Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 (KASUS 1) BISIKAN SUKMA SANG KORBAN
Wussshhh!
Pusaran kabut berwarna kelabu di sekeliling Haruma berangsur-angsur melambat.
Hawa es yang membekukan jiwa dan aroma busuk belerang terasa semakin pekat, menghimpit dada dari segala penjuru.
Namun, berkat selubung cahaya keemasan dari Sekar Arum yang melapisi tubuhnya, Haruma dapat berdiri tegap tanpa terguncang oleh gempuran energi negatif di alam memori tersebut.
Di hadapan Haruma dan Sekar Arum, kepingan-kepingan memori terakhir dari sukma Jonathan Nasution mulai memadat, membentuk lanskap Tiga Dimensi yang nyata.
Ruang penthouse di lantai 35 terbentuk sempurna di dalam dimensi kelabu tersebut. Waktu dalam memori itu menunjukkan pukul 3 dini hari. Suasana kamar tidur utama tampak sangat sunyi dan redup.
Di atas kasur berseprai sutra abu-abu, sosok Jonathan Nasution dalam wujud proyeksi sukma tampak sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis, sementara matanya menatap layar ponsel pintarnya.
Haruma melangkah perlahan mendekati ranjang memori tersebut, dijaga ketat oleh Sekar Arum yang melayang anggun di sampingnya.
"Haruma, perhatikan waktunya~" bisik Sekar Arum dengan suara gaib rendah yang merdu. "Sebentar lagi benturan sihir itu akan terjadi~"
"Iya, Sekar Arum. Aku bisa merasakan perubahan suhunya," sahut Haruma pelan, menatap lurus ke arah proyeksi Jonathan.
Tiba-tiba...
Di dalam alam memori tersebut, cahaya pada lampu tidur di meja nakas mendadak meredup pucat.
Hawa dingin luar biasa menyapu seluruh kamar penthouse.
Proyeksi Jonathan mendadak menghentikan gerakan tangannya. Cangkir kopi di genggamannya bergetar hebat hingga cairannya terombang-ambing.
Wajah Jonathan di dalam alam memori itu mendadak pucat pasi. Ia mencoba menoleh ke kiri dan ke kanan, namun seluruh otot tubuhnya seketika kaku, terkunci oleh daya tekan gaib yang teramat masif.
Ssssshhh...
Dari arah plafon persis di atas kepala Jonathan, gumpalan kabut hitam pekat merembes keluar dari udara kosong.
Kabut hitam itu memadat, membentuk sepasang telapak tangan raksasa berujung cakar membengkok tajam. Hawa jahat yang terpancar dari telapak tangan gaib itu begitu pekat hingga membuat atmosfer di dimensi kelabu ikut bergetar hebat.
"Itu... bayangan tangan raksasa yang dilihat Harumi?!" bisik Haruma dengan mata membelalak.
"Benar, Haruma. Itu adalah wujud dari sihir pencuri usia kasta tertinggi~~~" terang Sekar Arum, matanya berkilat menatap telapak tangan raksasa itu.
Dalam reka ulang memori tersebut, sepasang telapak tangan gaib itu menukik tajam ke bawah. Cakar-cakar hitamnya menancap menembus dada dan tengkuk belakang Jonathan.
Seketika itu juga...
Proyeksi Jonathan melotot lebar, matanya memancarkan ketakutan yang tak terperikan. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, mencoba menjerit sekuat tenaga, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari kerongkongannya yang telah terkunci.
Haruma menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana energi kehidupan Jonathan diisap secara paksa.
Warna kulit Jonathan berubah pucat abu-abu dalam hitungan detik, tubuhnya melemah, dan matanya membeku dalam posisi melotot ke atas sebelum akhirnya ambruk kaku di atas tempat tidur.
Dan...
Brummm!
Reka ulang adegan pembunuhan itu mendadak pecah bagaikan cermin yang retak.
Dinding-dinding memori kamar penthouse melebur kembali menjadi pusaran kabut kelabu yang riuh.
