NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEKANISME KAPAL LAUT DI ANJUNGAN RESTORAN

Ketika kapal laut lepas dari pelabuhan, berangkat.

Tuut... tuut... tuuuut... Bunyi klakson kapal KM Tampomas yang besar itu panjang sekali, memecah langit sore di Teluk Bayur yang sudah mulai gelap. Bunyinya berat, dalam, seperti suara kerbau besar. Asap hitam tebal keluar dari cerobong asap kapal yang tinggi.

Jam menunjukkan jam delapan malam tepat. Lampu-lampu Pelabuhan Teluk Bayur yang kuning mulai terlihat kecil dari kejauhan.

Kapal itu bergetar hebat, bergetar... bergetar... dug... dug... dug... Mesin diesel raksasa di perut kapal mulai hidup. Lantai besi palka ekonomi tempat ratusan perantau Minang menggelar tikar plastik kasar itu bergetar, bergetar seperti gempa kecil.

Arya Arsyad Sikumbang, 12 tahun, yang jam Seiko kebesarannya masih diikat karet gelang, yang dari tadi duduk di atas tikar plastik di palka dengan koper kayu cokelatnya dan truk kayu surian kecil pemberian Arlan di genggamannya, terkejut. Tubuhnya berguncang karena getaran mesin. Matanya yang dari tadi takjub melihat lautan luas untuk pertama kalinya seumur hidupnya dari Pande Sikek yang hanya punya sungai kecil di bawah jembatan bambu, kini membelalak lebih lebar.

"Uwo Ali... Uwo... kapalnyo bajalan... kapalnyo bagoyang..." kata Arya dengan suara pelan, takut tapi takjub, ia memegang erat tangan Uda Andi, kakaknya yang 19 tahun calon mahasiswa Fakultas Hukum UI Salemba.

Andi Rajo Alam Sikumbang yang juga baru pertama kali naik kapal laut besar seumur hidupnya, yang amplop cokelat surat lulus Fakultas Hukum UI Salemba masih ia peluk erat di dadanya, juga takjub. Ia yang pandai menghafal pasal-pasal UUD 1945 dengan lidi dan cengkeh di bawah petromaks, kini tidak tahu harus menghafal apa untuk menghentikan getaran kapal ini.

Di sebelah mereka, Uwo Ali Bin Rais Payobadar beserta istrinya, Etek Upik, yang masih mabuk laut. Etek Upik wajahnya pucat pasi, dari tadi siang mual karena guncangan pick-up plat B hijau tua di jalan lintas Sumatera yang berlobang-lobang, kini mualnya semakin menjadi karena goyangan kapal yang goyang... goyang... di atas lautan lepas. Ia berbaring di pangkuan Uwo Ali, memejamkan mata, memegang perutnya.

Uwo Ali, Ali Bin Rais Payobadar, pengusaha bengkel karoseri 30 karyawan di Cakung yang sudah 17 tahun merantau pulang pergi Teluk Bayur - Tanjung Priok dengan kapal KM Tampomas ini, sudah biasa. Ia tersenyum melihat kedua kemenakan kesayangannya yang takjub dan sedikit takut itu.

"Sudah... sudah bajalan, Uda Andi, Buyuang Arya... kapal lah lepas dari Pelabuhan Teluk Bayur... kini kito lah di ateh Samudera Hindia... mangarungi lautan lepas manuju Jakarta... 24 jam di ateh lautan..."

Tidak lama setelah kapal lepas dan mulai mengarungi lautan lepas yang gelap dan luas, dengan ombak yang mulai besar, seorang ABK kapal, Anak Buah Kapal, dengan baju seragam biru tua dan topi putih, datang ke palka ekonomi yang pengap dan bau solar itu. Ia membawa senter besar.

"Pak Ali... Pak Ali nan plat B hijau dari Cakung... mari, Pak... Bapak dan keluarga dipersilakan ka anjungan palka, ka kamar palka anjungan kapal laut lepas... Kapten sudah siapkan... biar ibu yang mabuk laut bisa beristirahat di kamar, tidak di palka ekonomi yang pengap ko..."

