NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25. Siapa??

Kinanti terdiam, nama itu terdengar asing di telinganya.

Ia mencoba mengingat kembali semua orang yang pernah dikenalnya, tetapi tidak ada satupun ingatan yang muncul tentang pria blasteran Indonesia-Jerman tersebut.

“Brian Chandrawinata...” ulang Kinanti pelan.

Brian mengangguk. “Iya. Masa kamu benar-benar lupa?”

Kinanti hanya menggeleng perlahan.

“Maaf, Brian. Saya benar-benar tidak ingat pernah bertemu dengan Anda.”

Senyum Brian perlahan memudar. Namun, sorot matanya masih menunjukkan keterkejutan sekaligus rasa tidak percaya.

Sementara itu, dari dalam mobil, Reva dan Amri mulai memperhatikan percakapan mereka.

Keduanya saling berpandangan.

Sepertinya, kecelakaan kecil di siang hari itu baru saja mempertemukan Kinanti dengan seseorang dari masa lalunya yang bahkan tidak lagi diingatnya.

Kinanti terdiam. Nama itu terdengar asing di telinganya.

Ia mencoba mengingat kembali semua orang yang pernah dikenalnya, tetapi tidak satu pun ingatan muncul tentang pria blasteran Indonesia-Jerman tersebut.

“Brian Chandrawinata...” ulang Kinanti pelan, seolah sedang memastikan nama itu benar-benar pernah tersimpan di dalam ingatannya.

Brian mengangguk.

“Iya. Masa kamu benar-benar lupa?”

Kinanti hanya menggeleng perlahan.

“Maaf, Brian. Saya benar-benar tidak ingat pernah bertemu dengan Anda.”

Senyum Brian perlahan memudar. Namun, sorot matanya masih menunjukkan keterkejutan sekaligus rasa tidak percaya. Sepertinya, ia sama sekali tidak menyangka Kinanti akan melupakannya.

Siang itu, matahari masih cukup terik. Jalanan yang sejak tadi ramai oleh kendaraan kembali dipenuhi suara klakson dan deru mesin.

Beberapa kendaraan yang melintas bahkan memperlambat laju mereka, seolah penasaran melihat dua orang yang berdiri di pinggir jalan setelah kecelakaan kecil yang sebenarnya tidak terlalu parah.

Sementara itu, dari dalam mobil, Reva dan Amri mulai memperhatikan percakapan mereka.

Keduanya saling berpandangan.

Sepertinya, kecelakaan kecil di siang hari itu bukannya membuat mereka sibuk memperbaiki mobil atau sekadar berdebat mengenai siapa yang bersalah, malah berubah menjadi ajang reuni.

Reva kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Amri dan berbisik di telinganya.

“Pak Brian Chandrawinata ini lebih ganteng, sih, daripada Pak Yudha, suami yang otewe jadi mantannya Mbak Kinanti.”

Amri mengangkat alis, lalu mengangguk pelan.

“Betul sekali. Bahkan kayaknya lebih tajir daripada Pak Yudha.”

Reva kembali melirik ke arah Kinanti dan Brian yang masih berdiri di dekat mobil. Senyum jahil mulai terlihat di wajahnya.

“Kalau menurut aku, sih, semoga saja ini calon selanjutnya, ya. Mereka sangat serasi. Lihat wajah mereka, kayak mirip.”

Amri hanya menghela napas kecil sambil menahan tawa.

“Jangan buru-buru menjodohkan, Bu Reva.”

“Kenapa? Aku cuma berpendapat,” balas Reva santai.

Di luar mobil, Kinanti akhirnya mengalihkan pandangan ke bagian kendaraan yang mengalami kerusakan akibat tabrakan kecil tersebut. Bagian bodinya terlihat sedikit penyok.

Kinanti menghembuskan napas pelan. Ia benar-benar merasa tidak enak karena kecerobohannya.

“Kalau begitu, karena mobilnya peyok gara-gara saya, saya perbaiki, ya. Nggak enak kalau rusak begitu,” ucap Kinanti.

Brian melirik bagian mobil yang penyok, kemudian pandangannya beralih ke arah Kinanti.

Ia terdiam sesaat sebelum kembali menatap Kinanti.

“Kayaknya kamu traktir aku makan siang sebagai gantinya.”

Kinanti mengernyit kecil.

Sementara dari dalam mobil, Reva dan Amri kembali saling berpandangan.

Keduanya sama-sama tahu, kecelakaan kecil di tengah siang yang terik itu mungkin baru saja membuka kembali sebuah cerita lama yang selama ini terkubur dalam ingatan Kinanti.

Beberapa jam kemudian…

Kinanti melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kedua matanya langsung membulat ketika menyadari waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

“Ya Allah…”

Seketika ia teringat sesuatu.

Kedua anak kembarnya.

Naufal Azhar dan Naura Azalia.

Kinanti menepuk pelan dahinya sendiri. Bagaimana bisa ia sampai lupa menjemput kedua anaknya?

“Astaghfirullahaladzim… Ya Allah, aku sampai melupakan anak-anakku,” lirihnya dengan wajah panik.

Tanpa membuang waktu, Kinanti segera meraih tas, ponsel, dan kunci mobil yang berada di atas meja kerjanya. Ia bahkan hampir saja meninggalkan beberapa berkas yang masih terbuka di meja.

Sebelum keluar dari ruangan, ia menghampiri Reva yang sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen.

“Reva, aku pulang lebih dulu, ya. Ada urusan penting yang harus aku kerjakan hari ini. Aku juga sudah janji sama anak-anak untuk mengantar mereka ke tempat les mengaji.”

Reva mengangkat wajahnya dan langsung tersenyum lebar.

“Siap, Bu Bos. Saya akan melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.”

