."

"Kalau begitu kau harus menahannya dengan keras."

Aku nyaris tertawa, tapi nyeri di rusukku mengurungkannya.

Senja sudah hampir habis ketika pepohonan menipis dan jalan setapak berubah menjadi jalur batu yang rata. Lalu aku melihatnya, dan langkahku terhenti.

"Vivi," kataku pelan. "Kau bilang ini kota perdagangan kecil di tepi sungai."

"Memang begitu, terakhir kali aku ke sini." Ia terbang di samping telingaku, suaranya ikut kagum. "Mungkin sudah... seratus tahun yang lalu."

Di hadapanku menjulang benteng-benteng setinggi pohon tertua yang pernah kulihat, dibangun dari logam kelabu yang mengilap tanpa sambungan. Menara-menara ramping menembus langit, dan di puncaknya menyala lampu-lampu biru yang tak bergoyang tertiup angin, seolah api yang dikurung dalam kaca. Dari kejauhan terdengar dengung halus, seperti ribuan lebah yang bekerja serempak. Tak ada kota seperti ini di distrik selatan. Di sana, bangunan tertinggi hanyalah aula latihan dari batu dan kayu.

"Futuristik," gumamku, mencoba kata yang pernah kudengar dari pedagang keliling.

"Bukannya Cantik ya," koreksi Vivi. "Tapi kalau kau melihat sekelilingnya..."

Ia benar. Di sekitar tembok kota, tanahnya hangus di beberapa tempat, dan jauh di sisi timur kulihat asap tipis dari kemah-kemah kroco yang mulai mengepung. Kota ini masih bertahan, tapi sudah dikepung.

Gerbangnya berupa lempeng logam raksasa dengan celah sempit di tengah. Di depannya berdiri dua penjaga bersenjata tombak panjang berujung cahaya, mengenakan baju zirah halus yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah. Salah satunya menyilangkan tombak di depan dadaku begitu aku mendekat.

"Harap Berhenti. Tolong Tunjukkan kartu identitas kota."

Aku merogoh sabukku sekadar basa-basi, lalu menggeleng.

"Aku.....aku tidak punya. Aku seorang pengembara. Baru tiba."

"Tanpa kartu, tidak boleh masuk." Penjaga itu menatapku dari ujung rambut hingga sepatu bot yang berlumur abu. Pandangannya berhenti sejenak pada Vivi yang bersembunyi di balik rambutku. "Ini Perintah dari dewan. Sejak langit retak, kami menutup kota dari siapa pun yang tak tercatat."

"Aku hanya butuh bertemu seseorang yang tahu soal entitas."

Kedua penjaga itu bertukar pandang, dan ketegangan di bahu mereka makin menebal. Penjaga kedua mengangkat tombak ke arahku.

"Dengar baik-baik, Orang Luar. Kalau kau tidak..."

"Harap turunkan tombaknya, wahai penjaga."

Suara itu datang dari balik celah gerbang, jernih dan tenang, tapi cukup tegas untuk membuat kedua penjaga menegakkan tubuh serentak.

Seorang gadis melangkah keluar. Usianya mungkin sembilan belas, tak jauh berbeda dariku. Rambut peraknya diikat tinggi, dan di punggungnya tergantung busur logam yang berpendar biru pucat, mirip lampu-lampu di menara. Matanya tajam, seperti mata pemburu yang sudah terbiasa menghitung jarak dan angin.

"Nona Cecilia," kata penjaga pertama, buru-buru memberi hormat. "Tapi Dia tak punya kartu identitas."

"Aku tahu." Gadis itu menatapku sekilas, lalu kembali pada penjaganya. "Dia ini tamuku. Jadi Biarkan dia masuk."

"Tapi, perintah dewan..."

"Aku bagian dari dewan itu." Nada suaranya tidak naik, tapi tak menyisakan celah untuk membantah. "Aku yang akan bertanggung jawab."

Penjaga itu menelan ludah, lalu menarik tombaknya dan mundur selangkah. "Silakan masuk."

