Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
***
Deru mesin mobil pribadi milik Kenzo akhirnya berhenti di depan sebuah pekarangan rumah sederhana yang terletak di sudut tenang pinggiran kota. Jauh dari kebisingan jalan protokol dan megahnya gedung-gedung pencakar langit yang biasa mengurung hidup mereka, rumah dua lantai berdinding cat putih bersih dengan pagar kayu cokelat itu berdiri hangat di bawah naungan pohon rindang.
Kenzo turun lebih dulu, bergegas melangkah ke pintu samping untuk membukakan pintu bagi Alana. Dengan telaten, jemari tegapnya menyangga siku dan punggung Alana, membantu wanita yang tengah mengandung lima bulan itu turun dengan sangat hati-hati.
Alana melangkah pelan, matanya menyapu sekeliling pekarangan mungil yang ditumbuhi rumput hijau dan beberapa tanaman hias.
"Ini... rumah siapa, Mas?" tanya Alana pelan, menoleh menatap Kenzo yang sedang tersenyum tipis.
"Rumah kita, Alana," sahut Kenzo lembut. Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebutir kunci kuningan sederhana tanpa ukiran emas lambang keluarga Elard. "Aku membeli rumah ini tiga tahun lalu menggunakan bonus murni hasil investasiku sendiri... tanpa campur tangan uang atau nama besar Kakek. Dulu aku membelinya hanya sebagai tempat pelarian saat kepalaku penat oleh tekanan kantor. Tapi hari ini... rumah ini resmi jadi tempat tinggal kita."
Kenzo menuntun Alana melewati pintu kayu utama. Di dalam, interior rumah terasa begitu hangat dan lapang. Tidak ada lampu kristal raksasa yang dingin, tidak ada pilar marmer yang menjulang, dan tidak ada deretan pelayan yang berdiri kaku menundukkan kepala. Yang ada hanyalah sofa kain berwarna krem yang empuk, meja kayu sederhana, serta jendela-jendela besar yang membiarkan sinar matahari pagi masuk dengan bebas.
Alana mengelus perutnya yang membuncit halus, merasakan kedamaian ganjil yang belum pernah ia hirup selama tinggal di sangkar emas Mansion Elard.
"Rumahnya... hangat sekali, Mas," bisik Alana, dan untuk pertama kalinya, ada binar kebahagiaan yang sangat tulus di matanya.
Kenzo tersenyum lega, matanya berkaca-kaca menatap wajah istrinya. "Istirahatlah di sofa dulu, Alana. Punggungmu pasti pegal setelah perjalanan. Hari ini biar aku yang menyiapkan makan siang untuk kita."
Alana menatap Kenzo dengan kening berkerut halus. "Mas Kenzo mau memasak? Punggung Mas kan masih berbalut perban bekas cambukan semalam."
"Tidak apa-apa, perbannya masih menempel rapi," potong Kenzo mantap, menepuk dada bidangnya pelan meski rahangnya sedikit mengeras menahan nyeri tersembunyi. "Selama ini kamu selalu tersiksa dengan makanan mansion. Hari ini, aku yang akan memasakkan hidangan spesial untukmu dan anak kita. Kamu cukup duduk manis di sini."
Dengan penuh percaya diri, Kenzo melepas jas hitamnya, melipat lengan kemejanya hingga ke siku, lalu melangkah mantap menuju dapur bersih di area belakang.
Satu jam berlalu.
Dari ruang tengah, Alana yang tadinya memejamkan mata membalas ketenangan rumah mendadak mencium aroma ganjil yang merayap di udara. Bau hangus yang cukup tajam bercampur dengan kepulan uap hitam tipis mendadak membumbung dari arah dapur.
Uhuk! Uhuk!
Suara batuk parau Kenzo bergema, disusul bunyi dentang kuali yang bertabrakan dengan kompor.
Alana bergegas bangkit dari sofa, melangkah pelan menuju dapur. Begitu sampai di ambang pintu, pemandangan di hadapannya membuat Alana tak sanggup menahan kedutan di bibirnya.
Dapur bersih itu kini tampak seperti medan pertempuran kecil. Wajan porselen di atas kompor menyisakan potongan daging yang menghitam gosong, minyak goreng memercik di atas meja counter, dan telur yang pecah berantakan di samping talenan kayu. Kenzo berdiri tegap di depan kompor dengan sutil kayu di tangan, wajah tampannya yang biasa terpampang di majalah bisnis kini tercoreng jelak hitam tipis di pipi kirinya.
"Mas Kenzo... apa yang terjadi?" tanya Alana menahan tawa yang hampir meledak di dada.
Kenzo tersentak kaku, berbalik dengan raut wajah yang amat panik dan serba salah. Pria tegap itu mencoba menutupi wajan gosong di belakang tubuhnya.
"A-Alana! Kenapa kamu bangun?!" cetus Kenzo tergagap, suaranya yang biasa memimpin rapat dewan direksi kini bergetar malu. "Ini... aku sedang... mencoba membuat tumis daging dan sup sayur. Tapi sepertinya api kompor ini terlalu agresif... dan pisaunya terlalu tajam sampai potongannya tidak simetris..."
Alana mendekati kompor, melirik wajan yang menghitam dan panci sup yang kuahnya hampir habis menguap akibat kepanasan.
"Mas Kenzo... seumur hidup belum pernah memegang pisau dapur dan memasak, ya?" goda Alana pelan, menatap Kenzo dengan binar jenaka yang sudah berbulan-bulan hilang dari wajahnya.
Kenzo menunduk kaku, mengusap tengkuknya yang tak gatal dengan wajah memerah pasi. "Selama ini di mansion... semuanya selalu disajikan oleh tim koki. Aku pikir mengolah makanan sama seperti membaca laporan keuangan, tinggal mengikuti rumus..."
Alana tertawa kecil—sebuah suara tawa renyah yang begitu merdu hingga membuat Kenzo terpaku menatapnya.
"Memasak itu pakai perasaan dan insting, Mas, bukan rumus analisis pasar," ujar Alana seraya meraih sutil kayu dari tangan Kenzo secara lembut. "Sudah, Mas duduk saja di kursi makan. Biar saya yang lanjutkan. Kalau ditunggu Mas yang memasak, putri kita di dalam perut bisa kelaparan."
"Tapi punggungmu..."
"Punggung Mas yang lebih butuh istirahat," potong Alana lembut namun tegas, menuntun Kenzo duduk di kursi kayu dapur. "Duduk di sana, perhatikan bagaimana caranya memasak yang benar."
Dengan gerakan yang amat telaten dan terampil, Alana mematikan kompor, membuang bahan yang gosong, lalu membersihkan meja counter dalam hitungan menit. Tangan dinginnya mengupas bawang, memotong sayuran dengan irisan rapi, dan menumis bumbu sederhana yang seketika menyebarkan aroma harum gurih yang menggugah selera di dalam rumah.
Kenzo duduk di kursi makan, bertopang dagu menatap punggung Alana yang bergerak lincah. Dadanya bergemuruh oleh kehangatan yang luar biasa. Di dalam rumah mungil tanpa kemewahan harta dinasti ini, Kenzo merasakan kebahagiaan murni yang tak pernah bisa dibeli oleh puluhan triliun saham Elard Corp.
**
Tiga minggu berlalu sejak kepindahan mereka.
Di balik kehangatan kehidupan baru mereka di rumah mungil tersebut, bayang-bayang kejam Kakek Hendra dan Ayah Bramantyo mulai melancarkan serangan terselubung.
Di ruang kerja kecil lantai atas, Kenzo duduk di depan laptop pribadinya. Dahi pria tegap itu berkerut dalam, matanya menatap tajam ke arah layar yang menampilkan beberapa email penolakan kerja sama dari para investor dan kolega bisnis senior.
Bip.
Telepon genggam Kenzo berdering. Nama Aris, mantan sekretaris pribadinya di Elard Corp yang masih setia, tertera di layar. Kenzo segera menggeser tombol hijau.
"Bagaimana, Aris?" tanya Kenzo langsung dengan suara berat yang menekan.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Kenzo," suara Aris terdengar cemas dan berbisik dari seberang telepon. "Saya sudah mencoba menghubungi lima konsorsium investasi di Jakarta dan Surabaya untuk mendanai perusahaan rintisan baru yang Anda ajukan. Tapi... Tuan Besar Hendra dan Ayah Anda telah menerbitkan 'daftar hitam' tidak resmi ke seluruh asosiasi pengusaha dalam negeri."
Kenzo mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih pasi. "Mereka mengancam akan memutus hubungan bisnis dengan siapa pun yang berani menyuntikkan dana padaku?"