Ternyata, Uwo Ali, sebagai pengusaha karoseri yang sering mengirim truk-truk karoseri buatannya dari Cakung ke Padang lewat kapal ini, kenal baik dengan ABK dan Kapten kapal. Ia sudah memesan kamar palka anjungan jauh-jauh hari lewat telepon di Kantor Pos Pasar Baso sebelum berangkat dari Pande Sikek.

Uwo Ali, Etek Upik yang masih mabuk laut dan pucat, Andi Rajo Alam, dan Arya Arsyad Sikumbang pun akhirnya sampai di anjungan palka kapal, di kamar palka anjungan kapal laut lepas yang diantar oleh ABK kapal itu.

Kamar palka anjungan itu jauh lebih bagus dari palka ekonomi yang pengap. Kamar itu kecil, tapi ada dua tempat tidur tingkat dari besi, ada jendela bulat besar yang bisa melihat lautan lepas yang gelap dan luas, ada kipas angin kecil yang berputar, dan ada lampu neon yang terang, bukan lampu minyak tanah seperti di Pande Sikek. Lantainya tidak bergetar sehebat di palka ekonomi.

Mereka berempat pun beristirahat di kamar palka anjungan itu, melepas penat 11 jam perjalanan darat dari Pande Sikek jam enam pagi sampai Teluk Bayur jam lima sore, ditambah satu jam antrian padat membeli tiket kapal laut di loket pelabuhan yang berdesak-desakan.

Etek Upik langsung berbaring di tempat tidur bawah, masih mual, masih pucat, memejamkan mata. Uwo Ali duduk di samping istrinya, mengusap kepala istrinya. Andi dan Arya duduk di tempat tidur atas, melihat keluar jendela bulat, melihat lautan lepas yang gelap gulita, hanya ada cahaya bulan purnama yang memantul di atas ombak yang besar, dan suara mesin kapal yang masih bergetar, dug... dug... dug... di bawah kaki mereka.

Setelah hampir satu jam beristirahat di kamar palka anjungan, melepas penat, Etek Upik sudah agak baikan, sudah tidak terlalu mual karena kipas angin dan karena kamar yang tidak terlalu bau solar, Uwo Ali Bin Rais Payobadar pun mengajak berjalan-jalan ke arah restoran kapal di anjungan atas.

"Uda Andi, Buyuang Arya... ayolah... kito jalan-jalan ka anjungan ateh, ka restoran kapal... di sinan ado makanan angek... Etek Upik lah agak baikan... kito makan malam di restoran kapal, biar kalian tau raso makan di ateh kapal laut lepas yang bagoyang..."

Andi dan Arya yang dari tadi hanya makan bekal camilan keripik singkong balado dan lemang ketan dan Fanta orange pemberian Uwo dan Etek di warung-warung pinggir jalan, langsung mengangguk senang. Perut mereka sudah lapar lagi setelah makan siang Gulai Kepala Ikan Kakap Merah di Rumah Makan Padang Sari Rasa tadi siang.

Mereka berempat berjalan keluar dari kamar palka anjungan, naik tangga besi yang sempit dan bergoyang, goyang... goyang... karena ombak lautan lepas, menuju anjungan atas, menuju restoran kapal.

Restoran kapal di anjungan atas itu bagus sekali, seperti rumah makan Padang besar di Jakarta, tapi lantainya bergoyang. Meja-mejanya dari kayu yang dipaku ke lantai biar tidak jatuh kalau kapal bergoyang karena ombak. Lampu-lampunya neon terang benderang, jauh lebih terang dari dua lampu petromaks di rumah papan Pande Sikek yang harus dipompa setiap jam, ces... ces... Di luar jendela restoran, terlihat lautan lepas yang gelap, luas, tak berujung, dengan ombak besar yang putih.

Mereka duduk di meja dekat jendela. Pelayan restoran kapal datang, seorang pemuda Bugis dengan baju putih.