Aku menatap gadis itu, bingung. "Kita belum pernah bertemu."

"Memang belum," katanya sambil tersenyum tipis. "Tapi aku sudah menunggumu. Ayo Ikut aku."

Vivi mencondongkan tubuh ke telingaku, berbisik tanpa suara: Aku tidak suka ini.

Aku juga, batinku.

Tapi kakiku sudah melangkah. Bagian dalam kota membuat mataku tak tahu harus menatap ke mana. Jalan-jalannya terbuat dari lempeng bercahaya halus yang berpendar ketika diinjak. Kereta tanpa kuda meluncur pelan di jalur-jalur sempit, dan toko-toko berderet dengan papan cahaya yang menampilkan gambar bergerak. Namun kota ini sunyi. Orang-orang berjalan cepat sambil menunduk, anak-anak digiring masuk ke rumah, dan beberapa warga mengangkut peti berisi persediaan ke gudang bawah tanah. Aku bisa mencium ketakutan di udara.

Cecilia berjalan di depanku tanpa bicara, sampai kami tiba di sebuah bangunan putih besar di pusat kota. Istana itu bukan dari batu ataupun kayu, melainkan lengkungan kaca dan logam yang bersinar redup dari dalam. Dua pengawal membuka pintunya tanpa bertanya. Ruangan di dalamnya luas dan beratap tinggi. Di tengahnya terdapat meja bundar dengan peta bercahaya yang melayang di atasnya, menampilkan benua dengan titik-titik merah di mana-mana. Titik-titik itu pasti kemah-kemah kroco, dan jumlahnya membuat perutku mengencang.

Di sekeliling meja berdiri tiga orang.

"Mereka ini tiga pilar utama penjaga kota ini," kata Cecilia sambil berbalik menghadapku. Ia menyentuh dadanya dengan telapak tangan, gerakan hormat khas kota ini. "Sebelum itu, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Cecilia. Aku seorang marksman. Aku adalah pemimpin mereka."

Lalu Seorang pria bertubuh besar maju lebih dulu. Tingginya hampir dua kepala di atasku, bahunya selebar pintu, dan di punggungnya terpasang perisai raksasa dari logam hitam. Wajahnya keras, tapi matanya hangat.

"Kalo aku Robert," katanya, suaranya dalam seperti genderang. "Peranku sebagai tank. Kalau ada yang menyerang, akulah yang berdiri paling depan."

"Kalo Aku Dax." Pemuda kedua muncul dari bayangan di sudut ruangan, begitu senyap hingga aku tak menyadari kehadirannya sampai ia berbicara. Tubuhnya ramping, kedua tangannya menggenggam belati melengkung, dan senyumnya miring. "Aku seorang Assassin. Tapi Jangan khawatir, aku tak membunuh tamu." Ia berhenti sejenak. "Biasanya."

Gadis terakhir melangkah dengan tenang. Ia mengenakan jubah biru tua bersulam lingkaran bercahaya, dan di tangannya melayang sebuah bola kecil yang berpendar lembut. Rambutnya hitam pendek, matanya teduh namun penuh perhitungan.

"Perkenalkan namaku Hana," ucapnya sambil membungkuk sedikit. "Aku seoramg Penyihir kota ini, seorang mage. Aku mengurus mantra pelindung dan penyembuhan." Ia melirik memar di rahangku. "Dan kelihatannya kau butuh yang kedua."

Dax terkekeh. "Kayaknya Dia sudah mengamatimu sejak kau masuk."

Aku terdiam, merasa kecil di tengah mereka. Selama sepuluh tahun aku dilatih sebagai petarung, tapi mereka menyandang peran yang tak kukenal. Mereka berempat tampak seperti satu tubuh dengan empat anggota, sementara aku hanya sendirian.

"Oke sekarang giliranmu memperkenalkan dirimu," kata Cecilia lembut.

