NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PRIA BERJAS DI GANG SEMPIT

Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika Anyara sudah berdiri di depan kompor, menggoreng telur dadar sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar mertuanya yang masih tertutup rapat. Ia tahu betul, sebentar lagi pintu itu akan terbuka dan suara pertama yang akan ia dengar bukan "selamat pagi", melainkan komentar.

Benar saja. Pintu berderit, dan Ratih keluar dengan daster batik kebesarannya, langsung menuju meja makan tanpa basa-basi.

"Anyara, telurnya kok gosong begini pinggirnya? Ibu kan sudah bilang, api kecil kalau goreng telur. Ini bukan telur, ini arang."

"Maaf, Bu. Nanti saya goreng ulang," jawab Anyara, suaranya tenang, sudah terlatih tidak naik meski hatinya sedikit panas.

"Sudahlah, nggak usah diulang, mubazir. Makan aja apa adanya. Kamu ini ya, udah tiga tahun nikah sama Juned, masak telur aja masih belum becus."

Anyara hanya mengangguk, menaruh piring di depan Ratih, lalu kembali ke dapur. Dari balik pintu, ia mendengar suara motor Juned baru saja masuk garasi. Suaminya baru pulang dari mana? Bukankah semalam ia bilang lembur sampai pagi?

Juned masuk dengan wajah kusut, kemeja sedikit kusut juga, membawa aroma parfum yang bukan miliknya.

"Pagi, Bu," sapanya ke Ratih, lalu menoleh sekilas ke Anyara. "Pagi."

"Pagi juga," jawab Anyara singkat, matanya menatap kerah kemeja suaminya sebentar—ada bekas noda lipstik samar di sana, tapi ia buru-buru mengalihkan pandangan. Mungkin cuma noda saus, batinnya, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Ratih malah lebih dulu bersuara. "Juned, kamu kok pucat? Kecapean ya, Nak? Duh, ibu kasihan. Kerja keras banget buat nafkahin keluarga."

"Iya, Bu. Proyek kantor lagi padat," jawab Juned, duduk di kursi, langsung disodori teh hangat oleh ibunya sendiri—bukan oleh Anyara.

Anyara diam saja, kembali ke dapur untuk menggoreng telur baru sesuai permintaan mertuanya. Di sela kesibukan itu, ia teringat sesuatu.

"Mas," panggilnya pelan, "aku boleh minta uang buat beli baju kerja nggak? Bajuku yang lama udah pada tipis kainnya."

Juned menghela napas, seperti mendengar permintaan yang berat. "Baju lagi? Kamu kan baru beli bulan lalu."

"Itu buat lebaran, Mas. Yang ini beda, buat sehari-hari."

"Ya udah, nanti aku transfer. Tapi jangan mahal-mahal ya, ekonomi lagi susah."

Ratih menyela dari meja makan. "Anyara, kamu ini kok boros amat sih. Ibu dari muda cuma punya tiga baju, dipakai gantian aja, awet. Nggak kayak kamu, maunya baju baru mulu."

Anyara menahan senyum getir. Tiga baju katanya? Ia sendiri hanya mendapat jatah dua lembar baju setahun dari Juned, itu pun harus merengek dulu. Sementara di lemari Ratih, baju batik baru berjejer rapi setiap bulan, hadiah dari Juned yang katanya "biar Ibu nggak minder di pengajian."

"Iya, Bu," jawab Anyara singkat saja. Tidak ada gunanya berdebat.

Juned menghabiskan tehnya buru-buru. "Aku mandi dulu, ya. Siang ini ada meeting penting."

Begitu Juned masuk kamar mandi, Anyara buru-buru merapikan meja makan sementara Ratih masih duduk mengomentari cara Anyara mencuci piring—terlalu banyak sabun katanya, boros air.