Uwo Ali memesan makanan malam istimewa untuk kedua keponakan kesayangannya yang baru pertama kali makan di atas restoran kapal laut lepas. Nasi putih hangat, gulai ikan tuna besar, ayam goreng tepung, telur dadar tebal, dan teh manis hangat untuk Etek Upik yang masih mual.

Sambil makan malam di atas restoran kapal laut yang bergoyang pelan itu, dengan suara mesin diesel raksasa di perut kapal yang masih terdengar dug... dug... dug... sampai ke anjungan atas, Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun, yang dari tadi diam dan hanya melihat lautan, yang tangan kecilnya masih memegang truk kayu surian pemberian Arlan, yang jam Seiko kebesarannya masih berdetak tik... tik... tiba-tiba melahap hidangan ayam goreng tepungnya dengan lahap, lalu ia bertanya dengan suara polos anak kampung Pande Sikek yang baru lulus SMP Danem 42, pertanyaan yang sangat cerdas untuk anak umur 12 tahun.

Arya menatap Uwo Ali Bin Rais Payobadar dengan mata berbinar-binar, mata anak yang suka bongkar pasang guci besi berminyak dengan Mamak Usman di Pos Satu.

"Uwo Ali... Uwo..." kata Arya dengan suara pelan tapi jelas, di antara suara piring dan suara ombak dan suara mesin kapal. "Buyuang Arya ingin batanyo, Uwo..."

"Bagaimana mekanisme kerja kapal laut ko bisa bajalan mangarungi samudera lautan lepas nan luweh dan dalam ko, Uwo? Kapal ko gadang bana, labiah gadang dari 100 rumah papan ayah di Pande Sikek... tapi kok bisa bajalan di ateh aia... indak tenggelam... padahal ayah pernah buek rakit dari kayu surian di sungai di bawah jembatan bambu, rakit ayah tenggelam kalau diisi duo urang... tapi kapal ko diisi ratusan urang, diisi truk-truk gadang, diisi pick-up plat B hijau Uwo, kok indak tenggelam dan bisa bajalan kancang mangarungi lautan lepas... baa caronyo, Uwo?"

Pertanyaan itu membuat Andi Rajo Alam yang 19 tahun calon mahasiswa Hukum UI yang sedang makan gulai ikan tuna, berhenti makan. Etek Upik yang masih mual juga berhenti minum teh manis hangatnya. Mereka berdua menatap Arya yang 12 tahun itu dengan takjub. Pertanyaan anak 12 tahun yang baru pertama kali melihat kapal laut, tapi pertanyaannya seperti pertanyaan mahasiswa teknik mesin.

Uwo Ali Bin Rais Payobadar tersenyum lebar mendengar pertanyaan Arya Arsyad Sikumbang itu. Senyum bangga, senyum bahagia seorang Uwo yang melihat api kecerdasan mesin di mata kemenakan bungsunya yang 12 tahun itu, api yang sama seperti api di matanya sendiri waktu umur 12 tahun dulu di Pande Sikek sebelum merantau jadi kuli las di Tanjung Priok.

Uwo Ali meletakkan sendoknya, ia menatap Arya dalam-dalam.

"Ha ha ha... Buyuang Arya... Buyuang Arya... pertanyaan ang rancak bana, Nak... pertanyaan nan indak pernah ditanyakan urang Pande Sikek salamo Uwo hiduik... baru ang, umur 12 tahun, nan batanyo mode itu..."

"Baiklah, Uwo akan jawab sesuai jo apo nan Uwo tau salamo 17 tahun jadi tukang las dan jadi pengusaha karoseri di Cakung, yang tiap hari pegang besi dan mesin..."

Uwo Ali menarik napas, ia mencoba menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana, bahasa bengkel Cakung, bukan bahasa insinyur.

"Buyuang Arya, danga kan Uwo... semua mekanisme gerak kapal, mobil pick-up plat B hijau Uwo ko, dan semua alat transportasi itu, baik di darek, di lauik, maupun di udaro, menggunakan alat yang disebut mesin, Nak..."

"Mesin itu adalah jantungnya, Nak... kalau manusia punyo jantung untuak iduik, maka kapal, mobil, truk, pesawat, punyo mesin untuak bajalan..."

