NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Senja turun di atas asrama murid luar dengan warna jingga kusam, dan lampu-lampu minyak di jendela mulai dinyalakan satu per satu. Yu Tian duduk di anak tangga belakang kamar nomor sembilan dengan punggung bersandar ke tiang kayu, mengunyah sepotong roti kering yang dibeli Fang Ming dari penjual kacang. Dari lapangan jauh di bawah, suara para murid yang membereskan tribun terdengar samar, bercampur bunyi palu dan tawa.

Langkah sepatu bersol tebal berhenti di dekatnya. Yu Tian tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Gu Chen berdiri di ujung anak tangga dengan jubah birunya yang masih rapi, tangan di belakang punggung, dan wajahnya sama datarnya seperti biasa. "Kau sedang makan."

"Kau sedang berdiri." Yu Tian menelan potongan terakhir dan menepuk remah dari lutut. "Ada urusan, atau kau hanya ingin melihat orang makan?"

Gu Chen mengabaikan sindiran itu.

"Lawanmu di final sudah ditetapkan. Pemenang semi final yang satunya mengundurkan diri tadi siang, setelah melihat Lan Shuang dibawa turun dengan tandu. Yang lain mengikuti, satu per satu. Tidak ada yang mau naik panggung melawanmu." Ia berhenti sebentar, dan jarinya mengetuk-ngetuk kotak kayu kecil di pinggangnya. "Yang tersisa hanya Bai Zhuo, murid luar yang sudah dua tahun menolak naik ke Paviliun Dalam. Ia Fondasi Roh tingkat sembilan."

Yu Tian mengangguk pelan, dan tidak ada yang berubah di wajahnya. Keheningan menggantung sebentar di antara mereka, dan suara jangkrik mulai terdengar dari semak di belakang asrama.

Gu Chen akhirnya menghela napas dan menurunkan suaranya. "Lan Shuang sudah sadar. Tabib bilang kau benar soal pil. Kalau mereka memaksanya menelan satu, dantiannya mungkin sudah rusak."

"Sudah kubilang."

"Bukan itu yang ingin kutanyakan." Gu Chen melangkah satu anak tangga mendekat, dan matanya yang tajam kini menatap Yu Tian lurus-lurus. "Han Bo, lalu Lan Shuang. Qi mereka tidak habis, tapi terpecah-pecah. Aku sudah membaca semua gulungan teknik di perpustakaan luar, bahkan beberapa yang terlarang. Tidak ada satu pun teknik yang bisa melakukan itu. Bagaimana kau melakukannya?"

Yu Tian tidak menjawab. Ia mengulurkan tangan ke samping, memungut sehelai daun pinus yang gugur di anak tangga, dan meletakkannya di ujung telunjuk. Ia memusatkan sedikit Qi di sana, dan daun itu berputar perlahan di atas jarinya, makin lama makin cepat, sampai desis tipis terdengar di antara mereka. Urat-urat halus pada daun itu melebar, terlepas dari helainya, lalu daun itu terbelah menjadi puluhan serat yang masing-masing berputar sendiri-sendiri di udara sebelum jatuh ke lantai satu demi satu.

Gu Chen menatap serat-serat itu lama sekali. Rahangnya mengeras, dan tangannya yang terjalin di belakang punggung mengepal. "Itu bukan teknik dasar."

"Kau disebut jenius karena bisa menghafal dan mempelajari teknik yang sudah ada, ditambah akar spiritual yang kuat." Yu Tian menyeka jarinya ke lutut dengan acuh tak acuh. "Itu standar di semua sekte. Aku disebut jenius karena menciptakan teknik yang dipelajari para jenius. Sayangnya, teknik ini hanya bisa kupakai sendiri."

Sudut bibir Gu Chen bergerak sedikit, dan sesaat Yu Tian mengira ia akan membentak. Tetapi pemuda berjubah biru itu justru memalingkan wajah ke arah lapangan, dan suaranya terdengar pelan dan kering.

"Dulu aku juga pernah bicara sebesar itu, di depan orang yang lebih tua dariku." Ia merogoh kotak kayu di pinggangnya dan melemparkan sebuah kantong kecil ke pangkuan Yu Tian. "Sepuluh batu roh, kualitas menengah. Bai Zhuo tidak selemah Han Bo, dan kau tidak akan menang dengan Qi tipis. Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin final ini selesai dalam sepuluh tarikan napas."

Yu Tian membuka kantong itu dan menimbang isinya di telapak tangan, sepuluh butir batu putih keruh yang jauh lebih padat dari jatah bulanan. "Terima kasih."

"Aku tidak melakukannya untukmu." Gu Chen berbalik dan menuruni tangga tanpa menunggu jawaban, dan jubah birunya hilang di tikungan jalan setapak.

Yu Tian mengambil lima batu dan menyimpan lima sisanya di lipatan jubah. Ia masuk ke kamar yang sudah sepi, menutup pintu, dan duduk bersila di atas tikar di sudut yang jauh dari dipan Fang Ming.

Satu per satu batu itu hancur menjadi serbuk, dan Qi yang keluar jauh lebih bersih daripada inti monster, jernih dan hangat tanpa kotoran yang harus ia buang.

'Aku tidak butuh terlalu banyak. Lima cukup, sisanya kujual untuk membeli senjata. Mengandalkan teknik itu terus tidak ada gunanya.' Ia teringat Lan Shuang yang terkulai di lengannya, dan wajah pucat itu membuat napasnya tertahan sebentar. 'Memecah Qi orang lain bukan kemenangan yang bersih. Kalau salah takar sedikit saja, ia kehilangan jalan kultivasinya seumur hidup. Itu terlalu mahal untuk dibayar hanya demi menang.'

Qi di dantiannya bergolak, naik melewati tiga dinding kecil, empat, lima, dan Yu Tian membuka mata dengan alis terangkat. Dinding itu runtuh satu per satu tanpa perlawanan berarti, dan ketika arus itu akhirnya mereda, ia sudah berada di Fondasi Roh tingkat delapan. Dari tingkat awal, hanya dalam satu malam, hanya dengan lima batu roh.

'Mustahil. Orang biasa membutuhkan bertahun-tahun untuk satu tingkat.' Ia menatap telapak tangannya yang menyala samar dengan cahaya Qi, dan untuk sesaat ruang kecil itu terasa terlalu sempit untuk apa yang ia rasakan. Bukan rasa bangga, tetapi kebingungan yang dingin dan teliti. 'Tubuh ini menyerap lebih cepat dari yang bisa kujelaskan. Kalau tubuh ini yang kumiliki dulu Kaisar Dao bisa kudapatkan.'

Ia bangkit dan membuka pintu, dan angin malam menyambutnya dengan dingin yang segar. Di langit, bulan tinggal sehelai garis tipis di atas pucuk pinus, dan Yu Tian menatapnya lama.

'Beberapa hari lagi pasar itu buka.' Ia menutup pintu perlahan dan berjalan kembali ke dipannya, dan pikirannya sudah beralih ke lawannya esok hari, murid Fondasi Roh tingkat sembilan yang selama dua tahun menolak naik ke Paviliun Dalam.

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!