NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Beres makan, Aira tidak lupa mengambilkan nasi dan lauk buat Bapaknya yang sedang terbaring sakit. Pas menyuapi Bapak, matanya tanpa sengaja melihat botol obat di atas meja yang ternyata sudah melompong kosong. Ringsek seketika hati Aira. Masalahnya, dia lagi tidak memegang uang sepeser pun buat beli resep baru.

Napasnya tertahan. Dia memberanikan diri. Tadi siang kan Bu Ismi habis mengantongi uang lumayan banyak dari Devan gara-gara hasil jualan kue.

*Ibu kan habis dikasih uang banyak sama Mas Devan. Bisalah ya aku minta sedikit saja buat beli obat Bapak.* batin Aira, mencoba membuang rasa ragunya.

Aira melangkah pelan menemui ibunya. "Bu, Aira minta uang dong buat beli obatnya Bapak. Kasihan, obat Bapak udah habis..."

Bu Ismi langsung berkacak pinggang. Matanya mendelik tajam. "Enak saja kamu main minta duit! Lagian ngapain sih beliin obat buat Bapakmu terus? Percuma, nggak bakal sembuh! Penyakitan ya tetap aja penyakitan, cuma bisa bikin susah keluarga!"

"Ya ampun, Bu... Ibu kan tadi dapet uang lumayan dari Mas Devan. Aira cuma minta satu lembar aja kok, nggak bakal ngurangin banyak."

"Gak ada! Satu lembar warna merah itu duit gede, ya! Sekarang ini Ibu lagi butuh banyak uang. Kamu tau sendiri, adekmu Karin sebentar lagi mau nikah. Biayanya membengkak!" omel Bu Ismi tanpa belas kasihan.

"Kamu itu nanti juga harus nyumbang buat nikahan adekmu! Lihat tuh Bapakmu, harusnya jadi kepala keluarga yang tanggung jawab, malah cuma bisa tidur-tiduran nggak jelas. Ibu harus banting tulang sendirian! Harusnya kamu kasihan sama Ibu, bukannya malah ngerogoh kantong Ibu terus!"

Bu Ismi makin gencar mencerca. "Lagian kamu kan udah punya suami! Sana minta sama suamimu! Kerja kok cuma setengah hari terus pulang, dasar pemalas! Bisanya cuma numpang tidur!"

Mulut Aira terkunci rapat. Dadanya sesak. Percuma. Mau selurus apa pun alasannya, di mata Ibunya cuma Siska dan Karin yang berharga.

*Kok Mas Devan nggak balik kerja lagi, ya?* batin Aira, berusaha mengalihkan rasa nyeseknya sambil berjalan menuju kamar.

Begitu pintu kamar dibuka, kelihatan Devan lagi santai selonjoran di kasur sambil mainin HP-nya.

"Loh, Mas Devan nggak balik kerja lagi?" tanya Aira heran.

Devan menoleh sebentar. "Nggak. Kerjaan aku hari ini udah beres kok."

"Owh..." Aira cuma ber-oh ria.

Devan yang baru sadar kalau belum ngasih uang jatah istri langsung bangkit. Dia merogoh dompet tebalnya, memilah-milah, lalu menarik sepuluh lembar uang merah alias satu juta rupiah, lantas mengulurkannya ke Aira.

"Nih, buat kamu."

Aira melotot. Matanya berkedip beberapa kali, menatap bergantian antara tumpukan uang itu dan wajah suaminya. "I... ini buat Aira, Mas?"

Devan terkehid pelan. "Iyalah. Kamu kan sekarang istriku, udah jadi tanggung jawabku penuh. Ya wajib buat aku nafkahin kamu."

"Tapi... Mas Devan bisa dapet uang sebanyak ini dari mana?" Aira makin curiga. Setahunya, gaji buruh bangunan kan nggak seberapa.

Devan terkekeh gemas melihat ekspresi polos istrinya. "Ya dari kerjalah. Masa iya dari nyopet? Udah, buruan ambil."

"Alhamdulillah... terima kasih ya, Mas." ucap Aira tulus, menerima uang itu dengan tangan agak gemetar. "Oya Mas, Aira boleh pakai sebagian uang ini buat beli obatnya Bapak?"

"Boleh dong. Kenapa harus izin? Obat Bapak emang udah habis?" Devan menatap Aira lembut.

"Iya, Mas..."

"Ya udah, kamu beli aja pakai uang itu. Sekalian sisanya buat belanja kebutuhan dapur ya."

Senyum Aira langsung mengembang lebar. Hatinya yang tadi mendung mendadak cerah seketika. Tapi, tetap aja ada satu hal yang mengganjal di kepalanya: *Uang dagangan kue tadi siang.* Mana mungkin kue segitu banyak bisa menghasilkan satu juta pas?

