Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Pria Penolong
...بسم الله الرحمن الرحيم...
***
Pria itu hanya diam memandang Mahika yang pergi begitu saja, senyum terakhir yang diberikan nya itu bukan senyum tanda terimakasih. Namun senyum dari seorang wanita yang paham akan masalahnya, harus bagaimana ia bertindak sendiri.
Drrrrt drrrrt
Nada dering ponsel berbunyi, terdapat sebuah nama muncul di layar ponselnya. Pria itu langsung tersenyum seraya mengangkat panggilan di ponselnya.
"Assalamu'alaikum umma, apa kabar?? " sapa pria itu pada seseorang di seberang sana yang tak lain adalah ibunya sendiri. Almira Wirdania.
"Wa'alaikumussalam, abang kenapa belum pulang kesini? Umma kangen tau "
"Hehehe masih sibuk umma, cuti juga dapatnya cuma sehari. Kalau sehari cuti kata ayah tidak boleh pulang, buang-buang waktu lebih baik memperbaiki diri dan menambah wawasan atau pergi refreshing begitu kata ayah " ucapnya.
"Hm.. Jadi gak kangen umma nih?? "
"Kangen lah maa, kangen masakan umma, kangen disuapin umma, kangen diba-"
"Bacain surah Al-Qur'an sama umma!! " Sahut Fian menyambung percakapan antara pria tersebut dengan ummanya.
"MasyaAllah ada adek ternyata.. Lagi sama abang yaa adek "
"Iya ummaa!! Minggu depan kami pulang ummaa!! Janji minggu depan ya ummaaa!! " Sahut Fian lagi.
Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah laku adik lelaki satu-satunya ini, bagaimana tidak. Sudah dewasa dan mempunyai pekerjaan yang mapan tidak melunturkan sikap manjanya pada ibunda mereka berdua.
Yah terkadang ada sedikit rasa kesal pada adiknya ini, namun rasa kesalnya masih kalah dengan rasa sayangnya pada saudara kandung satu-satunya ini. Sudah biasa abang beradik ini berdebat karna masalah sepele atau masalah pekerjaan.
"Iya-iya nanti umma masakin makanan kesukaan adek sama abang, jadi cepat pulang ya. Ayah sama umma kangen loh "
"InsyaAllah umma, kami pulang minggu depan kalau tidak ada berhalangan dalam tugas"
"Iya sayang.. "
"Umma.. Kalau begitu abang tutup dulu ya, mau balik nih. Nanti abang telpon lagi kalau sudah sampai, takut kemalaman "
"Iya, hati-hati ya abang, adek.. Pelan-pelan nyetirnya. Kalau capek istirahat dulu "
"SIAP!! Ummaa cantik" ucap Fian yang langsung tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih kepada abangnya.
"Assalamu'alaikum umma.. " Serempak keduanya.
"Wa'alaikumussalam abang, adek.. "
Pria dengan tinggi 178 cm, wajah tampan serta berkharisma. Rambut cepak ala militer serta postur tubuh yang tegap, dia adalah Mahija Biantara Al-Ghifari. Mahija Biantara Al-Ghifari adalah seorang perwira muda lulus terbaik dari Akademi Angkatan Udara atau biasa di singkat AAU yang berada di Yogyakarta. Mahija saat ini berpangkat Letnan Satu (Lettu) di kesatuannya, Mahija Biantara Al-Ghifari tergolong senior yang cukup famous dari semasa berada di Akademi dahulu.
Wajah Mahija sering muncul di laman pencarian media sosial seperti instagram, dahulu selama di Akademi Mahija termasuk Taruna yang berprestasi dan menjabat sebagai Komandan resimen Taruna serta pernah menjabat sebagai Penatarama Marching band Akademi Angkatan Udara.
Mempunyai saudara laki-laki bernama Abri Fian Al-Ghifari, seorang perwira TNI angkatan udara berpangkat Letnan Dua (Letda). Sosok orang yang memegang kendali dibalik kemudi burung besi tempur Indonesia, terbaik dari yang terbaik. Satu-satunya saudara seumur hidupnya, yang tengil dan juga banyak tanya adalah ciri khas dari seorang Fian. Penyakit banyak tanya itu hanya kambuh pada 2 orang saja, yaitu pada Mahija serta Ayahnya.
Sudah dapat dipastikan untuk menghadapi bocah kematian ini, Mahija harus memperdalam ilmu sabar dan tawakal dari kaki gunung ninja hatori yang harus melewati sungai, samudera dan lembah yang terdalam.
🎶Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir cepat ke samudera
Bersama teman bertualang.. 🎶
Loh kok malah nyanyi lagu ninja hatori wkwkwk.
Tapi satu dimata para rekan-rekan lainnya, seorang Abri Fian Al-Ghifari tergolong prajurit yang pintar, cekatan dan bertindak tegas tidak berbanding jauh seperti abangnya yaitu Mahija Biantara Al-Ghifari. Kedua abang beradik ini di kesatuan bertindak sangat profesional tidak membedakan kandung atau tidaknya, namun jika diluar mereka sangat akrab.