"Setiap mesin bekerja sesuai apa fungsinya, Buyuang... mesin mobil pick-up Uwo fungsinya untuak memutar roda ban, supayo pick-up bisa bajalan di ateh jalan lintas Sumatera nan ba debu dan ba lobang-lobang tu... mesin kapal laut KM Tampomas ko fungsinya untuak memutar baling-baling di bawah kapal ko, baling-baling nan gadang sarupo kipas angin raksasa di dalam aia, supayo kapal bisa bajalan mangarungi samudera lautan lepas..."

"Karena di dalamnya mesin, Nak... ada bagian-bagian yang disusun sesuai dengan kondisi dan penempatannya, yang disusun rapi oleh insinyur-insinyur pandai dari Jerman dan Jepang..."

"Di dalam mesin diesel raksasa kapal ko yang berbunyi dug... dug... dug... di bawah kaki kito ko, ada piston nan naik turun, ada stang piston, ada kruk as, ada klep, ada injektor solar... solar yang dibakar di dalam piston tu menghasilkan tenaga ledakan, ledakan tu mendorong piston naik turun, piston mendorong kruk as berputar, kruk as memutar as panjang yang sampai ke belakang kapal, as tu memutar baling-baling di dalam aia lauik, baling-baling mendorong aia lauik ka belakang, dan aia lauik mendorong kapal ka depan... itu mekanisme kerjanya, Buyuang... samo jo sepeda kayuh... kaki ang mangayuh pedal, pedal memutar rantai, rantai memutar roda belakang, roda belakang mendorong tanah, dan sepeda bajalan..."

"Jadi kapal ko indak tenggelam karano di dalam kapal ko ado rongga-rongga udara yang besar, yang membuat kapal ko ringan di dalam aia, sarupo bola plastik di dalam ember... bola plastik indak tenggelam karano di dalamnyo ado udara... begitu juo kapal ko..."

Penjelasan Uwo Ali itu sederhana, bahasa bengkel Cakung, tapi sangat jelas untuk anak 12 tahun yang suka bongkar guci besi.

Arya mendengarkan dengan mata berbinar-binar, mulutnya terbuka, ayam goreng tepung di piringnya lupa dimakan. Ia paham. Ia membayangkan piston naik turun di dalam perut kapal yang bergetar dug... dug... di bawah kakinya.

Percakapan mereka di restoran kapal di anjungan atas yang bergoyang itu, tentang mekanisme kerja kapal laut, tentang mesin, tentang piston dan baling-baling, didengar oleh seseorang di meja sebelah.

Seorang laki-laki tua, umur sekitar 55 tahun, kulitnya hitam legam terbakar matahari lautan, rambutnya sudah beruban, memakai seragam putih Kapten Kapal dengan topi kapten yang ada jangkar emasnya, dengan kumis tebal. Ia adalah Kapten Kapal KM Tampomas itu sendiri, keturunan Bugis, Makassar, yang sudah 30 tahun mengarungi lautan dari Sabang sampai Merauke.

Sang Kapten Kapal Laut yang keturunan Bugis, Makassar itu, yang dari tadi diam makan malam sambil mendengar percakapan Uwo Ali dan kemenakannya yang 12 tahun tentang mesin, tersenyum. Ia tertarik dengan kecerdasan Arya.

Ia berdiri dari mejanya, berjalan ke meja Uwo Ali, Etek Upik, Andi, dan Arya.

"Permisi, Pak Ali... Pak Ali dari Cakung, bengkel karoseri plat B hijau... saya Kapten Haji Daeng Mattoa, Kapten Kapal KM Tampomas ini, keturunan Bugis Makassar..." kata Sang Kapten dengan logat Bugis Makassar yang kental dan berat, suaranya seperti suara ombak.

Uwo Ali langsung berdiri, hormat, karena ia kenal Kapten itu.

"Siap, Kapten Haji... ini kemenakan-kemenakan ambo dari Pande Sikek, baru partamo kali naik kapal laut, ka Jakarta ka Fakultas Hukum UI Salemba dan ka STM Mesin Cakung..."

