Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Napas Pertama Menuju Kultivasi
Paviliun Buku Keluarga Liu berdiri megah di tengah Desa Cangmu. Tempat itu terdiri dari dua lantai yang dipadati rak-rak kayu berisi gulungan bambu, buku-buku kuno, serta catatan peninggalan para kultivator generasi terdahulu.
Bagi para murid Keluarga Liu, tempat ini tak lebih dari perpustakaan biasa untuk mencari teori dasar sebelum menerima bimbingan langsung dari guru.
Namun bagi Wang Dahu, ruangan ini adalah pintu gerbang menuju dunia yang seumur hidup terkunci rapat di hadapannya.
Ia berdiri di depan rak yang memuat literatur dasar, membaca satu demi satu judul yang tertera:
Pengenalan Energi Spiritual.
Dasar-Dasar Meridian Tubuh.
Teknik Pernapasan untuk Pemula.
Ensiklopedia Tanaman Obat.
Pengantar Formasi Spiritual.
Matanya beralih cepat dari satu baris ke baris berikutnya.
Dahulu, jangankan memahami isinya, membayangkan bisa memegang buku-buku kultivasi saja ia tak pernah berani. Sekarang, ia punya kebebasan penuh untuk melahap semuanya.
“Jangan bilang kau berniat membaca semua sampah itu sekaligus?” suara si iblis berdengung malas di dalam kepalanya.
Dahu menarik keluar salah satu buku dari rak. “Kalau aku bisa, kenapa tidak?”
“Pengetahuan tidak akan otomatis membuatmu kuat hanya karena kepalamu kau jejalkan ribuan kata.”
“Aku tahu. Tapi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa bahkan tidak punya tiket untuk mencoba menjadi kuat.”
Si iblis terdiam sesaat. “Hmph. Setidaknya jalan pikiranmu mulai sedikit masuk akal.”
Dahu tidak membuang waktu membalas. Ia memilih tiga buku yang materinya saling berkesinambungan, lalu membawa tumpukan itu ke sudut ruangan yang sepi.
Ia mulai membaca dari bab dasar-dasar energi spiritual.
Buku itu memaparkan bahwa energi alam bertebaran di mana-mana, namun indra manusia biasa tertutup untuk merasakannya. Untuk menjadi seorang praktisi bela diri, seseorang wajib menguasai ketenangan batin, menyelaraskan irama napas, dan membuka kepekaan terhadap fluktuasi energi di sekitarnya.
Hanya dengan cara itulah seseorang bisa mulai menarik energi spiritual ke dalam tubuh.
Dahu membaca dengan konsentrasi penuh. Berkat ingatan sempurnanya, ia bukan sekadar menghafal kata per kata, melainkan langsung menangkap pola hubungan antara teks, diagram skematis, dan ilustrasi jalur aliran energi di dalam tubuh manusia.
Beberapa lembar kemudian, ia mendapati bab tentang meridian.
Meridian adalah jaringan saluran vital yang menghubungkan seluruh organ dan menjadi jalur utama sirkulasi tenaga kultivator. Jika jalur meridian seseorang tersumbat atau rapuh, proses penyerapan energi dari luar akan menjadi mustahil.
Dahu berhenti sejenak.
Pikiran melayangnya pada masa lalu, saat para tabib dan murid sekte memvonis bahwa meridian tubuhnya terlalu lemah untuk menampung aliran energi.
Dulu, ia mengutuk takdirnya yang cacat.
Namun kini, ia menyadari satu hal: ketidaktahuan bukan berarti kelemahan permanen. Sesuatu yang belum dipelajari, selalu bisa diatasi jika kita tahu caranya.
Ia melanjutkan membaca hingga menemukan panduan tentang teknik pernapasan dasar.
Teknik itu tampak sangat sederhana. Tidak ada nama yang megah, tidak ada kisah kepahlawanan penciptanya. Metode itu hanya mengajarkan tiga prinsip utama: memperlambat laju napas, menjaga kestabilan irama, dan mengosongkan pikiran tanpa memaksakan energi luar masuk secara serampangan.
Bagi kebanyakan murid pemula, teknik semacam itu terlalu lambat dan remeh untuk dilirik.
