NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:889
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : Misteri Sosok Dibalik Jendela

Taxi online yang mengantarkan aku berhenti tepat di rumah Bu Aminah aku membayar ongkos harga sesuai tarif yang tercantum di argo, taxi itu pergi, dengan gembira ku langkah kan kaki menuju pintu rumah Bu Aminah.

"Siapaaaaa?! Derap kaki Bu Aminah terdengar dari dalam, beriringan dengan suara televisi yang terdengar sampai di luar. Pasti ke dua anakku sedang asik nonton, pikirku.

Pintu terbuka muncul wajah Bu Amina dengan ciri has senyum ramahnya, " wah sudah pulang kamu May, ibu pikir bakal lama, cepat ya ngurus berkas berkasnya?! " Tanya Beliau tidak sabar. "Ayo masuk, anak anakmu sedang nonton televisi tu di ruang keluarga. " Lanjutnya lagi.

"Rian tidak nangis Bu?" Tanyaku seraya melangkah masuk mengiringinya dari belakang.

"Tidak... Rian anak ganteng dari tadi hanya baring baring di depan televisi lihat filem Upin Ipin dengan Mbaknya Siska, sambil makan jajanan yang kamu bawakan. " jelas Bu Aminah.

Aku duduk di ruang tamu menghenyak kan bokong ku di kursi empuk milik Bu Aminah itu. "Bagai mana May? Apa semua lancar. " Tanya Bu Aminah.

"Alhamdulilah Bu, ternyata Ayah sudah menyiapkan berkas berkas asli itu sudah sangat lama, dokumen yang aku lihat kemarin dalam lemari itu cuma salinan, sedang yang asli masih bersama Pak Baskoro, aku belum siap untuk membawanya. Entahlah aku merasa bila berkas itu ada bersamaku di rumah justru tidak aman."

"Hemmmm iya benar May, " Jawab Bu Aminah.

"Krosaaaaak! "

Tiba tiba ada suara berisik di luar. Aku dan Bu Aminah beradu mata saling pandang." Suara apa itu ya Bu?! "

Bu Aminah berdiri mengintip dari balik gorden jendela melihat ke arah luar, "Tidak ada apa apa! " jawabnya pelan lalu duduk kembali.

"Yang aku heran mengapa Ayah ku dulu mengundurkan diri, lalu menyerahkan segala kepengurusan pada Pak Burhan, Ayah mertuaku itu Bu.

Setelah mengundurkan diri itulah Ayah mengajak kami pindah ke Palembang saat itu. " Aku menjelaskan info yang aku dapat dari Pak Baskoro.

"Heeeeem iya iya, tapi setelah kalian pindah Pak Burhan dan Bu Salma ibu lihat sering datang ke sini May, Bu Salma nampak akrab sekali dengan istri ayahmu itu. " Bu Aminah memandangku.

"Bearti ayah sengaja mengajak kami pindah ke Palembang, agar dia bisa tinggal si sini bersama keluarga benalu itu, Prilia awas kau! " Ujar ku geram.

"Karena aku masih kecil waktu itu aku tidak tahu apa-apa, tapi yang membuat aku heran kok Ibuku diam saja ya, dan mau maunya di ajak ke Palembang, sedang ayah bersama istri nya, Bu Halimah Prilia dan dua saudaranya lagi, siapa Bu namanya? Tanyaku menanyakan saudara beda ibu itu.

"Mardi dan Bagas, Prilia satu satunya anak perempuan dia anak yang terahir. " Jelas Bu Aminah.

"Oh Bagas dan Mardi....! "

"Krsaaaaak! "

"Krosaaaaak! "

Suara itu terdengar lagi, kali ini dari arah belakang dapur Bu Aminah. Firasatku tiba tiba menjadi tidak enak.

​"Maya... ada orang di luar!" bisik Bu Minah matanya menatap celah jendela kayu yang sedikit terbuka.

​

Kami berdua berdiri ​dengan langka cepat ke arah dapur di sanalah asal suara berada, aku melihat Siska dan Rian yang sedang tertidur lelap saat melintasi ruang keluarga, dengan televisi yang masih menampilkan pilem Upin Ipin.

​Kriiiet...

​Pelan-pelan kubuka pintu kayu tua itu. Angin siang masuk melalui pintu yang ku buka lebar, aku mengedarkan pandangan yang ke sekeliling semak-semak liar di samping rumah Bu Minah.

​"Tidak ada apa -apa Bu, " Ujarku pada Bu Aminah yang berdiri di belakang ku.

"Suara binatang mungkin! " Timpal Bu Aminah.

