Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daging Bakar dan Ego kota
Mohon maaf dari Author sebelumnya, karena sedikit merubah alur cerita, di karenakan ada beberapa Revisi, pembaca bisa mengulang untuk membaca di bab sebelumnya jika di rasa tidak nyambung.
***
Hera masih berdiri dengan dada naik-turun menahan dongkol. Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan Sulung yang kini sibuk di depan tungku batu.
Pria itu sama sekali tidak memedulikan tatapan membunuh dari sang profesor muda. Dengan ketenangan yang menyebalkan, Sulung menggunakan Khanjar kuno miliknya untuk membersihkan burung buruan besar yang dibawanya tadi, lalu menusuk daging itu dengan bilah bambu hijau.
Aroma daging bakar yang gurih perlahan mulai memenuhi ruangan gubuk yang temaram, bercampur dengan wangi kayu gaharu yang menenangkan.
Kruuuk...
Sebuah suara nyaring dan jujur mendadak memotong keheningan di dalam gubuk. Hera spontan menangkupkan kedua tangan ke atas perutnya.
Wajahnya yang sudah merah karena kesal kini semakin memerah padam karena malu. Sial. Jam biologis tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama untuk menjaga gengsi akademisnya. Dia belum makan apa pun sejak kemarin sore di laboratorium kota.
Sulung melirik sekilas ke arah perut Hera. Sudut bibir tipisnya terangkat sekerap kuku, membentuk senyuman meremehkan yang sangat tipis sebelum wajahnya kembali sedingin es.
Dia mengambil sepotong besar daging dada burung yang sudah matang dan berair, meletakkannya di atas selembar daun jati bersih, lalu menyodorkannya ke hadapan Hera.
"Makan,"
perintah Sulung pendek.
Hera menatap potongan daging itu dengan dahi berkerut dalam. Alih-alih menerimanya, dia justru mundur satu langkah dan melipat tangan di dada dengan angkuh. Watak keras kepalanya kembali memegang kendali.
"Aku tidak mau makan itu," ketus Hera, memalingkan wajahnya ke arah rak senjata.
"Daging itu tidak higienis. Kau membakarnya tanpa garam, tanpa bumbu, dan aku tidak tahu apakah burung itu membawa parasit atau virus zoonosis yang berbahaya bagi tubuh manusia!"
Sulung menatap daging di tangannya, lalu menatap Hera dengan pandangan datar yang sangat aneh. Di telinga seorang panglima klan purba, istilah 'higienis' dan 'zoonosis' terdengar seperti mantra sihir kuno yang tidak masuk akal.
"Ini makanan. Bukan racun," jawab Sulung, suaranya yang berat tetap stabil tanpa riak emosi. He kembali menyodorkan daun jati itu, kali ini tepat di depan dada Hera. "Makan, atau kau akan mati lemas sebelum malam tiba."
"Aku lebih baik makan ransol biskuit darurat di tas riset milikku sendiri daripada harus memakan daging liar tanpa jaminan laboratorium!" balas Hera sengit, dagunya terangkat tinggi menantang kedigdayaan Sulung.
Dia memutar tubuhnya, berjalan menuju sudut tempat rak senjata untuk mengambil tas ransel kecilnya. Dengan gerakan tergesa-gesa, Hera membuka ritsleting tas, berniat memamerkan biskuit nutrisi tinggi buatan perusahaan farmasi ayahnya kepada pria hutan di depannya ini.
Namun, begitu tangannya meraba bagian dalam tas, gerakan Hera mendadak membeku.
Nihil. Saku logistik darurat di tasnya kosong. Biskuitnya tertinggal di dalam jip hitam milik Baskara semalam. Yang tersisa di dalam tasnya hanyalah tumpukan kantung sampel steril berisi bunga Dream Flower, sebuah kamera saku, dan jurnal catatannya.
Hera menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Sial ganda.
Sulung yang sejak tadi berdiri diam mengawasi, melangkah mendekat dengan langkah kaki yang tanpa suara. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika mengurung ruang gerak Hera di dekat rak senjata, memancarkan aura dominasi yang menuntut ketundukan mutlak.
Dia menjatuhkan daun jati berisi daging bakar itu tepat ke atas pangkuan Hera yang terpaksa kembali duduk di balok kayu karena lemas.
"Di Alas Purba, makanan tidak butuh izin dari kotamu, Wanita luar," ucap Sulung dingin, matanya yang setajam elang malam mengunci manik mata Hera dari ketinggian berdirinya.
"Sains yang kau banggakan itu tidak akan bisa mengisi perutmu yang berisik."
Hera mendongak, menatap lurus ke dalam mata Sulung dengan pandangan berapi-api. Dongkolnya sudah menyentuh ubun-ubun karena telak disindir.
"Kau ini benar-benar tidak punya sopan santun ya! Menghina ilmu pengetahuan di depan seorang profesor! Asal kau tahu, tanpa sains, manusiamu di klan ini tidak akan tahu cara menyembuhkan infeksi bakteri!"
"Tapi tanpa daging ini, profesormu akan menjadi mayat yang kelaparan," balas Sulung datar namun sangat menohok.
Hera mengatupkan bibirnya rapat-rapat, napasnya memburu menahan geram. Perdebatan sengit namun konyol itu benar-benar menguji batas kesabarannya.
Matanya beralih menatap potongan daging dada burung di pangkuannya yang masih mengepulkan uap hangat. Aromanya begitu menggoda sel-sel di dinding lambungnya yang mulai meronta meminta hak hidup.
Dengan perasaan campur aduk antara lapar yang teramat sangat dan harga diri yang hancur lebur, Hera akhirnya mengalah secara tidak elegan.
Dia mencengkeram potongan daging itu dengan jemarinya yang masih terbalut sarung tangan lapangan yang kotor, lalu menggigitnya dengan kasar seolah daging itu adalah wajah Sulung sendiri.
Nyam.
Mata Hera mendadak melebar sedikit. Tekstur dagingnya ternyata sangat empuk, manis alami tanpa bumbu, dan berair melimpah karena dipanggang dengan keahlian tingkat tinggi dari seorang pemburu terbaik hutan. Rasa gurih yang murni langsung memanjakan lidahnya yang kelaparan.
Sulung yang melihat wanita kota itu mulai mengunyah dengan lahap meskipun wajahnya masih ditekuk cemberut habis-habisan, hanya mendengus pelan melalui hidungnya.
Pria tegap itu berbalik, kembali berjalan menuju ranjang kulit beruangnya dengan ketenangan kedigdayaan yang mutlak, merasa telah memenangkan pertempuran ego malam dan pagi itu melawan sang profesor keras kepala dari dunia luar.
Hera yang menyadari dirinya sedang diawasi, langsung memperlambat kunyahannya dan mendelik tajam ke arah punggung Sulung. "Dengar ya, Sulung! Aku makan ini cuma karena terpaksa demi kelangsungan riset obat kanker Mama, bukan karena aku tunduk pada perintahmu! Paham?!"
Sulung tidak repot-repot membalikkan badannya untuk merespons teriakan cempreng tersebut. Dia hanya mengambil pedang Khanjar tulangnya, menduduki tepi ranjang, dan mulai mengasah bilah senjata purbanya dengan batu hitam dalam keheningan yang pekat, membiarkan Hera menyelesaikan sarapan paginya yang dipenuhi dengan rasa dongkol yang membara di atas awan.