4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Pak Kevin Kena Antre
"Lo jangan bilang ke gue kalau di rumah orang kaya itu bahkan susu hamil harus diperiksa pengawal."
Wajah Tiffany memenuhi layar ponsel Naomi dengan ekspresi seperti ingin menggigit seseorang. Di belakangnya, dapur toko kue kecil di Kota Megah tampak kacau: kotak pesanan bertumpuk, loyang brownies masih mengepul, dan seorang pegawai berlari sambil membawa pita kemasan.
Naomi duduk di dekat jendela kamar, bahunya disangga bantal. Darren sedang mandi setelah rapat keamanan panjang, jadi untuk beberapa menit ia bisa berbicara tanpa ada suami yang setiap dua kalimat bertanya apakah ia lelah.
"Untuk sementara," kata Naomi.
"Kata orang yang nyaris ditenggelamkan, diculik paman sendiri, terus masuk gedung tua pakai asap. Nao, standar sementara lo rusak."
Naomi tertawa pelan. "Kamu juga dramatis."
"Gue realistis. Kalau gue di sana, gue bakal tempel tulisan di dahi semua orang: dicurigai sampai terbukti tidak menyebalkan."
"Itu bukan prosedur keamanan."
"Itu prosedur Tiffany Lin."
Naomi menutup mulut menahan tawa. Suara Tiffany, kasar dan cerewet, terasa seperti pintu lama yang terbuka. Di Rumah Besar, semua orang berbicara dengan lapisan makna. Di depan Tiffany, Naomi tidak perlu menimbang setiap napas.
Tiffany tiba-tiba menyipit. "Eh, muka lo kok lembek? Ada apa? Darren ngapa-ngapain?"
"Aku baru dari tempat Natalia."
"Istri Ethan?"
"Iya. Bayinya menendang. Namanya Anneliese. Panggilannya Annie."
Ekspresi Tiffany melunak tanpa ia sadari. "Annie. Cantik juga."
"Natalia baik, Tiff."
"Orang baik di rumah itu harus dijaga dua kali lipat." Tiffany menaruh ponsel di atas rak, lalu mengikat kotak kue dengan gerakan cepat. "Lo jangan jadi pahlawan sendirian. Kalau dia butuh bantuan, minta suami lo gerak. Dia kan CEO, pengawal bertebaran, uangnya kayak air galon bocor."
"Perumpamaanmu selalu unik."
"Yang penting jelas."
Sebelum Naomi menjawab, bel toko kue berbunyi. Tiffany menoleh. Wajahnya langsung berubah.
"Astaga. Kenapa dosa masa lalu masuk toko gue?"
Naomi menegakkan ponsel. "Siapa?"
Suara laki-laki yang tenang terdengar dari belakang layar. "Selamat sore, Tiffany."
Naomi hampir tersenyum. "Kevin?"
Tiffany mengambil ponsel dengan cepat dan mengarahkannya ke Kevin Halim yang berdiri di depan etalase. Pria itu memakai kemeja biru tua, rambut rapi, dan wajah bersalah yang terlalu sopan untuk berada di antara aroma butter dan cokelat.
"Lihat, Nao. Orang ini muncul tanpa appointment."
Kevin menunduk sedikit ke kamera. "Naomi, maaf mengganggu. Saya hanya ingin membeli kue."
"Bohong," kata Tiffany.
Kevin berkedip. "Saya memang membeli kue."
"Orang kayak Anda kalau mau beli kue bisa suruh asisten. Kalau datang sendiri, pasti ada agenda."
Naomi menahan tawa. Kevin, yang pernah membuat hidupnya hancur empat tahun lalu, kini berdiri di toko kue sahabatnya seperti anak sekolah yang tertangkap membawa contekan.
"Aku tutup dulu?" tanya Naomi.
"Jangan." Tiffany menunjuk layar. "Lo jadi saksi. Kalau dia macam-macam, gue punya korban yang bisa cerita ke polisi."