"Benar, Tuan," sahut Aris prihatin. "Tuan Besar Hendra bersumpah akan mencabut lisensi dan memboikot semua perusahaan lokal yang mencoba membantu Anda. Mereka ingin memastikan Anda tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri di dalam negeri, agar Anda menyerah dan merangkak kembali ke mansion."
Kenzo menghela napas panjang, meremas pelipisnya yang mendadak terasa pening. "Begitu rupanya... Kakek benar-benar ingin mematikan semua jalanku di tanah air."
"Tuan Kenzo... lalu bagaimana dengan operasional harian Anda dan biaya persiapan persalinan Nyonya Alana nanti? Tabungan pribadi Anda yang tersisa di bank swasta lokal juga berisiko dibekukan jika pihak Elard mengajukan gugatan hukum perdata," ujar Aris cemas.
Kenzo memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan seluruh fokus pikiran strategisnya. Pria yang pernah menaklukkan bursa saham internasional itu menyunggingkan senyum dingin yang penuh keberanian.
"Kakek dan Ayah pikir mereka memegang seluruh kendali dunia ini hanya karena menguasai pasar dalam negeri," ujar Kenzo dengan nada suara yang mantap dan tegas. "Aris, ubah strategi kita sekarang juga. Jangan lagi menyentuh pasar atau jaringan networking domestik."
"Maksud Tuan Kenzo...?"
"Buka kembali jalur networking internasional yang kubangun saat aku menyelesaikan program master di London dan Singapura dulu," tegas Kenzo, matanya berkilat penuh tekad. "Hubungi Tuan Robert dari konsorsium Eropa dan Alex dari perusahaan manajemen aset di Inggris. Jaringan bisnis luar negeri berada di luar jangkauan hukum dan intervensi politik Elard Group. Ayah dan Kakek tidak punya taring untuk menekan para investor asing itu."
"Siap, Tuan! Saya akan langsung menyiapkan proposal manajemen investasi internasional dan mengirimkannya malam ini juga!" sahut Aris penuh semangat.
"Bagus. Pastikan kerahasiaannya terjaga rapat. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menggagalkan masa depan keluarga kecilku," balas Kenzo sebelum mengakhiri panggilan.
Kenzo menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, menghela napas lega. Punggungnya yang sudah mulai menyembuh tak lagi terlalu menyiksa, namun perjuangan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi Alana dan calon putri mereka baru saja dimulai.
Pintu ruang kerja terdorong buka secara perlahan.
Alana melangkah masuk membawa nampan berisi secangkir teh chamomile hangat dan beberapa keping biskuit gandum. Wanita itu berjalan mendekat, meletakkan nampan di atas meja kerja Kenzo, lalu menatap wajah suaminya yang nampak lelah.
"Ada masalah dengan usaha barumu, Mas?" tanya Alana pelan, jemari tangannya yang lembut mengusap pundak Kenzo dari belakang.
Kenzo menggenggam tangan Alana di pundaknya, menariknya pelan lalu mencium punggung tangan istrinya dengan penuh kasih.
"Sedikit hambatan dari Kakek dan Ayah," aku Kenzo jujur tanpa ada yang disembunyikan. "Mereka memblokir semua akses bisnis dan networking-ku di dalam negeri. Mereka pikir itu bisa membuatku menyerah dan membawamu kembali ke neraka itu."
Alana menatap mata Kenzo dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada raut ketakutan atau panik di wajah cantiknya.
"Lalu apa yang akan Mas Kenzo lakukan?" tanya Alana lembut.
"Aku sedang mengalihkan seluruh jaringan kerja sama ke investor luar negeri," sahut Kenzo mantap, menatap Alana dengan sorot mata yang sarat akan janji murni. "Aku tidak akan biarkan mereka menyentuh hidup kita lagi, Alana. Aku akan bekerja dua kali lebih keras demi memastikan kamu dan putri kita hidup aman dan bahagia di rumah ini."
Alana tersenyum hangat. Ia melangkah satu tingkat mendekat, membawa tangan Kenzo yang hangat untuk diletakkan tepat di atas perutnya yang kini merespons dengan sundulan halus dari dalam rahim.
"Putri kita baru saja menendang, Mas," bisik Alana manis. "Dia bilang... dia percaya sama ayahnya."
Kenzo terperanjat haru, merasai getaran halus kehidupan kecil di dalam rahim istrinya. Air mata rasa syukur menetes tipis di pipi sang CEO, memeluk pinggang Alana dengan kehangatan yang memutus penuh seluruh rantai kelam masa lalu mereka.
Bersambung...
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