Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 — Anggun dan Mematikan
Babak semifinal Kingdom Tournament mempertemukan empat peserta terkuat yang tersisa: Kael dari Heavenly Sword Sect, Ragna Fenrir dari Kerajaan Beastman, Lyra Sylvariel dari Kerajaan Elf, dan mengejutkan banyak orang, Reyes yang telah membuktikan pertumbuhan luar biasa sejak kekalahannya dari Kael beberapa bulan lalu.
Pengundian menempatkan Kael melawan Ragna terlebih dahulu, sementara Lyra akan menghadapi Reyes di pertandingan kedua.
"Akhirnya," Ragna berkata dengan seringai lebar ketika mereka berdua dipanggil ke tengah arena, "kesempatan yang sudah kutunggu sejak upacara pembukaan."
"Aku juga penasaran seberapa kuat kau sebenarnya," Kael menjawab, menghunus pedangnya dengan sikap tenang yang sudah menjadi ciri khasnya.
Ragna tidak menggunakan senjata konvensional.
Sebaliknya, dia mengandalkan cakar alaminya yang memanjang tajam, dan tubuhnya yang dikelilingi aura kebiruan menandakan kultivasi Beastman yang berfokus pada penguatan fisik dan naluri predator.
"Aturan pertarungan Beastman sederhana," Ragna berkata sambil meregangkan lehernya, "yang terkuat menang, tanpa banyak basa-basi."
"Terdengar adil," Kael menjawab dengan senyum kecil.
Wasit mengangkat tangannya, dan sedetik kemudian pertandingan dimulai dengan kecepatan yang membuat sebagian penonton kesulitan mengikuti gerakan mereka.
Ragna melesat maju dengan kekuatan fisik murni, cakarnya menyambar udara dengan suara mendesing tajam yang terdengar hingga ke tribun terjauh.
Kael menangkis dengan pedangnya, dan benturan itu mengirimkan getaran hebat ke seluruh lengannya.
Kekuatan fisik Ragna jauh melampaui apa pun yang pernah dia hadapi sejak Blood Bear di Death Forest, meski gerakannya jauh lebih terkontrol dan bertujuan.
[Adaptation terhadap gaya bertarung Beastman: 6%.]
"Kau cukup kuat untuk manusia," Ragna berkata dengan nada menghargai di tengah rentetan serangannya, "tapi kekuatan fisikku turun-temurun dari darah kerajaan Fenrir. Tidak banyak yang bisa menandinginya."
"Aku suka tantangan," Kael menjawab, mulai membalas serangan dengan kombinasi Tebasan Seribu Prajurit yang telah dia kuasai dengan baik.
Pertarungan berlangsung dengan intensitas brutal, keduanya saling bertukar serangan yang masing-masing membawa kekuatan cukup untuk melumpuhkan kultivator biasa.
Namun berkat Absolute Regeneration, Kael bisa terus bertahan melewati luka-luka yang seharusnya membuatnya mundur, sementara ketahanan alami Ragna sebagai Beastman memungkinkannya menyerap kerusakan dengan cara yang serupa meski tidak seefektif kemampuan Kael.
[Adaptation: 24%.]
Kael mulai memperhatikan pola serangan Ragna—cakar kirinya selalu sedikit lebih cepat dari kanannya, dan setiap tiga serangan berturut-turut, dia akan melakukan lompatan tinggi untuk menyerang dari atas dengan kekuatan penuh.
"Tiga serangan, lalu lompatan," gumamnya, mengingat pola serupa yang pernah dia hadapi dari Blood Bear bertahun-tahun—yang terasa seperti bertahun meski hanya beberapa bulan—lalu.
Ketika Ragna melakukan lompatan yang diprediksi, Kael sudah siap, menggeser posisinya tepat pada waktunya dan membalas dengan tebasan yang mengarah langsung ke titik pendaratannya.
*BRAK!*
Ragna berhasil menghindari sebagian besar kekuatan tebasan itu dengan memutar tubuhnya di udara, meski tetap terkena goresan di lengan kirinya.
