"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Sah!
Hari yang paling dihindari oleh Kara akhirnya tiba.
Di dalam kamar, Kara menatap kesal pantulan dirinya sendiri di depan cermin besar. Matanya sesekali melirik pasrah ke pantulan cermin ketika jemari perias itu dengan terampil mulai menyanggul rambutnya, lalu perlahan memasangkan sebuah mahkota logam yang berkilau di atasnya.
Kara langsung mendesah berat. "Mbak, ngapain sih kepala saya harus dipasang beginian?" keluhnya sambil menunjuk mahkota itu dengan lirikkan mata.
Perias itu langsung tersenyum. "Ini namanya siger Sunda. Simbol kehormatan dan keanggunan untuk pengantin wanita."
Kara langsung memutar bola matanya malas, lalu menatap sang perias itu dengan tatapan memelas. "Boleh nggak sih, Mbak, dilepas aja? Nggak usah pakai beginian. Berat banget ini," rengeknya.
"Tenang saja, dipakainya tidak akan lama kok. Hanya saat ijab kabul saja. Setelah itu, saya akan mengganti pakaian Nona dengan gaun yang sudah dipilih sebelumnya," hibur sang perias dengan nada menenangkan.
Mendengar kalimat itu, Kara langsung mengalihkan pandangannya melalui pantulan cermin, matanya menatap nanar ke arah gaun pengantin modern yang ia pilih bersama Erlangga kemarin, lalu beralih ke kebaya putih yang bergantung anggun di sebelahnya.
Kara langsung mengembuskan nafasnya pasrah. "Baiklah."
Suasana mendadak hening beberapa saat, sebelum akhirnya suara ketukan pintu dari luar terdengar.
Tok! Tok! Tok!
"Ra! Gue masuk, ya?"
Belum sempat Kara menjawab, pintu kamarnya itu sudah terbuka lebar.
Ceklek!
Anya melangkah masuk dengan senyum lebar di wajahnya. Ia tampil dengan sangat cantik, berbalut kebaya brokat berwarna burgundy yang melekat pas di tubuhnya. Sementara tangannya sibuk menenteng sebuah bingkisan kecil yang akan ia berikan langsung kepada sahabatnya itu.
Melihat sahabatnya datang, Kara langsung mendengus kesal. Ia melirik tajam ke arah Anya lewat pantulan cermin.
"Lo pasti seneng, kan, lihat pernikahan gue dipercepat begini? Ini semua gara-gara ide sialan lo yang ngajak gue mabuk di club malam waktu itu!"
Anya langsung meringis tanpa dosa. Ia meletakkan bingkisannya di atas meja rias, lalu duduk di kursi yang berada tepat di sebelah kursi Kara.
"Ya... mau gimana lagi, Ra? Mungkin ini udah menjadi takdir lo," sahut Anya santai sambil mengedikkan bahunya acuh.
"Takdir apanya? Takdir sialan itu, iya !" umpat Kara sambil mencibirkan bibirnya.
"Tapi ngomong-ngomong, Erlangga kok bisa tau ya, kalau lo ada di club malam waktu itu?"
"Ya mana gue tau! Lo pikir gue cenayang?"
"Atau jangan-jangan Erlangga ngikutin kita lagi, waktu gue jemput lo dari butik?"
Kara yang proses riasannya baru saja selesai, langsung memutar tubuh sepenuhnya menghadap Anya. "Bisa jadi. Tapi kayak kurang kerjaan banget tuh orang ngikutin kita."
"Ya siapa tahu dia cuma pengen mastiin kalau calon istrinya ini pulang dengan selamat," goda Anya sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu menyenggol lengan Kara dengan jahil.
"Idihh!" Kara langsung bergidik ngeri. "Daripada lo mikir yang aneh-aneh, mending sekarang lo temenin gue turun ke bawah."
"Siap, Nyonya Erlangga!" jawab Anya sambil bangkit dari duduknya.
"Gue pukul ya mulut lo kalau lo berani panggil gue seperti itu lagi," ancam Kara sambil ikut berdiri, meskipun sedikit kesusahan karena rok kebaya itu sedikit sempit.
Anya hanya terkekeh geli, tangannya dengan sigap langsung menggandeng lengan Kara, membantu sahabatnya itu untuk berdiri.
Mereka berdua akhirnya berjalan keluar dari kamar. Lalu melangkah anggun menuruni anak tangga satu persatu. Begitu kaki mereka menginjak lantai bawah, seluruh pasang mata langsung tertuju dan terpaku ke arah mereka. Tak terkecuali Erlangga, pria itu duduk tegap di depan meja akad, matanya tak berkedip sedikitpun saat menatap kagum ke arah Kara.
Dengan gerakan yang hati-hati, Anya menuntun sahabatnya itu untuk duduk di samping Erlangga.
Di hadapan mereka, ada bapak penghulu yang sudah siap sambil memegang beberapa berkas penting. Di sisi kanan dan kiri, ada kedua orang tua Kara dan Erlangga. Sementara para sanak saudara dan sahabat, menyaksikan dari belakang.
Begitu Kara mendaratkan bokongnya di atas karpet bulu, bapak penghulu langsung melepaskan kacamatanya sejenak. Beliau menatap Kara dan Erlangga secara bergantian dengan senyum yang ramah.
"Bagaimana, apa kalian sudah siap?" tanya bapak penghulu.
Erlangga langsung mengangguk mantap. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia segera mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan bapak penghulu.
"Bismillahirrahmanirrahim, saudara Erlangga Bumi Maheswara bin Ridwan Maheswara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Lengkara Anasera binti Lesmana Wijaya, dengan mas kawin berupa emas 200 gram dan uang sebesar satu milyar rupiah, dibayar... tunai!"
Dengan satu tarikan nafas, Erlangga langsung menjawab dengan lantang. "Saya terima nikah dan kawinnya Lengkara Anasera binti Lesmana Wijaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Bapak penghulu langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. "Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!" seru para saksi dan tamu undangan serentak.
"Alhamdulillahirabbil'alamin," ucap bapak penghulu seraya menepuk pelan tangan Erlangga, lalu memimpin doa bersama.
Sementara Kara yang mendengar kata 'sah' langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tahu, detik ini juga, statusnya telah berubah total menjadi seorang istri dari musuh bebuyutannya.