Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3 - Empat Bintang
"Tuan Rumah... F4 datang."
Kalimat Sis baru selesai ketika pintu kelas yang setengah terbuka didorong dari luar.
Tidak ada yang menyuruh siswa Kelas F diam. Mereka memang sudah diam. Bahkan napas beberapa orang terdengar ditahan, seolah udara di ruangan itu mendadak menjadi milik empat orang yang baru muncul di ambang pintu.
Felicia tetap duduk di bangku belakang dekat jendela.
Bagus.
Target bergerak sendiri ke arahnya.
Orang pertama yang masuk adalah Nathan Salim.
Rambut pirangnya tidak terlihat murahan. Warna itu jatuh rapi di bawah cahaya pagi, cocok dengan mata emasnya yang tenang. Seragamnya sempurna, blazer tanpa kerut, dasi pada sudut tepat, pin Ketua OSIS berkilau kecil di dada kiri. Ia berjalan dengan cara orang yang terbiasa diberi jalan tanpa perlu meminta.
Beberapa siswi menunduk sambil pura-pura mencari buku.
"Wali kelas belum datang?" tanya Nathan pada ketua kelas dengan suara rendah.
Ketua kelas Kelas F langsung berdiri gugup. "Belum, Nathan. Mungkin masih di ruang guru."
Nathan mengangguk. Senyumnya sopan, hampir lembut. "Kalau begitu, kami tunggu sebentar."
Sopan. Terlatih. Berbahaya karena semua orang merasa aman di dekatnya.
Felicia menilai garis bahunya, ritme langkahnya, dan cara ia menahan pandangan agar tidak terlalu lama menempel pada siapa pun.
Tipe yang suka dikendalikan tanpa sadar, pikirnya.
Di belakang Nathan, seorang cowok dengan rambut ikal cokelat masuk sambil membawa sketchbook hitam di bawah lengan. Wajahnya lebih manis daripada Nathan, mata cokelat mudanya tampak hangat, tetapi senyum kecil di bibirnya memberi rasa tidak aman yang berbeda.
Calvin Tanuwijaya.
Begitu nama itu muncul di layar kecil Sis, serpihan ingatan tubuh ini ikut bergerak.
Rumah besar keluarga Tanuwijaya. Sebuah makan malam yang dingin. Anak laki-laki itu duduk di seberang meja, memiringkan kepala sambil menggambar sesuatu di sudut buku. Ia pernah memanggil pemilik tubuh ini dengan suara malas, "Ci," seolah panggilan itu lelucon dan rahasia sekaligus.
Hubungan mereka rumit.
Felicia tidak tertarik merapikannya sekarang.
Calvin berhenti sebentar di dekat pintu. Matanya menyapu kelas, tidak cepat, tidak lambat. Seperti pelukis memilih warna yang ingin disimpan.
Ketika pandangannya hampir sampai ke bangku belakang, Felicia mengangkat alis.
Calvin belum melihatnya. Ia sudah keburu ditabrak bahu oleh orang ketiga.
"Minggir dikit, Cal. Koridornya sempit banget," gerutu Jayden Hartono.
Jayden membawa panas masuk ke kelas.
Rambut hitamnya sedikit berantakan, tindik kecil di bibir bawahnya menangkap cahaya, dan lengan yang terlihat di balik seragam jelas milik orang yang lebih sering berada di lapangan daripada perpustakaan. Ia tidak berjalan. Ia menerobos, seperti energi di tubuhnya terlalu banyak untuk ditahan.
Beberapa siswa laki-laki otomatis menegakkan punggung.
"Ini Kelas F, bukan garasi lo," kata Calvin santai.
Jayden mendecih. "Garasi gue lebih luas dari kelas ini."
Ada tawa kecil yang langsung ditelan takut.
Felicia menyandarkan dagu di tangan.
Energi berlebihan. Perlu disalurkan.
Jayden menoleh seolah merasakan penilaian itu. Matanya tajam, liar, siap menantang siapa saja yang berani menatap terlalu lama. Saat pandangannya hampir bertemu Felicia, sosok terakhir masuk dan membuat seluruh kelas menegang dengan cara berbeda.