Namun, di tengah-tengah pusaran kabut yang porak-poranda itu, sosok wujud sukma Jonathan Nasution tidak lenyap.
Sukma dari Direktur Keuangan muda itu melayang ringkih di atas tanah hampa dimensi kelabu.
Wujud sukmanya redup, dipenuhi oleh garis-garis hitam yang merayap di sekujur dadanya. Sukma itu berlutut, kedua tangannya yang memucat mencengkeram erat bagian tengkuk belakang lehernya sendiri.
"Hk... hsskh... hsskh..."
Isakan tangis yang teramat pilu, parau, dan menyayat hati meledak dari bibir sukma Jonathan.
Isakan yang menyuarakan siksaan batin dari sebuah jiwa yang dicabut nyawanya secara paksa di tengah keputusasaan.
Melihat penderitaan sukma di hadapannya, naluri dan ketulusan jiwa dr. Haruma mengalahkan seluruh rasa gentarnya.
Haruma melangkah maju, menembus kabut kelabu mendekati sosok sukma yang sedang menangis itu.
"Haruma, berhati-hatilah~~~" peringatan Sekar Arum mengalun lembut sambil mengibaskan selendang kuningnya untuk menetralkan hawa hitam di sekitar sukma tersebut.
Haruma berlutut di depan sukma Jonathan.
Dengan penuh rasa empati dan kelembutan seorang dokter, Haruma mengulurkan kedua tangannya di udara, mencoba memberikan ketenangan batin.
"Jonathan..." panggil Haruma dengan suara yang sangat lembut, sehalus usapan angin malam.
"Jonathan... dengarkan suara saya... Saya dr. Haruma..." ucap Haruma lagi kepada sukma Jonathan.
Sukma Jonathan tersentak kecil. Perlahan-lahan, ia mendongakkan kepalanya yang gemetar. Wajah sukmanya yang dibasahi oleh air mata gaib menatap lurus ke dalam manik mata Haruma.
"S-sakiiit... sakit sekaliii..." rintih sukma Jonathan dengan suara parau yang pecah. Tangannya semakin kencang mencengkeram tengkuk lehernya. "Dingin... dada saya dingin dan terbakaaar... Tolong sayaaa..."
Haruma menatap mata sukma Jonathan itu dengan kedalaman rasa kasih kasihan. "Tenangkan sukmamu, Jonathan... Kamu berada di dalam perlindungan saya dan Sekar Arum... Tidak ada iblis yang bisa menyakitimu di sini..."
Sukma Jonathan menggelengkan kepalanya dengan keputusasaan yang mendalam. "T-tapi raga saya sudah matiii... Saya sudah tidak bisa bernapaaas..."
"Saya tahu, Jonathan..." sahut Haruma jujur dan lembut. "Ragamu memang telah meninggal di dunia nyata... Tapi saya berdiri di sini, bersama adik saya Ipda Harumi di luar sana, untuk menegakkan keadilan atas kematianmu... Kami tidak akan membiarkan pembunuhmu tersenyum bebas..."
Mendengar nama Ipda Harumi dan janji keadilan tersebut, tangisan sukma Jonathan sedikit mereda. Mata sukmanya yang redup memancarkan seberkas harapan.
"Keadilan...?" bisik sukma Jonathan terbata-bata. "Apakah... apakah ada orang yang peduli pada kematian saya?"
"Kami sangat peduli, Jonathan," jawab Haruma mantap. Ia memajukan posisinya. "Katakan pada saya, Jonathan... siapa yang telah melakukan kejahatan keji ini padamu? Apa yang sebenarnya terjadi malam itu di kamar penthouse ini?"
Sukma Jonathan merintih lagi, jemarinya meremas kulit tengkuk lehernya hingga wujud gaibnya bergetar hebat.
"DIA... MEREKA..." rintih sukma Jonathan, air mata gaibnya mengalir semakin deras membasahi pipinya.
"Siapa 'mereka' yang kamu maksud, Jonathan? Sebutkan namanya sekarang!" desak Haruma dengan nada suara yang penuh kehangatan dan dorongan semangat.
