NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Hippocampus ?

Suasana ruang praktikum kembali hening sewaktu Dokter Aris mulai menjelaskan preparat yang ada di depan kelas. Suara ketukan pointer sang dosen beradu dengan suara dengung pendingin ruangan, tapi pikiran Evelyn sama sekali tidak fokus pada tayangan proyektor di papan tulis.

Mata Evelyn justru melirik tipis ke arah tangan kanan Matthew yang terampil menorehkan beberapa poin penting di margin buku catatan tebalnya. Tulisan tangan pria itu sangat rapi—tegas, presisi, khas seorang calon dokter bedah.

Namun, di tengah-tengah rentetan tulisan ilmiah tentang cerebellum dan thalamus, ada satu hal yang bikin Evelyn mengernyit heran.

Di sudut kanan atas halaman buku catatan Matthew, terdapat sebuah gambar sketsa kecil menggunakan tinta hitam. Gambar sketsa pohon pinus dengan ranting-ranting merana, dan di bawahnya ada sebuah lingkaran kecil bersilang—sebuah lambang yang sangat familiar bagi Evelyn.

Bukannya itu... lambang ukiran yang ada di liontin perak milik Matthew di kehidupan lalu? batin Evelyn menjerit pelan. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Sensitif dengan gerakan kecil di sebelahnya, Matthew pelan-pelan memiringkan kepalanya sedikit. Mata keemasannya menangkap basah Evelyn yang sedang memperhatikan coretan sketsa tersebut.

Bukannya menutup atau menyembunyikan bukunya, Matthew malah sengaja mengetukkan ujung pulpennya persis di atas gambar sketsa pohon pinus itu dua kali.

"Menarik, kan?" bisik Matthew amat pelan, hampir tak terdengar di antara dentang instrumen laboratorium yang dipegang mahasiswa lain.

Evelyn menelan ludah cemas, berbisik balik tanpa berani menatap langsung matanya. "Gambar apa itu, Kak?"

Matthew tersenyum tipis—senyuman misterius yang selalu berhasil bikin jantung Evelyn berdegup kencang. Ia menggeser buku catatannya sedikit lebih dekat ke arah Evelyn.

"Cuma lokasi yang belakangan ini sering muncul di mimpiku," sahut Matthew santai, nadanya seolah-olah sedang membicarakan cuaca sore ini. "Hutan pinus di pinggir tebing. Tempat yang dingin... tapi rasanya aku harus kembali ke sana untuk nemuin seseorang."

Deg.

Evelyn membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dia... dia beneran mulai ingat? Atau ingatan kehidupan lalunya pelan-pelan membayanginya dalam bentuk mimpi?

"Eve, Matthew! Kalian berdua di Meja 7!"

Suara berat Dokter Aris yang menggelegar mendadak memotong percakapan rahasia mereka, membuat seisi laboratorium seketika menoleh ke arah Meja 7. Chloe bahkan sampai menutup mukanya dengan lembaran modul karena panik.

"Kalian berdua sibuk berbisik dari tadi," tegur Dokter Aris sambil menatap tajam dari balik kacamata tebalnya. "Coba Matthew, jelaskan fungsi utama dari hippocampus dalam sistem saraf manusia!"

Matthew tidak tampak panik sedikit pun. Dengan gerakan yang tenang dan penuh wibawa, pria itu menegakkan tubuhnya, menatap Dokter Aris lurus-lurus.

"Fungsi utama hippocampus adalah mengolah ingatan jangka panjang, memproses navigasi spasial, serta menyambungkan emosi dengan memori masa lalu, Dok," jawab Matthew lancar tanpa celah, suaranya terdengar begitu percaya diri.

Dokter Aris mengangguk puas, kehilangan alasan untuk memarahi mereka. "Bagus. Dan kamu, Evelyn! Sambung penjelasan Matthew!"

Evelyn berdiri dari kursinya, berusaha menenangkan gemetar tipis di jemarinya. "Selain mengolah memori jangka panjang, hippocampus juga rentan terhadap stres trauma, Dok. Ketika terjadi trauma berat, bagian ini bisa memblokir ingatan masa lalu... atau justru memunculkannya kembali dalam bentuk kilasan mimpi secara acak."

Dokter Aris menaikkan alisnya, terkesan dengan jawaban mendalam Evelyn yang menyentuh sisi psikologis anatomi. "Penjelasan yang luar biasa. Bagus, kalian berdua boleh duduk kembali. Perhatikan lagi ke depan!"

Evelyn mengembuskan napas lega dan kembali duduk di bangkunya. Ketika ia hendak meraih pena, ia mendapati lembaran buku catatan Matthew sudah bergeser lagi tepat di depan dadanya.

Di bawah sketsa pohon pinus tadi, Matthew baru saja menambahkan sebaris kalimat tulisan tangan dengan tinta segar:

'Kalau ingatan jangka panjangku memang diblokir oleh trauma... berarti kamu yang harus membantuku mengembalikan ingatanku kembali, Eve.'

Evelyn menoleh cepat ke arah Matthew. Pria di sebelahnya itu masih menatap lurus ke depan memperhatikan dosen, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.

Ah, sial. Batin Evelyn goyah mulai terpikat oleh senyum menawan sang Pangeran Kulkas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!