"​Sreet... Uhuk! Uhuk!" Suara seperti langkah yang tertahan dan batuk itu. ah ini beneran ada orang, batinku.

suara batuk berdahak yang tertahan dan amat parau mendadak terdengar dari balik tumpukan pelepah kelapa kering di sudut pagar pembatas tanah.Kami jadi saling pandang dengan tatapan sama -sama bingung mendengar suara itu.

Aku melangkah ke luar dapur, mencari asal sumber suara pandangan ku menatap sekitar, belakang dapur ini memang bersebelahan hanya berada jarak berapa meter saja dari rumah ku.

Saat mataku membentur pada sosok laki -laki yang terkapar di sudut halaman pembatas antara rumah ku dan rumah Bu Aminah ini, aku sangat terkejut mendapati ayah mertuaku, Pak Burhan terkulai lemas menyandarkan punggungnya pada tiang pagar yang lapuk.

Kain sarung yang di pakainya tampak penuh dengan noda tanah merah dan lumpur kering. Lututnya gemetar hebat, dadanya naik turun menghirup udara sore seperti kesusahan.

Siku dan telapak tangannya lecet berdarah, menandakan betapa gigihnya ia merayap dan menyeret tubuhnya yang sakit-sakitan dari kamar rumah menuju ke sini.

"Ayah?!" pekikku "Astagfirullah, Ayah Kenapa ayah bisa ada di sini?!

​Bu Minah yang mendengar teriakanku segera berlari keluar dari pintu dapur Wanita tua itu mendelik kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat sosok Pak Burhan yang terkulai tak berdaya di pelukanku.

​"Burhan?!" seru Bu Minah panik. "Kamu... kamu nekat merayap sampai ke sini dengan kondisi tubuh yang parah begini?!"

​Pak Burhan batuk hebat hingga wajahnya yang pucat pasi berubah kemerahan menahan sakit. Jemarinya yang dingin, kurus, gemetar mencoba menggapai pergelangan tanganku. Air mata bening menetes menembus kerutan di pipinya yang tirus dan kotor.

​"Maya..." bisik Pak Burhan sangat parau, suaranya hampir hilang terhalang dahak tebal di tenggorokannya. "Ayah harus... memastikan..."

​"Memastikan apa, Yah?!" air mataku ikut menetes melihat penderitaan lelaki tua yang sudah ku anggap seperti ayah kandungku sendiri ini.

"Kenapa Ayah nekat sekali? Kalau Bu Salma atau Prasetio tahu Paman menghilang dari kamar, mereka bisa makin mengamuk !"

​"Biarkan... biarkan mereka mengamuk, Nak..." tenggorokan Pak Burhan naik turun menahan guncangan di dadanya. "Tadi ... Ayah mendengar Salma berteriak-teriak di ruang tamu saat kamu tidak ada. Dia memaksa dan mengambil dokumen penting yang Ayah simpan di lemari, ayah tahu... kamu sudah memegang dokumen yang resmi dari Pak Baskoro iya kan..? "

​Aku memegang erat jemari Paman Burhan yang gemetar. "Iya, Yah. Maya sudah pegang suratnya.

​Pak Burhan menggelengkan kepala perlahan, menyapukan pandangannya yang makin samar ke arahku dan Bu Minah secara bergantian.

​"Belum cukup, Maya..." bisik Paman Burhan, napasnya makin tersengal-sengal, membuat aku cemas melihat keadaan nya.

​Bu Minah ikut berlutut di sebelahku, merapikan sarung Paman Burhan yang kotor oleh tanah. "Burhan, jangan paksakan bicara kalau dadamu sesak! Ayo masuk ke dalam rumah dulu!"

​"Tidak! aku tidak punya banyak waktu lagi!" ucap Pak Burhan dengan sisa-sisa tenaga matanya menatapku dengan keputusasaan. "Maya... maafkan kanlah ayah mertuamu ini, maafkan suamimu Prasetio, dan Ibu mertuamu Bu Salma ya? "

​Aku dan Bu Minah saling pandang seketika. "Ada apa sebenarnya ayah?! " ucapku sabar.

​"Apakah ayah tahu... soal wasiat ayah kandung ku Hendra yang di simpan Pak Baskoro?" tanyaku.

​"Ayah bukan cuma tahu, Maya..." Pak Burhan meremas tanganku makin erat, darah segar dari lecet di tangannya mengenai kulit lenganku. "Ayah... ayah juga adalah orang yang dipaksa oleh Salma dan ibu kandung Prilia... untuk menyembunyikan bukti kunci itu belasan tahun lalu!"

"​Deg!" Ada yang tidak beres ini aku makin curiga saja.

