NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Perang Di Antara Dua Takdir

Aroma karbol yang tajam bercampur hangatnya sinar matahari pagi menyusup pelan lewat celah tirai kamar perawatan VVIP Rumah Sakit Medika Jakarta. Di atas tempat tidur berlapis sprei putih steril, Naya terbaring lemah namun gurat kehidupannya kembali memancar. Selang oksigen yang melingkar di hidungnya mengembun tipis seiring gema napasnya yang mulai teratur. Di sampingnya, Gavin duduk tak bergeming, memeluk jemari dingin Naya dengan kedua tangannya yang kekar, seolah jika ia melepasnya sedikit saja, sang pujaan hati akan lenyap disambar badai.

Kelopak mata Naya terbuka perlahan, memantulkan sinar kedamaian yang begitu bening. "Mas Gavin..." bisik Naya amat lirih, suaranya parau dan terbata. "Ayla... bagaimana keadaan Ayla?"

Gavin menyunggingkan senyum paling hangat yang pernah ia miliki, meski matanya masih berkaca-kaca menahan luapan emosi. Ia mengecup jemari Naya berulang kali dengan kelembutan yang menyayat hati. "Ayla sudah sadar di kamar sebelah, Humairah. Dokter bilang operasi pemulihannya berjalan sangat baik. Ginjal yang ia berikan padamu... kini hidup di dalam tubuhmu. Adikku mengorbankan separuh jiwanya demi membayar penyesalan masa lalunya, Naya."

Air mata bening menetes lembut dari sudut mata Naya, membasahi bantal medis. Hatinya bergetar hebat memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah yang merajut takdir mereka. Dahulu, Naya mengira kebohongan-kebohongan kecil yang ia rangkai dari rasa takut—takut kehilangan, takut dihakimi, takut membuat Gavin terpuruk—akan berujung pada kebinasaan. Ia ingat betul bagaimana di awal pernikahan mereka, ia terpaksa mengubur dalam-dalam rasa penyesalan akan trauma masa lalunya dan berpura-pura tegar demi mencintai apa pun yang dicintai suaminya. Ia memeluk Islam pada awalnya sebagai bentuk pengabdian pada pria yang menjadi pemuja hatinya. Namun di atas sajadah, dalam tangis ketakutannya, kebohongan itu perlahan luntur digantikan oleh iman yang hakiki dan cinta yang teramat suci.

Namun, kedamaian di kamar pemulihan itu pecah seketika ketika pintu ganda terdorong kasar. Pak Hendra, pengacara senior keluarga Danudirdja, melangkah masuk dengan raut wajah seputih kertas. Di belakangnya, dua pengawal pribadi Gavin berdiri tegap dengan posisi siaga, wajah mereka menyiratkan ketegangan tingkat tinggi.

"Pak Gavin... kita berada dalam bahaya besar," ucap Pak Hendra dengan napas memburu, menyodorkan sebuah dokumen tebal bersampul merah darah serta sebuah tablet digital yang menampilkan peta pelacakan penerbangan privat.

Gavin berdiri tegak, memposisikan tubuhnya secara protektif di depan tempat tidur Naya. "Ada apa, Pak Hendra? Jangan membuat Naya panik."

"Richard Danudirdja... pria itu sudah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma satu jam yang lalu dengan jet pribadinya," bisik Pak Hendra, suaranya bergetar menahan ketakutan yang mendalam. "Obsesi gelap pria itu sudah melampaui batas kewarasan. Mengetahui bahwa transplantasi ginjal Ayla berhasil mematahkan efek racun lambatnya pada Naya, Richard mengamuk. Ia tidak hanya membawa pasukan tentara bayaran berpakaian sipil dari Eropa, tapi ia juga baru saja menyebarkan salinan dokumen rahasia ke seluruh media massa papan atas dan instansi hukum Jakarta!"

Dada Naya berdesir hebat. Senyuman bahagia yang baru saja terukir di wajahnya seketika sirna. "D-dokumen apa, Pak Hendra?" tanya Naya dengan napas yang mulai memburu.

