Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMPUR TANGAN DIAM- DIAM
Elma meletakkan gelasnya, kini ia memahami mengapa agensi yang sebelumnya begitu keras mempertahankan tuntutannya tiba-tiba berubah sikap. Mengapa proses yang semula diperkirakan akan berlangsung panjang justru berakhir begitu cepat. Ternyata ada tangan Maxime di balik semuanya.
"Apakah ada perjanjian khusus antara Sinclair Group dan agensi Anda?" tanya Elma lagi.
"Tidak ada perjanjian khusus yang berkaitan dengan karier Evelyn. Hanya penyelesaian persoalan sebelumnya dan kesepakatan agar kedua pihak tidak melanjutkan tuntutan."
Mr. Collins tersenyum kepada Evelyn. "Jadi, Anda tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu lagi. Kami ingin memberikan kesempatan baru untuk Anda."
Evelyn tampak jauh lebih ceria, kekhawatirannya kini menghilang. Namun hal itu berbanding terbalik dengan Elma, ia justru merasa kecewa saat mengetahui kebenaran itu.
Pembicaraan itu berlangsung hampir satu jam, beberapa saat kemudian pria itu meminta izin untuk meninggalkan meja lebih dahulu.
"Senang bisa bertemu dengan Anda, Miss Laurent. Semoga suatu hari kita bisa bekerja sama dalam kesempatan yang berbeda."
Elma tersenyum sopan. "Tentu, Mr. Collins. Terima kasih atas penjelasannya."
Setelah Mr. Collins pergi, Evelyn langsung menoleh kepada adiknya. "Kau dengar tadi?"
Elma mengambil serbet dan membersihkan sudut bibirnya. "Aku mendengarnya."
"Maxime yang menyelesaikan masalahku."
"Ya."
Evelyn tersenyum lebar. "Aku benar-benar tidak menyangka dia akan melakukan itu."
Elma tidak menjawab.
"Bayangkan, hanya dengan satu perintah, agensi yang sebelumnya begitu keras akhirnya bersedia membatalkan tuntutan. Aku bahkan tidak perlu menghadapi persidangan."
Elma menatap kakaknya. "Jangan terlalu senang dulu. Kau tetap harus memastikan semua kewajiban kontrakmu dipenuhi."
Evelyn menghela napas, adiknya benar- benar kaku.
"Omong-omong, Maxime memang luar biasa. Pengaruh keluarganya benar-benar besar."
Elma tersenyum tipis. "Dia memang memiliki banyak sumber daya."
"Kau seharusnya berterima kasih kepadanya. Dia sudah banyak membantu keluarga kita."
Elma tidak langsung menjawab.
Evelyn memperhatikan ekspresi adiknya. "Kau terlihat tidak senang?"
Elma mengambil tasnya. "Bukan begitu. Aku hanya baru mengetahui sesuatu yang seharusnya sudah diberitahukan kepadaku sejak awal."
Evelyn mengerutkan kening, tetapi Elma tidak memberikan penjelasan lebih jauh.
"Aku harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang menungguku."
Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Elma tidak bisa lepas dari percakapan makan siang tadi. Ia tidak mempermasalahkan Maxime membantu Evelyn. Bagaimanapun, laki-laki itu adalah suaminya, dan Elma memahami bahwa Maxime memiliki cara tersendiri dalam melindungi orang-orang yang dianggapnya penting. Namun, persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar bantuan keluarga.
Kasus Evelyn merupakan perkara yang sebelumnya berada dalam tanggung jawab profesionalnya. Ia telah mempelajari dokumen, meninjau berbagai persoalan kontrak, dan mempersiapkan langkah hukum yang diperlukan. Ia tahu perkara itu tidak sederhana. Tetapi sebelum dirinya sempat menyelesaikan pekerjaan tersebut, Maxime sudah mengirim orang-orangnya untuk mengambil alih penyelesaian. Bahkan, ia baru mengetahuinya dari orang lain.
Elma mengeluarkan ponselnya dan membuka percakapan dengan Maxime. Jarinya sempat berhenti di atas layar. Ia bisa saja langsung menelepon suaminya, tetapi akhirnya ia memilih menunggu sampai mereka bertemu di rumah. Ada pembicaraan yang tidak ingin dilakukannya melalui telepon. Akhirnya Elma mulai menyadari Maxime mulai ikut campur dalam kehidupan profesionalnya.
Sore harinya, Elma kembali ke kantor dengan pikiran yang tidak sepenuhnya tenang, ia baru saja menyelesaikan beberapa dokumen ketika Karin datang membawa berkas untuk ditandatangani.
"Ini dokumen yang tadi kau minta."
"Letakkan saja di sana."
Karin memperhatikan wajah Elma. "Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu."
"Tidak ada."
"Jawaban klasik seseorang yang jelas-jelas sedang memikirkan sesuatu."
Elma menghela napas. "Karin, kau tahu siapa yang mengurus penyelesaian kasus Evelyn?"
Karin sedikit mengernyit. "Bukankah kau yang menangani kasus itu?"
"Itulah masalahnya."
Elma membuka komputer dan memeriksa beberapa dokumen yang baru diterimanya. Ada satu laporan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Laporan mengenai komunikasi antara pihak agensi Evelyn dan perwakilan hukum dari perusahaan yang memiliki hubungan dengan Sinclair Group.
Matanya menyipit. Ia membaca nama-nama yang tercantum di sana, kemudian menemukan satu nama yang membuatnya terdiam. Maxime Sinclair. Elma menutup dokumen tersebut perlahan.
"Sepertinya aku menemukan jawabannya," gumamnya.
Karin yang berdiri di samping meja ikut memperhatikan ekspresinya. "Maxime?"
Elma mengangguk tipis.
Karin tampak memahami situasinya. "Kurasa dia hanya ingin membantu."
"Aku tahu."
"Dan bukankah hasilnya baik? Kasus Evelyn selesai tanpa menimbulkan masalah lebih jauh."
Elma menoleh kepada Karin. "Aku tidak mempermasalahkan hasil akhirnya."
"Lalu?"
"Tapi caranya."
Elma menyandarkan punggungnya pada kursi. "Kasus itu adalah tanggung jawab profesional-ku. Aku yang mempelajari dokumennya, aku yang berhadapan dengan persoalan hukumnya, dan aku yang harus mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil. Tetapi tiba-tiba seseorang datang dan menyelesaikan semuanya tanpa memberitahuku."
Karin tidak langsung menjawab. "Dia suamimu, Elma."
"Justru karena dia suamiku, seharusnya dia tahu bahwa aku tidak menyukai hal seperti ini."
Elma menatap layar komputernya lagi, ia memahami bagaimana Maxime bekerja. Laki-laki itu terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dalam dunia bisnis, keputusan bisa diselesaikan melalui jaringan, pengaruh, sumber daya, dan kekuasaan yang dimilikinya.
Maxime tidak perlu menghabiskan waktu berhari-hari untuk menghadapi persoalan yang bisa diselesaikannya melalui satu panggilan telepon.
Namun Elma berbeda, ia membangun kariernya melalui proses panjang. Elma tidak ingin dikenal sebagai istri Maxime Sinclair yang bisa mendapatkan penyelesaian perkara hanya karena nama belakang suaminya. Ia ingin dihargai karena kemampuannya sendiri.
"Aku akan membicarakan ini dengannya," putus Elma.
Karin mengangguk. "Semoga pembicaraan kalian berjalan baik."
Elma tersenyum tipis. "Aku juga berharap begitu."
"Ingat Elma. Kamu harus tenang. Hubungan kalian baru saja membaik. Jangan sampai masalah ini membuat hubunganmu dengan Maxime kembali goyah".
Elma tersenyum dan mengangguk pelan "Tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan berusaha tenang".
Karin mengangguk pelan.
Elma tidak percaya Maxime mulai ikut campur dalam pekerjaannya, padahal suminya itu tahu jika diri tidak menyukai hal itu. Dan yang paling menjengkelkan, Maxime tidak pernah mengatakan apapun tentang masalah itu bahkan pria itu tidak pernah menyinggungnya sekalipun padahal semua masalah itu berkaitan dengannya.
☆