"Mereka mencuri... Mereka mengambil usia dan sukmaku...!" jerit sukma Jonathan menangis histeris. Suaranya bergema nyaring membelah dimensi kelabu memori itu.
"Sihir itu... Iblis berujung cakar itu menancap di tengkuk saya... Menyedot habis seluruh napas dan usia saya hingga dada saya mengkerut!" ucap sukma Jonathan berikutnya.
Haruma mencerna setiap kata dari jeritan sukma tersebut. "Kenapa mereka melakukan itu padamu, Jonathan? Kenapa kamu yang dijadikan tumbal?"
Sukma Jonathan menundukkan kepalanya, tubuhnya berguncang oleh isak tangis yang mendalam.
"Karena saya menolak..." rintih Jonathan lirih, suaranya dipenuhi penyesalan dan ketakutan.
"Menolak apa, Jonathan? Katakan pada saya!" cecar Haruma lembut.
"Saya menolak menandatangani aliran dana proyek itu..." ungkap sukma Jonathan membuka rahasia besar yang selama ini tersembunyi.
"Dua hari lalu... Utusan perusahaan mendesak saya untuk meloloskan transaksi 50 miliar rupiah ke rekening cangkang perusahaan... Uang itu... Uang itu untuk dana 'pajak darah' pengembangan proyek di Tanah Jawa..."
Haruma terperanjat mendengar pengakuan dari sukma Jonathan.
Transaksi 50 miliar rupiah?!
Angka yang sama persis dengan temuan berkas transaksi rahasia yang baru saja dilacak oleh Harumi dan Aipda Rudi di kantor Satreskrim?!
"Kamu menolak menandatanganinya karena kamu tahu itu uang haram?" tanya Haruma meyakinkan.
"Iya... Saya tahu uang itu akan digunakan untuk ritual penyembahan mereka!" tangis Jonathan meraung.
"Saya menolak... Saya ancam akan melapor ke pihak berwajib... Tapi malam itu... Direksi mengatakan saya akan menanggung akibatnya... Dan jam 3 pagi... Iblis itu datang mencabut usia saya dari tengkuk leher ini...!" jelas sukma Jonathan lagi.
Namun, tiba-tiba...
Bummm!!!
Tepat di saat sukma Jonathan menyebutkan kata 'direksi' dan 'tengkuk leher', sebuah gelombang reaksi gaib yang teramat dahsyat mendadak meledak di dalam dimensi kelabu tersebut!
"SIHIR PEMBUNGKAM RAHASIA" yang tertanam di dalam sukma korban mendadak bereaksi.
Dari dalam garis-garis hitam di dada sukma Jonathan, mencuat puluhan tentakel kabut hitam berduri yang mencoba mencabik-cabik wujud sukma itu agar tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut.
"Aaarghhh!!! Sakiiit!!!" jerit sukma Jonathan histeris saat tentakel hitam itu membelit leher dan dadanya.
"Haruma, awas!~~~" seru Sekar Arum sambil melayang cepat ke depan.
Dengan gerakan kilat yang sangat anggun, Sekar Arum mengibaskan selendang sutra kuningnya. Tebasan cahaya keemasan meledak dari ujung selendang tersebut, memotong hancur puluhan tentakel hitam berduri hingga lebur menjadi abu gaib!
"Iblis pembungkam ini mencoba memusnahkan sukmanya agar rahasia mereka tidak terbongkar!~~~" tegas Sekar Arum, matanya memancarkan kemurkaan gaib yang menyilaukan. "Kita harus segera keluar dari dimensi ini sebelum lorong barzakh-nya runtuh, Haruma!"
Haruma berdiri, menatap sukma Jonathan yang kini terkulai lemas di atas tanah dimensi kelabu.
Meskipun terdesak oleh serangan sihir, Haruma telah mendapatkan seluruh petunjuk kunci yang ia butuhkan: aliran dana 50 miliar rupiah, penolakan proyek, dan cap sihir yang menancap di tengkuk belakang leher korban!
