NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Catur Pertama

Hendra menahan napasnya. Rahangnya mengeras kaku, matanya membelalak tak percaya.

"Paman pikir Paman bisa terus bersembunyi di balik nama besar Mahendra Group?" bisik Raka tepat di depan wajah Hendra. "Mulai malam ini, Paman bukan lagi bagian dari keluarga atau perusahaan ini. Besok pagi jam sembilan, rapat direksi darurat akan digelar. Dan aku sendiri yang akan menyerahkan berkas kejahatanmu ke Kejaksaan Agung."

"Raka! Kamu anak kurang ajar!" bentak Hendra penuh emosi, mengangkat tongkatnya hendak menunjuk wajah Raka. "Aku ini pamanmu! Aku yang membangun perusahaan ini bersama ayahmu!"

"Ayahku membangun perusahaan ini dengan darah dan kejujuran, Paman," tegur Raka dingin tanpa berkedip sedikit pun. "Bukan dengan membakar pabrik, membunuh rekan kerja, dan menumbalkan orang yang tidak bersalah demi menutup utang investasimu sendiri."

Hendra gemetar hebat oleh kombinasi rasa malu dan amarah yang memuncak. Pria paruh baya itu menyadari bahwa ia telah tersudut sepenuhnya.

Di ruang publik rumah sakit ini, dengan para pengawal Raka yang mengepung lorong, ia tidak memiliki celah untuk melawan.

Hendra menurunkan tongkatnya, lalu menatap Raka dan Naya dengan senyuman iblis yang amat dingin. "Baik ... Baik kalau itu maumu, Raka. Kamu memilih bertaruh demi wanita ini dan ayahnya yang tidak berguna. Kita lihat saja siapa yang akan tertawa di rapat direksi besok pagi!"

Hendra berbalik dengan kasar, menghentakkan tongkatnya ke lantai seraya melangkah pergi meninggalkan lorong rumah sakit bersama pengawalnya yang mengekor cepat.

Sepeninggal Hendra, ketegangan di lorong perlahan mengendur. Naya mendesah panjang, merasa seluruh tenaganya seperti dikuras habis.

"Raka ..." panggil Naya pelan. "Apakah dia benar-benar akan menyerah begitu saja?"

Raka memutar tubuhnya, menatap Naya dengan raut wajah serius. "Tidak. Paman Hendra adalah ular yang terluka. Malam ini dia pasti akan mengerahkan seluruh koneksi dan sisa kekuatannya untuk menyerang balik di rapat besok. Tapi kita sudah siap."

Raka berpaling pada Bagas. "Bagas, tambah personel penjagaan di lantai ini menjadi dua kali lipat. Perketat pemeriksaan setiap suster dan dokter yang masuk ke kamar Pak Surya."

"Siap, Pak Raka!" sahut Bagas tegas.

"Ayo masuk ke dalam," ajak Raka seraya membukakan pintu kamar nomor 402 untuk Naya. "Kamu harus bertemu ayahmu."

Di dalam ruang perawatan VIP yang tenang dan beraroma antiseptik tipis, seorang pria paruh baya bertubuh kurus tampak terbaring lemah di atas ranjang medis.

Berbagai selang pemantau denyut jantung terpasang di tubuhnya. Rambutnya telah memutih, dan wajahnya tampak amat teduh meskipun kerutan usia dan bekas luka lama menghiasi dahinya.

Surya Kanindita.

Naya melangkah perlahan mendekati ranjang tersebut. Air mata keharuan yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes tak terbendung. Ia duduk di kursi samping ranjang, lalu menggenggam telapak tangan ayahnya yang kasar dan hangat.

"Ayah ..." bisik Naya dengan suara parau bercampur isakan. "Naya datang, Yah..."

Pria di atas ranjang itu perlahan membuka matanya yang kusam. Pandangan matanya yang sempat linglung perlahan-lahan terfokus pada wajah cantik Naya. Sebuah senyuman lemah namun amat penuh kasih terbit di bibir pucatnya.

"N-Naya ..." panggil Surya dengan suara yang sangat pelan dan terbata-bata. "...anakku..."

"Iya, Yah. Ini Naya," Naya mencium punggung tangan ayahnya dengan erat. "Ayah jangan khawatir lagi ya... Kebenaran tentang Ayah... sebentar lagi semua orang akan tahu kalau Ayah tidak bersalah. Nama Ayah akan bersih."

Surya menatap putrinya dengan pendar mata yang berkaca-kaca, meski ingatannya tentang masa lalu masih kabur akibat amnesia, naluri seorang ayah membuat hatinya merasakan kehangatan yang luar biasa.

Pandangan Surya kemudian beralih ke balik tubuh Naya. Di sana, Raka berdiri tegap dengan sikap penuh rasa hormat.

Raka melangkah mendekat, lalu menundukkan tubuhnya sedikit di samping ranjang Surya. Pria yang biasa dipuja dan ditakuti di dunia bisnis itu kini menggenggam tangan kiri Surya dengan kedua tangannya sendiri.

"Pak Surya ..." ucap Raka dengan suara mantap, jujur, dan sarat akan janji murni. "Nama saya Raka Mahendra. Atas nama keluarga Mahendra, saya memohon maaf atas penderitaan dan ketidakadilan yang Bapak tanggung selama delapan tahun terakhir ini. Besok pagi ... saya pribadi yang akan memulihkan kehormatan dan nama baik Bapak di hadapan hukum dan publik."

Surya menatap Raka dalam-dalam. Meskipun ia tidak sepenuhnya mengingat siapa pria di hadapannya, kejujuran dan rasa tanggung jawab yang memancar dari mata Raka membuat Surya mengangguk pelan. Ia menggenggam balik jemari Raka dengan sisa tenaganya, lalu membawa tangan Raka dan tangan Naya untuk menyatu dalam satu genggaman hangat.

"T-terima kasih..." bisik Surya lemah namun tulus. "...jaga... jaga anakku..."

Raka menatap Naya yang sedang tersenyum haru di depannya, lalu kembali menatap Surya. "Saya berjanji, Pak. Dengan mempertaruhkan nyawa dan hidup saya... saya akan selalu menjaga dan melindungi Naya."

Momen hangat dan sakral di dalam kamar rawat itu mengunci komitmen sejati di antara mereka. Di balik kebisingan kota Jakarta yang liar dan ancaman rapat direksi yang mencekam besok pagi, cinta, kebenaran, dan rasa saling percaya di antara Raka dan Naya telah berdiri kokoh, tak akan sanggup diruntuhkan oleh konspirasi apa pun.

Surya memejamkan matanya perlahan, seolah merasa lega mendengar janji Raka. Namun, sebelum pria itu melepaskan genggamannya, Surya mendadak mengerutkan kening. Jemarinya bergerak gelisah, sementara napasnya terdengar sedikit memburu.

"Ada apa, Yah?" Naya langsung berdiri panik. "Ayah merasa sakit?"

Surya menggeleng lemah. Bibirnya bergerak beberapa kali, seolah berusaha mengingat sesuatu yang terkubur jauh di dalam pikirannya.

"Gudang ... dokumen ..." gumamnya terbata-bata.

Raka segera mendekat. "Dokumen apa, Pak Surya?"

Surya menatap Raka dengan sorot mata penuh kecemasan. "Bukti ... kebakaran pabrik ... bukan kecelakaan. Ada seseorang ... yang memerintahkan semuanya."

Naya membeku. "Ayah ingat sesuatu?"

Surya berusaha mengangguk, tetapi kepalanya tampak kesakitan. Ia memejamkan mata sambil menggenggam tangan putrinya erat-erat.

"Nama ... nama itu ..." bisiknya sebelum akhirnya terdiam kelelahan.

Raka segera menekan tombol panggil perawat. Setelah memastikan kondisi Surya kembali stabil, ia menarik napas panjang. Informasi itu semakin menguatkan dugaan bahwa kejahatan Hendra jauh lebih besar daripada yang selama ini mereka ketahui.

"Raka, kalau Ayah benar-benar ingat semuanya, berarti masih ada bukti lain yang bisa membersihkan namanya?" tanya Naya penuh harap.

Raka mengangguk. "Benar. Dan kita harus menemukannya sebelum Paman Hendra menghancurkannya."

Ia mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi Bagas untuk memeriksa kembali seluruh arsip lama perusahaan dan lokasi gudang yang disebutkan Surya.

Namun, belum sempat ia mengakhiri panggilan, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Jangan terlalu percaya diri, Raka. Jika kau membuka rahasia delapan tahun lalu, wanita yang kau lindungi akan menjadi korban berikutnya.

Wajah Raka seketika mengeras.

Naya yang melihat perubahan ekspresinya langsung bertanya, "Ada apa?"

Raka memasukkan ponselnya ke saku, kemudian menggenggam kedua tangan Naya.

"Mulai malam ini, jangan pernah pergi sendirian. Apa pun yang terjadi besok, tetaplah berada di dekatku."

Naya mengangguk, meski jantungnya mulai diliputi kecemasan.

Ia belum tahu bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan. Seseorang yang selama ini mereka anggap telah menghilang ternyata masih mengawasi setiap langkah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!