NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA DI KANTOR (VERSI BENCANA)

Kantor pusat perusahaan Kevin adalah definisi literal dari stereotip kantor CEO sinetron tahun 90-an. Dindingnya terbuat dari kaca transparan dari lantai ke langit-langit. Vania menatap dinding kaca itu sambil menggeser kacamata hitamnya yang ia pakai di dalam ruangan.

Ini kantor CEO sinetron 90-an, batin Vania, menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat pot tanaman hias raksasa. Dindingnya pasti kaca. Biar apa? Biar semua karyawan bisa lihat bos mereka lagi stres, lagi marah, atau lagi melamun menatap foto heroine. Privasi? Nggak ada. Yang ada cuma pamer kekuasaan dan transparansi yang sebenarnya nggak transparan-transparan amat.

Vania duduk di sofa kulit di ruang tunggu eksekutif. Dia menolak melepas kacamata hitamnya. Itu adalah perisai pertamanya. Jika dia tidak bisa melihat mata orang-orang yang menatapnya, dia bisa berpura-pura mereka tidak ada.

"Nona Vania, silakan minum kopinya."

Seorang wanita muda dengan rok pensil ketat, blus sutra yang dikancingkan satu tingkat di bawah batas wajar, dan rambut di-blow dry dengan volume maksimal, meletakkan cangkir kopi di atas meja. Ini adalah Tasya, sekretaris pribadi Kevin. Dan dari cara dia menatap Vania, jelas dia bukan sekadar sekretaris. Dia adalah side character yang punya ambisi untuk naik kelas.

"Terima kasih," ucap Vania datar, tidak menyentuh kopinya.

Tasya tidak langsung pergi. Dia berdiri di sana, memainkan ujung rambutnya, dan tersenyum tipis. Senyum yang di sinetron 90-an selalu berarti 'aku punya rencana jahat'.

"Dulu, Nona Vania rela berdiri di bawah hujan berjam-jam di depan lobi ini cuma buat lihat Tuan Kevin lewat," ucap Tasya, suaranya manis tapi berbisa. "Sekarang, Nona Vania malah ikut Tuan Raka. Memang, sih, Tuan Raka itu anak emas. Pak Darmawan selalu memberinya proyek paling menguntungkan dan perhatian paling besar. Kasihan Tuan Kevin, ya? Sudah kerja keras dari nol, tapi di mata Pak Darmawan, dia tetap anak tiri yang tidak pernah cukup baik."

Vania menatap Tasya dari balik kacamata hitamnya. Wow. Info dump langsung di muka. Nggak perlu basa-basi. Nggak perlu subplot. Langsung to the point soal rivalitas keluarga dan daddy issue. Rating sinetron ini memang nggak pernah bohong.

"Tasya," ucap Vania pelan. "Kopinya dingin. Dan kalau kau terus berdiri di sana, aku akan menganggap kau sedang menunggu tip. Sayangnya, aku tidak bawa uang tunai hari ini."

Wajah Tasya memerah padam. Dia mengerucutkan bibirnya, berbalik badan dengan langkah yang dibuat-buat anggun, dan masuk ke ruang kerja Kevin.

Tersisa sendirian di ruang tunggu, Vania menghela napas. Dia menoleh ke arah meja kerja Tasya yang kosong. Di sana, ada sebuah laci yang terbuka sedikit. Vania tahu dia seharusnya tidak ikut campur, tapi rasa penasarannya sebagai mantan penonton sinetron ini terlalu kuat. Dia berdiri, berjalan ke meja itu, dan mengintip ke dalam laci.

Isinya bukan alat tulis.

Itu adalah tumpukan foto. Foto Larasati sedang berjalan di pasar, foto Larasati sedang membeli sayur, foto Larasati sedang tertawa dengan Raka. Di samping foto-foto itu, ada laporan investigasi dari detektif swasta yang merinci jadwal harian Larasati, daftar teman-temannya, dan bahkan daftar makanan favoritnya.

Vania menyipitkan mata. Jadi, ini rencananya. Kevin memang menyewa orang untuk mengawasi Larasati. Dia berencana menculik atau memfitnah Larasati untuk memisahkan dia dari Raka. Ini adalah plot utama sinetron ini. Untung aku belum melihat terlalu jauh, kalau tidak, Tasya pasti sudah teriak-teriak memanggil security.

Vania cepat-cepat menutup laci itu tepat saat pintu ruang kerja Kevin terbuka. Tasya keluar, membawa sebuah map tebal berwarna cokelat. Wajahnya kembali datar, tapi matanya berkilat licik.