Pak Hendra menunduk dalam, tak sanggup menatap manik mata Naya yang penuh penderitaan. "Dokumen perikatan pernikahan rahasia yang ditandatangani oleh almarhum ayah Mbak Naya lima tahun lalu di Zurich... Dokumen itu menyatakan bahwa secara hukum perdata internasional, Mbak Naya masih terikat hubungan hukum eksklusif dan perjanjian harta warisan dengan Richard Danudirdja. Richard memanfaatkan klausa tersebut untuk menuduh Pak Gavin melakukan penculikan, pemalsuan dokumen mualaf, dan tuduhan perselingkuhan terlarang yang mengancam keabsahan pernikahan Islam kalian di mata hukum internasional!"

"JABATAN DAN DOKUMEN BUSUK ITU TIDAK BERARTI APA-APA DI SINI!" gertak Gavin dengan suara bariton yang menggema, membakar keheningan ruangan! Matanya membelalak penuh kemurkaan yang menyala-nyala. "Naya adalah istri sah saya di hadapan Allah dan hukum negara ini! Saya yang mengucap ijab kabul di hadapan saksi dan pencatat nikah! Tidak ada satu orang pun di dunia ini—termasuk Richard—yang bisa merebut Naya dari sisiku!"

"Tapi Pak Gavin..." potong Pak Hendra lirih, "Richard tidak bertarung di pengadilan. Pria itu menyuap oknum aparat dan membawa dokumen eksekusi penjemputan paksa atas nama perawatan medis darurat di Swiss. Jika dokumen itu disahkan dalam beberapa jam ke depan, secara legal mereka punya hak untuk membawa Mbak Naya keluar dari rumah sakit ini secara paksa!"

Belum sempat Gavin merespons, layar televisi datar di sudut kamar yang menyiarkan berita darurat mendadak menampilkan liputan langsung dari luar gerbang Rumah Sakit Medika Jakarta. Puluhan wartawan berkumpul, dikepung oleh barisan mobil SUV hitam bertiras gelap. Di tengah kerumunan tersebut, berdiri seorang pria tinggi tegap berjas kelabu buatan Italia dengan senyuman dingin yang mengerikan. Rambut peraknya tertata rapi, dan matanya tajam bagaikan elang yang siap mencengkeram mangsanya.

Richard Danudirdja. Pria yang menjadi mimpi buruk dalam hidup Naya selama bertahun-tahun.

Melalui wawancara langsung yang ditayangkan, Richard berbicara dengan nada tenang namun penuh racun manipulasi. "Saya datang ke Indonesia hanya untuk menyelamatkan tunangan sah saya, Naya Danudirdja, yang telah diculik dan dimanipulasi oleh pengusaha Gavin Ardiansyah. Naya menderita pencucian otak dan dipaksa mengubah keyakinannya dalam kondisi trauma. Saya memiliki seluruh dokumen medis dan hukum yang sah dari Zurich. Jika Gavin Ardiansyah tidak menyerahkan Naya dalam waktu dua jam, saya akan membongkar seluruh skandal gelap Ardiansyah Group ke bursa saham internasional dan mengambil tindakan tegas!"

Di atas tempat tidur, tubuh Naya gemetar hebat. Monitor detak jantungnya kembali berbunyi makin cepat dan nyaring (beep-beep-beep-beep). Bayangan masa lalu ketika ia dikurung di vila Zurich, diancam akan dibunuh jika menolak dijodohkan, dan siksaan psikologis saat ia terpaksa berpura-pura patuh sebelum akhirnya melarikan diri ke Indonesia, mendadak menyergap jiwanya tanpa ampun.

"Tidak... Tidak... Mas Gavin, jangan biarkan dia membawaku..." jerit Naya histeris. Air matanya meledak dalam keputusasaan yang teramat sangat. Tangan dinginnya mencengkeram jas Gavin begitu erat, seolah menyalurkan seluruh sisa kekuatannya. "Aku tidak pernah mencintainya, Mas! Demi Allah, aku hanya mencintaimu! Kebohonganku di masa lalu... keputusasaanku... semua itu karena aku takut dia menyakitimu dan keluarga kita! Mas... jangan biarkan dia memisahkan kita!"