Dia mendarat dengan geraman rendah, matanya berkilat dengan campuran kekaguman dan semangat kompetitif yang semakin membara.
"Bagus," katanya, menjilat darah dari lengannya sendiri dengan seringai liar.
"Sangat bagus. Sudah lama tidak ada yang bisa melukaiku seperti ini."
[Adaptation: 41%.]
Pertarungan berlanjut, dan Kael terus beradaptasi dengan setiap variasi kecil dalam pola serangan Ragna, sementara Ragna sendiri mulai mengeluarkan kekuatan lebih besar, tubuhnya perlahan berubah bentuk sebagian—rambutnya memanjang menjadi bulu tebal di sepanjang lengannya, taringnya memanjang lebih tajam, matanya berubah menjadi kuning menyala sepenuhnya.
[Peringatan: Transformasi Beastman Parsial terdeteksi.]
[Peningkatan kekuatan signifikan.]
"Ini bentuk setengah transformasiku," Ragna berkata dengan suara yang kini sedikit lebih dalam dan kasar.
"Sekarang kita lihat apakah kau benar-benar bisa mengimbangiku."
Serangannya menjadi jauh lebih cepat dan lebih kuat, membuat Kael harus benar-benar memaksimalkan kemampuannya untuk bertahan sekaligus mencari celah untuk membalas.
[Adaptation: 63%.]**
[Tebasan Seribu Prajurit — Mahir 38%.]
Ketika Ragna melancarkan kombinasi serangan barunya dengan kecepatan transformasi penuh, Kael akhirnya menemukan pola yang bisa dia manfaatkan—setiap kali Ragna menggunakan kekuatan transformasi penuh dalam satu serangan besar, ada momen singkat setelahnya ketika dia harus menstabilkan kembali energinya, mirip dengan jeda pengisian ulang yang pernah dia temui pada elemen petir Marcus.
Dia menunggu momen itu dengan sabar, membiarkan beberapa serangan mengenainya—luka-luka yang segera ditangani regenerasinya—sampai akhirnya kesempatan yang dia tunggu muncul.
Ketika Ragna melancarkan tebasan cakar besar dengan seluruh kekuatan transformasinya, Kael melangkah maju alih-alih mundur, menyalurkan seluruh Qi yang tersisa ke dalam satu tebasan Tebasan Seribu Prajurit yang paling kuat yang pernah dia lakukan.
*BLAAAAR!*
Kedua serangan itu bertabrakan dengan kekuatan yang menciptakan gelombang kejut yang terasa hingga ke tribun terdepan.
Untuk sesaat, keduanya tampak seimbang dalam adu kekuatan itu, sebelum akhirnya kekuatan Adaptation Kael yang terus meningkat memberikannya keunggulan tipis yang cukup untuk mendorong Ragna mundur beberapa langkah, cakarnya bergetar hebat menahan getaran balik.
Ragna terhuyung, transformasinya perlahan mereda karena kelelahan energi yang luar biasa, dan dia berlutut dengan napas terengah-engah.
"Aku... menyerah," katanya akhirnya, meski nada suaranya lebih terdengar puas daripada kecewa.
"Belum pernah ada yang mendorongku sejauh ini sebelumnya."
Wasit segera mengumumkan kemenangan Kael, dan sorak-sorai riuh memenuhi arena yang telah menyaksikan salah satu pertarungan paling intens sepanjang turnamen.
Kael mendekat, membantu Ragna berdiri dengan senyum tulus. "Pertarungan yang luar biasa. Aku belum pernah menghadapi kekuatan fisik semurni itu."
"Kau lebih dari layak untuk lolos ke final," Ragna berkata dengan seringai puas, menepuk bahu Kael cukup keras hingga membuatnya sedikit terhuyung.
"Aku akan mengawasi pertandinganmu selanjutnya dengan penuh minat."
