NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Di sudut kota Jakarta terlihat sebuah ruangan VIP kelab malam yang tertutup rapat. Bau asap rokok dan alkohol mahal memenuhi udara. Di balik meja marmer hitam, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi namun berwajah licik. Pria itu bernama Arman Wijaya, rival bisnis abadi keluarga Dikta yang selama bertahun-tahun mencari celah untuk menjatuhkan sang emperor bisnis tersebut.

Di hadapannya, Bagas berdiri dengan pakaian yang agak kusut, namun matanya memancarkan ambisi dan dendam yang berkobar.

"Jadi, kau bilang kau punya kartu as untuk menghancurkan Dikta?" Arman menyesap minumannya, menatap Bagas dengan pandangan meremehkan. "Banyak orang datang kepadaku membawa janji kosong, anak muda. Dan berakhir membusuk di penjara karena meremehkan kuasa Dikta."

Bagas mengepalkan tangannya di balik saku celana, lalu melangkah maju. "Saya tidak membual, Pak Arman. Dikta menyembunyikan sesuatu di penthouse-nya. Sesuatu yang bahkan media tidak tahu."

Arman mengangkat sebelah alisnya, mulai tertarik. "Oh? Apa itu? Senjata ilegal? Atau barang haram?"

"Anak," jawab Bagas. "Dikta memiliki seorang putra yang baru lahir. Bayi itu dirahasiakan dari publik demi melindunginya dari perebutan harta warisan keluarga besarnya. Dan yang lebih penting... istri saya, Arini, saat ini disekap di sana untuk menjadi ibu susu anak itu."

Ruangan mendadak hening. Arman tertegun sejenak sebelum tawanya pecah. "Dikta yang sedingin es itu punya anak rahasia? Dan dia menyandera istrimu? Menarik. Tapi apa untungnya bagiku? Itu hanya urusan domestik yang sepele."

"Ini bukan urusan sepele, Pak!" potong Bagas, suaranya mendesak. "Istri saya masuk ke sana karena saya terjerat utang dan kasus hukum yang sengaja ditahan oleh Dikta untuk memeras kami. Dikta sangat paranoid. Penthouse-nya dijaga ketat seperti markas militer. Ring satu keamanannya dipegang oleh Hendra. Tapi saya tahu titik lemah sistem keamanannya."

Bagas mengeluarkan sebuah kilas data flashdisk dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.

"Di dalam sini ada cetak biru jalur pipa utilitas dan kode akses lift barang penthouse Dikta yang berhasil saya dapatkan dari mantan pekerja renovasi gedung itu. Selain itu, saya tahu jadwal pergantian penjaga malam. Jika Anda memberi saya dukungan dana dan beberapa orang terlatih, saya bisa mengambil Arini kembali sekaligus... membuat skandal yang akan menghancurkan reputasi bersih Dikta di mata para investor minggu depan."

Arman menatap flashdisk itu, lalu beralih menatap wajah Bagas yang penuh dengan dendam. Pria tua itu tersenyum licik. Ia melihat kesempatan emas. Menjatuhkan Dikta lewat skandal penyekapan dan anak haram akan membuat saham perusahaan Dikta anjlok seketika.

"Kau memanfaatkan istrimu demi uangku, dan memanfaatkan aku demi membalas dendam pada Dikta. Kau pria yang berbahaya, Bagas," ujar Arman sambil mengambil flashdisk tersebut.

"Saya hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya, Pak. Dikta sudah merebut istri saya dan mengancam kebebasan saya. Saya akan memastikan dia membayar semuanya," jawab Bagas dengan rahang mengeras. Di dalam kepalanya, ia sama sekali tidak memikirkan trauma yang sedang dialami Arini. Di pikirannya hanyalah bagaimana ia bisa keluar dari kemiskinan dan memenangkan taruhan melawan Dikta.

Arman berdiri, mengancingkan jasnya, lalu menepuk bahu Bagas. "Baik. Dana akan ditransfer ke rekening samaranmu subuh ini. Orang-orangku akan bersiap di bawah komandomu. Tapi ingat satu hal, Bagas..." Tatapan Arman berubah sedingin es. "Jika rencana ini gagal dan namaku terseret, kau adalah orang pertama yang akan lenyap dari dunia ini."

"Saya mengerti, Pak Arman. Rencana ini tidak akan gagal," bisik Bagas penuh keyakinan yang beracun.

Sementara itu, kembali ke penthouse mewah Dikta. Waktu menunjukkan pukul empat subuh. Suasana kamar Arini sudah tenang. Dokter Gunawan baru saja meninggalkan ruangan setelah menyuntikkan obat penenang dosis ringan yang aman melalui infus. Arini akhirnya tertidur pulas, guratan lelah dan sisa air mata masih membekas di wajah pucatnya.