Gavin merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya, mendekap kepala istrinya di dadanya yang tegap, membiarkan air mata Naya membasahi kemejanya. Gavin memejamkan mata erat-erat, menahan remukan kepedihan yang tiada tara di dalam dadanya. Bagaimana bisa seorang wanita selembut Naya harus terus-menerus dihantam oleh takdir yang begitu kejam? Betapa dalamnya luka yang disimpan Naya sendirian di balik senyuman manisnya selama ini!

"Dengarkan Mas, Humairah..." bisik Gavin tepat di telinga Naya, suaranya bergetar hebat oleh perpaduan antara cinta yang mendalam dan amarah yang membara. "Mas tidak akan pernah membiarkan seujung kuku pun dari tubuhmu disentuh oleh pria itu. Bahkan jika Mas harus mempertaruhkan seluruh harta, Ardiansyah Group, dan nyawa Mas sendiri... Mas akan berdiri sebagai perisaimu sampai hembusan napas terakhir Mas!"

Tiba-tiba, pintu kamar kembali terbuka. Ayla masuk dengan memakai kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Meskipun wajahnya masih sangat pucat dan selang drainase pasca-operasi masih terpasang di samping pinggulnya, mata Ayla memancarkan keberanian yang luar biasa.

"Mba Naya... Mas Gavin..." panggil Ayla dengan suara serak namun mantap. "Jangan takut. Pria jahat itu tidak akan bisa menyentuh rumah tangga kalian."

"Ayla? Mengapa kamu keluar dari kamar pemulihan? Kondisimu belum stabil!" ucap Gavin cemas sambil bergegas mendekati adiknya.

Ayla menggeleng pelan, meraih sebuah kilat flashdisk hitam dari saku gaun rumah sakitnya. "Saat aku terjebak dalam lingkaran kriminal geng Julian di Bristol dulu, Julian pernah bekerja sama dengan perusahaan farmasi milik Richard Danudirdja untuk menyelundupkan bahan obat ilegal dan pencucian uang dari Eropa ke Asia Tenggara. Aku menyimpan seluruh bukti rekaman percakapan, nomor rekening rahasia di Kepulauan Cayman, serta bukti transaksi racun penekan imun yang dibeli Richard untuk meracuni Mba Naya!"

Gavin dan Pak Hendra terperanjat hebat! "Kamu punya bukti transaksi racun itu, Ayla?!" tanya Pak Hendra dengan mata membelalak tak percaya.

"Ya," tegas Ayla, air matanya menetes meratapi takdir. "Dulu aku menyimpan bukti ini sebagai senjata untuk mengancam Julian jika ia mencoba membunuhku. Tapi sekarang... bukti ini adalah kunci untuk menghancurkan Richard Danudirdja dan membersihkan nama Mba Naya dari semua tuduhan bohong pria itu! Mba Naya sudah mengorbankan nyawanya demi melindungiku dan Rayyan dari Julian... Sekarang giliran Ayla yang bertarung untuk Mba Naya!"

Naya menatap adik iparnya itu dengan rasa haru yang tak tertahankan. Dua wanita yang dahulu sama-sama hidup dalam bayang-bayang ketakutan, trauma masa lalu, dan kebohongan, kini berdiri saling melindungi dalam ikatan kasih sayang yang disucikan oleh iman dan persaudaraan.

"Pak Hendra!" perintah Gavin dengan nada tegas bagaikan seorang panglima perang yang siap bertempur. "Kirimkan seluruh data di dalam flashdisk ini langsung ke Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Interpol, dan seluruh badan pers internasional sekarang juga! Hubungi tim hukum Ardiansyah Group untuk mengajukan gugatan balik atas tindakan percobaan pembunuhan berencana, peracunan berjangka, dan kejahatan korporasi internasional terhadap Richard Danudirdja!"

"Siap, Pak Gavin! Saya laksanakan sekarang juga!" Pak Hendra menyambar flashdisk tersebut dan langsung berlari keluar kamar.

Namun, situasi di luar rumah sakit berkembang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Suara kegaduhan dan teriakan dari lorong luar VVIP mendadak memecah keheningan. Lampu indikator darurat di koridor berkedip-kedip merah. Beberapa ledakan bom asap medis kecil terdengar dari arah tangga darurat, memicu kepanikan luar biasa di antara para perawat dan pengunjung rumah sakit!

"Pak Gavin! Pasukan pengawal Richard menerobos masuk lewat lift servis!" teriak kepala pengawal Gavin yang baru saja terlempar pintu kamar dengan pelipis berdarah!

Sebelum pengawal itu sempat berdiri kembali, tiga orang pria berbadan tegap berpenampilan militer dengan senyap menerobos masuk ke dalam kamar VVIP, mengarahkan senjata api bersilencer langsung ke arah Gavin dan Ayla! Dan di belakang mereka, melangkah masuk Richard Danudirdja dengan wajah dipenuhi senyuman kejam dan obsesi yang gila.

"Luar biasa... sungguh pemandangan dramatis yang sangat menyentuh hati," kekeh Richard dalam bahasa Inggris yang dingin, melangkah mendekati tempat tidur Naya. Matanya yang tajam menatap Naya dengan obsesi gelap yang menyala-nyala. "Naya... lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu melarikan diri dari takdirmu dariku, berpura-pura menjadi wanita muslimah yang suci, dan menikah dengan pria pecundang ini... Kamu pikir kamu bisa bebas dariku hanya karena ginjal baru ini?"

"JANGAN SENTUH ISTRIKU!" jerit Gavin, menerjang maju tanpa memedulikan moncong senjata yang mengarah ke dadanya!

Brak!

Salah satu anak buah Richard menghentakkan pukulan mentah menggunakan gagang senjata ke perut Gavin yang belum siap, membuat Gavin tersungkur ke lantai sambil menahan napas yang tersengal. Naya menjerit histeris dari atas tempat tidur, "MAS GAVIN! TIDAK! JANGAN SAKITI SUAMIKU!"

"Mas Gavin!" teriak Ayla mencoba menahan anak buah Richard dari kursi rodanya, namun ia langsung didorong hingga tersungkur di lantai ubin yang dingin.

Richard melangkah makin dekat, mencengkeram dagu Naya dengan jemarinya yang dingin dan kasar, memaksa wajah pucat Naya mendongak menatap matanya. "Kamu milikku, Naya. Dahulu, sekarang, dan selamanya! Perjanjian ayahmu adalah takdirmu! Racun yang ada di dalam tubuhmu adalah bukti bahwa hidup dan matimu berada di tanganku! Ayo ikut aku kembali ke Zurich, atau aku akan mengeksekusi suamimu dan adikmu di depan mata kepalamu sendiri!"

Naya menatap mata Richard. Namun, kali ini... tidak ada lagi pancaran ketakutan seorang gadis rapuh yang penuh kebohongan seperti bertahun-tahun lalu. Di dalam manik mata Naya, menyala sebuah keteguhan jiwa yang begitu kokoh, sebuah keberanian yang lahir dari keikhlasan cinta dan rasa tawakal yang mendalam kepada Sang Pencipta.

Naya meludahi wajah Richard tepat di depannya!

"Aku bukan milikmu, Richard!" tegas Naya dengan suara nyaring yang menghentak seluruh ruangan! "Dahulu aku memang penakut, aku hidup dalam kebohongan karena aku takut pada ancamanmu! Tapi di atas sajadah bersama suamiku, aku belajar bahwa hidup, mati, dan kehormatanku hanya milik Allah SWT! Kamu tidak akan pernah bisa merebut jiwaku, karena jiwaku telah menemukan muara kedamaiannya dalam Islam dan cinta suci suamiku!"

Wajah Richard seketika merah padam oleh kemurkaan yang luar biasa! Harga dirinya diinjak-injak oleh wanita yang selama ini diincarnya! "Wanita tidak tahu diri! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada satu orang pun yang boleh memilikimu!"

Richard menarik pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya tepat ke kening Naya!

"TIDAK! NAYA!" jerit Gavin dari lantai!

Dengan sisa kekuatan dan keputusasaan seorang suami yang berada di ambang batas kematian, Gavin melempar dirinya menerjang kaki Richard! Benturan keras itu membuat Richard kehilangan keseimbangan dan senjatanya meletus menyambar langit-langit kamar! DOR!

Kaca jendela kamar VVIP pecah berantakan disambar peluru! Di saat yang bersamaan, pintu ganda kamar menjebol keras! Puluhan anggota kepolisian bersenjata lengkap dari tim Brimob Mabes Polri bersama pengawal Ardiansyah menerobos masuk dengan senjata terarah mantap!

