Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di kamar Aurora, wanita itu kini menutup pintunya rapat-rapat. "Anne, kau tadi ingin berkata apa?"
Anne kemudian menunjukkan ponselnya, ia memperlihatkan sebuah foto dengan Grace di dalamnya yang terlihat tengah memeluk seorang pria muda di restoran.
Aurora yang melihat hal itu, kini langsung murka. Ia membuka pintu kamar dan langsung turun ke lantai bawah. Ia menghampiri Grace, dan langsung menamparnya.
PLAAAAAKKKK!
Grace terkejut, ia benar-benar kebingungan, mengapa Aurora menamparnya. Ia tak tahu salahnya apa.
"Aurora, kau kenapa? Apa kau sedang tidak enak badan?" Grace mencoba mengecek suhu tubuh Aurora dengan menyentuh dahinya.
Namun lengan wanita itu malah di tepis. "KAU MASALAHNYA, BAGAIMANA BISA KAU MENGHIANATI AYAHKU, DASAR RUBAH. KAU RUBAH GRACE."
Aurora tak bicara hal bodoh, ia menyertakan fakta, ia menunjukkan foto itu pada Grace.
Grace pun tersenyum walau beberapa tetesan air mata keluar dari matanya. "Itu adalah adikku Aurora, dia pamanmu."
Aurora sudah tak ingin mendengar apapun lagi dari wanita itu. Aurora kini kembali naik ke lantai atas.
Aurora melihat Anne, wanita itu tampak tertawa kecil melihatnya yang tampak menyedihkan.
***
Kini kembali pada Aurora, beberapa ingatan yang terlintas, membuatnya kebingungan. "Apa ini ingatan Aurora yang asli, kenapa hal ini benar-benar sangat membingungkan?" ucapnya lirih.
Jordan kini mendekati Aurora, ia duduk samping wanita itu. Ia menarik kepala Aurora secara perlahan, membuatnya wanita itu bersandar pada bahunya.
"Tenanglah, tidak apa-apa, dia akan segera sadar. Kau kuat juga ya, aku tidak menyangka, nona manja sepertimu akan sekuat ini." Aurora tak melawan, ia malah nyaman dengan sandaran itu.
"Menangislah jika memang kau ingin." Jordan menaruh tangan kanannya di belakang pundak Aurora. Menepuknya secara perlahan, dan itu berhasil menenangkannya.
Aurora mendongak, menatap Jordan yang tengah menatap sekitar. Side profile dari samping Jordan, terlihat tampan.
Jordan yang sadar kini tengah di tatap oleh wanita itu pun balik menatap. Pria itu lalu tersenyum, ia menyentil hidung Aurora dengan tangannya, dan hal itu seketika membuyarkan lamunannya.
"Jangan terus menatap seperti itu, nanti naksir." Ucap Jordan sambil menyipitkan satu matanya.
Aurora yang melihat ekspresi Jordan seketika langsung sadar dan mendorongnya menjauh.
"Siapa juga yang naksir, dasar Tuan narsis."
"Ayolah, narsis narsis gini juga kau sebenarnya suka kan?" Damn, ucapan Jordan sangat benar sekali.
Jordan kini mendekat kepada Aurora, jarak wajah mereka hanya beberapa cm. Jordan tersenyum, sedangkan Aurora, jantungnya benar-benar tidak aman.
Aurora seketika langsung memalingkan wajahnya dari Jordan, dan Jordan malah semakin tengil melihatnya.
Dari kejauhan, Alex melihat kebersamaan mereka. Ia terlihat sangat bahagia melihat sahabatnya akhirnya tidak galau lagi.
"Hah, akhirnya. Maudy, maaf harus mengatakannya. Namun tampaknya, Jordan memang buaya."
"Belum ada satu bulan kau pergi tinggalkan dia, namun dia sudah sangat mesra dengan wanita lain. Maudy yang malang, cintamu memang bertepuk sebelah tangan sejak awal."
Ingatan Alex kembali pada beberapa waktu yang lalu.
Saat itu, Alex tengah melakukan perjalanan bisnis bersama dengan Maudy. Alex duduk di kursi pengemudi, sedangkan Maudy. Wanita itu duduk di kursi penumpang.
Sesekali Maudy akan membenarkan kacamatanya, sambil terus mengetik di laptop. "Audy" Panggil Alex dan wanita itu kini menghentikan pekerjaannya.
"Ya, ada apa Alex?"
"Aku heran denganmu, mengapa kau sangat giat sekali bekerja?"
Maudy tersenyum, ia lalu menutup laptopnya. "Aku tidak ingin membuat Pak Jordan sendirian, aku kasihan melihat dia yang terus bekerja tanpa henti.
Alex kini tertawa kecil, "ucapan mu itu, terdengar sangat peduli ya. Mengaku saja kalau kau suka pada Pak Bos." Mendengar hal itu, seketika pipi Maudy langsung berubah merah.
"Cie, malu tuh." Ledek Alex dan berhasil mendapatkan tabokan tangan dari Maudy.
PLAKKKK!
"Sakit gilak" Ucap Alex yang merasa kesakitan.
"Biarin, biar tau rasa kau Alex."
Maudy kini memalingkan wajahnya dari Alex. "Memang apa salahnya jika aku cinta Jordan?" Ucapan itu terdengar lirih. Namun Alex dapat mendengarnya dengan jelas.
Alex yang mendengar hal itu kini langsung kegirangan, "kan benar, kau memang menyukai Jordan sejak awal."
Maudy kini panik, ia memikirkan segala cara untuk membungkam Alex. Wanita itu kemudian menemukan sebuah proposal, menggulungnya dan menodongkannya kepada Alex dari bangku penumpang.
"Pukul nih!"
"Eh jangan dong, bercanda saja Maudy."
"Biarin"
"Ini lagi di jalan, kalau sampai mobil oleh gimana?" Alex berusaha menyetir dengan benar, namun Maudy malah memukulnya dengan kertas proposal itu.
Kembali pada masa sekarang, Alex masih berdiri di sana, melihat kedekatan Aurora dan Jordan.
"Andai kau itu Maudy, jujur saja, aku juga merindukannya. Andai kau di sini Maudy." Ucap Alex. Pria itu kini menatap langit, dengan semburat orange keunguan langit senja, lalu menghembuskan napasnya panjang.
"Audy, apa di surga terasa nyaman, andai kau ada di sini. Apa yang akan kau lakukan saat melihat Jordan bersama dengan wanita lain?" Alex kembali menatap Jordan dan Aurora.
Tampak keduanya yang tengah berbincang dan terlihat sangat akrab.
***
Senja telah tiba, para pekerja kantoran, kini telah berhamburan keluar dari kantor. Para pekerja buruh, para pns dan para pekerja lainnya, kini memadati area jalanan utama kota dengan seringaian bising kendaraan. Mulai dari mobil, motor hingga angkutan umum.
Di Darren Grub, para pekerjanya kini telah berhamburan keluar kantor. Ada yang masih di dalam, mengurus beberapa tugas yang masih belum selesai, dan ada juga mereka yang lembur.
Para staff kini berjalan ke lantai bawah, menuju staff exit tempat yang terhubung langsung dengan parkiran kantor.
Kris berjalan melewati pintu exit. Ia berjalan ke area parkiran dan segera mencari mobilnya.
"Di mana mobil itu?" Ucapnya, kepada diri sendiri.
Kris kemudian menekan tombol pada kunci mobilnya, alarm bel mobil seketika langsung berbunyi.
"Di sana rupanya." Kris langsung menghampiri tempat itu.
Kris berjalan ke arah mobilnya, saat ia sampai. Seseorang sudah lebih dulu berdiri di sana. Orang itu membelakangi Kris.
Mendengar suara langkah kaki Kris yang mendekat, orang itu kini berbalik badan.
"Sayang..." Dia adalah Anne, sahabat baik Aurora yang kini telah di anggap musuh olehnya.
Kris membelalakkan matanya, ia terkejut melihat Anne yang sudah berada di sana.
Wanita itu kini memeluknya dengan sangat-sangat erat. "Sayang, tega sekali kau tidak membalas pesanku. Aku merindukanmu." Bibir Anne manyun, namun itu malah semakin membuat Kris terasa sangat kegemasan.
"Sabar sayang, jangan di sini, bagaimana jika yang lain curiga. Kau tidak mau Aurora curiga bukan."
Anne pun menggelengkan kepalanya, "Anne tak akan percaya itu sayang, karena yang dia percaya adalah kita."
Seseorang mengawasi mereka, ia memotret kejadian tersebut dengan sebuah kamera potret.
Cekrek!
BERSAMBUNG