NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Subuh di Pasar Belakang

Pukul lima lewat sepuluh, Andien menyelinap keluar lewat pintu dapur dengan sandal di tangan.

Bu Wati menunggunya di ambang pintu belakang, sudah berpakaian rapi seolah tak pernah tidur. Ia tak bertanya apa-apa. Hanya menyelipkan selembar jaket lusuh ke tangan Andien dan berbisik, "Pakai ini, Mbak. Subuh dingin. Dan kalau ada yang tanya, Mbak ke pasar beli sayur. Saya yang menyuruh."

"Terima kasih, Bu."

"Jangan berterima kasih." Mata perempuan tua itu berkaca-kaca. "Saya sudah terlalu lama diam. Ini cara kecil saya menebusnya."

Andien menggenggam tangannya sebentar, lalu menghilang ke lorong sempit di balik pagar.

---

Pasar di belakang rumah sakit sudah ramai oleh pedagang yang menggelar lapak dalam cahaya lampu neon yang berkedip. Bau ikan, tanah basah, dan bawang goreng bercampur dengan teriakan penjual dan derak roda gerobak. Andien menyelinap di antara orang-orang dengan kepala tertunduk, jaket menutupi sampai leher.

Laras duduk di warung bubur paling ujung, mengenakan sweter kelabu dan topi rajut, tampak seperti ibu rumah tangga biasa. Hanya matanya yang tak bisa menyamar: tajam, awas, dan lelah.

"Duduk. Pesan sesuatu supaya kita tak mencolok."

Andien memesan teh manis. Tangannya gemetar saat memegang gelas, dan Laras diam-diam menggeser semangkuk bubur ke arahnya.

"Makan dulu. Kamu pucat."

"Saya tidak lapar, Bu."

"Itu bukan pertanyaan." Nada Laras lembut tetapi tak menerima bantahan, nada dokter pada pasien keras kepala. "Otakmu butuh gula untuk berpikir jernih."

Andien menyendok sedikit. Bubur itu hangat, dan tanpa ia sangka, justru itu yang hampir membuatnya menangis.

Setelah beberapa suap, ia merogoh balik kebaya dan meletakkan perekam kecil itu di meja, tertutup telapak tangannya. Laras mengambilnya tanpa menoleh, seperti pertukaran biasa di pasar, lalu menyelipkannya ke kantong sweter.

"Aku dengar di mobil nanti. Ceritakan dulu, dengan kata-katamu sendiri."

Andien menceritakannya pelan, tanpa menyela diri: kunjungan Hendra, pertanyaan tentang desa, kata *sungai* yang tak pernah ia sebut. Pengakuan setengah sadar Hendra. Ancaman sebelum Jumat. Dan kalimat terakhir Hendra yang menyebut istri sah.

Laras mendengarkan tanpa memotong, jarinya mengetuk-ngetuk meja sekali dalam beberapa detik, kebiasaan yang Andien mulai kenali sebagai tanda ia sedang berpikir keras.

"Ada satu hal lagi," tambah Andien ragu. "Mas Carlo bilang, nyawa saya dan nyawa Ibu sama-sama bergantung pada hari Jumat."

Ketukan jari Laras berhenti.

"Dia bilang begitu?"

"Iya, Bu."

"Menarik." Laras menatap kosong ke arah gerobak ikan di seberang. "Itu bukan bahasa orang yang bersekongkol, Andien. Itu bahasa orang yang tahu ada ancaman, dan memilih menanggungnya sendirian."

"Apa itu berarti Mas Carlo tidak..."

"Tidak bersalah?" Laras tersenyum tipis, pahit. "Tidak. Itu hanya berarti ia lebih rumit dari yang kuduga. Ia bisa jadi korban Hendra dan sekaligus pembohong terhadap kita berdua. Dua hal itu tidak saling meniadakan."

Kalimat itu menggantung di antara mereka, jujur dan menyakitkan.

---

Di dalam mobil Laras yang diparkir di ujung gang, mereka memutar rekaman itu dengan volume rendah.

Suara Hendra dan Carlo memenuhi kabin sempit, sedikit pecah, tetapi cukup jelas. Laras mendengarkan dengan mata terpejam, dan ketika sampai pada kalimat *"Kamu selalu lebih pintar dari yang kuduga, Nak"*, rahangnya mengeras.

Setelah rekaman selesai, hening panjang menyelimuti.

"Hendra Subroto," gumam Laras. "Dua puluh tahun jadi tangan kanan ayah Carlo. Dia hadir di pernikahan kami sebagai wali, Andien. Dia menyalamiku dan bilang akan menjaga Carlo seperti anaknya sendiri."

"Maafkan saya, Bu..."

"Berhenti minta maaf." Laras membuka mata. "Kamu sudah melakukan lebih dari yang kuminta. Sekarang dengarkan baik-baik, karena aku hanya akan menjelaskannya sekali."

Ia mengeluarkan selembar kertas dari tas dan membentangkannya di setir. Sebuah diagram sederhana digambar tangan, kotak-kotak dengan nama dan panah.

"RUPS luar biasa hari Jumat. Dewan komisaris terdiri dari sembilan orang. Carlo membutuhkan lima suara untuk tetap menjadi presiden direktur. Hendra sudah menguasai tiga. Dua suara tak jelas. Dan satu suara, dua puluh persen saham dewan, ada pada keluarga Prameswari." Ia mengetuk kotak bertuliskan namanya. "Ayahku."

"Jadi yang dimaksud Pak Hendra..."

"Dia ingin Carlo kehilangan suara ayahku. Dan cara paling mudah membuat ayahku berbalik melawan menantunya adalah membuktikan bahwa Carlo menyakiti putrinya." Laras menatap Andien lurus. "Dengan kata lain, kamu."

Andien menelan ludah. "Saya senjatanya."

"Kamu *potensi* senjatanya. Kalau Hendra yang membocorkan keberadaanmu ke ayahku, hasilnya perang. Tapi kalau aku yang menggunakannya lebih dulu, dengan caraku..." Laras tak menyelesaikan kalimatnya. Matanya menyipit, menghitung.

"Bu Laras mau saya melakukan apa?"

"Pertama, kamu harus pulang sebelum Bu Wati ketahuan. Kedua, bersikap seperti biasa. Jangan menghindari Carlo, jangan bertanya apa pun lagi tentang Jumat. Ketiga..." Ia mengeluarkan sebuah ponsel hitam murah dari laci dasbor dan menyodorkannya. "Gunakan ini untuk menghubungiku. Tidak ada kartu, hanya aplikasi pesan dengan enkripsi. Ponsel dari Carlo pasti diawasi."

Andien menerima ponsel itu seperti menerima benda berbahaya. "Dan setelah Jumat? Apa yang terjadi pada saya?"

Pertanyaan itu membuat Laras terdiam cukup lama.

"Aku tidak akan berbohong padamu, Andien," katanya akhirnya. "Aku belum tahu. Mungkin setelah ini aku akan menceraikan Carlo. Mungkin tidak. Mungkin kamu akan pulang ke desamu dengan uang yang cukup untuk hidup seratus tahun. Mungkin..." Ia menggeleng. "Aku tidak tahu. Yang kutahu, aku tidak ingin kamu dan ibumu menjadi korban hanya karena kebodohan seorang pria yang tidak mampu memilih."

Andien menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan yang menggenggam ponsel.

"Kenapa Ibu baik pada saya?"

"Aku tidak baik." Laras tersenyum samar. "Aku hanya terlalu marah untuk jadi jahat pada orang yang salah sasaran."

---

Pukul tujuh pagi, Andien kembali ke paviliun lewat pintu dapur. Bu Wati menunggunya dengan sepiring nasi uduk, dan mereka bertukar tatapan penuh arti tanpa sepatah kata.

Andien baru saja mengganti jaket ketika bunyi deru mobil kembali terdengar dari halaman.

Carlo.

Ia masuk dengan wajah yang tak tidur, rambut belum disisir, dan jas yang sama dengan kemarin. Di tangannya ada kantong kertas dari toko roti.

"Aku bawa sarapan."

"Mas tidak tidur?"

"Tidak bisa." Carlo meletakkan kantong di meja dan duduk heran di hadapan Andien. "Aku mau bicara sebelum aku kehilangan keberanian."

Jantung Andien berdetak. Di dalam saku roknya, ponsel hitam dari Laras terasa seberat batu.

"Mas bilang akan menjelaskan setelah Jumat."

"Aku berubah pikiran." Carlo menatapnya, mata merahnya penuh tekad kelelahan. "Kalau aku menunggu sampai Jumat dan sesuatu terjadi padaku, kamu tidak akan pernah tahu kebenarannya. Dan kamu berhak tahu."

"Mas tidak perlu..."

"Aku perlu." Ia menarik napas panjang. "Namaku Carlo Prasetia. Aku pewaris Prasetia Group. Aku sudah menikah dua tahun dengan perempuan bernama Laras, dokter, perempuan yang baik, jauh lebih baik dari yang pantas kudapat. Dan aku memperistrimu di desa itu tanpa memberi tahu siapa pun, termasuk kamu."

Andien menatapnya. Seharusnya ini momen yang ia tunggu. Tetapi mendengarnya langsung dari mulut Carlo ternyata jauh lebih menyakitkan daripada menemukannya di balik foto.

"Kenapa, Mas?"

"Karena aku pengecut." Carlo tertawa getir. "Waktu kamu menolongku, aku tidak berniat menikahimu. Aku hanya ingin berterima kasih. Tapi setiap hari di gubukmu, aku merasa lebih hidup daripada dua tahun terakhir di rumah besarku. Aku tak ingin kembali. Dan ketika akhirnya harus kembali, aku tak sanggup melepasmu."

"Jadi Mas ikat saya dengan pernikahan palsu?"

"Pernikahan itu sah di mata agama. Penghulu itu asli, saksinya asli." Carlo menunduk. "Itulah yang membuatnya jauh lebih buruk. Aku menyeretmu ke dalam sesuatu yang tak bisa kutarik kembali."

Andien terdiam lama. Di luar, burung-burung mulai bernyanyi, tidak peduli pada percakapan yang sedang menghancurkan dua hidup di ruang makan itu.

"Mas benar satu hal," katanya akhirnya, suaranya sangat pelan. "Mas pengecut."

Carlo tak membantah.

"Tapi Mas lebih pengecut lagi kalau menunggu orang lain yang membongkar ini untuk Mas." Andien berdiri. Ia sendiri terkejut pada ketegasan suaranya. "Kalau Mas memang masih punya sedikit keberanian, katakan semua ini pada Bu Laras. Bukan pada saya."

Carlo mendongak, terkejut. Matanya membelalak.

"Kamu tahu namanya."

Andien membeku.

Ia sudah menyebut *Bu Laras*, dan pria yang pandai membaca jeda itu menangkapnya dalam sekejap. Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Carlo, Andien melihat kecurigaan menyala di mata pria itu. Bukan kecurigaan seorang suami yang dikhianati, melainkan kecurigaan seorang pemain yang tiba-tiba sadar ada orang lain yang ikut duduk di meja.

"Tadi Mas sendiri yang sebut namanya," Andien berbohong, dan ia merasakan kebohongan itu menyakiti lidahnya.

Carlo menatapnya lama.

"Aku tidak menyebutnya," katanya pelan.

Hening. Detik jam terdengar sangat keras.

Dan di saku rok Andien, ponsel hitam itu bergetar sekali, singkat, dan sangat jelas, di ruangan yang terlalu sunyi.

---

*Bersambung ke Bab 10...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!