"ANGKAT TANGAN! JATUHKAN SENJATA ATAU KAMI TEMBAK DI TEMPAT!" teriak Komandan Polisi menggelegar!

Anak buah Richard yang terkejut mencoba melawan, namun dalam hitungan detik, tembakan melumpuhkan beruntun menjatuhkan mereka ke lantai bersimbah darah! Richard yang panik mencoba meraih Naya kembali sebagai sandera, namun Gavin melayangkan sebuah pukulan mentah yang amat dahsyat tepat di rahang Richard hingga pria itu terlempar menghantam dinding dan tersungkur tak berdaya!

Polisi dengan sigap meringkus Richard, mengunci kedua tangannya dengan borgol baja di atas lantai yang kotor oleh pecahan kaca.

"Richard Danudirdja! Anda ditangkap atas tuduhan kejahatan korporasi internasional, percobaan pembunuhan berencana, dan peracunan!" tegas Komandan Polisi sambil menyeret Richard keluar dari ruangan. Richard meraung-raung dalam kemurkaan dan kegilaan yang tak bertepi, matanya terus menatap Naya dengan kebencian yang mendalam saat ia diseret menyusuri lorong yang dikepung wartawan.

Ancaman teror itu akhirnya runtuh. Kejahatan dan obsesi gelap yang menyiksa hidup Naya bertahun-tahun kini musnah di bawah pijakan hukum dan keadilan.

Di dalam kamar yang berantakan itu, keheningan yang syahdu perlahan merayap kembali. Gavin merangkak mendekati tempat tidur Naya dengan tubuh lebam dan napas terengah-engah. Ia merengkuh tubuh Naya yang menangis sesenggukan, mendekapnya begitu erat seolah ingin menyatukan dua jiwa yang telah melewati neraka dunia.

Ayla, yang dibantu berdiri oleh perawat, menangis terharu sambil memeluk tangan Naya dari samping. Tiga jiwa yang terluka oleh masa lalu kini menyatu dalam dekapan kasih sayang yang penuh air mata kebahagiaan.

"Mas... kita menang..." bisik Naya di antara isak tangisnya yang pecah di dada Gavin. "Allah melindungi kita, Mas..."

"Ya, Humairah-ku..." ucap Gavin dengan suara pecah oleh keharuan yang tak bertepi, mencium kening Naya dengan rasa cinta yang kian membumbung tinggi. "Badai telah berlalu, Sayang. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi ketakutan, dan tidak ada lagi rasa sakit yang harus kamu tanggung sendirian..."

Sinar matahari pagi kini masuk sepenuhnya lewat jendela kamar yang terbuka, menyinari wajah Naya yang memancarkan rona keindahan yang hakiki. Di atas sajadah merah tua yang terbentang di sudut ruangan, bayangan cahaya keemasan terpantul indah—sebuah simbol keabadian cinta, keikhlasan pengorbanan, dan keajaiban iman seorang wanita muslimah yang berhasil mengubah takdir hidupnya dari kegelapan menuju cahaya-Nya yang maha sempurna.

Catatan Cerita Lanjutan (Menuju Bab 32)

Satu bulan setelah peristiwa menegangkan di rumah sakit, kondisi Naya dan Ayla telah pulih sepenuhnya. Gavin memboyong keluarga kecilnya kembali ke kediaman utama Ardiansyah di Puncak untuk melangsungkan acara syukuran aqiqah bayi Rayyan secara besar-besaran sekaligus pembaruan janji suci pernikahan mereka di hadapan para ulama dan kerabat dekat.

Namun, di tengah kebahagiaan yang meluap-luap tersebut, sebuah kenyataan tak terduga datang dari hasil tes DNA medis Ayla dan Rayyan yang baru saja keluar dari laboratorium Zurich! Sebuah rahasia besar mengenai asal-usul kandung Rayyan dan hubungan darah Ayla yang sebenarnya mendadak terbuka, menguncang kembali pondasi kedamaian keluarga Ardiansyah! Akankah kebahagiaan manis setelah patah hati ini mampu bertahan menghadapi kebenaran akhir yang mencengangkan? Saksikan puncaknya dalam BAB 32: Takdir yang Terpilih di Atas Sajadah Cinta!

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!