Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Lalu Bagas pergi langsung menuju restoran mewah di pinggiran kota.
Lampu gantung berbahan kristal memancarkan cahaya keemasan yang hangat di dalam ruang VIP Private Dining Restoran The Grand Heritage.
Suara gemerincing dentingan sendok dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen terdengar selaras dengan alunan musik classic jazz dari sudut ruangan.
Di ujung meja makan panjang berlapis taplak putih bersih, Pak Hendra—Direktur Utama Aethelgard Financial—mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi.
Wajahnya yang memerah ramah menatap ke arah belasan karyawan berprestasi yang hadir dalam jamuan makan malam eksklusif malam itu.
"Untuk kuartal ketiga yang luar biasa ini," ujar Pak Hendra dengan suara berat yang berwibawa.
"Dan terutama untuk Bagas, manajer muda kita yang baru saja mengeksekusi proyek investasi bernilai belasan miliar rupiah.
Kinerjamu luar biasa, Gas!"
Bagas yang duduk di barisan tengah meja tersenyum lebar, membetulkan letak jas navy blue buatan penjahit ternama yang membalut tubuhnya.
"Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Pak Hendra. Ini semua berkat bimbingan Bapak dan kerja keras tim juga."
"Wah, jangan terlalu rendah hati begitu, Bagas!" timpal Bu Anita, Kepala Departemen Pemasaran yang duduk tepat di seberang Bagas.
Tangannya yang dipenuhi perhiasan berkilau memegang gelas minuman. "Muda, tampan, karier melesat cepat, dan selalu rapi. Kamu ini benar-benar paket lengkap di kantor ini."
Gelisah kecil mulai merayap di dada Bagas, tetapi ia menyembunyikannya di balik senyuman menawan.
"Omong-omong soal paket lengkap," sahut Danang, rekan sejawat Bagas yang sejak awal mengincar posisi Direktur Operasional.
Danang bersandar di kursinya, memegang gelas es krim vanila sambil menatap Bagas dengan kilat mata yang sulit diartikan.
"Seingatku, akhir pekan lalu aku tidak sengaja melihatmu di area pasar tradisional dekat pinggiran kota.
Kamu jalan sama wanita berkerudung sederhana sambil menggendong anak kecil, ya?"
Meja makan yang tadinya riuh tiba-tiba menjadi sedikit lebih tenang. Beberapa pasang mata kini tertuju pada Bagas.
Bagas merasakan tenggorokannya mendadak kering. Bayangan Rini, istrinya yang tampil sederhana tanpa riasan tebal, serta bayangan putrinya yang berusia tiga tahun, melintas secepat kilat di pikirannya.
Pikiran Bagas berputar liar. Jika rekan-rekan direksi dan para investor di ruangan ini tahu ia sudah menikah dengan wanita kampung biasa dan tinggal di kontrakan sempit pinggiran kota,
citra manajer muda elit nan independen yang susah payah ia bangun akan hancur seketika. Danang pasti akan memanfaatkan hal itu untuk menjatuhkannya.
"Pasar tradisional?" Bagas tertawa renyah, berusaha terdengar sangat santai dan alami. "Ah, kamu salah lihat itu, Danang.
Mana mungkin aku ke pasar tradisional hari Minggu kemarin? Aku seharian ada di golf club bareng klien dari Singapura."
Danang mengerutkan keningnya, berpura-pura bingung.
"Masa, sih? Tapi mukanya mirip banget sama kamu, Gas. Aku pikir itu istrimu."
"Istri?" Bagas menyilangkan kedua tangannya di atas meja, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum geli.
"Sembarangan kamu. Aku ini belum menikah, Danang."
Kata-kata itu meluncur begitu mulus dari bibir Bagas tanpa sedikit pun keraguan.
"Loh, benaran belum punya istri, Bagas?" tanya Pak Hendra dengan raut wajah kaget sekaligus gembira.
"Saya pikir pria sesukses dan seunggul kamu sudah berkeluarga."
"Belum, Pak Hendra," tegas Bagas lagi, memperkuat kebohongannya. Ia menatap lurus ke mata Pak Hendra.
"Fokus saya selama beberapa tahun terakhir ini murni seratus persen untuk karier dan membesarkan perusahaan ini.
Menurut saya, pernikahan itu tanggung jawab yang sangat besar. Saya belum mau terburu-buru sebelum benar-benar mapan dan menemukan pasangan yang sepadan."
"Luar biasa!" puji Pak Hendra sambil menepuk meja pelan.
"Komitmen yang sangat langka di kalangan anak muda zaman sekarang. Kerja keras dulu, urusan asmara belakangan!"
"Tuh, kan! Apa saya bilang, Pak!" Bu Anita memotong antusias. "Anak muda berprestasi seperti Bagas ini standar pandangnya pasti tinggi.
Tidak mungkin sembarangan memilih pendamping hidup."
"Iya juga, ya," gumam Danang dengan senyum tipis yang tertahan, seolah-olah menyadari sesuatu tetapi memilih untuk menyimpan kartu asnya untuk saat ini.
"Maaf ya, Gas, berarti kemarin aku memang salah orang. Soalnya wanita itu kelihatan lusuh sekali, jadi tidak mungkin juga bersanding sama Manajer Bagas yang klimis begini."
Dada Bagas serasa dihantam batu besar saat mendengar kata lusuh ditujukan untuk istrinya. Ada rasa bersalah yang menusuk-nusuk ulu hatinya.
Rini adalah wanita yang menemaninya dari nol, yang rela menghemat uang belanja demi membelikan jas mahal yang sedang ia kenakan malam ini.
Namun, rasa gengsi dan ketakutan akan kehilangan status sosial menelan bulat-bulat rasa bersalah itu.
"Ya, tentu saja beda kelaslah, Nang," jawab Bagas dingin, memaksa senyum terbaiknya tetap terkembang.
"Nah, Bagas," potong Pak Hendra dengan binar mata cerah. "Karena kamu masih single, kebetulan sekali! Putri saya, Clarissa, baru saja menyelesaikan studi S2-nya di London dan minggu depan kembali ke Indonesia.
Dia suka sekali dengan pria yang pekerja keras seperti kamu. Nanti saya atur waktu untuk kalian berdua makan malam ya?"
Bagas tertegun sejenak. Peluang emas untuk menjadi menantu pemilik perusahaan terbuka lebar di depan matanya.
"Suatu kehormatan besar bagi saya, Pak Hendra," sahut Bagas cepat, membungkukkan badannya sedikit dengan gestur sopan. "Saya akan sangat senang sekali bisa berkenalan dengan Clarissa."
Ponsel Bagas yang diletakkan telungkup di samping piringnya tiba-tiba bergetar tanpa henti.
Layarnya menyala samar memperlihatkan panggilan masuk beruntun.
Panggilan Masuk: Istriku (Rini)
Bagas melirik nama itu dari sudut matanya. Tanpa ragu, jemarinya terulur di bawah meja, lalu menekan tombol merah untuk menolak panggilan tersebut.
Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk:
'Mas Bagas, maaf mengganggu acara kafenya. Dek Aila demam tinggi dari sore, batuknya makin parah. Bisakah Mas pulang cepat untuk antar kami ke klinik?'
Bagas mematikan layar ponselnya sepenuhnya dan memasukkannya ke dalam saku jas.
Ia kembali mengangkat gelas anggurnya, tersenyum lebar menatap Pak Hendra dan rekan-rekan kafenya yang sedang tertawa riang.
"Mari kita bersulang untuk masa depan Aethelgard Financial!" seru Bagas nyaring, menyembunyikan getaran di tangannya di balik kemewahan malam itu.