Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA YANG DITAKUTI DUNIA
Keheningan menyelimuti ruangan itu.
Aku berdiri mematung di hadapan ayah dan Dominic. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria bermata elang itu terus terngiang di telingaku.
Keluargaku memiliki sebuah perjanjian berbahaya?
Dan sekarang seseorang datang untuk mengambil sesuatu yang mereka anggap sebagai milik mereka?
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Aku menoleh kepada ayah dengan mata berkaca-kaca.
“Dad, please tell me this is a joke.”
Ayah tidak menjawab.
“Dad?”
“Isabella, sit down. There are things you need to understand.”
Aku menggeleng kuat.
“No! I don't want to sit down. I want answers!”
Suaraku meninggi. Aku tidak peduli jika Dominic sedang berdiri beberapa langkah dariku. Aku hanya ingin mengetahui mengapa semua orang seolah menyembunyikan sesuatu dariku.
Ayah menghela napas panjang.
“Dua puluh tahun yang lalu, keluarga kita pernah menjalin kerja sama dengan sebuah kelompok bisnis internasional.”
Aku menyilangkan tangan di depan dada.
“Just a business partnership?”
Ayah terdiam.
Aku tertawa hambar.
“Dad, don't lie to me. Not now.”
Dominic yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Your father isn't telling you everything.”
Aku langsung menoleh kepadanya.
“Then why don't you tell me?”
Dominic memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapan matanya berubah serius.
“Because some truths are more dangerous than lies.”
Aku mendengus.
“Stop speaking in riddles, Dominic! I'm tired of your mysterious answers.”
Untuk sesaat, sudut bibirnya bergerak seolah ingin tersenyum. Namun, ia segera kembali memasang ekspresi dinginnya.
“Fine. I'll make it simple.”
Ia berjalan mendekati meja, mengambil sebuah map hitam, lalu meletakkannya di hadapanku.
“Your family once made an agreement with my grandfather.”
Aku membeku.
“Your grandfather?”
Dominic mengangguk.
"Dua puluh tahun yang lalu, keluarga Laurent menerima dukungan finansial dari keluarga Imanuel. Sebagai imbalannya, kedua keluarga sepakat untuk melindungi kepentingan bisnis tertentu.”
Aku membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama, salinan kontrak, dan foto dua pria yang sedang berjabat tangan. Salah satunya adalah ayahku ketika masih muda. Pria lainnya adalah seorang lelaki tua dengan tatapan tajam yang sekilas mengingatkanku kepada Dominic.
Aku membaca beberapa baris dokumen itu.
Tanganku mulai gemetar.
“What's this supposed to mean?”
Dominic menatapku.
“It means your family has been connected to mine for a very long time.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Are you telling me that your family is involved in something illegal?”
Dominic tidak langsung menjawab.
Kemudian ia mengucapkan sesuatu yang membuat dadaku terasa sesak.
“My family doesn't operate like ordinary business families, Isabella.”
Aku menelan ludah.
“Then what are you?”
Tatapan Dominic berubah dingin.
“I run an organization that controls more than you could possibly imagine.”
Ayah memejamkan mata, seolah sudah mengetahui bahwa percakapan ini akhirnya akan sampai pada titik tersebut.
Aku menatap Dominic dari ujung kepala hingga kaki.
“Wait... Are you a mafia?”
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Namun, senyum tipis yang muncul di wajahnya sudah cukup menjawab pertanyaanku.
“Now you're asking the right question.”
Aku mundur selangkah.
Mafia.
Kata itu terasa begitu asing sekaligus menakutkan ketika dikaitkan dengan pria yang berdiri di hadapanku.
Aku pernah mendengar berbagai cerita tentang organisasi kriminal, pembunuhan, perdagangan senjata, perebutan kekuasaan, dan orang-orang yang menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Selama ini aku menganggap semuanya sebagai cerita yang jauh dari kehidupanku.
Ternyata aku salah.
Dan pria yang baru saja berbicara denganku dengan santai adalah bagian dari dunia tersebut.
Aku menatap ayah.
“Dad, you knew about this?”
Ayah mengangguk perlahan.
“I'm sorry, sweetheart.”
Aku tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
“Sorry? That's all you can say?”
“Isabella, Ayah melakukan semua ini demi melindungi keluarga kita.”
“By keeping me in the dark?”
Ayah tidak menjawab.
