NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Latihan pertama

Matahari bahkan belum berniat membulat di ufuk timur, namun derap langkah kaki bersol keras sudah menggema riuh di sepanjang koridor wisma.

Airyn terbangun seketika saat kegaduhan itu mengusik lelapnya.

Cklek!

Beberapa prajurit berseragam perak menerobos masuk, menekan saklar hingga lampu gantung kristal menyala benderang secara mendadak. Melihat Airyn yang sudah menyipitkan mata menghalau silau, salah seorang prajurit memberi instruksi singkat.

"Latihan pagi. Segera ganti pakaian dan berkumpul di pelataran depan!" Pangkas prajurit itu tegas sebelum berbalik dan mengetuk pintu-pintu kamar lainnya.

Airyn bergegas berjingkat turun dari ranjangnya, lalu mengguncang pelan bahu Flora yang tertidur di ranjang sebelah.

"Flora, ayo bangun. Kita harus segera bersiap."

Gadis bersurai merah muda itu menggeliat pelan di balik selimut tebalnya sebelu berusaha memfokuskan pandangan pada Airyn.

"Ada apa, Airyn...?" gumamnya polos, matanya masih berusaha menyesuaikan pendar cahaya yang silau.

"Kita harus bersiap, ada latihan pagi," ujar Airyn seraya cekatan mengikat surai birunya, mencuci muka, lalu mengenakan pakaian olahraga.

Namun, Flora yang masih didera kantuk berat malah menarik kembali selimutnya sampai menutupi kepala.

BRAAK!

Suara gebrakan pintu dari kamar sebelah mendadak membuat Flora terduduk tegap seketika. Tanpa membuang waktu lagi, ia melompat turun dan buru-buru menyusul Airyn bersiap.

Beberapa saat kemudian, kedelapan Aetherist muda sudah berdiri berbaris di pelataran wisma. Sebagian besar dari mereka masih menguap lebar dengan kelopak mata yang mengembang. Stella tampak paling tidak bergairah, disusul Emery yang menunduk memejamkan mata sambil berdiri. Sementara para pemuda hanya berdiri kaku dengan raut wajah yang bengkak khas bangun tidur.

Udara merengkuh dingin, dan langit di atas mereka masih pekat kehitaman.

"Ada apa ini? Kenapa kita harus dibangunkan sebelum matahari terbit?!" gerutu Stella penuh kejengkelan.

"Ugh... aku cuma ingin tidur," cetus Emery lirih tanpa membuka mata.

PRRRIIIITT!

Melengkingnya suara peluit seketika memaksa mereka berdiri tegap di posisi masing-masing. Pria berotot kekar yang mengenakan setelan pakaian latihan tebal serta topi berjalan mendekat. Dialah yang meniup peluit tersebut.

"Selamat pagi, Anak-Anak! Perkenalkan, saya Profesor Ignatius. Hari yang sangat cerah untuk memulai aktivitas, bukan?" sapa pria berotot itu menyunggingkan senyum lebar tanpa beban.

"Cerah dari mana? Matahari saja belum kelihatan," gumam Teira dingin di sudut barisan.

"Baiklah! Kita akan menuju ke aula besar, tempat pertemuan kalian kemarin," pangkas Profesor Ignatius mengabaikan gumaman Teira.

"Lalu di mana kereta kudanya?" Stella memotong cepat, matanya menyapu sekeliling yang sepi tanpa kendaraan.

Profesor Ignatius terkekeh nyaring. "Kereta kuda? Kalian akan berlari ke sana! Oh ya, saya adalah instruktur latihan fisik dan tempur kalian. Cepat ya, aku menanti di sana!"

Tanpa menunggu tanggapan, sang profesor berbalik dan mendadak melesat hilang melintasi kegelapan koridor.

"Apa?! Lari?! Jarak dari sini ke gedung utama itu ratusan meter atau beberapa kilometer!" Jerit Stella frustrasi.

"Siapa yang tiba duluan mungkin dapat hadiah!" Seru Emery tiba-tiba. Gadis itu langsung melesat secepat angin. Stella yang tak mau kalah menyusul di belakangnya, berusaha mengejar Emery.