Sebastian Widjaja tidak perlu suara.
Ia tinggi, rapi, dan bersih dengan tingkat yang nyaris tidak manusiawi. Rambut hitamnya tertata tanpa sehelai pun keluar jalur. Mata biru gelapnya dingin, seperti kaca yang baru dicuci. Di tangan kanannya ada sapu tangan putih, bukan untuk gaya, tetapi untuk membuka pintu tanpa menyentuh gagangnya langsung.
Seorang siswa di baris depan buru-buru menarik siku dari meja yang mungkin akan dilewati Sebastian.
Sebastian meliriknya sekilas. "Terima kasih."
Dua kata. Datar. Tidak kasar, tetapi cukup membuat orang merasa sedang diuji.
Felicia tersenyum tipis.
Otak cerdas, hati tertutup.
Satu kelas, empat pusat gravitasi.
Nathan berdiri di dekat meja guru seperti pewaris yang sedang menunggu rapat dimulai. Calvin bersandar di kusen jendela depan sambil membuka sketchbook. Jayden duduk di tepi meja kosong tanpa peduli tatapan guru imajiner. Sebastian memilih berdiri, jaraknya tepat dari semua orang, seolah ia sudah menghitung area kontaminasi aman.
"Tuan Rumah," bisik Sis, suaranya gemetar sekaligus antusias. "Ini mereka. Empat target utama. Nathan Salim, Calvin Tanuwijaya, Jayden Hartono, Sebastian Widjaja."
Layar biru muncul di samping meja Felicia, hanya terlihat olehnya.
Empat bintang gelap kembali berbaris.
Nathan Salim: 0%.
Calvin Tanuwijaya: 0%.
Jayden Hartono: 0%.
Sebastian Widjaja: 0%.
Kosong semua.
Di bawah angka itu, Sis membuka empat kartu data kecil.
Nathan menguasai OSIS, koneksi guru, dan sebagian besar kegiatan resmi sekolah. Calvin punya akses ke keluarga Tanuwijaya dan lingkaran seni yang membuat banyak anak kaya ingin terlihat dekat dengannya. Jayden memegang dunia olahraga, balapan, dan kelompok siswa yang lebih suka menyelesaikan masalah dengan badan daripada aturan. Sebastian, meski jarang bicara, adalah nama pertama di papan peringkat akademik dan alasan Kelas Olimpiade nyaris tidak pernah dipertanyakan.
Empat jalur kekuasaan.
Administrasi. Keluarga. Fisik. Intelektual.
Dalam pangkalan lamanya, Felicia akan menaruh empat orang seperti ini di unit berbeda, bukan karena mereka bisa dipercaya, tetapi karena potensi mereka terlalu mahal untuk dibiarkan lepas.
"Peringatan kecil," tambah Sis. "Kalau salah satu dari mereka benar-benar membenci Tuan Rumah, akses hidup Tuan Rumah di akademi bisa jadi jauh lebih sulit."
"Mereka belum membenciku."
"Belum."
"Berarti masih banyak ruang."
Sis seperti takut Felicia kecewa. "Tidak apa-apa, Tuan Rumah. Semua misi besar mulai dari nol. Kita bisa pilih pendekatan paling aman dulu. Misalnya, berteman, cari kesamaan, bantu mereka saat ada masalah kecil..."
"Aman?"
"Iya. Pelan-pelan. Supaya mereka tidak curiga."
Felicia hampir tertawa.
Di dunia lamanya, ia tidak bertahan hidup dengan menjadi aman. Ia bertahan karena tahu kapan harus membiarkan musuh percaya mereka sedang memegang kendali, lalu mengambil seluruh papan permainannya.
Empat bintang kosong itu bukan masalah.
Itu undangan.
"Baiklah, Sis," gumam Felicia. "Ayo mulai."
Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat siswa di meja depan menoleh. Gerakan kecil itu menarik satu reaksi berantai. Jayden melirik. Sebastian mengangkat mata. Nathan berhenti berbicara dengan ketua kelas.
Dan Calvin akhirnya melihatnya.
Untuk sesaat, senyum malas di wajah Calvin tetap ada.
Lalu mata cokelat mudanya melebar.