Kedua pria hebat ini dilahirkan dan di besarkan oleh Almira Wirdania dan Mahendra Satria Al-Ghifari, memiliki orang tua yang bekerja sebagai seorang polisi dan ibu rumah tangga. Mahija dan Fian di didik keras oleh sang ayah dan di didik lembut oleh sang ibu membuat mereka paham bagaimana harus memperlakukan seseorang pada situasi tertentu, sang ayah tak pernah lupa untuk mengingat kan mereka kepada sang Maha penciptaan mereka, memberikan nasehat dan petuah yang berguna bagi Mahija dan Fian.
Begitu pula dengan sang ibu yang memberikan mereka kasih sayang yang tak lekang di makan waktu, mereka berhasil berkat kedua orang tua mereka yang memberikan apapun kepada anaknya, berusaha yang terbaik buat anaknya.
Sekarang giliran Mahija dan Fian yang berterima kasih untuk membalas budi kedua orang tua mereka, yang bahkan tak ternilai dengan mata uang sekali pun.
"Bang jadi kangen berat sama ummaa" Fian yang duduk di samping Mahija yang sedang menyetir.
"Minggu depan kan pulang Fi.. "
"Ah lama.. "
"Yaelah Fi, 7 hari lagi aja lama. Gak ingat? Sekarang lo kerjaannya apa? TNI Fi"
"Siap salah.. "
"Jangan ganggu, mending tidur aja sana "
Mahija terus menyetir namun pikirannya ke seseorang, wanita yang tidak ia ketahui namanya siapa, rumahnya dimana bahkan seperti apa dirinya.
"Sedang apa dia sekarang " dalam benak Mahija memikirkannya.
Mobil Mahija berjalan jauh meninggalkan daerah pesisir menuju asrama TNI, melanjutkan perjalanan malam dengan santai seperti pesan ibundanya tadi.
Tiin.. Tiiinnnn..
Suara klakson mobil Mahija yang telah sampai di pintu asrama TNI, segera petugas jaga membukakan palang pintu masuk asrama untuknya.
"Selamat malam ndan.. " Hormat anggota yang sedang bertugas kepada Mahija.
Mobil Mahija berhenti tepat di bahu jalan di dekat pos jaga, Mahija dan Fian turun dari mobil dengan membawakan makanan yang di belinya di perjalanan pulang.
"Izin ndan, apa itu?? " Tanya salah satu anggota yang tengah menutup palang pintu masuk.
"Makanan, buat yang jaga. Terimakasih sudah menunggu saya sampai belum di tutup pagar asrama" ujar Mahija membuka bungkusan makanan yang dibawanya.
"Nasi goreng, Mie goreng, ayam goreng, roti cane, martabak" Meniru uncle muthu yang diikuti gelak tawa para anggota yang sedang bertugas.
"Banyak sekali ndan, izin terimakasih ndan"
"Sama-sama, selamat bertugas ya"
"Siap ndan. " Memberi hormat kepada Mahija dan Fian.
Mahija hanya mengangguk dan berlalu masuk kembali ke dalam mobil namun Fian memberikan 2 jempol kepada para anggota nya sambil tersenyum, membiarkan mereka menikmati makanan yang dibawa oleh Mahija dan Fian.
Terlihat jelas perbedaan Mahija dan Fian terhadap anggota nya, Mahija sedikit lebih kaku kepada anggota nya sedangkan Fian lebih fleksibilitas dan terlihat santai kepada anggota. Satu kesamaan mereka adalah royal kepada seluruh anggota yang ada di asrama, selalu memberikan wejangan terbaik mereka kepada anggota.
Hingga mereka berdua di asrama sangat di segani oleh para anggota lainnya, Mahija dan Fian sosok prajurit yang menerapkan janji prajuritnya di kehidupan sehari-hari.
"Fi, bawa keparkiran. Gua mau ganti baju dulu, basah kena air laut sama hujan waktu nyelamatin cewek tadi "memberhentikan mobil tepat di depan asrama. Bersiap untuk turun dari dalam mobil.
"Lah bang, gua lupa lu juga basah tadi. Kenapa tadi hoodienya lu kasih ke cewek tadi kalau lu sendiri basah bang.."
"Sudahlah, gak papa. Tolong ya "
"Iya.. "
Mahija turun dari dalam mobil tepat di pintu masuk asrama, meninggalkan Fian yang masih di dalam mobil untuk memindahkan mobil mereka ke parkiran asrama.
Suhu tubuh Mahija saat ini mulai naik, karna tidak berganti baju setelah menyelamatkan Mahika. Ia terkena flu dan demam secara bersamaan, tubuhnya mengigil menahan keringat dingin yang terus mengalir.
Dengan berselimut tebal Mahija mencoba untuk tidur dengan nyaman di barak asrama, semoga saja besok pagi sedikit mendingan dari malam ini.
Mahija membaca doa tidur dan tertidur menahan tubuh yang sedang mengigil.