Snow dan Andrew pun ikut melesat dengan kecepatan penuh, saling memotong jalan demi memimpin barisan. Di sisi lain, Teira justru membalikkan badan dengan santai dan melangkah kembali ke dalam wisma.

"Kau mau ke mana, Teira?" Tanya William heran.

"Kalian duluan saja," sahut Teira tak peduli, menghilang di balik pintu kayu.

Airyn, Flora, dan William akhirnya mulai memasang kuda-kuda dan berlari bersama. Mengingat jalanan masih gelap gulita, mereka hanya bisa menerka arah.

"K-kenapa... kita tiba-tiba disuruh lari pagi begini...?" Tanya William yang mulai terengah-engah setelah menempuh beberapa ratus meter.

"Entahlah! Mungkin pelatihan fisik agar daya tahan Aether kita lebih kuat!" sahut Airyn seraya menjaga ritme napasnya. Bagi Airyn yang sudah terbiasa digembleng latihan berat oleh Kaelen tiap pagi, lari jarak jauh seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari.

Jejak teman-teman yang berlari duluan mulai lenyap ditelan kegelapan.

"Aduh!" Flora mendadak menghentikan langkahnya, memegangi pergelangan kakinya. Airyn dan William berbalik memutar langkah, menghampiri Flora yang tertinggal di belakang.

"Kau tidak apa-apa, Flora?" Tanya Airyn khawatir.

"Hah... hah... kurasa aku butuh istirahat sebentar. Kakiku rasanya kebas," bisik Flora menahan napasnya yang memburu seraya terduduk di atas jalanan batu.

Airyn dan William menyelaraskan posisi, ikut duduk di samping Flora seraya mengamati sekeliling yang masih dinaungi kegelapan pekat.

"Kita bahkan kesulitan melihat jalan dalam kondisi gelap begini. Bisa-bisa kita malah tersesat," pangkas Airyn prihatin.

William mengangguk setuju. "Mungkin saja kita sudah menyimpang. Stella sangat diuntungkan di sini—sebagai Aetherist cahaya, dia harusnya bisa sampai paling pertama."

Ketiganya diam beberapa saat, merenung, mengingat apapun yang bisa dijadikan pengingat.

"Aku ingat... jalanan menuju aula itu diapit oleh deretan pohon rindang di sepanjang jalurnya," gumam Airyn mencoba mengingat detail kemarin.

"Bunga cassia kuning!" celutuk Flora cepat.

Mereka mengedarkan pandangan ke sekitar mencari petunjuk.

"Ketemu!" seru Airyn gembira saat matanya menangkap sebentuk kelopak kuning yang tergeletak di atas tanah. Namun, tidak ada pohon cassia yang berdiri di sekitar mereka.

"Pasti terbawa angin," duga Flora.

"Semalam angin berembus lumayan kencang dari arah Barat ke Tenggara," gumam William seraya mengamati dedaunan di sekitar mereka.

"Kalau kelopak bunga ini diterbangkan ke arah Tenggara, berarti kita sekarang sedang berada di area sektor Tenggara dari kompleks ini," sahut Airyn cepat.

Flora menyambung, "Dan deretan pohon cassia yang menuju ke aula utama itu berada di sisi Timur!"

William tersenyum bangga dan mengangguk setuju. "Tepat sekali. Karena kita ada di Tenggara, kita hanya perlu bergerak kesebelah utara kita untuk memotong jalan langsung menuju jalur timur!"

Mereka bangkit berdiri terus maju ke arah utama hingga menemukan bangunan dengan celah di depa. Mereka menelusuri celah antar bangunan itu. Melangkah melewati sebuah lorong sempit, pandangan mereka seketika membentang luas—jalan setapak yang dipenuhi rontokan bunga cassia kuning terpampang nyata di hadapan mereka.

Gedung Balairung Utama berdiri megah di ujung jalan sebelah timur, memancarkan pendar cahaya sihir yang benderang dari balik jendela-jendela besarnya.