Sang Kapten Kapal lalu memperkenalkan diri kepada mereka berempat, kepada Uwo Ali, Etek Upik yang masih mual, Andi Rajo Alam, dan terutama kepada Arya Arsyad Sikumbang.

Sang Kapten duduk di kursi kosong di meja mereka. Ia menatap Arya yang 12 tahun yang jam Seikonya kebesaran itu dengan mata kagum.

"Anak muda... siapa namamu, Nak?" tanya Kapten Haji Daeng Mattoa kepada Arya dengan bahasa Indonesia logat Bugis.

"Arya, Om... Arya Arsyad Sikumbang, 12 tahun, dari Pande Sikek, baru lulus SMP Danem 42..." jawab Arya malu-malu tapi berani.

"Umur 12 tahun sudah bertanya bagaimana mekanisme kerja kapal laut bisa berjalan mengarungi samudera lautan lepas... pertanyaan bagus sekali, Nak... umur 12 tahun Om dulu masih main-main di pantai Losari Makassar, belum bertanya mesin..." kata Kapten dengan tawa keras, ha ha ha...

Sang Kapten Kapal Laut yang suka dengan kecerdasan Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun itu, yang melihat api mesin di mata Arya yang sama seperti api di matanya sendiri waktu kecil suka bongkar perahu Bugis, lalu berkata dengan ramah.

"Nak Arya... Om suka dengan kecerdasanmu... Om sudah 30 tahun jadi Nakhoda, jadi Kapten Kapal, mengarungi lautan dari Sabang sampai Merauke, dari Selat Malaka sampai Laut Arafuru... Om tau semua tentang mesin kapal ini, dari piston sampai baling-baling, dari solar sampai kompas..."

"Kalau kamu suka dengan mesin, kalau kamu suka dengan kapal laut... tanyakan apapun kepada Om tentang bagaimana mekanisme gerak kapal laut ini... tanyakan apapun... Om dan seorang Nakhoda kedua Om yang ada di anjungan kemudi di atas, akan menjelaskan kepada kamu dengan senang hati..."

Lalu Sang Kapten Kapal dan seorang Nakhoda keduanya, Nakhoda Kedua yang masih muda, umur 30 tahun, yang dipanggil dari anjungan kemudi, akhirnya duduk bersama di meja restoran kapal yang bergoyang itu, menjelaskan kepada Arya Arsyad Sikumbang dengan senang hati, dengan bahasa yang lebih detail dari bahasa bengkel Uwo Ali.

Nakhoda Kedua itu mengambil tisu restoran kapal dan menggambar skema mesin diesel kapal, menggambar piston, menggambar kruk as, menggambar baling-baling, menggambar lambung kapal yang ada rongga udaranya, sambil menjelaskan hukum Archimedes, hukum apung, dengan bahasa sederhana untuk anak 12 tahun.

Arya mendengarkan dengan mata berbinar-binar, tidak berkedip sama sekali. Ia melupakan ayam goreng tepungnya, melupakan Fanta orange dan Coca-Cola dinginnya, melupakan truk kayu surian kecilnya. Ia hanya melihat gambar mesin diesel di tisu itu, gambar yang bergetar karena kapal bergoyang, goyang... goyang...

Andi Rajo Alam yang calon mahasiswa Hukum UI juga mendengarkan, tapi ia tidak terlalu paham, otaknya otak hukum, bukan otak mesin. Uwo Ali dan Etek Upik tersenyum bangga melihat Buyuang Arya mereka yang 12 tahun duduk bersama Kapten Kapal Bugis Makassar dan Nakhoda kapal, belajar mesin kapal laut di atas restoran kapal yang bergoyang di tengah Samudera Hindia yang gelap.

Hampir satu jam Kapten dan Nakhoda itu menjelaskan kepada Arya tentang mekanisme gerak kapal laut, tentang mesin, tentang kompas, tentang kemudi.