Kevin menghela napas, tetapi tidak tersinggung. "Saya datang untuk meminta maaf lagi. Bukan pada Naomi saja. Pada kamu juga."
Tiffany diam setengah detik.
Hanya setengah detik, karena Tiffany bukan orang yang memberi lawan waktu panjang.
"Bagus. Maaf diterima sebagian, sisanya dicicil."
"Dicicil?"
"Iya. Empat tahun luka, masa maafnya satu kalimat? Tidak adil."
Kevin mengangguk serius. "Baik. Bagaimana cara mencicilnya?"
Naomi melihat Tiffany kehilangan ritme untuk pertama kalinya. Pipi sahabatnya memerah tipis, tetapi mulutnya tetap lebih cepat daripada rasa malunya.
"Pertama, jangan ganggu Nao dengan rasa bersalah Anda. Kalau mau nebus, bantu Darren cari siapa yang ganggu dia di sana."
"Saya sudah menghubungi beberapa kenalan lama keluarga Halim," jawab Kevin. "Ada jalur vendor keamanan lama yang pernah dipakai proyek keluarga Wijaya. Saya akan kirim detailnya ke Darren malam ini."
Naomi langsung serius. "Kevin, hati-hati."
"Saya tahu. Saya tidak akan bertindak sendiri."
Tiffany menyilangkan tangan. "Bagus. Kalau sampai Anda sok pahlawan terus hilang, gue nggak mau jadi pemeran sedih di cerita orang."
Kevin menatap Tiffany. Untuk pertama kalinya, keseriusan di wajahnya tidak terasa berat, melainkan hangat. "Saya tidak akan hilang."
Dapur toko tiba-tiba terlalu ramai dan terlalu hening sekaligus.
Naomi pura-pura batuk. "Tiff, pesananmu gosong?"
"Astaga!" Tiffany menoleh, lalu sadar loyang di meja aman-aman saja. Ia menatap layar dengan tajam. "Nao, lo mulai belajar licik dari suami lo."
"Aku belajar dari yang terbaik."
"Jangan bangga."
Kevin menahan senyum. "Kalau begitu, cicilan kedua apa?"
Tiffany menunjuk etalase. "Beli dua puluh kotak brownies. Bayar penuh. Jangan minta diskon konglomerat."
"Baik."
"Ketiga, antar sendiri ke panti asuhan sore ini. Anak-anak suka cokelat."
"Baik."
"Keempat..." Tiffany berhenti, lalu mengangkat dagu. "Kalau mau ngajak gue makan, antre dulu."
Naomi membelalakkan mata.
Kevin juga membeku. "Saya belum bertanya."
"Makanya gue kasih tahu sebelum Anda tanya. Antre panjang. Ada mixer rusak, pesanan buket kue, dan satu sahabat gue yang butuh laporan keamanan tiap malam."
Kevin menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Saya akan antre."
Tiffany memalingkan wajah, tetapi telinganya merah.
Naomi tertawa sampai bahunya sedikit nyeri. "Tiff, kamu manis."
"Gue galak."
"Galak yang manis."
"Tutup telepon sebelum gue kirim kue asin ke rumah lo."
Naomi masih tersenyum ketika panggilan hampir berakhir. Namun sebelum layar mati, seorang pegawai Tiffany berteriak dari belakang.
"Ci Tiff, ini ada story viral. Kayaknya orangnya keluarga Wijaya deh!"
Tiffany merebut ponsel pegawainya, melihat layar, lalu wajahnya berubah dari malu menjadi curiga.
"Nao," katanya pelan, "sepupu suami lo yang namanya Giselle itu rambutnya pendek sebahu, suka jaket kulit?"
Naomi langsung duduk tegak. "Kenapa?"
Tiffany mengirim screenshot.
Di foto itu, Giselle berdiri di sudut klub malam, memakai kacamata hitam di dalam ruangan, satu tangan memegang mic, dan caption besar tertulis: Putri Wijaya lepas kandang lagi.