Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Tanya
BAB 19
Tanda Tanya
Daffa mengerutkan kening. Ucapan Sarah yang memintanya menemui Bagas, Ayah Dinda tentu membuatnya sedikit cemas dan tegang.
"Ayah mau ngomong apa, Bu?"
Sarah menggeleng pelan.
"Nggak tahu. Temui saja dulu."
Daffa menghela napas kecil. Ia sebenarnya ingin menolak, tetapi melihat sikap Sarah, rasanya percuma.
"Iya, Bu."
Daffa pun melangkah keluar dari kamar.
Sementara Sarah tetap berdiri di depan pintu, memperhatikan punggung anaknya menjauh. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya.
Bagaimanapun juga, Dinda tetap anaknya. Dan meskipun marah, Sarah tidak sanggup membenci anak perempuannya sendiri.
Daffa melangkah menuju ruang tengah dengan perasaan tidak tenang. Begitu sampai di sana, ia melihat Bagas sudah duduk menunggu. Wajah pria itu tampak serius, jauh berbeda dari biasanya.
Daffa pun duduk di hadapan Bagas.
Beberapa saat keduanya hanya terdiam. Suasana terasa begitu canggung hingga Daffa mulai merasa semakin tidak nyaman.
"Dinda, kamu tahu kenapa Ayah mengajak kamu bicara serius seperti ini?"
Daffa terdiam. Tentu saja ia tidak tahu.
Dalam pikirannya, masalah ini tidak lebih dari kesalahpahaman. Mungkin Bagas mengetahui kejadian ketika Dinda yang saat itu berada di tubuhnya berada di kamar bersamanya yang menempati gadis itu.
Daffa memang sempat khawatir mereka terlihat mencurigakan. Namun, ia sama sekali tidak menyangka masalah itu akan menjadi sebesar ini.
"Ya, Yah. Maaf soal tadi. Bang Daffa datang tiba-tiba dan..."
"Cukup, Dinda!"
Daffa langsung terdiam.
Bagas menghela napas panjang. Tangannya mengepal di atas paha, berusaha menahan emosi yang sejak tadi memenuhi dadanya.
"Ayah sudah tahu semuanya dari Ibumu."
Bagas kembali membuang napas berat.
Melihat wajah ayah Dinda yang penuh tekanan, Daffa mulai merasa tegang. Ia tidak mengerti kenapa suasananya menjadi seserius ini.
"Kami sudah mengambil keputusan."
Daffa mengangkat wajahnya.
"Keputusan apa, Yah?"
Bagas menatap putrinya cukup lama sebelum akhirnya berkata,
"Ayah dan Ibu akan membicarakan masalah ini dengan keluarga Daffa."
Daffa semakin bingung.
Masalah? Masalah apa?
"Dan mulai hari ini, kamu tidak boleh sembarangan bertemu dengan Daffa lagi. Jangan pergi berdua dengannya. Jangan biarkan dia masuk ke kamar mu. Dan jangan melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan masalah."
Daffa hanya bisa menelan ludah.
"Iya, Yah."
Ia sebenarnya ingin menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, Daffa sadar, semakin banyak ia berbicara, semakin besar kemungkinan dirinya justru membuat keadaan menjadi lebih rumit.
Toh, yang dipermasalahkan hanya kesalahpahaman kecil. Setidaknya, itulah yang Daffa pikirkan.
Daffa mengangguk pelan.
"Iya, Yah."
Ia memilih menuruti perkataan Bagas. Bagaimanapun juga, Daffa tidak ingin Dinda mendapat masalah yang lebih besar kedepannya.
Tanpa Daffa sadari, keputusan yang baru saja ia setujui itu akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karena bagi Bagas, ini bukan lagi sekadar masalah kesalahpahaman.
Baginya, ada satu jalan yang harus segera ditempuh untuk menyelesaikan semuanya.
Menikahkan Dinda dan Daffa.
***
Daffa kembali ke kamarnya. Begitu kamar sudah di tutup rapat, ia pun segera mengambil handphone dan mengabarkan apa yang baru saja terjadi kepada Dinda.
