Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 35 — Jejak yang Menulis Ulang
Peta yang diserahkan sosok itu tidak seperti peta biasa — garis-garisnya bergerak perlahan, berubah arah seiring berjalannya waktu, seakan jalan yang dituju sendiri tidak menetap.
"Pusat Kebohongan tidak berdiri di satu tempat," jelas sosok itu, namanya kini diketahui — Valerius. "Ia berpindah mengikuti ingatan yang paling ingin dilupakan. Saat seseorang menyembunyikan kebenaran, di sanalah ia muncul sejenak, menumbuhkan kebohongan baru."
"Bagaimana cara mencapainya jika tempatnya terus berpindah?" tanya Kaelan, matanya tak lepas dari garis yang berubah di atas kain itu.
"Kita tidak mengejarnya," jawab Valerius pelan. "Kita menariknya keluar. Kebohongan tumbuh di tempat yang gelap dan sunyi. Jika kita membawa cahaya ke tempat yang paling banyak ditutup-tutupi… ia akan muncul sendiri."
Lyra menatap peta itu lekat-lekat, jarinya menelusuri titik yang paling terang dan paling gelap sekaligus. "Ada satu tempat di mana semua jejak bertemu — tempat di mana kisah pertama kali diceritakan ulang. Lembah Terlupakan, di perbatasan dunia yang pernah dikunjungi. Di sana, setiap kisah memiliki dua versi — satu yang benar, satu yang diinginkan."
Mereka melangkah kembali menembus gerbang Zaman Awal, namun kali ini perjalanannya terasa berbeda — tidak lagi berat, tidak lagi penuh ketakutan. Cahaya yang dulunya pucat kini menyapa mereka dengan hangat, seakan tempat itu sendiri mengerti ke mana mereka tuju.
Saat mereka melangkah keluar, mereka berdiri di tepi lembah yang dikelilingi kabut tebal yang tak kunjung hilang. Pohon-pohon di sana tumbuh berpasangan, batangnya menjauh seakan saling menghindar, dan sungai yang mengalir di dasarnya terbelah menjadi dua — satu jernih berkilauan, satu keruh kelabu, mengalir sejajar tanpa pernah menyatu.
"Ini dia," bisik Seraphina. "Dikatakan di sini, jika kau mendengar suara yang tidak sesuai dengan apa yang kau lihat… itulah kebohongan yang berbicara."
Mereka berjalan perlahan ke dasar lembah. Semakin masuk, semakin banyak suara terdengar — bukan dari orang yang terlihat, melainkan dari bayang-bayang yang berjalan di samping mereka, bercerita tentang masa lalu yang terasa asing.
"Kai dikhianati karena ambisinya sendiri," bisik satu bayangan. "Ia meninggalkan keluarganya demi kekuasaan."
"Aurelia dicari karena membawa kutukan," bisik yang lain. "Kehancuran akan mengikutinya ke mana pun ia pergi."
Kai berhenti melangkah, mengepalkan tangannya erat. Kata-kata itu tidak benar, namun terdengar begitu meyakinkan, begitu nyata, seakan perlahan mengubah ingatan yang sebenarnya.
"Jangan dengarkan," katanya tegas, meski hatinya terasa dihujat. "Itu bukan kebenaran."
"Apakah kau yakin?" bisik suara tepat di telinganya. "Apakah kau benar-benar dikhianati, atau kau yang tidak pernah melihat kenyataan?"
Langkahnya terhenti. Keraguan merayap masuk — hal-hal yang dulu ia yakini seketika terasa samar. Apakah istrinya benar-benar mengkhianatinya, atau ada hal yang tidak ia ketahui? Apakah ia korban, atau ia juga salah?
"Jangan biarkan ia masuk," suara Aurelia terdengar lembut namun tegas, memecah kebisingan itu. "Kebohongan tidak memaksanya masuk. Ia hanya menunggu pintu dibuka dari dalam."
Kai menarik napas panjang, mengusir keraguan itu. Ia menoleh ke putrinya, tersenyum tipis. "Kau benar. Aku tahu siapa aku."
Saat ia berkata begitu, kabut di sekitarnya sedikit menipis. Namun di kejauhan, di tengah lembah, kabut itu justru semakin tebal, berputar membentuk pilar besar. Dari sana, suara terdengar — jelas, lantang, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Kebenaran adalah apa yang kami katakan."
