Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sarapan
Melihat Cesa yang tetap anteng dan sangat menikmati fasilitas sultannya tanpa terganggu sedikit pun, Devan justru menjadi orang yang semakin geram. Urat di dahinya menegang. Rencana awalnya untuk membuat Cesa menangis atau mengamuk karena cemburu gagal total. Devan malah merasa dirinya yang kepanasan dan terlihat bodoh sendiri di atas sofa.
"Ah, elah! Gak asik lo semua! Bubar, bubar! Keluar lo semua dari rumah gue!" bentak Devan tiba-tiba berdiri dari sofa, mengusir keenam LC yang langsung kebingungan .
"Loh, Van? Kok diusir? Kan baru mulai acaranya?" tanya Dodo bingung sambil memegang botol minumannya.
"Gak ada acara-acaran lagi! Brian, Dodo, bawa keluar nih cewek-cewek sekarang juga! Kepala gue pusing!" usir Devan dengan nada tengilnya yang berganti menjadi bentakan penuh emosi. Brian dan Dodo yang melihat aura singa mengamuk dari Devan akhirnya terpaksa menggiring keenam LC tersebut keluar dari rumah dengan terburu-buru.
Setelah ruangan kembali sepi dari orang luar, Devan berbalik menghadap Cesa dengan napas memburu. "Lo... cewek psycho! Bisa-bisanya lo gak peduli gue bawa cewek lain ke rumah?! Lo gak punya harga diri?!"
Cesa tidak langsung menjawab. Dengan gerakan santai, dia meraih ponsel pintarnya yang berada di meja kecil samping kursi Majapahitnya. Bukannya meladeni perdebatan Devan, Cesa justru membuka aplikasi Instagram dan langsung menekan tombol Live Streaming.
Dalam waktu kurang dari satu menit, ribuan pengikut Instagram-nya, termasuk teman-teman kuliah dan beberapa orang di lingkaran pergaulan mereka, langsung bergabung ke dalam siaran langsung tersebut. Cesa mengarahkan kamera depan ponselnya ke wajahnya yang masih bermasker pink, lalu membalikkan kamera ke arah Devan yang sedang berdiri berkacak pinggang dengan wajah merah padam.
"Halo Guys! Selamat malam netizen tercinta!" seru Cesa dengan nada ceria khas selebgram di depan kamera live-nya. "Malam ini gue mau berbagi cerita nih tentang kehidupan rumah tangga gue bersama suami tercinta yang super tengil dan ajaib ini. Nih, lihat mukanya yang kayak pantat panci gosong!"
"Heh! Apa-apaan lo! Matiin gak live-nya?!" teriak Devan panik, mencoba merebut ponsel Cesa. Namun dengan sigap, Cesa menghindar, mengarahkan kamera ke sudut kamar yang berantakan dan sisa-sisa kekacauan malam itu.
"Gila kan guys? Barusan aja dia pulang bawa pasukan LC dari club malam, terus sekarang dia marah-marah sendiri kayak orang kesurupan karena gue cuekin. Oh iya, buat ibu-ibu kompleks yang nonton live gue, bener kan gosip tadi pagi? Dia ini emang lagi kedok aja bawa LC, aslinya mah... kalian tahu sendirilah ya!" cerocos Cesa memanaskan suasana, membaca
komentar-komentar netizen yang langsung membanjiri kolom chat dengan tawa dan hujatan untuk Devan.
Devan semakin frustrasi dan kehabisan kata-kata menghadapi keliaran istrinya yang luar biasa bar-bar ini. Malam itu berakhir dengan Devan yang memilih kabur mengunci diri di kamar tamu lain, sementara Cesa menutup live streaming-nya dengan senyum kemenangan mutlak, siap merencanakan kekacauan berikutnya untuk esok hari.
∆∆∆∆∆
Sinar matahari pagi menembus gorden sutra setinggi lima meter di kamar utama rumah megah pemberian papa devan.Di tengah tempat tidur berukuran super king size Cesa—menggeliat malas. Ia mengerjapkan matanya yang lentik, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran emas estetik.
Cesa tersenyum lebar. Kepalanya menoleh ke samping kanan, mendapati sisi ranjang yang luar biasa rapi dan dingin.
"Baguslah, si kampret kagak tidur di sini. Kalau dia tidur di sini, bisa-bisa gue tendang sampai ke pluto," gumam Cesa geli.
Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Cesa melihat ke bawah, memperhatikan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia masih mengenakan dress satin seksi berwarna abu-abu perak, dress yang sama yang ia kenakan semalam .
jika memikirkan tentang pernikahan dadakan nya ini Cesa tidak peduli ke mana Selia kabur. Baginya, Selia adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Gara-gara Selia kabur dari perjodohan kolot ini, Cesa yang dengan sukarela (dan penuh kelicikan) mengajukan diri untuk menggantikan sang kakak di pelaminan.
Alasannya? Simple. Cesa tahu betul seberapa tidak berserinya kekayaan Papa Devan. Kekayaan keluarga mya itu tidak berseri, behh! Tujuh turunan, delapan tanjakan, sembilan belokan juga kagak bakal habis. Jadi, daripada meratapi nasib menjadi pengantin pengganti, Cesa justru merasa seperti memenangkan lotre triliunan rupiah.