Ketika Kael kembali ke area istirahat, dia melihat Lyra Sylvariel berdiri di kejauhan, menyaksikan pertandingannya dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran penilaian objektif dan sesuatu yang lebih dalam yang belum bisa dia definisikan sepenuhnya.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu, dan Lyra memberikan anggukan kecil yang penuh hormat sebelum berbalik untuk bersiap menghadapi pertandingannya sendiri melawan Reyes.
Kael menatap kepergiannya dengan rasa penasaran yang baru, bertanya-tanya apa yang tersembunyi di balik keanggunan tenang sang Putri Elf itu, dan bagaimana pertemuan mereka di final nanti—jika keduanya berhasil lolos—akan membentuk babak berikutnya dalam perjalanannya yang semakin kompleks di Elyndra.
---
Pertandingan semifinal kedua antara Lyra Sylvariel dan Reyes dimulai tidak lama setelah Kael menyelesaikan pertarungannya sendiri, dan dia memilih untuk menyaksikannya langsung dari tribun peserta bersama Aria, yang sudah tereliminasi di babak perempat final namun tetap antusias mendukung rekan sekte-nya.
"Reyes sudah berkembang jauh," Aria berkomentar ketika mereka duduk bersama.
"Tapi Lyra... dia dalam liga yang berbeda."
Ketika kedua peserta memasuki arena, kontras di antara mereka sangat mencolok.
Reyes berdiri dengan sikap percaya diri yang telah teruji melalui berbagai pertandingan sebelumnya, sementara Lyra bergerak dengan keanggunan yang hampir tidak nyata, seolah setiap langkahnya adalah bagian dari tarian yang telah dia latih sepanjang hidupnya.
"Aku sudah mendengar tentang reputasimu, Elite Disciple Reyes," Lyra berkata dengan suara lembut namun jelas, aksen halus khas bahasa Elf kuno terdengar di setiap katanya.
"Aku menantikan pertarungan yang layak."
"Aku juga," Reyes menjawab, menghunus pedangnya dengan sikap waspada yang jelas menunjukkan dia tidak menganggap remeh lawannya meski penampilan Lyra yang tampak rapuh.
Wasit memulai pertandingan, dan Reyes langsung melancarkan serangan agresif, menggunakan kombinasi teknik pedang formal yang telah dia sempurnakan sejak kekalahannya dari Kael.
Lyra tidak bergerak sama sekali sampai detik terakhir, dan ketika pedang Reyes hampir mengenainya, dia menghilang—benar-benar menghilang, seolah menjadi bayangan yang larut ke udara.
"Sihir Teleportasi Elf," Aria menjelaskan cepat kepada Kael yang menyaksikan dengan mata terbelalak.
"Sangat sulit dikuasai, membutuhkan kontrol Mana yang luar biasa presisi."
Lyra muncul kembali beberapa meter di belakang Reyes, tangannya sudah terangkat dengan cahaya hijau zamrud berkumpul di telapak tangannya.
"Panah Cahaya Hutan," gumamnya pelan, dan puluhan anak panah cahaya kecil melesat ke arah Reyes dengan kecepatan yang mustahil dihindari sepenuhnya.
Reyes berhasil menangkis sebagian besar dengan gerakan pedang cepat, meski beberapa masih mengenai bahunya, meninggalkan luka bakar kecil yang tampak menyakitkan.
"Kau tidak bisa terus menghindar dan menyerang dari jarak jauh selamanya!" Reyes berteriak, mempercepat serangannya untuk memaksa Lyra bertarung jarak dekat.
Namun setiap kali dia mendekat, Lyra kembali menghilang dan muncul di posisi lain, terus mempertahankan jarak sambil melancarkan serangan sihir yang semakin kompleks—dinding tanaman merambat yang tiba-tiba tumbuh untuk menghalangi gerakan, kabut ilusi yang membingungkan arah, dan sesekali ledakan energi alam murni yang memaksa Reyes untuk terus bertahan.
"Dia benar-benar bertarung seperti hutan itu sendiri," Kael berkomentar dengan kagum, teringat pengalamannya sendiri di Death Forest.
"Itulah kekuatan sejati kultivasi sihir Elf," Aria menjelaskan.
"Mereka tidak bertarung melawan alam, mereka menjadi bagian darinya."