Daffa : Kayaknya ada yang salah deh, tiba-tiba Om dan Tante, melarang kita untuk bertemu sementara.
Pesan pun terkirim. Daffa hanya bisa menunggu balasan dari Dinda sambil menatap layar ponselnya.
Beberapa menit berlalu. Hingga akhirnya, suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya.
Daffa yang semula hendak meletakkan ponsel, langsung kembali meraihnya. Matanya tertuju pada layar, menunggu apa yang akan dibalas oleh Dinda.
Dinda : Loh ada apa lagi, Bang?
Dinda : Lu buat salah lagi?
Daffa : Dih bukan.
Daffa : Kayaknya ini gara-gara lu tiba-tiba datang ke kamar Cil. Om Bagas marah besar jadinya.
Daffa : Nggak salah sih, pasti kaget lihat anaknya berduaan sama anak cowok di kamar.
Daffa : Apalagi rumah lagi sepi.
Dinda : Lu udah coba jelasin Bang?
Daffa : Udah.
Daffa : Yang ada kena hukuman nggak boleh ketemu sama Daffa buat sementara.
Daffa : Apaan coba, gue sendiri Daffa nya.
Dinda : Ya kan ibu sama Ayah nggak tahu situasi yang kita alami, Bang.
Dinda : Jadi gimana dong?
Dinda : Apa ketemu pulang sekolah aja.
Dinda : Nongkrong dimana gitu.
Daffa : Lu nggak masalah Cil, karena berada dalam tubuh gue.
Daffa : Tapi yang jadi masalah gue. Om Bagas dan Tante Sarah nggak mungkin bebasin gue kemana-mana dengan tubuh lu ini kan?
Di seberang sana, Dinda tampak terdiam sambil memikirkan perkataan Daffa. Apa yang dikatakan Daffa memang ada benarnya. Dinda sangat mengenal bagaimana sikap kedua orang tuanya setiap kali dirinya melakukan kesalahan.
Bukan karena mereka tidak menyayanginya, tetapi Dinda tahu, orang tuanya bisa sangat tegas jika mengetahui dirinya melakukan sesuatu yang dianggap salah. Karena itulah, Dinda mulai mempertimbangkan saran Daffa dengan lebih serius.
Dinda : Bilang aja ada tambahan les atau kerja kelompok, Bang.
Daffa : Lu ngajarin gue bohong Cil?
Dinda :Terpaksa Bang, mau gimana lagi.
Daffa terdiam sesaat. Apa yang di katakan Dinda ada benarnya.
Daffa : Ya sudah. Besok gue pake ojek aja ke sekolah. Bisakan lu jemput gue?
Dinda : Okey.
Bagi Daffa, ini juga merupakan kesempatan untuk membantu Dinda. Ia ingin memanfaatkan keadaan tersebut untuk meredam aksi pembullyan yang selama ini dialami Dinda di sekolah. Dengan begini, akan menghentikan orang-orang yang selama ini membuat Dinda tertekan.
Berkirim pesan pun berakhir. Tanpa mereka ketahui, para orang tua sibuk di belakang mereka atas apa yang terjadi.
Apa yang terjadi pada Daffa dan Dinda ternyata tidak luput dari perhatian mereka. Diam-diam, para orang tua sedang memikirkan langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi keadaan yang semakin rumit itu.
Hari pun menjelang malam. Setelah menyelesaikan berbagai aktivitas, Daffa bersiap untuk tidur. Ia mengambil piyama pilihannya yang dibeli saat mereka berbelanja di mal beberapa waktu lalu.
Namun, begitu mengenakannya, Daffa justru merasa tidak nyaman. Piyama itu terasa kurang leluasa untuk digunakan tidur. Ia pun akhirnya menggantinya dengan celana pendek yang lembut dan baju yang sedikit longgar, tetapi tetap pas dan tidak kebesaran.
Daffa kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kali ini, ia merasa jauh lebih nyaman.
“Ternyata baju kurang bahan begini memang enak buat tidur."
Ucap Daffa sambil menarik selimut hingga sebatas dada.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu