NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24.Benteng tinggi

Siang berganti menjadi sore dengan warna langit yang kelabu. Angin dingin kembali berhembus menembus celah jendela kamar di lantai dua kediaman Adikara yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Udara basah itu menyapu lembut kulit Aruna yang kian hari kian pucat pasi.

Di atas meja samping tempat tidur, mangkuk bubur yang disajikan Bi Asih tadi pagi telah dingin dan mengeras tanpa tersentuh sedikit pun. Begitu pula dengan segelas air dan beberapa butir obat dari dokter yang terbiarkan rapi di tempatnya.

Aruna masih duduk meringkuk di atas ranjang. Tangan kirinya mengusap pelan balutan perban tebal di tangan kanannya. Rasa nyeri dan denyutan hangat di bawah kulitnya seolah tak lagi terasa perih jika dibandingkan dengan beban berat yang menghimpit dadanya.

Setiap kali memejamkan mata, wajah Bagas yang dipenuhi kemarahan dan kecemasan di balik hujan deras kemarin sore terus membayangi pikirannya. Aruna merasa bagai pembawa sial. Karena keberadaannya, Bagas kini terancam, tempat kerjanya diawasi oleh orang-orang berbadan tegap, dan kehidupan orang-orang baik di sekitarnya menjadi kacau-balau.

"Kenapa aku harus hidup seperti ini...?" bisik Aruna pada keheningan kamar. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tenggelam bersama deru angin sore di luar sana.

Ia merasa terkurung di dalam penjara tak berjeruji. Kaivan Adikara telah menutup seluruh aksesnya menuju dunia luar, menyita ponselnya, memutus komunikasinya, dan memagarinya dengan puluhan ancaman hukum dan uang. Namun yang paling menyiksa bagi Aruna bukanlah dinginnya dinding-dinding kamar ini, melainkan tatapan mata Kaivan—tatapan yang selalu memandangnya bagai sebuah benda mati, sekadar barang jaminan bernilai tiga puluh miliar rupiah.

Ceklek.

Suara engsel pintu kamar berbunyi tegas. Langkah kaki beraturan yang mantap menghentakkan karpet tebal, memecahkan kesunyian ruangan.

Aruna tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma parfum maskulin beraroma woody dan dominasi dingin yang pekat langsung memenuhi udara kamar. Kaivan telah kembali dari kantornya lebih awal dari biasanya.

Pria itu berdiri kaku di samping tempat tidur. Jas mewahnya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga batas siku. Wajahnya yang tegas dan kaku bagai pahatan es tampak menegang, dengan sorot mata tajam yang langsung mengunci sosok Aruna yang begitu ringkih di balik selimut.

Matanya kemudian melirik ke arah meja samping tempat tidur. Mangkuk bubur yang utuh dan butiran obat yang tak tersentuh membuat rahang Kaivan makin menegang keras. Rasa jengkel, murka, dan kecemasan asing berbaur menjadi satu, membakar dadanya tanpa ampun.

"Kau benar-benar bertingkah seperti anak kecil yang sedang merajuk, Aruna," cetus Kaivan dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin.

"Sampai kapan kau mau menolak makan dan membiarkan dirimu membusuk di atas tempat tidurku?"

Aruna mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Gadis itu memilih untuk tetap membisu, membuang pandangannya ke arah jendela yang terbuka. Pengabaian itu terasa begitu mutlak, seolah sosok Kaivan yang berdiri tinggi angkuh di sampingnya hanyalah bayangan hampa.

Melihat reaksi Aruna, dada Kaivan serasa dihantam oleh amarah yang membara. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mengambil satu langkah lebih dekat hingga bayangannya menutupi tubuh Aruna sepenuhnya.

"Kau pikir dengan menyiksa dirimu sendiri seperti ini, kau bisa mengetuk hatiku?" lanjut Kaivan dengan nada mencela yang menajam.

"Atau kau sengaja melakukan ini agar laki-laki baristamu itu makin merasa iba padamu?"

Mendengar nama Bagas kembali terucap dari mulut Kaivan yang dingin, bahu Aruna mendadak bergetar tipis. Gadis itu memutar kepalanya kaku, menatap langsung ke arah mata Kaivan. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari membisu, Aruna membalas tatapan pria itu dengan sorot mata yang dipenuhi luka mendalam dan ketegangan yang tertahan.

"Jangan bawa-bawa nama Bagas lagi, Pak Kaivan..." desis Aruna pelan. Suaranya bergetar hebat.

"Dia tidak ada hubungannya dengan semua kekacauan ini. Saya yang ada di sini, saya yang menanggung semua utang keluarga saya... Tolong, jangan ganggu dia atau orang-orang di kafe itu."

Kaivan menyipitkan matanya tajam. Senyum sinis yang penuh kepahitan terukir di bibirnya.

Melihat bagaimana Aruna mendadak memiliki keberanian untuk bersuara hanya demi membela laki-laki lain justru makin membakar rasa cemburu dan gengsi angkuhnya yang setinggi langit.

"Kau memohon padaku demi dia?" tanya Kaivan dengan nada bersikap dingin yang menusuk.