Aku mengusap wajahku, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.
“Unbelievable. My whole life has been a lie.”
Dominic memperhatikanku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kemudian ia mendekat.
“Isabella.”
Aku segera mengangkat tangan.
“Don't.”
Ia berhenti.
“I need you to understand something.”
Aku tertawa sinis.
“Oh, really? Another secret?”
“Your family isn't the only one in danger. Mine is being targeted too.”
Aku menatapnya.
“What do you mean?”
Dominic mengambil sebuah foto dari dalam map. Foto itu memperlihatkan seorang pria berjas abu-abu yang sedang memasuki sebuah restoran.
“Three weeks ago, someone began attacking several of my business operations. At first, I thought it was a rival organization. But the evidence led me back to an old agreement involving your family.”
Aku memperhatikan foto tersebut.
“Who is he?”
“Rafael De Luca.”
Nama itu terdengar asing bagiku.
“Who?”
“Someone who wants what belongs to my family.”
Dominic meletakkan foto itu kembali.
“He's been trying to take control of several territories and businesses under my influence. Now he's using the old Laurent agreement as an excuse to get closer to my organization.”
Aku menatapnya dengan dahi berkerut.
“So my family is somehow connected to your war?”
“Unfortunately, yes.”
Aku menghela napas panjang.
“Great. Just great.”
Beberapa menit kemudian, ayah menerima panggilan telepon dan keluar dari ruangan untuk berbicara secara pribadi.
Kini hanya ada aku dan Dominic.
Aku duduk di sofa sambil memijat pelipis. Kepalaku terasa berat karena terlalu banyak informasi yang harus kuproses.
Sementara itu, Dominic berdiri di dekat jendela sambil memegang segelas air.
Aku memperhatikannya diam-diam.
Pria itu benar-benar berbeda dari kebanyakan lelaki yang pernah kutemui. Bahkan dalam situasi seperti ini, ia tetap terlihat tenang dan terkendali.
“Can I ask you something?” tanyaku.
Dominic menoleh.
“Go ahead.”
“Are you really as dangerous as people say?”
Ia mengangkat sebelah alis.
“What have you heard about me?”
Aku mengangkat bahu.
“That you're ruthless. That you never forgive your enemies. That even powerful businessmen are afraid to stand against you.”
Dominic tersenyum tipis.
“People love stories, Isabella.”
“That's not an answer.”
Ia meletakkan gelasnya di meja.
“Let's just say I don't tolerate betrayal.”
Aku menatapnya.
“Have you ever killed someone?”
Ruangan mendadak sunyi.
Dominic menatapku cukup lama. Tidak ada senyum di wajahnya sekarang.
“Why do you want to know?”
“Because I want to know who I'm dealing with.”
Ia menghela napas pelan.
“You're looking at a man who has made decisions most people would never be able to live with.”
Aku terdiam.
Jawaban itu tidak secara langsung mengatakan apa pun, tetapi justru membuatku semakin memahami betapa gelap kehidupan pria tersebut.
“That's terrifying,” bisikku.
Dominic melangkah mendekat.
“Then you should stay away from me.”
Aku mengangkat wajah.
“Gladly. That's exactly what I intend to do.”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“We'll see about that.”
Aku memutar bola mata.
“God, you're so full of yourself.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan serius kami dimulai, Dominic tertawa.
Dan entah mengapa, suara tawanya membuatku semakin kesal.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan hitam masuk dengan langkah cepat. Wajahnya tampak serius.
“Boss, we have a problem.”
Dominic langsung berubah.
Senyumnya menghilang. Tatapan matanya menjadi tajam dan dingin.
“Talk.”
“Someone leaked the information about Miss Laurent's location.”
Aku langsung berdiri.
“What?”
Dominic menatap anak buahnya.
“Who knows about this location?”
“Only our internal security team, sir.”
Rahang Dominic mengeras.
“Then we have a traitor.”
Pria itu mengangguk.
“There's more, boss. We found a message on the security system.”
Dominic mengulurkan tangannya.
“Show me.”
Anak buahnya memberikan sebuah tablet.
Aku mencoba melihat layar dari samping Dominic.
Di sana terdapat sebuah pesan singkat dengan latar belakang hitam.
WE KNOW WHERE THE LAURENT GIRL IS.
Aku merasakan tubuhku membeku.
Di bawah tulisan tersebut terdapat sebuah kalimat tambahan.