Dikta masih duduk di sisi ranjang, menolak untuk pergi. Kemejanya kusut, dan bercak air mata Arini di pundaknya kini telah mengering. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi digunakan untuk mendekap Arini. Sisa kehangatan tubuh wanita itu seperti masih tertinggal di sana.

"Pak Dikta..." Bi Ina berbisik pelan dari ambang pintu, membawa nampan berisi teh hangat. "Bapak tidak mau istirahat? Biar saya yang menjaga Neng Arini."

Dikta tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada wajah Arini. "Tidak perlu, Bi. Kau istirahatlah. Jaga Arkan jika dia terbangun di kamar sebelah."

"Baik, Pak." Bi Ina meletakkan teh itu lalu mundur, menutup pintu dengan pelan.

Dalam keheningan malam, Dikta teringat pesan Dokter Gunawan yang membuatnya menjadi kebingungan.

"Ini adalah serangan postpartum blues, Pak Dikta. Bu Arini merasa tertekan yang mengakibatkan psikologisnya terganggu," ujarnya diakhiri napas panjang, lalu menatap tajam padanya. "Pak Dikta, Ibu Arini dari luar terlihat sehat. Tapi hatinya saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Menjadi ibu susu untuk Den Arkan di saat dia sendiri baru saja kehilangan bayinya adalah sebuah luka yang begitu mendalam."

Dikta terdiam, rahangnya mengetat. "Aku melakukan ini demi Arkan.

"Saya tahu motif Anda, Pak," potong Dokter Gunawan lagi. "Namun jika Anda terus menekannya dengan ancaman dan aturan yang terlalu ketat, obat penenang dosis berapa pun tidak akan bisa menyelamatkannya. Stres yang berlebihan bisa menghentikan produksi ASI. Jika Anda ingin Den Arkan tetap mendapatkan nutrisi terbaiknya, Anda harus merubah cara memperlakukan Bu Arini."

"Maksud Anda, aku harus lembut padanya?"

"Berikan dia ruang untuk bernapas sebagai manusia, bukan sebagai tahanan. Penuhi kebutuhan emosionalnya, hargai duka yang sedang dia alami. Hanya dengan begitu mentalnya bisa pulih," jelas Dokter Gunawan panjang lebar, lalu merapikan tas medisnya. "Saya sudah meninggalkan beberapa suplemen penenang herbal di dalam. Saya akan datang lagi besok sore untuk memantau perkembangannya."

Dikta memijat pangkal hidupnya yang terasa pusing. Peringatan dokter Gunawan bukan sekedar peringatan biasa. Ini menyangkut keselamatan Arini dan Arkan. Jika ia memilih egonya, putranya menjadi korban. Dikta memejam mata sejenak, lalu menatap tubuh Arini yang sudah tertidur pulas karena pengaruh obat. "Wanita ini sudah banyak berjasa buatku. Mana mungkin, aku menyakitinya. Maaf, maafkan aku...Arini. Aku janji tidak akan keras padamu," ucap batinnya.

***

Mataku perlahan mulai terbuka. Ingatanku langsung tertuju pada Arkan. Aku takut, jika Dikta memisahkan aku dengan Arkan karena kejadian tadi malam. Betapa aku terkejut saat mendapati Arkan tidak ada di boks miliknya.

"Den Arkan, kamu dimana sayang?" Aku terduduk lemas, menutup wajah dengan tanganku, menyesalinya.

Derap kaki terdengar jelas dari kejauhan. Bi Ina saat itu juga tersenyum lebar mendapati aku yang sudah sadar dari pengaruh obat semalam. Ia membawa mapan berisi makanan. "Neng, sebaiknya dimakan dulu," pintanya meletakkan diatas meja.

Aku mendongak, menatap Arkan dalam gendongan Dikta. "Arkan baru menangis. Aku sengaja tidak membangunkanmu karena tak ingin menganggu istirahat mu," jelasnya sambil meletakkan Arkan di boks bayinya.

"Berikan dia padaku," pintaku mengulur tangan. Aku tak peduli pada kesehatanku saat ini. Bagiku, memastikan Arkan baik-baik saja adalah tugas utamaku.

"Sebaiknya isi perutmu dulu. Baru kau susui dia. Aku tak mau, putraku mengisap ASI dari perut yang kosong. Lagipula tadi malam tubuhmu begitu menguras tenaga," pintanya mendekatkan mapan ke arahku. Dikta duduk di ranjang sambil menatapku.

Aku menarik mapan, lalu mengunyahnya dengan paksa. Tak ingin melihat Arkan menangis lebih lama. Setelah memastikan isi mapan tak bersisa, aku langsung mendekap Arkan di dada.. "Kamu pasti haus, kan? Maafkan Ibu ya, nak," lirihku mengusap pipinya Arkan. Aku tak ingin terpisah dengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!