​"Maksud Ayah apa?!" Nafasku mulai terasa memburu. "Kunci apa yah?! "

​"Bukan memb*n*h! Demi Allah, Paman tidak pernah memb*n*h ibumu!" Waaah makin ngelantur ucapan ayah mertuaku itu.

Pak Burhan menangis terisak-isak, tubuhnya yang ringkih berguncang hebat di dalam pelukanku.

"Ayah menutupi kejahatan mereka! Dulu... ibumu tidak meninggal karena sakit jantung biasa! Ibumu... diracun secara perlahan menggunakan ekstrak tanaman beracun yang dicampurkan ke dalam jamu minumannya !"

​"Siapa, Ayah?!" aku menatap Pak Burhan dengan pandangan emosi yang mulai tidak terkendali "Siapa yang tega mencampurkan racun itu ke minuman Ibu?!"

​"Ibu kandung Prilia... dalangnya dengan bantuan Salma!" raung Paman Burhan pelan, memecah keheningan siang menjelang sore di hari itu. "Mereka ingin ibumu cepat mati.

Aku terpukul mendengar apa yang baru saja di ucap kan Pak Burhan. Tubuh ku lemas saat ini untuk berdiri pun seakan tak bertenaga.

​Aku bingung dengan fakta yang terbuka secara tiba -tiba tentang ku akhir akhir ini.

Mulai dari aku menemukan dokumen, ternyata aku pewaris nya asli, lalu pengakuan Bu Aminah tentang Ayah ku Hendra yang punya istri, lebih mengejutkan lagi Prilia itu adalah saudariku.

Dan ini kejutan apa lagi yang baru di ucap kan Pak Burhan tentang Ibu ku yang sebenar nya meninggal akibat racun, Apakah Pak Burhan mengigau? Rasa nya tidak percaya, tapi semua fakta mengarah ke sana, wajar kalau ibu Prilia meracun Ibu ku, karena dia mengincar harta itu.

​Tiba-tiba...

​Muuut... Muuut...

​Aku mengangkat telpon yang berbunyi, tertera nama Pak Baskoro dalam panggilan itu.

​"Halo, Maya?" suara tegas Pak Baskoro terdengar dari seberang telepon, nada suaranya sangat panik dan tergesa-gesa.

​"I-iya, Pak Baskoro..." jawabku gagap, berusaha mengontrol getaran suaraku.

​"Maya, kamu harus sangat hati-hati!" seru Pak Baskoro menekan suaranya. "Baru saja staf saya di bank memberi tahu... Prilia baru saja mendatangi kantor bank pusat! Mereka membawa dokumen pemalsuan baru dan mencoba membongkar safety deposit box milik almarhumah Ayahmu secara paksa!"

​Pikiranku seketika meledak. Prilia sudah benar benar makin nekat dan melampaui batas!

​"Apa yang harus saya lakukan, Pak?!" tanyaku keras.

​"Datang ke bank pusat kota sekarang juga!" tegas Pak Baskoro. "Saya dan tim hukum sudah meluncur ke sana. Hari ini, kita habisi permainan kotor mereka di depan pihak bank dan kepolisian!"

"Iya Pak. " Jawabku lalu telepon ku tutup.

​"Bu Minah, tolong bantu aku memapah Pak Burhan ke dalam rumah ibu ya," pintaku.

"Iya Maya biar di rumah Ibu dulu sementara, terlalu jauh kita memapah ayah mertuamu ini, ke rumahmu. Jawab Bu Aminah.

Meski kurus ternyata berat badan Pak Burhan masih lumayan berat, dengan langkah pelan dan hati hati aku dan Bu Aminah membawa Pak Burhan masuk ke dalam rumah, melalui pintu dapur yang tadi ku lalui.

Sesampai di ruang keluarga di sana ada sebuah ranjang besi tua jaman dulu, yang di atasnya tertata kasur dengan seprai putih di atasnya. Kami membaringkan tubuh Pak Burhan ke atasnya.

​Haru dan iba menyelimuti dadaku melihat lelaki tua yang sudah tak berdaya itu. Meski ada kesalahan yang beliau lakukan di masa lalu, kejujurannya hari ini telah membongkar rahasia di balik kematian ibuku.

​Aku bertekad akan melindungi Paman Burhan dari ancaman Bu Salma, Prasetio, dan Prilia. Mereka pasti murka karena Paman memihak ku dan membocorkan kebusukan masa lalu.

​"Hari ini... akan ku pastikan Prasetio dan Prilia menerima balasan atas setiap tetes air mata dan darah almarhumah Ibu!"

Bersambung

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!