TELL THE KING THAT HIS CROWN WILL SOON BELONG TO SOMEONE ELSE.
Dominic membaca pesan itu tanpa perubahan ekspresi.
Namun, aku bisa melihat tangannya mengepal.
“Find them,” katanya dingin.
“Yes, boss.”
“And nobody touches Isabella without my permission. Understood?”
“Understood, sir.”
Anak buahnya segera meninggalkan ruangan.
Aku menatap Dominic dengan napas tertahan.
“What's a king?”
Dominic memasukkan tablet ke dalam saku jasnya.
“That's what my enemies call me.”
Aku mengernyit.
“Why?”
Ia menatapku lurus-lurus.
“Because I control an empire.”
Aku menelan ludah.
“An empire of what?”
Dominic mendekat hingga berdiri tepat di hadapanku.
“Money, power, and fear.”
Aku terdiam.
Kini aku mengerti mengapa namanya begitu ditakuti oleh perusahaan-perusahaan besar. Ia bukan hanya seorang pengusaha kaya yang memiliki banyak koneksi.
Dominic Lorenzo Imanuel adalah seorang pria yang hidup dalam dunia tempat kekuasaan menjadi hukum dan rasa takut menjadi alat untuk bertahan hidup.
Dan aku baru saja mengetahui bahwa keluargaku terikat dengan dunianya.
Ketika ayah kembali memasuki ruangan, aku langsung menghampirinya.
“Dad, I want to go home.”
Ayah menatapku.
“Isabella...”
“No, Dad. I've had enough for today.”
Aku mengambil tas tanganku.
Namun, Dominic segera berbicara.
“You can't go home yet.”
Aku berbalik dengan tatapan tajam.
“Excuse me?”
“Your house might not be safe.”
“It is my home, Dominic!”
“And someone might be waiting for you there.”
Aku mengepalkan tangan.
“You can't keep controlling my life!”
Dominic menatapku tanpa berkedip.
“I'm trying to keep you alive.”
Aku tertawa getir.
“I didn't ask you to save me!”
Ia terdiam.
Kemudian, dengan suara rendah, ia berkata, “Maybe you didn't. But I'm doing it anyway.”
Aku ingin membalas ucapannya, tetapi ayah lebih dahulu memegang bahuku.
“Isabella, untuk sementara waktu, dengarkan Dominic. Ayah berjanji akan menjelaskan semuanya kepadamu.”
Aku menatap ayah dengan kecewa.
“Promise me you won't hide anything else.”
Ayah mengangguk.
“I promise.”
Aku akhirnya mengembuskan napas panjang.
Dominic kemudian mengambil jasnya.
“Prepare the car. We're leaving in five minutes.”
Aku langsung menoleh.
“Where are we going?”
Ia menatapku dengan senyum tipis yang kembali muncul di wajah tampannya.
“To my house.”
Aku mengerutkan kening.
“Your house?”
“Unless you'd prefer staying here with people who might be working for your enemies.”
Aku menatapnya kesal.
“I hate you.”
Dominic sedikit menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya tanpa benar-benar menyentuhku.
“That's unfortunate, sweetheart.”
Aku mengangkat alis.
“Why?”
Senyum miringnya muncul.
“Because I have a feeling we're going to spend a lot of time together.”
Aku memalingkan wajah.
Pria itu benar-benar tidak tahu bagaimana caranya berhenti membuatku kesal.
Namun, ada sesuatu yang belum kuketahui.
Di balik semua ancaman dan rahasia yang baru saja terungkap, Dominic telah menerima sebuah pesan lain dari seseorang yang identitasnya belum diketahui.
Pesan yang hanya berisi satu kalimat.
SHE MUST NEVER KNOW WHAT HAPPENED TO HER MOTHER.
Dominic membaca pesan tersebut sekali lagi sebelum menghapusnya.
Tatapan matanya mengeras.
Untuk pertama kalinya, bukan hanya keselamatan Isabella yang membuatnya khawatir.
Melainkan sebuah rahasia lama yang dapat menghancurkan segalanya jika sampai diketahui wanita itu.
Dan rahasia tersebut memiliki hubungan langsung dengan keluarganya sendiri.
Karena ternyata, ada alasan mengapa Dominic Lorenzo Imanuel tidak pernah ingin Isabella Laurent jatuh ke tangan musuh-musuhnya.
jangan lupa mampir kakk..🤭