"Nona Vania," ucap Tasya, menyerahkan map itu. "Tuan Kevin minta Nona Vania merapikan dan menandatangani dokumen ini sebelum rapat direksi siang nanti. Ini kontrak kerja sama dengan vendor baru. Nona Vania pasti bisa, kan? Atau... Nona Vania lebih terbiasa membuat skandal daripada mengurus administrasi?"

Vania menerima map itu. Dia membukanya, matanya menyapu halaman pertama. Lalu halaman kedua. Lalu halaman ketiga.

Dia terdiam.

Vania menatap Tasya, lalu menatap dokumen itu lagi. Dia menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan tidak percaya. Ini tahun 90-an, oke. Tapi ini bukan tahun 1890-an. Orang masih bisa baca, kan?

"Tasya," ucap Vania, suaranya datar namun bergema di seluruh ruang tunggu yang tiba-tiba menjadi hening karena beberapa staf lain ikut mendengarkan. "Ini kontrak merger. Tapi di pasal 4, kau menulis 'pihak pertama akan menyerahkan aset kepada pihak kedua secara sukarela'. Sukarela? Ini perusahaan, Tasya. Bukan arisan ibu-ibu. Dan di sini, di paragraf ketiga, kau salah ketik 'akuisisi' jadi 'aku sisi'. Apa maksudnya? Aku sisi apa? Sisi kiri? Sisi kanan?"

Wajah Tasya pucat pasi. Bibirnya bergetar. "I-itu... saya hanya..."

"Belum selesai," potong Vania, membalik halaman. "Di sini, kau menaruh stempel perusahaan terbalik. Dan di tanda tangan, kau menggunakan pena berwarna ungu. Tasya, dokumen legal tidak pakai pena ungu. Ini bukan buku diary remaja. Kalau Tuan Kevin menandatangani ini, perusahaan kita bisa digugat dan aset kita bisa dibekukan oleh pengadilan. Kau mau menghancurkan perusahaan ini, atau kau hanya tidak bisa membaca?"

Ruang tunggu itu hening total. Staf-staf lain menatap Tasya dengan tatapan ngeri. Tasya berdiri terpaku, napasnya memburu, dadanya naik turun dengan dramatis. Matanya yang tadi licik kini berkaca-kaca.

"Kau... kau menghina aku..." bisik Tasya.

Tiba-tiba, Tasya memegang dadanya. Matanya mendelik ke atas. Dengan gerakan yang sangat lambat dan terhitung—persis seperti slow motion di sinetron—Tasya jatuh ke lantai.

Brak.

Tubuhnya mendarat di atas karpet tebal. Dia terbaring kaku, satu tangannya terulur ke depan, matanya terpejam rapat. Pingsan.

Vania menatap tubuh Tasya yang terbaring di lantai. Dia tidak panik. Dia tidak berteriak. Dia hanya menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah staf-staf yang sedang panik dan bersiap untuk mengangkat tubuh Tasya.

"Jangan disentuh!" perintah Vania tajam. Staf-staf itu langsung membeku. "Panggil ambulan. Jangan dipindahkan dulu, nanti malah kena whiplash. Biarkan dia di lantai sampai paramedis datang. Dan tolong, ambilkan aku air putih. Kopinya sudah dingin."

***

Di dalam ruang kerja yang dindingnya terbuat dari kaca transparan, Kevin berdiri dengan tangan di saku celana. Dia menyaksikan seluruh adegan itu dari balik kaca. Dia melihat Tasya yang dengan bodohnya mencoba menjebak Vania. Dia melihat Vania yang dengan tenang dan brutal membongkar kebodohan sekretarisnya di depan umum. Dan dia melihat Vania yang, alih-alih panik saat Tasya pingsan, malah memberikan instruksi medis yang sangat logis.

Kevin tidak marah. Dia tidak kesal karena Vania membuat keributan di kantornya.

Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat. Matanya yang gelap berbinar dengan kilatan yang berbahaya, namun sangat terpesona. Dia menatap Vania yang kini sedang duduk santai di sofa, meminum air putih yang baru saja diantarkan staf, sambil sesekali melirik ke arah jam tangannya.

"Vania..." gumam Kevin pelan, suaranya bergetar rendah di dalam ruangan yang sepi itu. Dia menatap wanita di balik kaca itu seolah dia adalah harta karun yang baru saja dia temukan di tengah lautan orang-orang membosankan.

"Wanita ini... benar-benar berbeda."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!