NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Presiden

Istri Kontrak Sang Presiden

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Mafia / Wanita perkasa / Beda Usia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.

Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.

Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.

Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.

Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.

Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.

Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Pikiran yang Tak Terkendali

Riccardo

Kalau Matteo bisa membunuhku, dia pasti sudah melakukannya saat itu juga.

Kebencian di matanya begitu pekat sampai nyaris bisa disentuh. Meski begitu, bukan dia yang paling menyita perhatianku.

Melainkan Bella.

Perempuan yang berani menentang seorang presiden tanpa menundukkan kepala kini tampak terpojok. Kilau menantang di matanya lenyap beberapa saat, tergantikan raut pasrah yang menggangguku lebih dari seharusnya.

Aku mengamati mereka menjauh.

Matteo menggenggam tangannya erat, seperti membawa pulang barang miliknya, bukan putrinya sendiri.

Guglielmo mendekat dan berhenti di sampingku.

"Orang-orang itu punya mata di mana-mana, Riccardo."

Aku masih menatap ke arah Bella menghilang.

"Aku tidak suka cara dia membawanya pergi."

Guglielmo menghela napas.

"Itu kebiasaan mereka. Di keluarga Lombardi, para perempuan adalah milik para pria dalam keluarga. Diperlakukan seperti harta benda."

Kupalingkan pandang padanya.

Rahangku mengeras.

Kami masuk mobil, dan Guglielmo duduk di sampingku.

Setelah beberapa menit hening, dia memecah suasana.

"Jadi? Dia menerima?"

Aku tertawa pendek tanpa sedikit pun humor.

"Tidak."

Dia menghela napas dan menggeleng.

"Sialan, Riccardo... Bella itu perempuan yang sudah punya segalanya. Uang, nama keluarga, pengaruh... Dia tidak akan terkesan oleh kekuasaan. Kalau kamu mau dia menerima tawaranmu, pertama-tama kamu harus memenangkan kepercayaannya."

Kuusap wajahku, berpikir, sambil menatap pemandangan di jendela.

Guglielmo mengambil ponsel, membuka agendaku, dan menggulir jadwal minggu ini.

"Ini dia. Minggu ini ada satu acara penting."

Dia mengangkat mata dan tersenyum miring.

"Undang Bella."

Keningku berkerut.

"Menurutmu dia mau?"

"Mau. Yang penting dia mulai jadi bagian dari hidupmu. Kita masukkan Bella Lombardi ke dalam duniamu, Riccardo. Sebelum meyakinkannya menandatangani kontrak, kamu harus meyakinkannya bahwa dia bisa memercayaimu."

Guglielmo terus menggeser jari di jadwal.

"Dan hari Sabtu kamu kosong."

Dia mengangkat mata sesaat.

"Ajak dia keluar."

Aku menatapnya dengan senyum tipis.

"Aku masih bisa kencan, tahu."

Guglielmo bahkan tak repot mengangkat kepala. Dia terus menatap layar ponsel sebelum menjawab dengan nada datar.

"Tidak kelihatan."

Aku tertawa tertahan dan menggeleng.

"Dasar bajingan."

Akhirnya dia menatapku dan tersenyum miring.

Sampai di ruang kerja, aku kembali ke rutinitas seperti biasa. Tumpukan dokumen menungguku di meja. Para penasihat keluar-masuk membawa laporan, agenda, permintaan tanda tangan, dan informasi yang di hari lain akan menuntut seluruh perhatianku.

Aku melakukan semuanya.

Menandatangani berkas.

Menjawab otomatis.

Menyetujui rapat.

Mendengarkan para menteri.

Tapi kenyataannya aku tidak ada di sana.

Tubuhku bekerja. Pikiranku tidak.

Pikiranku terus kembali ke restoran.

Ke Bella.

Aku mengulang setiap detik makan siang itu seolah terjadi lagi.

Senyum tipis yang ia berikan di tengah percakapan.

Cara matanya terlihat lebih ringan sesaat.

Lalu semuanya berubah.

Cukup Matteo muncul.

Aku masih bisa melihat ekspresinya begitu melihat ayahnya. Perempuan yang jenaka, cerdas, dan menguasai dirinya itu lenyap. Yang muncul adalah seseorang yang tegang, nyaris tanpa reaksi. Seakan bertahun-tahun kepatuhan dan ketakutan bicara lebih keras daripada kehendaknya sendiri.

Itu mengusikku.

Bukan.

Itu membuatku murka.

Kugenggam pulpen sampai plastiknya hampir retak.

Aku tak akan pernah lupa cara Matteo menggenggam tangannya.

Tanpa meminta.

Tanpa menjelaskan.

Tanpa peduli dia mau ikut atau tidak.

Dia menariknya begitu saja, seperti seseorang yang mengambil kembali sesuatu miliknya.

Seolah Bella sebuah barang.

Seolah dia tak punya suara.

Seolah dia tak boleh memutuskan dengan siapa bicara, dengan siapa makan siang, bahkan bagaimana hidup.

Dan yang paling parah...

Dia ikut.

Bukan karena mau.

Tapi karena tampaknya dia yakin tak punya pilihan lain.

Aku mengembuskan napas berat dan menyandarkan punggung ke kursi.

Bertahun-tahun aku bernegosiasi dengan kepala negara, menghadapi krisis internasional, dan mengambil keputusan yang mengubah nasib jutaan orang. Namun, di depan pemandangan itu, aku diam membeku.

Aku tahu persis siapa Matteo Lombardi.

Aku tahu gerakan impulsif apa pun bisa memicu insiden politik berskala tak terbayangkan.

Meski begitu...

Rasa tak berdaya itu terus menggerogotiku.

Kututup map yang tadi kubaca tanpa ingat apa isinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tak bisa berkonsentrasi bekerja.

Karena satu pertanyaan terus menghantam kepalaku.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Bella begitu dia melewati pintu rumah itu?

"Pak Presiden..."

Aku mendengar suara memanggil dari kejauhan, seperti menembus kabut. Butuh beberapa detik untuk sadar bahwa mereka bicara padaku. Pikiranku masih tersangkut pada Bella.

"Pak Presiden?" ulang Guglielmo, menarik perhatianku.

Aku berkedip beberapa kali dan akhirnya kembali ke kenyataan.

"Bisakah kami mencairkan dana untuk proyek-proyek sosial berikut?"

Kulirik sekilas map terbuka di atas meja. Kubaca cukup untuk mengenali proyeknya. Aku mengangguk.

"Ya. Cairkan."

Guglielmo mengangguk kecil dan mencatat persetujuan itu.

"Ada lagi, Tuan-tuan?"

Keheningan jadi satu-satunya jawaban.

"Kalau begitu, rapat terakhir hari ini kita tutup."

Kursi-kursi mulai bergeser. Map ditutup. Salam-salam singkat bergema di ruangan saat para menteri, penasihat, dan sekretaris meninggalkan ruang kerja satu per satu.

Aku tetap duduk, memandangi pintu menutup di belakang orang terakhir.

Akhirnya keheningan menguasai ruangan.

Tapi, tak seperti yang kukira, itu tidak membawa kedamaian.

Hanya membuatku memikirkannya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!