Ketiganya berlari melintasi sisa jarak dan tiba di tangga depan. Di sana, Profesor Ignatius sudah berdiri menanti seraya tersenyum lebar.

"Selamat! Kalian berhasil menjadi urutan kedua, ketiga, dan keempat!" puji pria itu.

"Siapa yang pertama?" Tanya William keheranan.

"Mencariku?"

Sebuah suara santai menyela dari sudut pelataran. Teira sedang duduk bersandar di kursi kayu, menyeruput secangkir teh hangat tanpa menyisakan setetes pun keringat di pelipisnya.

"Bagaimana bisa kau tiba lebih dulu?!" Tantang William tak percaya. Bukankah pemuda itu tadi justru berjalan kembali ke dalam kamar wisma?

"Lihat ke sebelah kanan kalian," pangkas Teira seraya menunjuk dengan cangkirnya.

Airyn, William, dan Flora menoleh serempak. Sebuah lorong penghubung beratap dengan jendela-jendela besar membentang rapi di sana.

"Tempat kita menginap dan balairung ini sebenarnya berada dalam satu kompleks yang membentuk huruf L. Wisma kita ada di sayap utara. Kalian hanya perlu menyusuri koridor dalam ke arah selatan, lalu belok kiri tepat di ujung lorong untuk langsung sampai di Balairung Utama yang ada di sisi timur. Tak perlu repot-repot berlari menerobos kegelapan di luar," terang Teira datar.

Airyn, Flora, dan William seketika memaku terperangah. Kenapa mereka harus bersusah payah menguras tenaga jika ada jalan pintas yang begitu mudah?

"Baiklah! Sembari menunggu yang lain, kalian mau teh?" tawar Profesor Ignatius ramah.

Ketiganya akhirnya duduk di pelataran balairung, menerima cangkir teh hangat dari Profesor Ignatius. Mereka menikmati tiap tegukan manis sembari menyaksikan bayang surya yang perlahan terbit membelah ufuk timur, menanti sisa rekan lainnya.

Tak lama kemudian, Andrew dan Snow tiba menyusul. Begitu sang surya meninggi dan memberikan pencahayaan penuh, Emery akhirnya muncul, disusul Stella disampingnya yang tampak sudah sangat kelelahan.

"Ah, akhirnya rombongan terakhir tiba! Ini minumannya," sambut Ignatius seraya menyerahkan gelas terakhir.

Ignatius menatap kedelapan murid muda itu secara bergantian. "Selamat telah menyelesaikan latihan pertama kalian. Ingat, dalam perang nyata, kekuatan fisik dan besarnya Aether saja tidak akan pernah cukup. Taktik, pemikiran cepat, dan kerja sama tim adalah penentu utama keselamatan kalian."

Pria kekar itu lalu menunjuk seseorang "Stella, sebagai Aetherist cahaya, kegelapan itu bukan penghalang mu. Kau bisa memanfaatkan sihirmu untuk menerangi jalan ketimbang berlari buta."

Pria itu beralih menunjuk yang lain. "Emery, kekuatan fisikmu memang yang paling unggul, tetapi kau harus mulai memperhitungkan taktik daripada sekadar mengandalkan otot." Emery hanya menunduk mendengarnya.

"Teira, kau yang paling cerdik membaca situasi, tetapi ingat, fisikmu juga harus digembleng. Kau tidak bisa selamanya menghindari pertarungan langsung."

Ignatius tersenyum bangga. "Untuk yang lainnya, kalian telah bekerja keras dengan sangat baik pagi ini. Selamat menikmati minuman kalian. Sampai jumpa di sesi latihan besok!"

Sama seperti kedatangannya yang mengejutkan, Profesor Ignatius mendadak melesat melenyap kembali.

Kedelapan Aetherist muda itu saling pandang di pelataran balairung yang mulai disiram pendar fajar. Baru hari pertama saja tekanan dan latihannya sudah seberat ini—bagaimana dengan hari-hari selanjutnya yang menanti di depan mata?

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!