"Kau tidak pernah sekalipun memohon untuk keselamatan dirimu sendiri, tapi kau memohon untuk seorang laki-laki yang bahkan tidak punya kekuatan apa pun untuk menyelamatkanmu dari rumah ini?"

"Karena Bagas orang baik!" seru Aruna, air mata hangat akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat.

"Dia tidak pernah memanfaatkan penderitaan saya! Dia tidak pernah memandang saya seperti barang dagangan atau jaminan utang! Tidak seperti Anda... tidak seperti keluarga saya sendiri!"

Kalimat Aruna terucap begitu jujur dan telanj*ng, menghantam ulu hati Kaivan bagai hantaman godam yang sangat berat. Pria angkuh itu membatu sejenak.

Kata-kata Aruna menyuarakan kenyataan pahit yang selama ini selalu ia tutupi di balik topeng kekuasaan dan uang: bahwa di mata Aruna, dirinya tak lebih dari sosok iblis yang memenjarakan hidupnya.

Rahang Kaivan menegang kencang hingga pembuluh darah di lehernya menonjol tipis. Pria itu menundukkan badannya sedikit, mencengkeram tiang kayu ranjang di dekat kepala Aruna dengan tangan kanannya hingga menimbulkan bunyi decitan pelan.

"Orang baik?" cetus Kaivan dengan suara rendah yang amat sangat menakutkan.

"Kau menyebutnya orang baik hanya karena dia memberimu sedikit rasa kasihan? Buka matamu, Aruna! Dunia tidak semerah itu! Jika bukan karena uang tiga puluh miliar milik keluargaku yang melunasi utang-utang ayahmu, kau dan keluarga rakusmu itu sudah membusuk di dalam penjara sejak bulan lalu!"

Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, mengizinkan derasnya air mata mengalir menelusuri garis wajahnya.

"Kalau begitu... kenapa Anda tidak biarkan saja saya membusuk di sana?" bisik Aruna lirih di antara isak tangisnya yang tertahan.

"Kenapa Anda harus membeli saya kalau cuma untuk menyiksa saya seperti ini...?"

Pertanyaan itu meluncur begitu polos dan penuh keputusasaan.

Kaivan bungkam. Mulutnya yang biasanya penuh dengan kata-kata tajam dan kaku mendadak terkunci rapat. Ia menatap wajah Aruna yang basah oleh air mata—wajah yang begitu hampa, hancur, dan kehilangan seluruh pendar kehidupannya.

Ada getaran hebat di dalam dada Kaivan. Rasa bersalah dan penyesalan yang teramat sangat yang selama ini selalu berusaha ia tekan dengan gengsi tinggi, mendadak menyeruak naik menyerang kesadarannya.

Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak bermaksud menyiksanya. Ia ingin berteriak bahwa rasa marahnya timbul karena ia tidak tahan melihat Aruna mengabaikannya dan hampir mengakhiri nyawanya sendiri di atas lantai marmer kemarin.

Namun, seluruh kata-kata itu tertahan rapat di balik dinding-dinding kesombongan dan gengsi yang telah terbangun kokoh di dalam jiwanya selama bertahun-tahun.

Kaivan perlahan menegakkan kembali tubuhnya yang tegap. Ia membuang pandangannya ke samping, menolak untuk menatap mata Aruna yang dipenuhi rasa benci dan luka.

"Kau adalah istri sahku secara hukum," kata Kaivan dingin, berusaha mengerasakan kembali nada suaranya yang sempat goyah.

"Suka atau tidak suka, tempatmu adalah di dalam rumah ini. Kau tidak akan pernah bisa pergi dari sisiku sampai aku sendiri yang memutuskan untuk melepaskanmu."

Kaivan berbalik kaku, melangkah menuju pintu kamar tanpa menunggu balasan lagi dari Aruna.

Namun tepat di depan ambang pintu, Kaivan menghentikan langkah kakinya sejenak. Tanpa membalikkan badan ke arah Aruna, ia berdehem pelan untuk menetralkan rasa tidak nyaman yang terus meremas dadanya.

"Mulai esok hari..." kata Kaivan kaku, suaranya terdengar datar namun kehilangan sebagian nada tajamnya yang biasa.

"...seorang psikiater dan dokter gizi pribadi akan datang ke rumah ini setiap sore untuk mendampingi pemulihanmu. Kalau kau tetap menolak makan, aku tidak akan sungkan-sungkan memindahkanmu ke rumah sakit di bawah pengawasan ketat dua puluh empat jam."

Selesai mengucapkan kalimat tersebut, Kaivan melangkah keluar dan menutup pintu kamar rapat-rapat—meninggalkan keheningan yang kembali mencengkeram ruangan itu.

Di balik pintu yang tertutup, Kaivan bersandar sejenak pada dinding koridor yang dingin. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan napasnya terengah berat. Jemari tangannya yang berada di samping tubuh meremas kain celana kerjanya dengan sangat erat.

Ia tahu, benteng pertahanan dan gengsinya yang tinggi telah membuat jurang pemisah di antara mereka makin dalam dan tak terjangkau. Namun di dalam kegelapan hatinya, satu hal kini makin terbukti dengan sangat jelas: ia telah terikat begitu dalam pada gadis itu, dan ketakutan terbesarnya saat ini adalah kehilangan sosok Aruna sepenuhnya dari dalam hidupnya.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!