Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU SALAH MENUDUHNYA
Tepat setelah Anaxa menyelesaikan dan mengirim emailnya ke pihak berwenang, pintu kamar mandi terbuka. Dia menolehkan kepala dan melihat Alya keluar kamar mandi, berbalut piyama bermotif lucu, dan juga kepalanya yang masih tertutup oleh handuk.
Anaxa merasakan suatu getaran saat mata mereka tanpa sengaja bertatapan. Namun Anaxa langsung menggeleng kan kepalanya dan dalam hati dia berkata "Kenapa auranya jadi agak berbeda..."
Alya melangkah mendekati Anaxa yang masih terduduk di kursi meja belajar, ikut melihat ke layar laptop Anaxa. Memiringkan kepalanya sebentar, dan Alya pun bertanya "Udah selesai kah tugas kantornya? Ayok makan."
Anaxa hanya mengangguk dan menuruti perkataan gadis itu. Menutup laptop. Lalu mereka duduk berdua di atas karpet bulu dan menyantap makanan dengan nikmat. Dan Alya melihat Anaxa makan jauh lebih lahap daripada di kantin.
Alya tersenyum tipis, lalu menyendok kan sayur ke piring Anaxa. Ujarnya "Biar lebih sehat" Dan hal itu sukses membuat Anaxa berhenti makan. Dia tiba-tiba gelagapan saat mendapatkan perhatian berulang dari Alya
"Te.. Terimakasih banyak."
"Sama-sama." Alya tersenyum manis dan menaruh lebih banyak lauk serta sayuran ke piring Anaxa. Mau tak mau Anaxa menerima nya dan menghabiskan makanannya yang rasanya ternyata enak. Seperti masakan rumahan yang sudah lama dia tak rasakan. Hanya saja Anaxa terlalu malas untuk membuatnya. Dia lebih sering membeli makanan instan atau frozen food.
Anaxa pun lanjut makan. Namun dia juga menyadari bahwa Alya terus menatap dirinya dengan lekat. Sedikit canggung, namun Anaxa memilih untuk diam saja. Karena dia tidak tahu apa tujuan perilaku Alya terhadap dirinya.
"Apakah... Dia juga mengamati ku seperti orang lain yang ku curigai? Tapi.. Dia temanku." Ucap Anaxa dalam hati.
Dan beberapa menit kemudian mereka selesai makan. Saat Alya ingin mencuci piring dan mangkuk, Anaxa menawarkan diri untuk membersihkannya juga. Jadilah mereka mencuci piring berdua sambil mengobrol.
Satu dua piring selesai dicuci. Tangan penuh sabun. Anaxa melihat busa sabun yang menempel di pipi Alya. Dan tanpa ragu, Anaxa mengelap tangan kanannya kemudian menyeka pipi Alya.
Sontak perbuatan Anaxa membuat Alya terkejut. Dan dapat terlihat pipi Alya juga sedikit memerah. "Apaan sih Anaxa?"
"Ada busa" Jawaban yang singkat dari Anaxa, dan dia lanjut mencuci piring.
Dan tanpa disadari, perbuatan sederhana Anaxa membuat jantung Alya berdegup lebih cepat. Rasa harapan mulai bangun kembali dan tak terkendali.
Alya Kirana, si gadis pendiam itu, menyukai Anaxa bahkan sejak semester pertama. Namun yang bersangkutan tidak pernah tahu itu. Alya tidak punya keberanian untuk mengakui perasaannya meskipun kini laki-laki itu ada di sebelahnya. "Hah..." Alya menghela napas
"Kenapa?" Langsung ditanya oleh Anaxa
"Ah engga.. Tiba-tiba overthinking aja"
"Overthinking terhadap?"
"Kenapa ya nilai ku tidak pernah lebih tinggi dari mu padahal aku sudah belajar mati-matian?" Alya memilih untuk membicarakan hal lain daripada tentang perasaannya.
Tanpa diduga, berkat lontaran perkataan Alya, Anaxa tersenyum bahkan tertawa pelan. Tawa dan senyum yang jarang terjadi sejak terror amplop coklat menghantuinya. Dan pemandangan itu sukses membuat pipi Alya memerah lebih lagi.
"Kamu tinggal belajar lebih rajin. Pasti bisa kok. Atau... Kita kan sekelompok, sebagai imbalan karena kamu sudah mengizinkan ku nginep di kos mu, aku bisa jadi tutormu. Gratis"
"Serius?"
"Iya"
Alya tidak dapat menahan kegembiraan nya. Gadis itu tersenyum lebar. Dan sekali lagi Anaxa merasakan getaran aneh di dadanya.
Dan waktu berjalan. Semakin malam semakin larut. Hingga waktunya mereka tidur.
Alya memberikan selimut kepada Anaxa yang bersiap untuk tidur di atas sofa. Sedikit ucapan terimakasih, lalu Alya naik ke atas ranjangnya.
Keduanya ingin cepat-cepat tidur, namun malah tenggelam kedalam lamunan masing-masing. Alya memikirkan Anaxa yang saat ini sedang tidur di kamarnya. Sedangkan Anaxa, dia kembali memikirkan terror amplop coklat, bu Aglaea, EVA, dan surat laporannya
Anaxa tidak tahu apakah suratnya akan ditanggapi dengan serius atau tidak. Dia juga tidak tahu apakah... Amplop coklat itu akan tetap sampai di kos Alya atau tidak?
