Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dimas terdiam beberapa saat. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tidak lepas dari wajah Karin. Ia seperti sedang berusaha mencerna setiap ucapan istrinya. Perempuan yang dulu selalu mengalah, kini justru berbicara dengan tenang, tetapi setiap kalimatnya mampu menusuk harga dirinya.
"Kamu benar-benar berubah," ucap Dimas lirih.
Karin tersenyum tipis. "Akhirnya kamu menyadarinya."
Dimas mengembuskan napas kasar. "Aku tidak tahu apa yang dikatakan orang tuamu sampai membuatmu seperti ini."
Karin menggeleng pelan. "Jangan libatkan Ayah dan Ibu. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya mulai membuka mata."
Dimas terkekeh sinis. "Membuka mata? Maksudmu apa?"
Karin menatapnya tanpa gentar. "Selama ini aku terlalu sibuk menjadi istri yang baik sampai lupa menghargai diriku sendiri. Aku mengurus rumah ini, mengurus kebutuhanmu, merawat ibumu, bahkan membiarkan keluargaku terus membantu keluarga ini. Tapi apa yang aku dapat sebagai balasannya?"
Dimas membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Karin tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Kamu membawa perempuan lain masuk ke rumah ini, bahkan ingin menjadikannya istri. Setelah semua itu, menurutmu aku masih harus diam?"
Dimas mengusap wajahnya kasar. "Karin, aku sudah bilang berkali-kali. Aku tidak berniat meninggalkanmu."
"Justru itu yang lucu," sahut Karin sambil terkekeh pelan. "Kamu ingin mempertahankan aku karena aku masih berguna bagimu, sementara kamu ingin mempertahankan Vina karena kamu mencintainya. Lalu, sebenarnya aku ini berada di posisi apa?"
"Kamu tetap istriku," jawab Dimas cepat.
Karin tersenyum sinis. "Istri? Istri yang harus berbagi suami, menerima perempuan lain tinggal serumah, dan setiap hari melihat suaminya lebih mencintai wanita lain? Maaf, Dimas. Aku tidak sebodoh itu lagi."
Suasana kembali hening.
Dimas mengepalkan kedua tangannya. Ia mulai merasa kehilangan kendali atas Karin. Semua cara yang biasanya berhasil membuat istrinya luluh kini seolah tidak lagi mempan.
Di saat itulah terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.
"Mas Dimas..."
Vina muncul dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia berdiri beberapa meter dari mereka, seolah ragu untuk mendekat.
"Aku dengar kalian bertengkar. Maaf kalau aku mengganggu, tapi aku tidak ingin Nyonya Karin salah paham karena kehadiranku."
Tatapan Dimas langsung beralih kepada Vina.
"Kamu tidak usah ikut campur. Ini urusan aku dan Karin."
Vina menggigit bibir bawahnya, lalu menundukkan kepala. "Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja."
Karin terkekeh pelan sambil menatap Vina. "Lucu sekali. Kamu selalu muncul di waktu yang tepat. Setiap kali aku dan Dimas sedang berbicara, entah bagaimana kamu selalu tahu."
Vina mengangkat wajahnya dengan ekspresi bingung. "Maksud Nyonya apa?"
Karin melangkah perlahan mendekatinya. "Aku hanya penasaran. Ini memang kebetulan, atau memang ada seseorang yang rajin melaporkan setiap gerak-gerikku kepadamu?"
Wajah Vina sempat berubah sesaat, tetapi ia segera memasang ekspresi polosnya kembali.
"Nyonya, aku benar-benar tidak mengerti apa yang Nyonya maksud."
Karin hanya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Untuk saat ini, cukup aku yang mengerti."
Vina menundukkan kepalanya. Meski wajahnya masih memasang ekspresi bingung, telapak tangannya mulai berkeringat. Untuk pertama kalinya, ia merasa Karin tidak lagi mudah dibodohi.
Suasana di lorong lantai dua berubah tegang. Dimas melangkah maju hingga berdiri di antara Karin dan Vina.
"Sudah cukup, Karin. Jangan terus menuduh Vina tanpa bukti."
Karin mengalihkan pandangannya kepada Dimas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, tetapi sorot matanya sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Aku menuduh?"
"Iya."
"Aku hanya bertanya. Kalau pertanyaanku saja sudah membuat kalian segugup ini, berarti ada sesuatu yang memang kalian sembunyikan."
"Karin!" bentak Dimas. "Jangan membuat masalah yang tidak ada."
Karin tertawa pelan.
"Masalah yang tidak ada? Bukankah perempuan yang sedang berdiri di sampingmu itu adalah masalahnya?"
Vina buru-buru menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya.
"Nyonya, jangan salah paham. Aku benar-benar tidak pernah berniat merebut Mas Dimas."
"Benarkah?" tanya Karin datar.
"Iya."
"Kalau memang begitu, kenapa kamu masih tinggal di rumah ini?"
Pertanyaan itu membuat Vina terdiam.
Karin kembali melanjutkan, "Kamu bilang tidak ingin merusak rumah tanggaku, tapi setiap hari kamu tinggal serumah dengan suami orang. Menurutmu, itu tindakan seorang perempuan yang tahu malu?"
Wajah Vina langsung memucat.
"Aku... aku hanya mengikuti permintaan Bu Ratna."
"Kalau besok Bu Ratna menyuruhmu melompat ke jurang, apakah kamu juga akan melakukannya?"
Vina kehilangan kata-kata.
Dimas langsung memotong, "Sudah cukup! Vina tidak perlu menjawab pertanyaanmu."
Karin menoleh ke arah suaminya.
"Tentu saja dia tidak perlu menjawab. Karena setiap kali aku bertanya, kamu selalu menjadi orang pertama yang melindunginya."
Dimas menarik napas panjang sambil berusaha menahan emosinya.
"Aku melindunginya karena dia tidak bersalah."
Karin mengangguk pelan.
"Kalau begitu, aku juga akan mulai melindungi diriku sendiri."
Kalimat itu membuat Dimas mengernyit.
"Maksudmu?"
"Mulai hari ini, jangan berharap aku akan terus mengalah demi menjaga perasaan siapa pun."
Tatapan Karin beralih kepada Vina.
"Kalau kamu benar-benar merasa tidak ingin merusak rumah tanggaku, buktikan dengan tindakan."
Vina mengangkat wajahnya perlahan.
"Tindakan apa, Nyonya?"
"Kemasi barangmu... lalu keluar dari rumah ini."
Ucapan itu membuat lorong seketika sunyi. Vina membelalakkan mata. Air matanya langsung menggenang.
"Nyonya... bagaimana mungkin? Bu Ratna yang memintaku tinggal di sini."
"Kalau begitu, katakan pada Bu Ratna bahwa itu keputusanmu."
"Aku..." Vina menoleh panik ke arah Dimas, berharap pria itu kembali membelanya.
Benar saja. Dimas langsung merangkul pinggang Vina.
"Itu tidak akan terjadi." Nada suaranya tegas. "Selama aku masih berada di rumah ini, Vina tetap tinggal."
Karin tidak terlihat marah. Ia justru tersenyum tipis seolah sudah menduga jawaban itu sejak awal.
"Bagus."
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin memastikan satu hal."
Dimas mengernyit.
"Memastikan apa?"
Karin menatap mata suaminya tanpa berkedip.
"Memastikan bahwa di dalam rumah ini... kamu selalu memilih Vina dibandingkan istrimu sendiri."
Ucapan itu membuat Dimas terdiam. Ia ingin membantah. Namun, tidak satu pun kata berhasil keluar dari mulutnya.