NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BINTANG DI TENGAH KEGELAPAN

Darah hitam dari bangkai Serigala Besi perlahan meresap ke celah-celah batu jalanan, mengeluarkan bau amis beracun yang menyengat hidung. Lin Yuan masih berbaring telentang di atas tanah basah. Setiap embusan napasnya terasa seperti ada tumpukan batu berat yang menindih dadanya. Tiga tulang rusuknya retak, dan kulit dadanya koyak akibat sabetan cakar monster.

Namun, di balik rasa sakit yang membakar itu, denyut energi samar di dalam dadanya tidak padam. Aliran hangat yang amat tipis perlahan merambat dari ulu hati menuju meridiannya yang membeku, menyiram rasa sakit itu dengan kehangatan aneh.

Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan gang.

"Di sebelah sini! Aku dengar suara raungan monster tadi di sekitar sini!" Teriak sebuah suara yang familiar.

Lin Yuan tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Lin Bao kembali, tidak sendiri, melainkan bersama tiga murid elit klan dari paviliun dalam. Di barisan paling depan berdiri Lin Heng, salah satu murid berbakat generasi muda Klan Lin yang sudah mencapai Tingkat Penjernihan Qi Tahap 4.

Langkah kaki mereka mendadak terhenti begitu melihat bangkai Serigala Besi raksasa yang tergeletak kaku dengan leher terputar patah dan kayu runcing menancap di matanya.

"Monster ini... sudah mati?" Bisik salah satu murid elit dengan mata melotot tak percaya.

Pandangan Lin Heng beralih dari bangkai monster ke arah Lin Yuan yang bersimbah darah di atas tanah. Ada kilatan terkejut yang melintas sekejap di matanya, sebelum akhirnya digantikan oleh rasa tidak percaya dan keserakahan yang dingin.

"Lin Bao, bukankah kau bilang monster ini mengamuk di gang belakang?" Tanya Lin Heng seraya melangkah mendekati bangkai serigala.

"I-iya, Kakak Lin Heng!" Sahut Lin Bao gagap, wajahnya masih agak pucat. Ia menunjuk Lin Yuan dengan telunjuk gemetar. "Tadi cacing ini terjebak di sini. Entah keberuntungan gila apa yang dia punya, sepertinya monster ini sudah terluka parah akibat panah pengawal benteng sebelum roboh di depannya!"

Lin Heng mengamati luka di leher monster itu, lalu menatap Lin Yuan dengan pandangan merendahkan. "Tentu saja. Mana mungkin seorang sampah tanpa *qi* bisa membunuh Serigala Besi kelas satu? Dia cuma memungut bangkai."

Lin Yuan memejamkan mata sejenak, menghela napas pendek yang terasa menyiksa dadanya. Ia tidak berniat berdebat. Di dunia tempat kekuatan adalah segalanya, kata-kata dari seorang yang dianggap "cacat" hanya akan dianggap angin lalu.

SREK!

Lin Heng menarik belati perak dari pinggangnya. Tanpa ragu, ia merobek kepala Serigala Besi itu dengan gerakan cepat, lalu mengoyak bagian dalam tengkoraknya. Sebuah batu kristal berukuran sebesar telur merpati berawarna merah keruh berhasil ia keluarkan. Inti Monster tingkat rendah.

"Lumayan. Inti energi ini bisa ditukar dengan lima puluh batu spiritual di aula kontribusi," Kata Lin Heng sambil mengusap darah di Inti Monster itu ke baju bangkainya, lalu memasukkannya ke dalam kantong pinggangnya sendiri.

Ia kemudian melangkah mendekati Lin Yuan, menatap pemuda yang terbaring itu dari atas dengan ujung sepatu boot-nya yang bersih.

"Gara-gara kau berkeliaran di luar, tim patroli kami jadi harus repot-repot datang ke gang busuk ini," Ucap Lin Heng dingin, mengarahkan ujung kakinya ke rusuk Lin Yuan yang terluka. "Inti monster ini kami sita sebagai biaya perlindungan. Kalau kau berani bicara macam-macam kepada Penatua bahwa kau yang menemukan monster ini, aku sendiri yang akan patahkan kedua kaki mu."

Lin Yuan perlahan membuka matanya. Tatapannya lurus, tenang, dan begitu dingin—sebuah tatapan yang membuat Lin Heng mendadak merasa tidak nyaman di dasar hatinya.

"Ambil saja," Bisik Lin Yuan serak, tenggorokannya masih terasa berdarah. "Kau lebih butuh benda itu untuk menutupi rasa takutmu saat lari tadi."

Mata Lin Heng berkilat marah. Wajahnya memerah seketika. "Kau cari mati, sampah?!"

Lin Heng mengangkat kakinya tinggi-tinggi, berniat menghantamkan tumitnya tepat ke wajah Lin Yuan yang tak berdaya.

"Cukup, Murid Lin Heng."

Sebuah suara serak dan berat memotong udara sore dari balik kegelapan lorong gudang kayu.

Langkah kaki yang pincang terdengar mendekat. Dari balik bayangan tembok, muncul seorang pria tua bertubuh tegap namun bungkuk. Wajahnya dipenuhi garis-garis kerutan keras, dan sebuah bekas luka bakar membentang dari leher hingga bawah telinganya. Ia mengenakan celemek kulit kusam penuh noda minyak dan memegang sebuah tongkat kayu jati yang tebal.

Paman Gu, veteran tua pengawal gudang perkakas klan.

Lin Heng menghentikan kakinya di udara, keningnya berkerut dalam saat melihat orang tua itu. "Pengawal Gu? Ini urusan klan dalam. Jangan ikut campur."

Paman Gu tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia melangkah santai, berdiri tepat di antara Lin Heng dan Lin Yuan. Matanya yang kabur namun tajam menatap ke arah tiga murid elit di depannya.

"Bel darurat di alun-alun barat masih berbunyi, Murid Lin Heng," Ucap Paman Gu datar, suaranya seperti gesekan dua batu kasar. "Gelombang kedua monster sedang menghantam gerbang tengah. Kalau para jenius klan punya banyak waktu luang untuk memukuli budak yang hampir mati di gang belakang, kenapa tidak pergi ke depan dan bantu Penatua bertarung?"

Lin Heng mengepalkan tangannya rapat-rapat. Meskipun Paman Gu hanyalah pengawal gudang yang cacat, semua orang di klan tahu bahwa tua bangkai ini adalah mantan prajurit buangan dari garis depan yang punya temperamen keras. Berdebat dengannya di tengah situasi darurat hanya akan menarik perhatian para penatua.

"Cepat pergi dari sini," Mengerang Lin Heng sambil melirik Lin Bao. "Tempat ini baunya menjijikkan."

Dengan dengusan napas gusar, Lin Heng dan rombongannya berbalik arah, melangkah cepat meninggalkan gang belakang menuju area dalam benteng yang lebih aman.

Keheningan kembali menguasai tempat itu. Hanya tersisa suara dentang lonceng kota di kejauhan dan embusan angin dingin yang membawa bau sangit pembakaran.

Paman Gu mengalihkan pandangannya ke bawah, menatap Lin Yuan yang masih terbaring kaku. Tua itu membungkuk, menyodorkan tangan kirinya yang kasar dan kapalan bagai batu kapur.

"Masih punya nyawa untuk berdiri, Bocah?" Tanya Paman Gu.

Lin Yuan menatap telapak tangan tua itu sejenak, lalu perlahan meraihnya. "Masih."

Dengan satu tarikan kuat dari Paman Gu, Lin Yuan berhasil duduk, meski ia harus meringis menahan sakit yang luar biasa di dadanya. Paman Gu dengan sigap memapah lengan Lin Yuan, menopang sebagian besar bobot tubuh pemuda itu di pundaknya yang kokoh.

"Jalan perlahan. Gudangku tidak jauh dari sini," Gumam Paman Gu tanpa banyak bertanya lagi.

Mereka melangkah pelan menelusuri lorong-lorong sempit yang sepi, menjauhi riuk pertempuran yang masih membara di pusat kota.

Gudang perkakas tua itu berada di pojok paling belakang kompleks klan—sebuah bangunan kayu tua beratap seng yang berderit tiap kali tertiup angin. Di dalamnya, udara berbau minyak gemuk, kayu lapuk, dan ramuan obat-obatan pahit. Suasananya remang-remang, hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang meliuk-liuk di atas meja kerja yang berantakan.

Paman Gu mendudukkan Lin Yuan di atas pembaringan kayu yang dilapisi kain jerami tebal. Tanpa bicara, tua itu mengambil mangkuk tanah liat, menumpahkan sedikit minyak gosok hitam dan ramuan daun penawar racun yang sudah ditumbuk kasar.

SREK!

Paman Gu merobek sisa-sisa baju Lin Yuan yang sudah koyak. Begitu melihat tiga luka cakar dalam yang membiru di dada Lin Yuan, kening tua itu berkerut rapat.

"Luka cakar Serigala Besi mengandung racun pembusuk tulang," Kata Paman Gu sambil menyiramkan cairan obat herbal itu langsung ke atas luka terbuka Lin Yuan. "Ini akan terasa seperti dibakar."

DES!

Rasa sakit yang teramat sangat menyengat saraf Lin Yuan. Rasanya seperti ada minyak mendidih yang disiramkan ke atas daging telanjang. Otot-otot tubuh Lin Yuan menegang hebat, jarinya mencengkeram pinggiran ranjang kayu hingga kayu lapuk itu berderak retak. Namun, tidak ada satu pun jeritan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memejamkan mata rapat-rapat dengan napas memburu dari hidung.

Paman Gu memperhatikan ketahanan mental pemuda di depannya itu dengan pandangan dalam. Ada rasa hormat yang muncul di matanya—jenis rasa hormat yang hanya dimiliki oleh para veteran perang saat melihat sesama prajurit.

"Kebanyakan anak muda di klan ini sudah menangis histeris kalau lukanya separah ini," Gumam Paman Gu seraya membebat dada Lin Yuan erat-erat dengan kain linen bersih.

Lin Yuan mengembuskan napas perlahan setelah rasa panas di lukanya mulai mereda. "Menangis tidak akan mengurangi rasa sakitnya, Paman."

Paman Gu terkekeh tipis, suara tawanya terdengar seperti bisikan angin di daun kering. "Jawaban yang bagus."

Orang tua itu memutar tubuhnya, mengambil sebuah mangkuk tanah liat berisi teh herbal hangat yang masih berasap, lalu menyodorkannya ke tangan Lin Yuan.

"Minum ini. Ini cuma akar liar dari gunung utara, tapi bagus untuk menenangkan darah yang bergejolak," Ucap Paman Gu.

Lin Yuan menerima mangkuk itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia meminumnya perlahan. Rasa pahit dan hangat langsung mengalir turun ke perutnya, menyatu dengan getaran energi dingin yang sejak tadi mengendap di dadanya.

Saat kehangatan itu menyebar, Lin Yuan merasa lautan jiwanya yang kelam kembali bergetar lembut. Bayangan Kera Putih bermata emas di dalam kesadarannya seolah melingkar lebih tenang, menyerap nutrisi dari rasa sakit dan ramuan yang masuk ke tubuhnya.

Paman Gu duduk di atas kursi kayu di depan Lin Yuan, menyalakan pipa tembakau tuanya. Asap tipis beraroma tanah membumbung ke udara.

"Aku melihatmu dari balik jendela gudang tadi," Kata Paman Gu tiba-tiba, matanya yang kabur menatap lurus ke arah Lin Yuan. "Cara kau menghindari sabetan pertama serigala itu, lalu meluncur ke bawah perutnya... itu bukan gerakan orang yang panik. Dan cara kau mematahkan lehernya dengan tumpuan berat badan... itu gerakan membunuh yang murni."

Lin Yuan menatap cairan teh di mangkuknya yang tenang. "Aku hanya tidak ingin mati."

Paman Gu tersenyum tipis, mengembuskan asap tembakau ke udara. "Banyak orang tidak ingin mati, Bocah. Tapi sangat sedikit yang tahu bagaimana cara tetap tenang saat maut sudah menempel di leher mereka."

Tua itu mendongak, menatap ke arah atap gudang tempat suara gemuruh pertempuran di luar kota masih terdengar samar.

"Lin Heng mengambil Inti Monster itu darimu, dan besok dia akan mengklaim di depan Penatua bahwa dialah yang menyelamatkan sektor belakang," Lanjut Paman Gu dengan suara membumi. "Dunia ini memang bangsat, Lin Yuan. Orang-orang di atas akan selalu mencuri keringat dan darah dari orang-orang seperti kita."

Lin Yuan menggenggam mangkuk tanah liat di tangannya sedikit lebih erat. "Batu kristal itu bisa mereka ambil. Tapi mereka tidak bisa mengambil apa yang sudah aku pelajari dari pertarungan tadi."

Paman Gu menoleh, menatap mata Lin Yuan yang berdiri teguh di tengah kegelapan gudang remang-remang itu. Untuk sekilas, Paman Gu bersumpah ia melihat bias cahaya perak keemasan berkelebat tipis di pupil mata Lin Yuan—cahaya purba yang amat liar dan tua.

Paman Gu tertegun sejenak, sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan helaan napas panjang.

"Bagus," Bisik Paman Gu seraya berdiri dan menepuk bahu Lin Yuan yang tak terluka. "Simpan tenaga dan pikiranmu. Bulan Darah baru saja dimulai malam ini. Kota ini belum aman, dan orang-orang penakut seperti mereka pada akhirnya akan membutuhkan orang yang benar-benar tahu cara bertarung."

Lin Yuan menyandarkan punggungnya ke dinding kayu gudang, menatap lampu minyak kecil yang terus menyala di sudut ruangan. Di tengah kota yang sedang membara dan klan yang membuangnya, di dalam gudang tua berbau minyak ini, ia akhirnya menemukan secuil ketenangan untuk mengumpulkan kembali kekuatannya.

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!