Di akhir pembicaraan, setelah semua penjelasan tentang mesin selesai, setelah tisu restoran penuh dengan gambar mesin diesel, Sang Kapten Kapal Laut Lepas, Kapten Haji Daeng Mattoa keturunan Bugis Makassar itu, menatap Arya Arsyad Sikumbang dalam-dalam, dengan mata seorang pelaut tua yang mencari penerus.

Ia bertanya dengan suara berat dan pelan, suara yang hampir tenggelam oleh suara mesin kapal dug... dug... dan suara ombak lautan lepas.

"Nak Arya... Arya Arsyad Sikumbang... umur 12 tahun dari Pande Sikek, Danem 42... setelah Om jelaskan semua mekanisme gerak kapal laut ini, dari mesin sampai baling-baling... Om ingin bertanya kepada kamu..."

"Apakah kamu tertarik untuk jadi seorang Nakhoda, Nak? Apakah kamu tertarik untuk jadi seorang Kapten Kapal Laut Lepas seperti Om, yang mengarungi samudera lautan lepas, yang memegang kemudi kapal besar ini, yang bertanggung jawab atas ratusan nyawa di atas kapal ini?"

Pertanyaan itu membuat satu meja restoran yang bergoyang itu hening. Uwo Ali, Etek Upik, Andi Rajo Alam, semua menatap Arya yang 12 tahun.

Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun, yang jam Seiko kebesarannya berdetak tik... tik... di tangannya yang kecil, yang truk kayu surian kecil pemberian Arlan masih di genggamannya, yang baru pertama kali melihat laut dan kapal laut besar seumur hidupnya, yang baru pertama kali belajar tentang piston dan baling-baling dan hukum Archimedes di atas tisu restoran kapal, terdiam.

Ia tersenyum, senyum polos, senyum anak kampung Pande Sikek yang masih malu-malu, senyum yang masih ada bekas kuah Gulai Kepala Ikan Kakap Merah di bibirnya.

Ia menatap Kapten Haji Daeng Mattoa keturunan Bugis Makassar itu, menatap Uwo Ali pengusaha karoseri Cakung yang ingin menjadikannya pewaris bengkel 30 karyawan, menatap Uda Andi calon sarjana Hukum UI Salemba, dan ia menjawab dengan suara pelan tapi jelas, dengan logat Minang Pande Sikek yang kental, di tengah restoran kapal yang bergoyang di atas Samudera Hindia yang gelap.

"Mungkin, Om... mungkin..."

Jawaban itu membuat Kapten Haji Daeng Mattoa tertawa terbahak-bahak, ha ha ha... tawa pelaut Bugis Makassar yang keras, tawa yang sampai terdengar sampai ke anjungan kemudi di atas.

Uwo Ali juga tertawa terbahak-bahak, tawa pengusaha Cakung.

Andi dan Etek Upik ikut tertawa.

Dan malam itu, di atas restoran kapal KM Tampomas yang bergoyang di tengah Samudera Hindia yang gelap, di bawah lampu neon yang terang benderang, di atas meja yang penuh dengan gambar mesin diesel di atas tisu, seorang anak 12 tahun dari Pande Sikek, Arya Arsyad Sikumbang, yang jam Seikonya kebesaran, telah mendapatkan dua tawaran masa depan dalam satu hari.

Siang tadi, di warung pinggir jalan lintas, ia ditawari jadi pewaris bengkel karoseri 30 karyawan di Cakung oleh Uwo Ali.

Malam ini, di restoran kapal laut lepas di tengah samudera, ia ditawari jadi Nakhoda, jadi Kapten Kapal Laut Lepas, oleh Kapten Haji Daeng Mattoa keturunan Bugis Makassar.

Dan ia hanya menjawab, "Mungkin, Om..."

Kapal KM Tampomas terus melaju, dug... dug... dug... mengarungi lautan lepas menuju Jakarta, menuju Tanjung Priok, menuju Cakung, menuju Salemba, membawa seorang calon sarjana Hukum UI, seorang calon pengusaha karoseri, seorang calon Nakhoda, dan seorang Uwo dan Etek yang masih mabuk laut, di dalam perutnya yang penuh dengan mesin diesel raksasa yang

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!