Karena nggak kuat menahan penasaran, Aira akhirnya nekat bertanya. "Mas... aku masih bingung soal uang jualan kue tadi. Kalaupun kuenya laku semua, hasilnya nggak akan nyampe sejuta. Jujur ya Mas, itu sebenarnya uang apa?"

Devan mendesah kasar, lalu menggaruk tengkuknya yang nggak gatal. Kena tebak juga akhirnya. "Iya deh... jujur, uangnya sebenarnya aku tambahin sendiri. Biar Ibu kamu nggak ngomel-ngomel terus ke kamu."

Aira malah melotot kaget. *Jangan-jangan Mas Devan terpaksa nguras uang tabungannya sendiri?* pikirnya panik.

"Mas, harusnya kamu nggak perlu sampai pakai uang tabungan begitu. Mending uangnya disimpan baik-baik. Ibu kan selalu minta semua hasil jualan kue, kalau kamu tambahin terus, kita yang nggak bakal punya tabungan!" nasehat Aira penuh perhatian.

"Iya, paham." jawab Devan singkat sambil tersenyum tipis.

Aira cuma bisa mengelus dada. Dia ingin sekali punya tabungan sendiri yang menumpuk, supaya Ibu dan kedua saudaranya berhenti memandangnya sebelah mata. Tapi ya gimana, tiap kali jualan kue, Bu Ismi selalu memotong jatahnya semena-mena.

...****************...

Malam harinya, suasana meja makan terasa makin memanas. Semua anggota keluarga sudah berkumpul. Kaki Aira sendiri sudah mendingan, tidak begitu sakit kalau dipakai berjalan.

Aira menatap kedua saudaranya yang asyik main HP. "Karin, Mbak Siska... sempatin dong tengok Bapak sebentar ke kamar."

Karin langsung memutar bola matanya malas. "Ya ampun, Mbak! Aku ini sibuk, kamu nggak lihat aku kerja dari pagi sampai sore? Lagian kan udah ada kamu di rumah!"

"Tau nih. Aku juga sibuk ya." sahut Siska tanpa beban.

"Cuma sebentar aja kok... kasihan Bapak. Kalian kan anak Bapak juga." desak Aira, gemas sendiri melihat tingkah saudara-saudaranya yang sama sekali tak punya simpati.

"Sudah, sudah! Cuma gitu aja diributin sih, Ra!" celetuk Bu Ismi memotong pedas. "Karin sama Siska itu udah capek banting tulang seharian. Apalagi Siska lagi hamil, makin gampang letih. Nggak kayak kamu yang kerjaannya cuma leha-leha di rumah!"

Bu Ismi lalu melirik Devan dengan tatapan menyuruh. "Eh, Devan! Kamu jangan cuma numpang makan gratis ya di sini. Itu air galon habis, sana angkatin!"

"Iya, Bu." sahut Devan tenang. Biarpun mertuanya ketus setengah mati, Devan masih menghormati Bu Ismi.

"Biarin Karin sama Siska yang ambil makan duluan. Kasihan mereka capek. Siska juga butuh makanan bergizi buat bayinya." lanjut Bu Ismi menengahi. Devan hanya mengangguk santai, tak mau ambil pusing.

"Wah, lauknya enak banget nih!" seru Karin saat melihat rendang terhidang di meja.

Tanpa pikir panjang, Karin langsung mengambil rendang dengan porsi gila-gilaan, ditambah sambal cumi, ayam, dan ikan bakar. Rakus sekali, sampai tak memikirkan orang lain. Siska dan suaminya, Beni, juga nggak mau kalah. Mereka mengeruk sambal cumi dan rendang tanpa ampun. Sisa rendang yang tinggal sedikit langsung disambar Bu Ismi.

Walhasil? Aira dan Devan cuma dapat sisanya. lauk seadanya yang bikin elus dada.

"Kalian berdua makan seadanya aja ya. Kalau mau makan enak, ya kasih jatah uang belanja lebih ke Ibu!" cetus Bu Ismi tanpa rasa bersalah.

Aira yang sudah tahan-tahan akhirnya naik darah juga. "Ya Allah, Bu! Uang hasil jualan kue Aira kan udah sering Ibu ambil semua! Lagian tadi siang uangnya udah ditambahin sama Mas Devan, padahal hasil jualan kue aslinya cuma dapat 500 ribu!"

Bu Ismi bukannya merasa bersalah, malah makin melotot. "Ya harusnya memang begitu! Kalau nggak ditambahin, mana cukup duit segitu buat makan kita sekeluarga? Lagian kamu itu udah punya suami. Udah untung kalian boleh tinggal di sini gratis! Coba kalau ngontrak, kelimpungan kamu bayar sewa!"