Kinanti terkekeh kecil. Ia sudah hafal dengan tingkah sekretarisnya yang satu itu.

“Bagus. Jangan sampai aku pulang lebih cepat malah bikin kamu ikut santai.”

“Tenang saja, Bu. Saya profesional.”

“Profesional dari mana?” Kinanti menahan tawa. “Kalau akhir pekan, jangan kerja lembur terus. Sesekali liburanlah sama cowok kamu.”

Reva langsung memasang wajah malu-malu.

“Masalahnya saya belum punya pacar, Mbak.”

Kinanti mengangkat alis.

“Belum punya atau belum ada yang berani?”

Reva terkekeh.

“Kalau Mbak punya calon, boleh juga dikenalkan.”

Kinanti semakin tersenyum lebar mendengar jawaban itu. Ia tahu betul ucapan Reva barusan sebenarnya bukan sekadar candaan.

“Kamu ada-ada saja. Kalau Mbak yang carikan, nanti takutnya kamu nggak cocok.”

“Kalau adiknya Mbak juga nggak apa-apa,” jawab Reva spontan.

Namun setelah mengucapkannya, ia langsung menunduk sambil menyembunyikan senyum kecilnya.

Kinanti sama sekali tidak menyadari ada maksud lain di balik perkataan itu. Ia hanya menggeleng geli sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruangan.

Beberapa menit kemudian, mobil Kinanti sudah memasuki halaman sekolah.

Namun, begitu turun dari mobil, langkahnya langsung terhenti.

Halaman sekolah terlihat begitu sepi.

Tidak ada lagi anak-anak yang berlarian. Beberapa kendaraan orang tua juga sudah meninggalkan area sekolah.

Kinanti mengernyitkan kening.

“Anak-anak sudah pulang?”

Ia kembali melihat jam di tangannya.

Barulah ia tersadar.

“Pantas saja… sudah pukul satu siang.”

Kinanti mengembuskan napas lega sekaligus merasa bersalah.

“Ini hari Jumat. Berarti mereka memang pulang lebih cepat.”

Ia segera mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk.

Ternyata ada pesan dari kedua anaknya.

Mama, kami tunggu Mama di tempat les, ya.

Kinanti menghela napas panjang.

“Untung mereka langsung ke tempat les.”

Ia kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan, Kinanti sesekali bersenandung pelan mengikuti lantunan shalawat yang terputar dari audio mobil. Namun pikirannya tetap tertuju pada kedua anaknya.

Ada rasa bersalah karena sempat melupakan janji kepada mereka.

Begitu tiba di tempat les mengaji, Kinanti langsung disambut oleh seorang guru perempuan yang mengenakan hijab.

“Assalamu’alaikum, Bu Kinan. Apa kabarnya?”

“Wa’alaikumussalam, Bu Ustazah. Alhamdulillah, baik.”

“Anak-anak sudah selesai belajar. Sebentar lagi mereka keluar.”

Kinanti tersenyum lega.

“Alhamdulillah. Terima kasih sudah menunggu mereka.”

Keduanya sempat berbincang santai selama beberapa saat. Hingga suara langkah kaki kecil terdengar dari arah dalam.

Kinanti spontan menoleh.

Dua sosok kecil langsung berlari ke arahnya.

“Mama!”

“Naufal! Naura!”

Kedua anak berusia delapan tahun itu langsung berhamburan memeluknya.

Kinanti segera membuka kedua lengannya dan menerima pelukan mereka dengan penuh kasih sayang.

“Sayang… kesayangan Mama.”

Ia mengecup kening Naufal, lalu bergantian mengecup pipi Naura.

Tangannya bahkan masih mengusap kepala keduanya ketika senyum di wajah Kinanti perlahan berubah.

Tatapannya tiba-tiba tertuju ke arah pintu masuk. Seseorang baru saja datang. Sosok itu berdiri beberapa meter darinya.

Di tangannya terdapat sebuah buket bunga yang didominasi mawar putih, berpadu dengan beberapa mawar merah. Langkahnya terhenti sejenak seolah sedang mencari seseorang.

Kinanti membeku. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

Tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik sebelum kemudian berdegup jauh lebih cepat.

Tatapan Kinanti tidak mampu berpaling.

Buket bunga itu dan sosok itu.

Cara berdirinya, semuanya terasa begitu familiar. Terlalu familiar.

Kinanti menelan ludah dengan susah payah.

Tidak.

Mustahil.

Selama ini ia tidak pernah tahu bahwa lelaki itu mengetahui tempat anak-anaknya belajar mengaji. Bahkan ia sendiri tidak pernah sekalipun membicarakan tempat ini kepadanya.

Lantas, untuk apa dia datang ke sini?

Dan kenapa harus membawa bunga?

Jemari Kinanti yang semula mengusap rambut Naura perlahan berhenti.

Napasnya terasa berat. Ada begitu banyak pertanyaan yang mendadak memenuhi kepalanya, tetapi tidak satu pun mampu keluar menjadi kata-kata.

Ia hanya berdiri diam. Menatap seseorang yang sama sekali tidak pernah ia sangka akan muncul di tempat itu.

Seseorang dari masa lalu yang selama ini berusaha ia jauhkan dari kehidupannya.

Kinanti menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Namun, sekeras apa pun ia mencoba bersikap tenang, tatapan matanya tetap menunjukkan satu hal.

Ia benar-benar tidak menyangka lelaki itu akan datang.

Terlebih lagi, datang tepat ketika dirinya sedang bersama kedua anak mereka.

Kinanti memeluk Naufal dan Naura sedikit lebih erat.

Seolah-olah tanpa sadar ia sedang berusaha melindungi kedua anaknya dari sesuatu yang bahkan belum ia ketahui akan terjadi.

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!