Namun bagi Dahu, justru kesederhanaannya menyimpan kunci esensial.
Ia mengingat setiap instruksi, termasuk posisi postur tubuh yang disarankan dan arah sirkulasi udara di dalam rongga dada.
Lalu ia membuka buku keduanya.
Di sana dibahas mengenai respons fisik saat tubuh mulai berinteraksi dengan energi spiritual. Dahu langsung mencocokkan teori tersebut dengan teknik pernapasan yang baru saja ia pelajari.
Keduanya ternyata saling melengkapi.
Namun ia menemukan satu detail kecil yang sering dilewatkan orang: buku pertama menyarankan perlambatan napas secara bertahap, sementara buku kedua memperingatkan bahwa otot yang tegang akan menutup jalur kepekaan indra terhadap energi alam.
Dahu merajut kedua informasi itu di dalam kepalanya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak sekadar menghafal mati sebuah ilmu. Ia mulai belajar menganalisis dan menghubungkan potongan-potongan teka-teki kultivasi.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.
“Hei, kau.”
Sebuah suara membuyarkan lamunan Dahu.
Seorang pemuda berjubah biru berlogo Keluarga Liu berdiri di hadapan mejanya, menatap sinis ke arah tumpukan buku di depannya.
“Kau membaca buku-buku itu seharian. Apa yang sebenarnya dicari oleh orang sepertimu di sini?”
Dahu mendongak tenang. “Mencari pengetahuan.”
Pemuda itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Pengetahuan? Buat apa seorang manusia tanpa jalur energi membuang waktu membaca teknik kultivasi?”
Beberapa orang pengunjung di dekat mereka mulai menoleh dan memerhatikan.
Dahu menutup buku yang sedang dipegangnya perlahan. “Aku belum tahu apakah aku bisa berkultivasi atau tidak. Karena itulah aku datang ke sini untuk belajar.”
Jawabannya datar, tanpa nada gentar ataupun emosi meluap-luap.
Si pemuda berjubah biru tampak tak senang dengan sikap tenang Dahu. “Kalau begitu, coba jawab pertanyaanku. Apa perbedaan mendasar antara menahan napas dan mengatur napas dalam metode kultivasi dasar?”
Pertanyaan itu tampak sepele, tapi sebenarnya berupa jebakan logika untuk membedakan pemula yang asal hafal dengan yang paham esensi.
Dahu mengingat kembali penjelasan dari dua buku yang ia baca barusan.
“Menahan napas hanya menghentikan pasokan udara ke paru-paru untuk sementara demi konsentrasi. Sedangkan mengatur napas adalah proses menjaga kestabilan ritme tubuh agar pikiran tetap jernih. Dalam kultivasi, tujuannya bukan menghirup udara sebanyak mungkin, melainkan menciptakan kondisi fisik yang kondusif agar indra kita bisa mendeteksi perubahan energi spiritual.”
Ia berhenti sedetik, lalu menambahkan, “Tapi, mengatur napas saja belum cukup. Kondisi fisik, tingkat fokus, dan pemahaman jalur meridian juga ikut menentukan keberhasilan.”
Pemuda berjubah biru itu kontan tertegun.
Jawaban tersebut memang bukan rahasia besar bagi murid senior, tapi ia tidak menyangka seorang pemuda desa yang dicap tak berbakat mampu merangkumnya dengan begitu runut dan logis.
“Kau... hanya menghafal dari buku, bukan?” selidiknya ragu.
“Mungkin,” jawab Dahu ringan sembari merapikan tumpukan bukunya. “Tapi kalau kau merasa penjelasanku keliru, silakan tunjukkan bagian mana yang salah.”
Pemuda itu mendengus kesal karena tak bisa mendebat, lalu memutar badan dan melangkah pergi begitu saja.
Dahu tidak membuang tenaga untuk membalas ejekan kecil. Ia kembali fokus pada tumpukan bukunya.
Bagi Dahu, membuktikan diri lewat adu mulut tidak ada gunanya. Yang ia butuhkan adalah hasil nyata.
Menjelang senja, Dahu telah menamatkan seluruh buku dasar yang ia incar.
Di dalam otaknya, semua teori itu tersusun rapi: fungsi meridian, perbedaan mendasar antara tenaga fisik dan energi spiritual, fungsi sejumlah herbal penunjang latihan, hingga prinsip dasar formasi penarikan energi.