"Bener tuh kata Ibu!" timpal Karin sambil mengunyah rendangnya. "Mbak Aira sama Mas Devan kan udah numpang di sini gratis, ya tahu diri dikit napa."

"Jangan mau makan gratisan doang dong. Tambahin tuh duit belanja Ibu. Bayangin kalau kalian tinggal sendiri, bayar kontrakan aja udah bikin pusing." tambah Siska ikut-ikutan menyudutkan.

Dada Aira makin sesak. *Padahal selama ini aku yang selalu ngasih uang ke Ibu.* batinnya miris. Karin yang katanya kerja kantoran malah hampir nggak pernah menyetor uang ke Bu Ismi, duitnya habis cuma buat gaya hidup dan hura-hura. Siska sama Beni juga sama aja, udah berkeluarga tapi masih numpang hidup, makan tinggal makan, dan jarang keluar uang.

"Jangan lupa habisin makanannya terus cuci semua piring kotor di dapur!" perintah Bu Ismi tegas, lalu ngeluyur pergi gitu aja diikuti Karin dan Siska. Dari dulu, mereka bertiga memang alergi pegang pekerjaan rumah.

Aira mendesah napas berat, mulai merapikan piring-piring bekas saudara-saudaranya.

"Biar aku bantu kamu cuci piring ya." suara Devan terdengar lembut di sampingnya.

Devan benar-benar kasihan melihat istrinya diperlakukan layaknya anak tiri. Aira dituntut mengerjakan seluruh pekerjaan rumah yang tak ada habisnya sendirian hanya karena dianggap tidak punya karier mentereng, sementara kedua saudaranya selalu dimanja setengah mati.

Aira menatap Devan, merasa tak enak hati. "Nggak usah, Mas. Ini biar Aira aja yang beresin, udah biasa kok."

"Nggak apa-apa, kita kerjain bareng-bareng biar cepat beres. Kalau kamu sendirian, nanti kamu capek," ucap Devan sambil tersenyum manis dan mengambil alih tumpukan piring.

Perlakuan sederhana itu sukses bikin dada Aira berdesir hangat. Sebuah ukiran senyum tipis terbit di bibirnya.

*Ya Tuhan... terima kasih karena Engkau sudah mengirimkan suami yang sebaik ini. Sepertinya Bapak benar, mungkin Mas Devan memang jodoh yang dipersiapkan untukku. Dan Bagas... dia memang bukan jodohku.* batin Aira, benar-benar sudah mengikhlaskan Bagas yang berselingkuh dan memilih Karin.

Aira justru merasa sangat bersyukur. Biarpun Devan bukan pria kaya raya bergelimang harta seperti Bagas, perhatian dan ketulusan suaminya ini jauh lebih berharga dari apa pun.

**(Bersambung)**

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor😍😍😍😍
Sri Supriatin
Ooh Raka tuh adiknya Devan 🤭 pasti si bp mo manfaatin... Ati2 Devan
Sri Supriatin
Untung ada Aira sm Devan, pa Bambang ke tolong 🙏🙏🙏
Adinda
kalau bapakmu sehat suruh cerai aja sama ibumu Aira daripada bapakmu mati mendadak punya bini model iblis
Adinda
lebih baik pisah rumah daripada ditindas
Adinda
terlalu lemah
Adinda
pindah aja ajak bapakmu biarin si benalu kelaparan biar tau rasa
Adinda
pisah rumah aja bawa bapakmu Aira
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
iya aira sekalian bawa pulang kerumah suami kamu
Sri Supriatin
Untung Aira langsung ke RS.... Alhamdullilah pa Bambang ke urus 🙏🙏🙏
Sri Supriatin
kasian.pa Bambang, semoga cepat tertanganin 🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Wah senengnya Devan mau bikin pesta pernikahan... Rezeki Aira🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bener kt bp mu Karin, pasti bakal nyesel kan🤭🤭🤣🤣
Nenk Shila
knp nggk keluar aja sih, devan ajak istrimu tinggal d luar hadeuuh lemah
Sri Supriatin
Sorry Aira salah typo... Tks double upnya thor🙏🙏
Sri Supriatin
Biasa yg kaya setengah2 ngk ngehargai status, kel oma Devan mah luar biasa... Selamat Aria diterima tulus sm oma 🙏🙏💪💪
Sri Supriatin
Kereeen si Devan 👍👍💪💪
Sri Supriatin
Tambah seru thor, double up dong🙏🙏
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
semangat thor🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
Bagus Aria keluar aja kan Devan sudah ngajak biar tau rasa kalau Devan mapan 👍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!