Pilar kabut itu terurai, menampakkan sosok-sosok berjubah putih bersih, wajah mereka tenang dan penuh wibawa. Mereka berdiri berbaris, tidak membawa senjata apa pun, namun kehadirannya membuat udara terasa kaku.
"Kalian mencari kami," kata pemimpin mereka, matanya menatap lurus ke arah Aurelia. "Kalian ingin mempertanyakan apa yang telah ditetapkan sejak awal."
"Kami mencari kebenaran," jawab Aurelia, tidak mundur walau sedikit. "Bukan apa yang kalian tetapkan."
Pemimpin itu tersenyum tipis, senyum yang penuh belas kasihan namun dingin. "Anak kecil yang malang. Kau tidak mengerti. Jika semua orang tahu kebenaran yang sebenarnya… banyak yang akan hancur. Harapan akan hilang, kepercayaan akan runtuh, dunia akan jatuh ke dalam keputusasaan. Kami melindungi mereka dengan menyembunyikannya."
"Melindungi atau memerintah?" tanya Elara tajam.
"Keduanya sama saja," jawab pemimpin itu tenang. "Kami menjaga agar dunia tetap berjalan tanpa hancur. Dan gadis ini… ia membawa sesuatu yang akan menghancurkan keseimbangan itu. Ia akan membuka luka yang sudah lama ditutup."
"Luka yang tidak diobati akan terus bernanah," kata Kaelan maju selangkah. "Menutupnya bukan berarti menyembuhkannya."
Pemimpin itu mengangkat tangan, dan tanah di sekitar mereka bergetar. Bayangan-bayangan yang tadi berbisik kini berubah wujud — menjadi sosok-sosok yang menyerupai orang-orang yang mereka cintai, wajahnya sama persis, namun matanya kosong.
"Jika kalian bersikeras," katanya, "kalian akan melawan mereka yang paling kalian sayangi."
Dari kabut muncul sosok yang menyerupai Kairus, ayah mereka. Di sisi lain, sosok yang menyerupai guru mereka, sosok yang menyerupai teman-teman yang pernah pergi. Mereka berdiri diam, menatap tanpa ekspresi, siap menyerang jika diperintah.
"Ini bukan mereka," kata Kai pelan, meski dadanya terasa sesak melihat wajah itu lagi. "Ini hanya bayangan."
"Tapi rasanya sama, bukan?" bisik pemimpin itu. "Sakitnya sama. Rindu yang tertahan sama."
Aurelia melangkah ke depan, mendekati sosok yang menyerupai kakeknya. Ia tidak mengangkat tangan untuk menyerang. Ia justru tersenyum lembut.
"Kau tidak bisa menjadi seperti mereka," katanya pelan. "Karena mereka tidak akan pernah menyakiti kami. Mereka mengajarkan kami untuk melindungi, bukan melukai."
Sosok itu diam. Cahaya di sekelilingnya sedikit meredup.
"Kalian meminjam wajah mereka," lanjut Aurelia, "tapi kalian tidak memiliki hati mereka. Itulah perbedaannya."
Ia mengulurkan tangan ke arah bayangan itu. "Jika kalian menyimpan kebenaran di dalam sini… tunjukkanlah. Jangan bersembunyi di balik wajah orang lain."
Pemimpin itu mengerutkan dahi. "Kau tidak mengerti apa yang kau minta."
"Aku mengerti," jawab Aurelia tegas. "Aku siap mendengar apa pun. Tapi jangan sembunyikan lagi."
Keheningan menyelimuti lembah. Perlahan, bayangan-bayangan itu mulai memudar, seakan kata-kata Aurelia meluruh kekuatan yang mempertahankan wujud mereka. Pemimpin itu menatap gadis kecil itu lekat-lekat, lalu perlahan menghela napas panjang.
"Ikutlah," katanya akhirnya, suaranya kehilangan ketegasannya. "Kalian akan melihat apa yang kami sembunyikan. Tapi jangan menyesal setelah mengetahuinya."
Mereka berbalik, berjalan masuk ke dalam kabut yang kini terbelah membuka jalan. Kai dan teman-temannya saling berpandangan, lalu mengikuti — melangkah masuk ke tempat di mana kebenaran yang tak terbayangkan menanti.
...****************...