Siang harinya, saat Anyara keluar sebentar untuk membeli bumbu dapur di warung dekat rumah, ia melewati kerumunan ibu-ibu di gang sebelah. Begitu langkahnya mendekat, obrolan mereka tiba-tiba melirih, lalu berubah jadi bisik-bisik yang sengaja tidak ditutupi rapat.

"Itu tuh, menantunya Bu Ratih. Katanya jarang keluar rumah, jarang dandan. Kasian ya, padahal suaminya kerja di perusahaan besar."

"Iya, aneh. Masa istri pejabat kantor kayak gitu penampilannya? Jangan-jangan emang pelit suaminya."

"Atau jangan-jangan dia yang nggak becus ngurus diri sendiri."

Anyara mempercepat langkah, pura-pura tidak mendengar, meski telinganya panas. Ia sudah terbiasa. Hampir setiap hari ada saja bisik-bisik serupa, entah soal penampilannya, entah soal rumah tangganya yang katanya "kelihatan aneh dari luar". Ia tidak pernah membalas. Percuma. Semakin dilawan, semakin ramai jadi bahan gosip.

Sampai di warung, ia hanya membeli bawang dan cabai secukupnya, menghitung uang belanja yang memang sudah pas-pasan, sisa dari jatah bulanan yang diberikan Juned—jumlahnya selalu sama setiap bulan, tak peduli harga di pasar naik atau tidak.

Malamnya, setelah semua pekerjaan rumah selesai dan Ratih sudah masuk kamar, Anyara duduk sendirian di teras belakang, menatap langit yang mendung. Ponselnya bergetar—transferan dari Juned, tapi jumlahnya jauh dari cukup untuk beli baju kerja yang layak.

Ia tidak mengeluh. Hanya menghela napas panjang, lalu mengetik pesan singkat.

"Makasih, Mas."

Balasan datang beberapa menit kemudian, singkat saja.

"Iya. Jangan boros."

Anyara meletakkan ponsel di sampingnya, menatap kosong ke arah pagar rumah. Entah kenapa, malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia tidak tahu bahwa jauh di sudut kota, di sebuah hotel berbintang, suaminya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita lain, tertawa lepas—tawa yang sudah lama tidak pernah ia dengar lagi di rumah ini.

Dan ia juga tidak tahu, bahwa dua hari lagi, di sebuah gang sempit tak jauh dari sini, ia akan menyelamatkan nyawa seorang pria—pria yang kelak akan mengubah jalan hidupnya selamanya.

Dua hari setelah malam mendung itu, Anyara diminta Ratih membeli obat maag di apotek dekat perempatan, agak jauh dari rumah karena apotek langganan Ratih sedang tutup. Ia berjalan kaki, menyusuri gang yang biasanya sepi di sore hari, sambil membawa kantong plastik berisi belanjaan tadi.

Baru beberapa langkah memasuki gang sempit di belakang minimarket, ia mendengar suara ribut—bentakan, lalu suara pukulan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Woy, mana dompetmu! Jam tangan itu juga, copot!"

Anyara mengintip dari balik tembok. Tiga pria berbadan besar mengepung seorang pria berjas rapi yang tampak kebingungan, badannya sudah menempel ke dinding, tas kerjanya sudah jatuh ke tanah.

"Saya... saya nggak bawa uang tunai banyak, tolong—"

"Alah, bohong! Jam tangan aja mahal begitu!"

Anyara tahu, seharusnya ia kabur dan lapor satpam kompleks. Tapi entah kenapa kakinya malah melangkah maju, dan mulutnya lebih cepat bergerak daripada otaknya.

"PAK RT! ADA MALING DI GANG BELAKANG MINIMARKET! CEPETAN, BAWA WARGA!"

Teriakan itu menggelegar, memantul di dinding-dinding gang sempit. Tiga pria itu langsung menoleh kaget, saling pandang.

"Anjir, ada yang lihat!"

"Kabur, kabur!"