Haruma memegang dada sukma Jonathan dengan telapak tangannya yang memancarkan cahaya doa.
"Jonathan, dengarkan saya untuk yang terakhir kalinya!" ucap Haruma dengan ketegasan yang melapisi kelembutan suaranya. "Terima kasih atas keberanianmu menyampaikan kebenaran ini... Pasrahkan dirimu kepada Tuhan... Dan istirahatlah dengan tenang di alam barzakh... Saya dan Harumi bersumpah demi hukum dan keadilan, kami akan membongkar seluruh sihir iblis ini dan menyeret para direksi penjahat itu ke hadapan pengadilan!"
Mendengar janji dan doa dari dr. Haruma, raut wajah sukma Jonathan yang semula dipenuhi ketakutan perlahan-lahan berubah menjadi sangat damai. Garis-garis hitam di dadanya pudar tersapu cahaya tauhid dari tangan Haruma.
"Terima kasih... Dokter..." bisik sukma Jonathan dengan senyuman terakhir yang sangat tulus. "Terima kasih..."
Wujud sukma Jonathan perlahan-lahan larut menjadi pendaran cahaya putih yang tenang, melayang naik menuju pintu kedamaian alam barzakh.
"Dimensi ini akan runtuh! Pegang tanganku sekarang, Haruma!~~~" seru Sekar Arum.
Haruma menggenggam erat telapak tangan Sekar Arum.
Lalu...
Wuuuushhh!
Cahaya kuning keemasan meledak menyelimuti pandangan Haruma, menarik jiwanya melesat keluar menembus lorong dimensi kelabu, kembali menuju alam fana.
.....
.....
.....
"AKKHH!! HAHHH... HAHHH... HAHHH...!!!"
dr. Haruma mendadak membuka matanya lebar-lebar.
Ia dengan cepat menarik napas panjang dengan terengah-engah, bagaikan seseorang yang baru saja muncul dari dasar air yang sangat dalam.
Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya di balik masker medis dan hairnet.
Pandangan mata Haruma kembali menatap langit-langit ruangan otopsi Dokpol Bhayangkara yang temaram. Aroma larutan antiseptik dan hawa dingin laboratorium kembali menyergap inderanya.
Di sampingnya, wujud gaib Sekar Arum perlahan-lahan memudar kembali ke dalam selubung jiwanya.
"Terima kasih... Sekar Arum... Hahhh... Hahhh..." bisik Haruma pelan, sambil mengusap keringat di keningnya dengan lengan apron.
"Iya, Haruma... Kamu telah berpindah dimensi dengan sangat luar biasa di dalam dimensi tadi~~~" gema suara Sekar Arum memberikan pujian lembut sebelum akhirnya... hening sepenuhnya.
Haruma menguasai kembali ketenangan fisik dan napasnya. Ia menegakkan tubuhnya, menatap ke arah jasad Jonathan Nasution yang terbaring kaku di atas meja cold-storage.
Ingatan akan rintihan sukma Jonathan yang terus-menerus memegang tengkuk lehernya bergema sangat nyaring di dalam kepala Haruma. “---Iblis berujung cakar itu menancap di tengkuk saya... menyedot habis seluruh napas dan usia saya...!---”
Kemudian...
Haruma memutar tubuh jasad Jonathan perlahan-lahan, memposisikan kepala dan leher belakang korban menghadap ke atas.
Dengan jari-jarinya yang cekatan, Haruma menyingkap rambut tebal di bagian belakang kepala korban, tepat di atas pangkal tulang tengkorak dan tengkuk leher.
Menggunakan kaca pembesar khusus dan senter LED berintensitas tinggi, Haruma memeriksa setiap milimeter permukaan kulit tengkuk yang semula luput dari pemeriksaan luar sebelumnya.
Dan...
Di sanalah...
Tepat di balik lebatnya rambut di pangkal tengkuk belakang Jonathan Nasution...
Mata dr. Haruma membelalak lebar melihat sebuah "petunjuk fisik" yang teramat nyata!
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu