NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keruntuhan Kekaisaran

Sirine ambulans meraung membelah malam Jakarta, menyapu dinding kaca kediaman Narendra dengan pantulan cahaya merah yang kusam. Dua petugas medis berjaket oranye mendorong tandu melintasi pintu utama. Siska terbaring di atasnya, tak sadarkan diri, dengan masker oksigen menutupi separuh wajahnya.

Devan berjalan cepat di sisi tandu. Matanya merah dan cekung. Tangan kanannya masih meremas cincin perak Alyssa di dalam saku celana.

"Tekanan darah melonjak, saturasi di bawah delapan puluh!" seru salah satu petugas sambil terus menekan kantong udara.

Devan tidak menyahut. Ia naik ke kabin belakang. Pintu besi berdentum menutup, dan ambulans melesat meninggalkan halaman yang tiba-tiba terasa seperti pemakaman.

Di tangannya yang lain ada ponsel Siska. Ia mengambilnya dari meja sebelum ambulans datang. Layarnya sudah gelap, tapi satu kalimat dari suara laki-laki tadi masih berputar di kepalanya: jangan sampai jatuh ke tangan anakmu.

Ia mengetik pesan singkat dengan satu tangan dan mengirimkannya pada Vito. Lacak nomor "B"di ponsel ibuku. Sekarang.

Balasan masuk sebelum ambulans sampai di gerbang rumah sakit. Nomor prabayar, Tuan. Terdaftar atas nama salah satu anak perusahaan Mahendra Corp.

Mahendra Corp lagi. Devan menatap layar itu sampai huruf-hurufnya menyatu.

***

Lampu koridor Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Medika Utama memancarkan cahaya putih yang menusuk mata. Dengung mesin penunjang hidup terdengar samar dari balik pintu kaca buram nomor empat ratus dua.

Dokter spesialis jantung keluar dengan wajah tegang sambil melepas sarung tangannya. Devan berdiri seketika dari kursi tunggu.

"Bagaimana Ibu saya?"

"Serangan jantung koroner akut akibat lonjakan emosi yang ekstrem," kata dokter itu. "Kami sudah memasang dua stent untuk membuka penyumbatan, tapi kondisinya masih kritis dan belum melewati masa rawan."

"Lakukan apa pun yang terbaik."

Dokter mengangguk dan kembali ke dalam. Pintu menutup. Lorong kembali sunyi.

Devan menyandarkan punggung ke dinding. Di rumah sakit yang sama, tiga tahun lalu, Kakek Broto menarik napas terakhirnya.

Ingatannya datang tanpa permisi. Malam itu Alyssa muncul di ujung koridor ini membawa dua cangkir teh hangat untuk Devan dan Siska. Siska menepis cangkir itu hingga pecah di lantai, lalu menuduh Alyssa datang untuk memastikan Kakek mati supaya warisan cepat cair. Devan, yang saat itu buta oleh duka dan prasangka, ikut menyuruhnya pergi.

Alyssa tidak membantah. Ia memungut pecahan porselen dengan tangannya sendiri, lalu keluar dan berdiri di halaman rumah sakit di bawah hujan sampai pagi.

Devan memejamkan mata. Ia tidak pernah bertanya apa yang Alyssa lakukan di luar sana. Sekarang ia tahu: wanita itu berdoa untuk orang yang baru saja ia usir.

Langkah tergesa memecah keheningan. Hendri berlari ke arahnya dengan napas memburu dan dahi basah keringat.

"Tuan Devan, di luar makin tidak terkendali."

"Apa lagi?"

"Setengah jam lalu Wira Vanya menggelar konferensi pers di depan Polda." Hendri menyodorkan ponselnya. Siaran langsung berita nasional menampilkan Wira di depan mikrofon. "Dia menuduh Anda melakukan intimidasi finansial dan manipulasi pasar. Nadine tampil di kursi roda, menangis, dan bilang video ruang rapat itu rekayasa kecerdasan buatan."

Di layar, Nadine terisak dengan tangan menutupi wajah. Persis seperti lima tahun terakhir. Hanya saja Devan sudah tahu ke mana kakinya sebenarnya bertumpu.

Ia tidak merasakan marah. Hanya jijik, dingin dan tenang.

"Tim hukum sudah menyerahkan rekaman empat K ke kepolisian?"

"Sudah, Tuan. Tapi siaran Wira membuat saham kita diproyeksikan menyentuh batas penurunan harian besok pagi."

"Biarkan."

Hendri tersentak. "Tuan! Kalau harganya jatuh di bawah lima ribu, A-K Capital punya hak penuh memicu klausul pengambilalihan paksa!"

Devan mengepal tangannya di saku, merasakan lingkaran dingin cincin itu menekan telapaknya.

"Rilis rekam medis pemalsuan disabilitas Nadine dan rekaman percakapan Ibu dengan dia ke semua media besok pagi, jam delapan tepat." Suaranya rendah dan tak bergeser sedikit pun. "Biar publik melihat sendiri siapa penjahatnya. Aku tidak akan lagi menutupi kejahatan atas nama nama baik."

Hendri terpaku, menatap sorot mata atasannya yang untuk pertama kali tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. "Baik, Tuan."

"Soal komisaris, tunda semua rapat direksi. Bilang pimpinan sedang menyelesaikan kewajiban hukum pribadinya."

***

Pada saat yang sama, di lantai tiga puluh Mahendra Tower, kawasan Sudirman.

Layar-layar monitor memantulkan grafik pasar internasional di dinding kaca. Alyssa berdiri di depan jendela besar yang menampilkan lampu-lampu ibu kota, memegang cangkir teh porselen yang masih mengepulkan uap tipis.

Aris masuk membawa map tebal berlogo kepolisian.

"Kabar dari Rumah Sakit Medika Utama, Nona. Nyonya Siska dipindahkan ke ICU setelah tindakan stent."

Jemari Alyssa di sekeliling cangkir mengetat sedikit. Raut wajahnya tetap tenang.

"Dan Devan?"

"Dia menyetujui penyerahan seluruh bukti pemalsuan medis dan rekaman Siska ke polisi. Dia juga tidak melawan siaran Wira. Dia tampaknya sengaja membiarkan reputasi Narendra runtuh malam ini."

"Devan sedang membakar kapalnya sendiri," kata Alyssa.

"Atau menanggung rasa bersalah, Nona." Aris memilih katanya hati-hati. "Penyelidik lapangan kita melaporkan dia masih menyimpan selendang Anda."

Alyssa meletakkan cangkir ke atas meja. Dentingnya halus.

"Penyesalan Devan tidak mengubah apa pun. Opsi obligasi seratus lima puluh juta dolar jatuh tempo dua puluh delapan hari lagi. Minta tim analisis menaikkan kepemilikan saham publik A-K Capital sampai sepuluh persen besok pagi. Kita ajukan penyelenggaraan RUPS Luar Biasa akhir bulan ini."

"Sudah dijadwalkan, Nona." Aris ragu sebentar, lalu mengeluarkan amplop cokelat dari map. "Ada satu berkas lain. Tim investigasi menemukannya di arsip lama Panti Asuhan Kasih Bunda."

Alyssa menatap amplop itu. "Apa isinya?"

"Sertifikat dan catatan yayasan penyandang dana panti sejak dua puluh tahun lalu." Aris menurunkan suaranya. "Yayasannya milik pribadi almarhum Kakek Broto."

Alyssa tidak bergerak.

"Pendanaan dimulai setahun setelah banjir bandang di Lembah Anai. Di buku penerimaan anak tertulis satu catatan tangan." Aris membuka lembar yang sudah ia beri penanda. "Bayi perempuan, usia sekitar empat tahun, ditemukan sendirian. Barang bawaan: satu gelang perak berukir motif daun."

Alyssa memegang kertas itu. Jemarinya yang biasanya stabil bergetar tipis.

"Kakek Broto menempatkan Anda di sana, Nona. Beliau tahu siapa Anda sejak awal. Gelang itu motif keluarga Mahendra." Aris menunduk sedikit. "Dan beliau tidak memberi tahu Tuan Rendra. Mungkin karena belum tahu siapa di dewan direksi yang bisa dipercaya."

Alyssa menutup mata. Dua puluh tahun. Ia tumbuh di panti sambil mengira dirinya anak yang dibuang, padahal ada seorang laki-laki tua yang diam-diam membayar listrik dan makan mereka, dan menunggu.

"Kakek..." Suaranya tidak keluar sempurna. Ia berdehem, lalu membuka mata. Jemarinya merapatkan kertas itu ke dada sebelum ia menurunkannya kembali. "Jangan beri tahu Papa dulu. Biar saya yang menyampaikan."

"Baik, Nona."

Alyssa memandang gelap kota di balik kaca. Di pergelangan kirinya, ibu jarinya kembali menyentuh tempat yang kosong.

***

Pukul empat dini hari.

Devan keluar dari rumah sakit setelah memastikan Siska stabil di bawah pengawasan tim medis. Mobilnya membelah jalanan sepi dan membawanya kembali ke rumah yang gelap.

Ia tidak naik ke kamar. Ia masuk ke ruang kerjanya, mendekati lukisan tua peninggalan Kakek, lalu menggesernya. Kode 12-10-02 membuka pintu baja itu lagi.

Kotak jati kecil masih di dalam. Ia membukanya dengan gelang Alyssa seperti semalam. Klik. Tutupnya terangkat.

Amplop putih yang menguning itu masih terbaring di dasar kotak. *Untuk Karen Alyssa Mahendra. Kalau ia kembali.*

Devan memegangnya dengan dua tangan. Kertasnya tipis, seperti isinya hanya satu lembar. Jarinya sudah menyentuh lipatan bagian atas ketika ia teringat catatan di dalam selendang.

Amplop di kotak jati bukan untukmu. Jangan dibuka.

Ia menahan napas. Jarinya berhenti.

Seluruh instingnya berteriak ingin membuka. Setelah malam ini, sudah tidak ada lagi yang bisa ia sebut keluarga. Ia ingin tahu seluruhnya, sekarang.

Tapi di balik semua yang sudah ia lakukan pada Alyssa, hanya ada satu hal yang belum pernah ia lakukan: menuruti permintaannya.

Ia meletakkan amplop itu kembali ke dalam kotak dan menutupnya. Tangannya masih bergetar.

Ia memikirkan nama itu. Karen Alyssa Mahendra. Mahendra, seperti anak perusahaan yang mendanai Narendra lima tahun lalu. Mahendra, seperti nomor tak dikenal di ponsel ibunya. Dan Alyssa yang hilang di jurang, lalu muncul kembali dengan rumus yang hanya ia ciptakan sendiri.

Ia mulai menyadari sesuatu. Ia belum bisa menyebutnya, tapi bentuknya makin jelas.

Ponselnya berdering. Layarnya menyala: Hendri.

"Tuan Devan." Suara itu panik dan bergetar. "Ada pergerakan dari A-K Capital!"

Devan menegakkan tubuh. "Apa?"

"Satu menit lalu otoritas bursa menerima permohonan resmi penyelenggaraan RUPS Luar Biasa atas nama A-K Capital. Agendanya penggantian Direktur Utama Narendra Group." Napas Hendri terdengar tersengal. "Pemilik pengendali A-K Capital sudah mencantumkan nama lengkapnya sebagai penandatangan."

Devan mencengkeram tepi meja jati sampai buku-buku jarinya memutih. "Siapa namanya, Hendri?"

Hendri menarik napas panjang di seberang telepon. Ketika suaranya keluar, nyaris tak terdengar.

"Karen Alyssa Mahendra, Tuan."

Devan menatap kotak jati di depannya. Huruf-huruf di sampul amplop yang baru saja ia letakkan kembali bersinar di bawah lampu meja.

Nama yang sama.

.....

.....

Bersambung.

1
falea sezi
uda end kah
Kriii: udahh end kakk🙏, belum ada ide untuk ngelanjutin🤭
total 2 replies
falea sezi
🤣biar mati aja nenek sihir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!