Kutegakkan punggung dan menyentuh dadaku dengan tangan, meniru gerakan mereka. "Namaku Arka. Aku seorang pengembara dari distrik paling selatan. Guruku mengutusku mencari informasi tentang identitas entitas. Hanya itu yang kuketahui tentang misiku."

Vivi mengintip dari balik rambutku. "Dan namaku Vivi. Aku seorang peri lembah. Aku... eh, menemaninya."

Kali ini Robert tertawa pendek. "Peri lembah sudah lama tak terlihat di luar hutan. Kau pasti punya alasan bagus."

"Aku hanya tak mau ditinggal sendirian aja," jawab Vivi jujur, dan ruangan itu mengendur sedikit.

Cecilia menatapku lama. Lalu, tanpa peringatan, ia berkata "Oh iya Arka, sepertinya tadi aku melihat pertarunganmu."

Darah di wajahku seperti surut. "Apa?"

"Kok kamu tau pertarunganku ?" Tanyaku

"Di menara timur kami ada lensa pengamat, alat yang bisa melihat sampai puluhan kilometer." Ia menunjuk ke peta bercahaya, tepat di titik tempat lembah batu hitam berada. "Aku sedang berjaga ketika ada gejolak energi di sana. Aku melihatmu melawannya tadi."

Tenggorokanku mengencang. "Kalau begitu kau juga melihat..."

"Iya Aku melihat kamu kalah," sambungnya, tanpa nada menghina. "Dan aku melihat apa yang terjadi sesudahnya."

Ia mengangkat tangan, dan peta melayang itu berubah. Gambar lembah membesar, menampilkan siluet hitam yang menyerap delapan cahaya berwarna, lalu membubung ke langit.

Langit di gambar itu retak seperti kaca dihantam batu, dan dari retakan itu berjatuhan titik-titik hitam yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.

"Entitas itu mengambil delapan kristal penyeimbang dan membawanya ke langit," ujar Hana pelan, menatap tampilan itu dengan sorot muram. "Kristal-kristal itu menahan celah antara dunia ini dan dunia kroco. Begitu kristalnya hilang, langitnya akan robek."

"Iya juga, Dan mereka kini mulai berdatangan," lanjut Robert. Tangannya yang besar mengepal di tepi meja. "Hanya dalam beberapa jam aja, kami sudah menghitung lebih dari seratus kemah di seluruh benua. Mereka tidak menyerang kota secara langsung, belum. Mereka mengambil makanan, harta, apa saja yang bisa diangkut."

"Mereka sepertinya lagi bersiap," kata Dax. Senyum miringnya hilang. "Itu yang paling kutakutkan. Kroco tak pernah membangun kemah tanpa tujuan."

Aku menatap peta, menatap titik-titik merah yang semakin banyak, dan merasakan sesuatu yang berat menimpaku. Di lembah itu aku merasa kehilangan harga diri. Di sini aku mulai melihat harga yang sebenarnya.

"Kami adalah ranger kota," kata Cecilia, suaranya tenang tapi berat. "Tugas kami menjaga kedamaian Sendira dari ancaman entitas. Kami sudah lama mendengar tentang mereka, tentang makhluk yang membenci manusia tanpa alasan yang kami pahami. Tapi sampai hari ini, belum pernah ada yang bertemu langsung dengannya dan masih hidup untuk menceritakannya."

Ia menatapku lurus. Mata biru pucatnya tak berkedip.

"Kamu yang pertama, Arka."

Ruangan sunyi. Aku bisa mendengar dengung halus dari peta bercahaya, dan di bahuku Vivi menahan napas.

Aku ingin mengatakan bahwa aku bukan siapa-siapa. Bahwa aku hanya pengembara yang beruntung tidak mati. Bahwa jika mereka mencari pahlawan, mereka salah orang.

Tapi yang keluar dari mulutku hanya satu kalimat.

"Aku ingin tahu semua yang kalian ketahui tentang dia."

Cecilia tersenyum. Itu senyum pertama yang benar-benar hangat sejak aku tiba di kota ini.

"Duduklah," katanya sambil menarik sebuah kursi untukku. "Ceritanya panjang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!