Cesa berdiri, merapikan sedikit dress satinnya yang agak kusut namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Dengan rambut panjangnya yang sengaja digelung asal-asalan ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang mulus, Cesa mulai melangkah keluar kamar.
Bukannya berjalan dengan anggun layaknya menantu konglomerat pada umumnya, Cesa justru berjalan dengan gaya petantang-petenteng. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku khayalan di pinggangnya, dagunya terangkat tinggi, dan langkah kakinya sengaja dibuat berisik di atas lantai marmer impor yang berkilau. Ia sengaja menikmati sensasi menjadi istri sultan.
Saat menuruni tangga melingkar yang megah, Cesa disambut oleh pemandangan luar biasa. Di sepanjang koridor dan tangga, berbaris belasan pelayan berseragam rapi. Mereka membungkuk hormat begitu melihat Cesa turun.
"Selamat pagi, nyonya muda Cesa," ucap para pelayan serempak.
Cesa menahan tawa, namun tangannya melambai sok anggun bagai ratu kerajaan Inggris yang sedang menyapa rakyat jelata. "Pagi, pagi! Lanjutkan kerjaan kalian. Bersihkan yang bersih ya, kalau perlu marmernya sampai bisa buat ngaca jerawat."
"Baik, nyonya muda."
Cesa mempercepat langkahnya menuju ruang makan utama yang ukurannya mirip aula pertemuan. Begitu kakinya melangkah masuk, aroma harum dari berbagai macam hidangan sarapan langsung menusuk hidungnya. Dari nasi goreng premium, steak pagi, hingga pancake perancis semuanya tersaji rapi.
Namun, pemandangan yang paling menarik perhatian Cesa bukanlah makanan mewah itu, melainkan sosok cowok tengil yang sedang duduk di ujung meja makan.
Devan . Suami kampret dadakannya.
Devan duduk dengan posisi bersandar lemas, wajahnya luar biasa suram bagaikan langit Jakarta saat musim hujan. Yang paling kocak adalah area di bawah matanya. Lingkaran hitam tebal melingkari kedua mata Devan, membuatnya terlihat persis seperti panda stres yang menderita insomnia akut.
Semalam, setelah drama pernikahan bergaya sultan yang digabungkan dengan konsep nyeleneh ala Devan yang membawa teman-temannya juga mbak LC klub malam untuk memprotes perjodohan itu, Devan sebenarnya berniat kabur ke apartemennya sendiri. Dia bersumpah tidak sudi menyentuh rumah yang ada Cesanya. Namun, rencana tinggal rencana. Papa Devan, sang penguasa tunggal kekayaan keluarga, langsung menelepon dengan ancaman akan memblokir seluruh kartu kredit, menyita koleksi mobil sport Devan, dan mencoret namanya dari daftar warisan jika Devan tidak pulang ke mansion malam itu juga.
Entah pelet apa yang sudah diberikan Cesa kepada mertuanya itu sampai-sampai Papanya begitu membela Cesa mati-matian sejak awal pertemuan keluarga.
Devan terpaksa pulang dengan hati mendongkol setengah mati dan berakhir tidak bisa tidur semalaman karena sibuk mengumpat di kamar sebelah.
Begitu melihat wajah Devan, Cesa langsung menghentikan langkah petantang-petentengnya. Detik berikutnya, tawa Cesa pecah begitu saja tanpa bisa ditahan.
"BWAHAHAHAHAHA! Anjir! Devan! Lo habis digebukin massa di mana, woy?!" Cesa tertawa ngakak sampai memegangi perutnya. Ia berjalan mendekati meja makan dengan sisa-sisa tawanya yang membahana, mengabaikan tatapan belasan pelayan yang menunduk tegang, takut Tuan Muda mereka mengamuk.
Devan yang sedang memegang cangkir kopi langsung mendelik tajam. Suaranya serak dan penuh emosi mendalam. "Bisa diam kagak mulut lo, siluman abu-abu?! Pagi-pagi udah bikin kuping gue pengang!"
"Lagian muka lo lawak banget, sumpah!" Cesa menarik kursi tepat di sebelah Devan, sengaja mepet padahal meja makan itu panjangnya bisa buat main bolling. "Itu mata apa jalan tol? Hitam amat. Lo semalem ronda? Atau lo sibuk nangisin nasib karena dapet istri secantik dan se-hot gue?" Cesa mengedipkan matanya dengan percaya diri tinggi.
Devan meletakkan cangkir kopinya dengan hentakan keras sampai berbunyi TAK! di atas meja. "Cantik mata lo somplak! Pede banget lo jadi cewek bar-bar. Gue gak tidur semalem gara-gara mikirin gimana caranya ngusir lo dari rumah ini tanpa bikin Papa gue jantungan!"
"Yah, kasihan deh abang tengil," ledek Cesa sambil menjulurkan lidahnya. Ia kemudian menoleh ke arah pelayan terdekat. "Mbak, mbak, ambilin gue nasi goreng sepiring penuh, dagingnya yang banyak, sama jus jeruk dingin ya. Oh sama kerupuk! Ada kerupuk kaleng kagak di rumah sultan gini?"
Pelayan itu mengerjap bingung namun segera mengangguk. "A-ada, nyonya muda, Segera saya siapkan."