Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG STRATEGI BARET HITAM DAN MISI SENYAP
Ancaman terbuka yang dilontarkan oleh Kazan Vance di Aula Utama Istana tidak dibiarkan begitu saja. Kurang dari dua jam pasca-insiden peretasan layar LED, pimpinan tertinggi Kerajaan dan komando militer Baret Hitam langsung menggelar rapat darurat tingkat tinggi di ruang bawah tanah Fortress Prime—markas komando militer paling steril dan rahasia yang terletak seratus meter di bawah tanah Palazzo.
Ruangan berbentuk bundar itu berdinding baja kedap suara dengan pencahayaan bernuansa biru redup. Di tengah ruangan, sebuah meja holo-grafis berukuran raksasa memproyeksikan peta tiga dimensi wilayah perbatasan laut, jalur pelayaran kargo, serta kontur topografi markas rahasia Empire Vance di Pulau Mortis—sebuah pulau tak berpenghuni di tengah laut lepas yang dikelilingi tebing karang terjal dan badai abadi.
Raja Zean berdiri tegap di ujung meja komando. Seragam kebesaran pengantinnya telah berganti dengan pakaian tempur taktis Baret Hitam berwarna hitam pekat, lengkap dengan lambang kaisar di bagian dada. Di sampingnya, Arumi berdiri anggun mengenakan gaun simpel syar'i berwarna gelap yang dipadu dengan mantel taktis. Meski Zean sempat meminta Arumi untuk beristirahat di kamar Palazzo, Arumi menegaskan keikutsertaannya untuk mendampingi sang suami dalam setiap keputusan penting Kerajaan.
Di sekeliling meja, Felix bersama lima jenderal senior Baret Hitam berdiri tegap dengan dokumen analisis siber dan intelijen di tangan masing-masing.
"Tuan," panggil Felix seraya menekan tombol konsol meja holografis. Proyeksi peta seketika memperbesar tampilan Pulau Mortis, menampilkan struktur benteng beton tebal, radar pemindai panas, serta belasan menara artileri otomatis. "Tim retas siber kita telah berhasil melacak muatan transmisi Kazan Vance. Kapal kargo raksasa yang terlihat di siaran tadi mengangkut bahan peledak cair kelas C-4 dan peluncur rudal jarak pendek. Seluruh armada itu berlabuh di dermaga tersembunyi Pulau Mortis."
Salah satu jenderal senior Baret Hitam melangkah maju. "Yang Mulia, memobilisasi armada kapal perang utama kita untuk menggempur Pulau Mortis akan memicu perang terbuka yang berisiko tinggi bagi stabilitas perbatasan. Selain itu, radar gelombang pendek di pulau tersebut dapat mendeteksi armada tempur kita dalam radius lima puluh mil laut."
Mata abu-abu gelap Zean menatap tajam ke arah simulasi hologram benteng Pulau Mortis. Senyum dingin yang sarat akan dominasi dan kejeniusan taktis terukir tipis di bibirnya.
"Siapa yang mengatakan kita akan membawa armada kapal perang utama, Jenderal?" desis Zean dengan suara bass yang berat dan mengintimidasi.
Seluruh jenderal di ruangan itu saling berpandangan bingung.
"Kazan Vance adalah serigala licik yang menyukai panggung teater," lanjut Zean seraya melangkah mengitari meja holografis. "Dia sengaja meretas siaran istana untuk memancing emosi kita agar mengirimkan pasukan skala besar ke Pulau Mortis. Saat pasukan kita terkonsentrasi di sana, dia akan meluncurkan serangan sabotase balasan ke pusat kota."
Arumi menatap Zean dengan binar kecerdasan yang sama. "Artinya... serangan di Pulau Mortis itu hanyalah pengalihan perhatian?"
Zean menoleh ke arah istrinya, menatap mata jernih Arumi dengan kehangatan tipis. "Tepat sekali, Ratuku. Oleh karena itu, kita tidak akan terjebak dalam permainan murahannya."
Zean menekan salah satu tombol di konsol meja. Proyeksi hologram berganti menampilkan peta lorong bawah air dan pipa ventilasi tua milik bekas pangkalan militer era perang dunia yang berada persis di bawah benteng Pulau Mortis.
"Kita akan meretakkan benteng itu dari dalam," tegas Zean penuh otoritas. "Misi tahap awal adalah penyusupan senyap. Tim elit Shadow-Black yang dipimpin langsung oleh Felix akan masuk melalui jalur pipa bawah air menggunakan kapal selam mini tipe siluman. Tugas kalian bukan untuk meratakan pulau, melainkan meretas server utama jaringan senjata Kazan, menanam bahan peledak di gudang amunisi utama, dan melumpuhkan radar pertahanan udara mereka."
Felix membungkuk hormat dengan sorot mata penuh ketegasan. "Siap, Tuan! Pelaksanaan misi akan dimulai malam ini saat pasang air laut mencapai titik tertinggi."
Usai rapat strategi selesai dan para jenderal membubarkan diri untuk menyiapkan personel, suasana di ruang bawah tanah kembali hening. Zean melangkah mendekati Arumi yang tengah memandangi gambar peta proyeksi Pulau Mortis.