Dan apa yang akan Anaxa lakukan jika Alya sampai terseret juga kedalam terror?
Anaxa terus berpikir hingga tanpa disadari dirinya terjatuh dalam tidur. Tidak tenang. Tetap setres. Dan juga ketakutan.
Lain dengan Anaxa, meskipun waktu sudah mencapai jam 2 subuh, Alya tetap tidak bisa tidur. Akhirnya gadis itu memilih untuk memainkan ponselnya sampai rasa kantuk datang lebih berat. Dan Alya sengaja memakai earphone bluetooth karena tidak mau membangunkan Anaxa dari tidurnya.
Scroll
Scroll
Like
Share
Scroll
Alya terus melakukan itu dua jam kedepan. Sesekali gadis itu tertawa tanpa suara saat menonton video lucu atau yang absurd. Yang tadinya ngantuk, malah hilang ngantuknya. Alya pun sampai kaget sendiri setelah sadar jam berapa saat ini.
Dengan cepat Alya mematikan ponselnya dan menaruh di atas nakas. Ingin segera tidur, tapi tiba-tiba Alya ingin ke toilet. Maka dari itu, Alya turun dari kasur. Hendak melangkah namun matanya langsung tertuju ke Anaxa ditengah cahaya remang-remang dari lampu tidur Alya.
Alya melihat selimut yang terjatuh. Dan tanpa pikir panjang Alya melangkahkan kakinya mendekati Anaxa. Meraih selimut yang terjatuh dan menyelimuti tubuh pria itu.
Seharusnya urusan Alya sudah beres. Namun Alya malah terdiam dan seolah-olah terhipnotis oleh wajah Anaxa yang sebenarnya cukup tampan walaupun agak kurus. Alya menatap wajah Anaxa yang ekspresinya terlihat jauh lebih lembut dan damai, tidak seperti ekspresi wajah Anaxa yang biasanya dingin, lempeng, dan terlihat tanpa emosi.
Tangan Alya mulai menjulur untuk mengelus pipi pria itu, namun tanpa disangka, tiba-tiba Anaxa terbangun dari tidurnya. Keduanya sama-sama terkejut setengah mati.
Anaxa cepat-cepat duduk dari tidurnya dan mendorong Alya menjauh. Matanya dipenuhi ketakutan. Pikiran Anaxa langsung mengirim kan sinyal bahaya. Dan otaknya langsung mengambil kesimpulan acak. Membuat pria itu langsung berteriak menuduh Alya "Jujur saja, kamu yang selama ini kamu yang mengamati dan mengirim amplop coklat ke kos ku kan?!"
Alya yang diteriakin seperti itu oleh Anaxa langsung terdiam di tempat. Alya menjawab pertanyaan Anaxa dengan suara yang agak gemetaran "Mengamati kamu? Hah! Dan amplop coklat apa yang kamu maksud?!"
'Iya kamu yang mengamati ku! Tadi saat makan kau juga mengamati ku. Memangnya aku tidak tau?!" Suara teriakan Anaxa tambah tinggi. Mendengar itu, membuat Alya gemetar ketakutan. Gadis itu sama sekali tidak menyangka bahwa Anaxa bisa membentak orang sampai segitunya.
"Cepat mengaku atau aku akan melaporkan mu kepada pihak yang berwajib!" Anaxa mengeluarkan ultimatum.
Alya tersentak kaget. Air mata mulai turun kebawah. Bibirnya digigit pelan agar suara isakan nya tidak terlepas. Dan akhirnya Alya menganggukkan kepala. Pasrah.
Dengan langkah yang lesu, Alya berjalan ke lemari bajunya. Membuka pintu lemari. Mengambil sesuatu dari sana. Dan balik melangkah ke Anaxa.
Alya menyerahkan sebuah buku diary dengan gembok kecil yang terpasang di bukunya. Air mata bercucuran lebih deras, namun Anaxa hanya menatap Alya dengan dingin.
Anaxa meraih buku diary itu. Tiba-tiba mengumpat saat dia menyalakan lampu untuk membaca isi diary tersebut. Sejenak melupakan matanya yang sensitif.
Borgol kecil dibuka. Dan Anaxa mulai membaca tulisan tulisan yang ada disana.
Waktu demi waktu berlalu. Alya berdiri, kepala menunduk, tetap menangis tanpa suara.
Sampai akhirnya Anaxa selesai membaca buku diary Alya. Apa yang dibacanya membuatnya sangat tertegun. Dan Anaxa sama sekali tidak menduganya. "A... Alya.." lidah Anaxa kaku.
Yang dipanggil hanya mendongakkan kepalanya. Menatap dengan penuh air mata. Membuat Anaxa yang menatapnya merasa sakit di dadanya tiba-tiba.
"Alya... Aku... Ah..."
"Aku sama sekali tidak tahu tentang amplop coklat yang kamu maksud."
Anaxa terdiam.
Alya menggenggam baju piyama nya.
"Aku cuma.. terlalu menyukaimu."
Hening
"Sejak semester pertama."