Reyes mulai kelelahan, energinya terkuras oleh usaha terus-menerus mengejar target yang selalu bergerak dan menghindari serangan yang datang dari segala arah.
Meski begitu, dia tidak menyerah, terus mencari celah dengan tekad yang telah tumbuh sejak kekalahannya dari Kael mengajarkannya arti kegigihan sejati.
Akhirnya, dia berhasil memprediksi salah satu titik teleportasi Lyra berdasarkan pola pergerakan energinya, dan melancarkan serangan yang tepat mengenai bahunya saat dia muncul kembali.
"Akhirnya," Reyes berkata dengan napas terengah namun puas, melihat goresan tipis di bahu Lyra yang sebelumnya tampak tidak tersentuh.
Lyra menyentuh luka kecilnya dengan ekspresi terkejut yang tulus, sebelum tersenyum tipis—senyum pertama yang dia tunjukkan sepanjang pertandingan. "Kau benar-benar layak dengan reputasimu, Elite Disciple. Sedikit sekali yang bisa membaca pola teleportasiku secepat itu."
"Terima kasih," Reyes menjawab, meski dia tahu satu goresan tidak cukup untuk membalikkan keseluruhan pertandingan.
Lyra mengangkat tangannya sekali lagi, kali ini energi hijau yang berkumpul jauh lebih besar dan padat dari sebelumnya. "Tapi aku rasa sudah waktunya mengakhiri ini."
"Berkah Hutan Purba," dia berucap, dan tanah di sekitar arena mulai bergetar, akar-akar raksasa yang tidak seharusnya bisa tumbuh di lantai batu arena tiba-tiba menerobos keluar, melilit kaki Reyes dan menahannya di tempat sebelum dia sempat bereaksi.
Reyes berjuang melawan lilitan itu, tetapi kekuatannya tidak cukup untuk melepaskan diri dari cengkeraman alam yang dikendalikan penuh oleh Lyra.
Beberapa detik kemudian, wasit mengumumkan bahwa Reyes tidak bisa melanjutkan pertandingan, memberikan kemenangan kepada Lyra.
Sorak-sorai riuh menyambut kemenangan telak itu, dan Lyra segera menghilangkan akar-akarnya, membebaskan Reyes dengan hati-hati sebelum membungkuk hormat kepadanya.
"Pertarungan yang luar biasa," katanya tulus.
"Kau mendorongku lebih jauh dari yang kuperkirakan."
Reyes menerima pujian itu dengan anggukan lelah namun penuh rasa hormat. "Kau memang layak menjadi juara, Putri Lyra."
Ketika Lyra kembali ke area istirahat, dia melewati tempat Kael duduk, dan untuk sesaat mereka bertukar pandangan yang lebih lama dari sebelumnya.
"Aku menantikan pertarungan kita di final, Kael dari Heavenly Sword Sect," katanya dengan senyum tipis yang penuh misteri.
"Aku juga, Putri Lyra," Kael menjawab, merasakan campuran antisipasi dan rasa hormat yang tulus terhadap kekuatan dan keanggunan yang baru saja dia saksikan.
Ketika Lyra berlalu, Aria menatap Kael dengan senyum jenaka. "Sepertinya kau akan menghadapi lawan yang jauh berbeda dari Ragna di final nanti."
"Aku sudah menyadarinya," Kael menjawab, memikirkan strategi apa yang perlu dia persiapkan untuk menghadapi kombinasi sihir alam dan teleportasi yang begitu sulit diprediksi.
Di tribun penonton, tersembunyi dengan sempurna seperti biasa, Seraphina menyaksikan interaksi singkat antara Kael dan Lyra dengan ekspresi yang sulit dia definisikan sendiri—sesuatu yang mirip dengan kekhawatiran, namun juga sesuatu yang lain yang belum pernah dia rasakan sebelumnya sepanjang seribu tahun hidupnya.
*Menarik*, pikirnya, mencoba mengabaikan perasaan aneh itu untuk sementara.
*Sangat menarik.*