Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 — Segitu Doang?
Bar yang dipilih Tania tidak terlalu ramai. Musik akustik mengalun dari panggung kecil, lampunya hangat, dan meja mereka berada di sudut yang cukup tenang.
"Ingat rencananya," bisik Tania kepada Anindya. "Satu gelas, pura-pura pusing, bersandar ke Arya. Sisanya biar suasana bekerja."
Anindya mengangguk gugup.
Arya yang duduk di seberang memperhatikan mereka. "Kalian merencanakan kejahatan?"
"Arisan," jawab Tania cepat.
"Cuma berdua?"
"Arisan eksklusif."
Pelayan membawa minuman. Arya memilih air soda karena akan menyetir. Bayu dan Sinta berbagi koktail ringan. Reza mendapat bir, sedangkan Tania memesan minuman buah untuk Anindya yang diklaim hampir tidak mengandung alkohol.
"Ini aman," katanya. "Rasanya seperti jus."
Anindya mencicipi. Manis, dingin, dan memang tidak terasa seperti alkohol.
"Enak," katanya.
Ia minum lagi.
Tania hendak menghentikan, tetapi gelas itu sudah berkurang setengah.
"Pelan-pelan," ujar Arya. "Kamu jarang minum."
"Aku baik-baik saja."
Untuk membuktikannya, Anindya menghabiskan gelas.
Lima menit pertama, tidak terjadi apa-apa.
Penyanyi di panggung membawakan lagu cinta lama. Anindya ikut mengetuk meja mengikuti irama, lalu melirik Arya berkali-kali.
"Kenal lagunya?" tanya Arya.
"Kenal. Dulu aku sering dengar waktu sekolah."
"Kamu memikirkan seseorang?"
Pertanyaan itu hampir membuat Anindya membocorkan semuanya. Ia memegang gelas kosong dan tersenyum samar. "Ada anak laki-laki yang selalu duduk dekat jendela."
"Cinta pertama?"
"Mungkin."
Arya merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dada. "Sekarang masih berhubungan?"
"Setiap hari."
Jawaban itu membuat ekspresinya berubah. Anindya yang mulai mabuk justru menikmati reaksinya.
"Dia sudah menikah?" tanya Arya.
"Sudah."
"Kamu masih menyukainya?"
Anindya mendekat sedikit. "Sangat."
Arya menatap air sodanya. Ia tahu tidak berhak cemburu terhadap masa lalu Anindya, apalagi pernikahan mereka bermula dari kontrak. Namun, bayangan perempuan itu mencintai pria lain membuat minumannya mendadak terasa hambar.
Tania menendang kaki Anindya dari bawah meja sebelum rahasia tujuh belas tahun terbuka.
"Aduh!"
"Nyamuk," kata Tania.
"Nyamuknya pakai sepatu hak?"
"Nyamuk kota."
Arya menatap mereka curiga, tetapi Bayu mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang olahraga pagi. Anindya mulai bercerita panjang mengenai Arya yang meninggalkannya tidur, lalu bagaimana ia mengejar dari arah berlawanan.
"Mas mengira aku lemah," katanya.
"Aku mengira kamu lelah," koreksi Arya.
"Sama saja."
"Tidak sama."
"Kalau besok pergi sendiri lagi, aku pasang alarm di pintu kamarmu."
"Kamu sudah punya jadwal masuk kantor."
"Aku bisa rapat setelah lari. Direktur boleh berkeringat."
Tania memandang Sinta dan berbisik, "Dia belum pura-pura mabuk, tapi sudah bicara dua kali lebih banyak."
Sinta melirik pipi Anindya yang merah. "Kurasa rencanamu terlambat."
Tania memberi kode dari seberang meja. Anindya mulai menjalankan rencana. Ia menyentuh pelipis, mengedip lambat, lalu memiringkan tubuh ke arah Arya.
"Mas Arya, aku agak pusing."
Arya langsung menggeser kursi mendekat. "Mau pulang?"
"Belum. Aku cuma perlu bersandar."
Anindya meletakkan kepala di bahunya. Jantungnya berdebar begitu keras hingga ia takut Arya mendengarnya.
Tania mengangkat kedua ibu jari dari seberang.
Rencana berjalan sempurna selama tujuh detik.
Lalu Anindya mengangkat kepala dan berkata terlalu keras, "Bahumu nyaman sekali. Sudah kupijat, jadi milikku."
Meja hening.
Arya menatapnya. "Kamu mabuk?"
"Tidak. Aku sedang pura-pura mabuk."
Tania menutup wajah dengan kedua tangan.
Bayu tertawa sampai batuk. Sinta memukul punggungnya sambil ikut tertawa.
Arya mengangkat alis. "Pura-pura?"
Anindya menunjuk Tania. "Dia yang menyuruh. Katanya aku harus bersandar, lalu Mas akan sadar aku cantik dan lembut."
"Pengkhianat," desis Tania.
"Tapi aku memang cantik," lanjut Anindya. "Mas Arya bilang sangat bagus."
Arya teringat percakapan di ruang kebugaran. Telinganya memanas.
Reza menatap gelas kosong. "Itu benar-benar minuman ringan?"
Tania mengambil kartu menu dan membaca kadar alkoholnya. "Harusnya ringan."
"Untuk orang yang tidak pernah minum, satu gelas cukup," ujar Sinta.
Anindya tiba-tiba berdiri. Kursinya hampir jatuh. Arya menangkap pinggangnya sebelum ia kehilangan keseimbangan.
"Aku bisa jalan," protes Anindya.
"Kamu bahkan tidak bisa berdiri lurus."
"Lantai yang miring."
"Kita pulang."
"Rencananya belum selesai."
Tania mengintip dari balik tangan. "Sudah selesai. Hancur total."
Anindya memegang wajah Arya dengan kedua tangan. "Belum. Katanya setelah bersandar, aku harus…"
Tania bangkit panik. "Tidak ada bagian berikutnya!"
"Ada. Kamu bilang cium—"
Tania menyumbat mulut Anindya dengan tisu bersih.
Arya berdeham sambil menahan senyum. "Aku sebaiknya tidak bertanya."
"Keputusan paling bijak malam ini," kata Reza.
Anindya melepaskan tisu. "Segitu doang?"
"Apa?" tanya Arya.
"Aku sudah pakai baju bagus, minum sesuatu yang pahit di belakang rasa manis, lalu bersandar. Mas cuma mau mengantarku pulang?"
Tatapannya begitu kecewa hingga Arya hampir tertawa. "Apa yang kamu harapkan?"
Anindya berpikir keras, tetapi alkohol membuat pikirannya bergerak lambat. "Aku lupa."
Kepalanya lalu jatuh kembali ke dada Arya.
Kali ini ia benar-benar tertidur.
Tania mendekat dan memeriksa napasnya. "Dia baik-baik saja. Cuma tidur."
Arya menatapnya tajam. "Ini idemu?"
"Secara teori, dia cuma pura-pura mabuk."
"Secara praktik, aku membawa pulang orang pingsan."
"Bukan pingsan. Tidur romantis."
"Tidak ada istilah itu."
Bayu membayar minuman sambil terus tertawa. "Sudah, bawa istrimu pulang. Kami yang urus mobil Sinta dan Tania."
"Aku tidak minum," kata Arya. "Aku bisa menyetir."
Ia mencoba membangunkan Anindya, tetapi perempuan itu hanya menggumam dan memeluk pinggangnya lebih erat.
"Mas Arya jangan pergi."
Tawa di meja berhenti sesaat.
Arya menunduk. Bahkan dalam mabuk, nada Anindya terdengar takut kehilangan.
"Aku tidak pergi," katanya pelan.
Anindya membuka mata sedikit. "Janji?"
"Janji."
"Jangan kembali ke Karina."
Arya merapikan rambut yang menempel di dahinya. "Aku sudah bilang tidak akan kembali."
"Jangan juga cari perempuan lain."
"Anindya."
"Aku istrimu. Aku boleh melarang sedikit."
Arya tidak menjawab di depan teman-teman mereka. Namun, tangannya menopang tubuh Anindya dengan lebih erat.
Ia mengangkat tubuh Anindya dengan kedua tangan. Perempuan itu secara otomatis melingkarkan lengan di lehernya.
Tania mengeluarkan ponsel untuk memotret.
"Simpan ponselmu," ujar Arya.
"Untuk dokumentasi perkembangan."
"Aku akan memasukkanmu ke daftar blokir berikutnya."
Tania menyimpan ponsel sambil tertawa. "Baik. Tapi jangan sia-siakan suasana."
Arya mengabaikannya dan membawa Anindya keluar. Angin malam menyentuh wajah mereka. Anindya bergerak, menyandarkan pipi lebih dalam pada dadanya.
Di dalam mobil, Arya memasangkan sabuk pengaman untuknya. Jarak wajah mereka tinggal beberapa sentimeter.
Anindya membuka mata setengah. "Mas ganteng."
"Kamu mabuk."
"Dua-duanya bisa benar."
Ia kembali tertidur.
Arya menutup pintu dan berjalan ke sisi pengemudi. Rencana Anindya mungkin gagal total.
Namun, sepanjang perjalanan pulang, Arya tidak mampu menghentikan senyumnya.
Di kursi sebelah, Anindya terus menggenggam ujung lengan bajunya, seolah janji sederhana tadi harus dijaga bahkan ketika ia tidak sadar malam itu.