Zean mengulurkan tangannya, merengkuh pinggang Arumi secara perlahan dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri. Bau harum bunga melati dari tubuh Arumi seketika menenangkan pikiran Zean yang dipenuhi oleh kalkulasi taktis pertempuran.
"Kamu khawatir, Wanitaku?" bisik Zean lembut di telinga Arumi.
Arumi memutar tubuhnya dalam dekapan Zean, menatap mata abu-abu suaminya dengan penuh kesungguhan. Ia menggenggam kedua telapak tangan tegap Zean, menyalurkan rasa percaya dan ketenangan jiwa.
"Aku memercayai kepemimpinanmu dan taktikmu, Mas," ucap Arumi tulus. "Tapi Kazan Vance adalah pria gila yang tidak memiliki batasan moral. Aku hanya memohon agar kamu selalu berhati-hati dan tidak bertindak gegabah."
Zean menyunggingkan senyum hangat, menundukkan kepalanya untuk mendaratkan kecupan lembut di kening Arumi. "Selama ada kamu yang menungguku kembali di istana ini, tidak ada satu pun musuh di dunia ini yang sanggup merubuhkanku. Kamu adalah alasan utamaku untuk selalu menang dan pulang dengan selamat."
Arumi tersenyum manis, memeluk leher Zean dengan erat. Di dalam doa malamnya, Arumi senantiasa meminta perlindungan Sang Pencipta bagi suami dan seluruh pasukan Baret Hitam yang berjuang menjaga kedamaian negeri dari ancaman kegelapan Vance.
Malam kian membeku. Pukul dua dini hari, laut lepas di sekitar Pulau Mortis digulung oleh ombak besar dan hujan gerimis yang kencang. Kegelapan total menyelimuti lautan, hanya diselingi oleh sorotan lampu tembak dari menara penjaga benteng benteng Empire Vance yang berputar secara berkala.
Di bawah kedalaman tiga puluh meter di bawah permukaan laut, sebuah kapal selam mini bertipe siluman hitam bergerak tanpa suara menembus celah-celah karang tajam. Di dalam kabin sempit berlampu merah redup, Felix bersama empat prajurit elit Shadow-Black mengenakan pakaian selam khusus lengkap dengan peredam suara, kacamata night-vision, serta senapan serbu kedap air kaliber tinggi.
"Dua puluh detik menuju titik pelepasan pipa ventilasi bawah air," panggil teknisi kapal selam melalui headset internal.
Felix memeriksa kesiapan senjata dan peledak remote di sabuk taktisnya. "Dengarkan semuanya. Misi ini adalah operasi senyap tingkat tinggi. Tidak ada tembakan kecuali dalam situasi darurat penuh. Target utama kita adalah ruang server pusat dan gudang amunisi. Lakukan sesuai instruksi Raja Zean!"
"Siap, Komandan!" sahut para prajurit dengan suara rendah nan mantap.
Sssttt...
Pintu palka bawah kapal selam terbuka. Felix dan timnya meluncur keluar ke dalam perairan dingin, berenang menggunakan pendorong mekanis mikro menuju mulut pipa ventilasi tua yang tertutup jeruji besi berlumut.
Dengan presisi tinggi, prajurit Baret Hitam menggunakan pemotong laser mini berfrekuensi tinggi untuk melubangi jeruji besi tanpa menimbulkan getaran atau suara berisik. Dalam hitungan detik, jeruji besi itu terlepas, dan satu per satu prajurit Shadow-Black menyusup masuk ke dalam lorong pipa yang gelap gulita.
Mereka memanjat lorong ventilasi vertikal yang menanjak naik menuju kompleks dalam benteng. Udara di dalam lorong terasa lembap dan berbau oli mesin yang menyengat.
Felix memimpin di paling depan. Saat mencapai ujung kisi-kisi ventilasi di lantai atas, ia mengintip perlahan melalui celah besi.
Di luar lorong ventilasi, terhampar koridor luas berdinding beton tebal. Puluhan anggota pasukan bayangan Vance bernjata lengkap tampak berpatroli dengan wajah tegang. Di dinding koridor, beberapa layar monitor besar menampilkan grafik pengisian hulu ledak rudal yang tengah berlangsung.
Felix menekan tombol komunikasi mikro di kerahnya, menyambungkan frekuensi terenkripsi langsung ke pangkalan komando Raja Zean di istana.
"Tuan," bisik Felix sangat pelan namun jelas. "Tim Shadow-Black telah berhasil menyusup ke sektor dalam benteng Pulau Mortis tanpa terdeteksi. Kami telah menemukan posisi gudang amunisi utama dan ruang server. Persiapan penanaman bahan peledak dimulai sekarang."
Dari balik frekuensi khusus di ruang komando istana, suara bass Raja Zean mengalun dingin dan tegas:
"Bagus. Eksekusi penanaman peledak dan lumpuhkan radar pertahanan mereka. Malam ini... kita hancurkan pangkalan rahasia Kazan Vance dari akarnya!"
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/