Tentu, teori saja belum menjadikannya seorang ahli.
Namun kini, ia tidak lagi merasa buta huruf di hadapan dunia bela diri.
Sebelum melangkah keluar dari paviliun, ia menyempatkan diri membuka kembali buku teknik pernapasan, membaca ulang sebuah catatan kecil di margin bawah halaman:
“Jangan mengejar energi. Tenangkan raganya terlebih dahulu, lalu biarkan energi itu yang datang mendekat.”
Kalimat itu berulang kali berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.
Setibanya di rumah, alih-alih langsung masuk, ia berjalan menuju halaman belakang yang sepi. Ia ingin mencoba latihan itu seorang diri, jauh dari keramaian dan tatapan sinis orang lain.
Dahu duduk bersila di atas tanah yang kering.
Punggungnya ditegakkan lurus. Kedua telapak tangannya bertumpu rileks di atas lutut. Matanya terpejam rapat, lalu ia mulai mengatur keluar masuknya udara sesuai instruksi buku.
Tarik perlahan.
Hembuskan lembut.
Jangan memaksa.
Pada menit-menit awal, tidak terjadi apa-apa.
Ia masih mendengar suara jangkrik dari semak-semak, desau angin sore yang mengoyak daun, serta debar jantungnya sendiri yang sempat berdegup cemas.
Dahu menarik napas dalam, lalu mengulangnya dari awal. Kali ini, ia benar-benar membuang jauh-jauh beban pikiran tentang apakah ia akan gagal atau berhasil.
Beberapa saat kemudian, napasnya terasa kian selaras.
Ketegangan di otot bahunya perlahan menguap. Detak jantungnya melambat, meredup, hingga menyisakan keheningan di dalam rongga dadanya.
Dan saat itulah, keajaiban kecil terjadi.
Wang Dahu mendadak merasakan sensasi aneh yang amat lembut di permukaan kulit dan ujung jemarinya.
Seolah-olah udara di sekitarnya berubah menjadi air hangat, menyelimuti tubuhnya dengan lapisan tekstur yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Seketika, dorongan kuat muncul di hatinya untuk segera menangkap dan menarik sensasi itu.
Namun, begitu fokusnya pecah oleh rasa antusias yang meluap, sensasi itu buyar seketika.
“Jangan bergerak!” tegur si iblis tajam di dalam benaknya.
Dahu nyaris membuka mata karena terkejut. “Ada apa?”
“Jangan ubah ritme pernapasanmu! Pertahankan kondisi persis seperti saat kau merasakannya tadi!” Nada suara sang iblis terdengar jauh lebih tegang dari biasanya.
Dahu menelan ludahnya, menepis rasa penasarannya, lalu kembali memusatkan seluruh atensi pada tarikan napasnya.
Satu tarikan.
Satu embusan.
Perlahan-lahan, sensasi samar itu merayap kembali.
Kali ini terasa sedikit lebih nyata—bukan sebagai angin badai, melainkan butiran-butiran embun halus yang menempel di pori-pori kulitnya sebelum menguap.
Dahi Dahu mulai dibasahi keringat dingin. Ia harus mati-matian menjaga stabilitas mentalnya agar tubuhnya tidak tegang. Namun karena belum terbiasa, sensasi itu kembali memudar setelah beberapa detik.
Dahu membuka matanya perlahan.
Tidak ada cahaya keemasan yang menyilaukan. Tidak ada ledakan energi yang mendesak naik. Raga kasarnya masih sama seperti sedia kala.
Namun, sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya.
“Aku... merasakannya.”
Di dalam kepalanya, sang iblis terdiam seribu bahasa untuk beberapa saat. “Jangan cepat berpuas diri. Itu baru kepekaan awal. Kau bahkan belum membuktikan bisa menyedot dan menyimpannya ke dalam dantian.”
“Aku tidak bilang aku sudah hebat,” jawab Dahu tenang.
“Lalu apa yang membuatmu tersenyum seperti orang bodoh?”
Dahu menatap kedua telapak tangannya sendiri. “Karena selama delapan belas tahun, aku mengira pintu itu disegel mati untukku. Hari ini, aku baru sadar... bahwa aku memang bisa merasakan keberadaannya di balik pintu itu.”
Si iblis kembali membisu.
Untuk pertama kalinya sejak ia terkurung dalam raga sang pemuda, ia kehabisan kata-kata untuk mengejek.
Bukan karena pencapaian Dahu sudah sehebat para dewa, melainkan karena pemuda ini tidak lagi membiarkan standar hidupnya ditentukan oleh caci maki orang lain. Dahu merajut kemajuannya sendiri, setapak demi setapak.
Jauh di dalam alam kesadaran Wang Dahu, di balik gerbang kuno yang terbelenggu rantai hitam, sang iblis menatap kosong ke arah kekosongan dimensi segel.
Ia telah kehilangan seluruh kekuatan aslinya, dan keterikatannya dengan tubuh Dahu sangatlah terbatas.
Namun lewat ikatan jiwa itu, ia bisa menangkap riak perubahan yang janggal.
“Tidak mungkin...” gumam iblis itu tak percaya.
Dahu, yang sedang merapikan tempat duduknya di halaman belakang, mendengar samar gumaman itu. “Apa lagi sekarang?”
Si iblis mengabaikannya, berbicara lebih pada dirinya sendiri. “Teknik pernapasan murahan seperti itu seharusnya tidak mungkin memicu respons kepekaan secepat ini pada seseorang yang divonis tidak punya jalur meridian.”
“Mungkin karena aku membacanya dengan benar dan berlatih tanpa beban.”
“Jangan besar kepala! Kau baru mendeteksi lapisan luarnya, belum tentu bisa mengendalikannya.”
Dahu mengangguk santai. Ia cukup realistis untuk tidak langsung besar kepala. “Aku akan mencobanya lagi besok.”
“Jangan berlatih terlalu keras. Jika jalur tubuhmu rusak sebelum waktunya, kau sendiri yang akan hancur lebur.”
Dahu menengadah menatap langit malam yang mulai bertabur bintang. Peringatan itu terdengar seperti bentuk kepedulian terselip, meski ia tahu tabiat asli si penghuni kepalanya.
“Khawatir aku kenapa-napa, eh?”
“Jangan PD! Kalau raga ini hancur, kesadaranku ikut terancam ikut mati, sialan!”
“Tenang saja, kalau begitu kita harus kompak menjaga tubuh ini.”
“Diam!”
Dahu tertawa kecil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Malam itu, ia memang belum resmi menjadi seorang kultivator sakti. Tapi ia membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar mimpi kosong: pemahaman logika yang utuh dan bukti nyata bahwa tubuhnya merespons latihan.
Ia pun semakin yakin pada satu prinsip hidup barunya: Ingatan bisa menimbun ribuan teori, tapi hanya latihan konsisten yang mengubah teori itu menjadi kekuatan sejati.
Dan ia baru saja melangkah pada jengkal pertama perjalanannya.
Tanpa disadari Dahu, jauh di dalam bilik kesadaran terdalam, salah satu mata rantai kuno yang membelenggu gerbang iblis tiba-tiba bergetar halus.
Tidak ada cahaya menyilaukan. Tidak ada suara dentuman.
Namun untuk sepersekian detik, sebuah rune kuno yang telah mati ribuan tahun memancarkan kilau keemasan redup, sebelum kembali tenggelam ke dalam pekatnya malam.
Si iblis membelalakkan matanya, menatap tajam ke arah gerbang tersebut dengan rasa ngeri yang bercampur penasaran.
Ia sama sekali tidak paham arti getaran itu.
Bahkan dengan seluruh pengalaman hidupnya yang melintasi zaman, ia tak mampu menebak apakah fenomena itu dipicu oleh latihan pernapasan Dahu, sisa kekuatan iblis yang terserap sebelumnya, atau sesuatu yang jauh lebih purba dan tersembunyi di dalam darah pemuda itu.
“Bocah...” bisiknya pelan dalam kegelapan kesadaran, “sebenarnya monster jenis apa yang bersembunyi di balik raga gemukmu itu...?”
Hanya keheningan yang menjadi jawaban.
Dan di balik dinding malam itu, awal dari legenda besar resmi berdenyut.