Dalam sekejap, ketiganya berlari menjauh, meninggalkan pria berjas itu masih menempel di dinding dengan wajah pucat, napas terengah-engah. Anyara mendekat, masih dengan kantong plastik obat maag di tangan kirinya.

"Bapak nggak apa-apa?"

Pria itu—yang belakangan Anyara tahu bernama Hans—masih syok, matanya melirik ke arah gang tempat para preman kabur tadi. "Pak RT-nya... di mana?"

"Nggak ada," jawab Anyara santai, sambil membetulkan kerudungnya yang sedikit melorot. "Saya asal teriak aja. Lumayan, ampuh kan?"

Hans terdiam sesaat, lalu tertawa, meski masih terdengar agak gemetar. "Asal teriak? Serius?"

"Iya. Maling-maling itu kan nggak tahu Pak RT-nya ada beneran apa nggak. Yang penting mereka takut ketahuan banyak orang."

"Tapi kalau ternyata mereka nekat gimana? Bahaya, Mbak."

Anyara mengangkat bahu. "Ya makanya saya juga deg-degan. Tapi kalau saya diem aja, Bapak udah kena pukul duluan kayaknya."

Hans menunduk, memungut tasnya yang tadi jatuh, lalu memeriksa isi dompetnya—masih utuh, jam tangannya masih melingkar di pergelangan tangan. Ia menghela napas lega.

"Makasih banyak, Mbak. Beneran, saya nggak tahu harus gimana tadi. Kalau nggak ada Mbak..."

"Sama-sama. Tapi lain kali, kalau lewat gang sepi begini, jangan sendirian, Pak. Apalagi sore-sore gini."

"Nama saya Hans," ucapnya, mengulurkan tangan.

Anyara memandang tangan itu sebentar, lalu hanya tersenyum kecil tanpa menyambutnya. "Anyara. Maaf, saya buru-buru, mertua saya nunggu obat ini di rumah."

Hans menurunkan tangannya, agak canggung, tapi tidak tersinggung. "Oh, iya, silakan. Sekali lagi, makasih banyak, Mbak Anyara."

Anyara mengangguk, lalu berbalik melanjutkan langkahnya keluar gang. Beberapa meter kemudian, ia sempat menoleh sekilas—Hans masih berdiri di tempatnya, memandangi arah kepergiannya dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara syok, geli, dan sesuatu yang lain yang bahkan Hans sendiri belum bisa menamainya.

Sesampainya di rumah, Anyara langsung disambut omelan Ratih.

"Ke mana aja kamu? Lama banget! Ibu udah mules nih, maag ibu kambuh, kamu malah jalan-jalan!"

"Maaf, Bu, tadi ada sedikit kejadian di jalan," jawab Anyara, menyerahkan obat.

"Kejadian apa? Alah, paling mampir-mampir dulu ke mana. Udah, sana masak, laper Ibu."

Anyara tidak membantah, langsung ke dapur. Ia tidak menceritakan kejadian di gang tadi ke siapa pun—bukan karena ingin disembunyikan, hanya karena menurutnya itu bukan hal besar. Sudah jadi kebiasaannya, apa pun yang terjadi padanya, jarang ada yang benar-benar ingin mendengarkan.

Sementara itu, di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari gang tadi, Hans masih duduk termenung, tangannya memegang setir tapi belum juga menyalakan mesin.

Sekretarisnya menelepon, mengingatkan jadwal meeting sore. Hans menjawab asal-asalan, pikirannya masih tertinggal di gang sempit tadi—pada perempuan berkerudung yang berteriak memanggil "Pak RT" yang bahkan tidak ada, lalu pergi begitu saja seolah menyelamatkan nyawa orang adalah hal biasa.

"Anyara," gumamnya pelan, mengulang nama itu seperti mencoba mengingatnya baik-baik.

Ia tidak tahu kenapa, tapi entah bagaimana, sore itu terasa berbeda dari sore-sore biasanya.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!