NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Bukan Kakak

Setelah Yan dan Lily pergi, apartemen terasa terlalu tenang.

Yu berdiri di dekat meja makan, masih memikirkan kalimat Lily yang jatuh seperti gelas retak.

Bukan kakakku juga.

Zhen mencuci piring dengan gerakan rapi. Air mengalir pelan, spons bergerak dalam lingkaran kecil, seolah percakapan barusan bukan sesuatu yang aneh. Namun Yu sudah cukup mengenalnya untuk tahu, Zhen mendengar semua.

"Mereka selalu begitu?" tanya Yu.

"Lebih buruk kalau ada keluarga."

Yu menoleh. "Maksudnya?"

"Orang tua mereka suka bercanda soal kakak-adik. Yan biasanya tertawa. Lily biasanya marah. Lalu besoknya mereka tetap saling cari."

"Kamu terdengar seperti sudah menonton drama panjang."

"Aku korban episode berulang."

Yu hampir tertawa.

Zhen mematikan keran, lalu menaruh piring di rak. "Yan bodoh."

"Karena?"

"Karena orang yang paling berisik biasanya paling takut mengatakan hal penting."

Yu menatapnya. Kalimat itu terasa terlalu tepat untuk hanya membicarakan Yan.

"Kamu juga?"

Zhen mengambil tisu, mengeringkan tangan. "Aku tidak berisik."

"Bagian takutnya?"

Ia menatap Yu.

Udara di dapur mendadak berhenti setengah detik.

Yu menyesal. "Aku cuma bercanda."

"Jawaban sebelum ditanya," kata Zhen datar. "Buruk."

Yu kabur dengan alasan merapikan meja.

Sementara itu, di lift menuju basement, Lily menatap angka lantai turun satu per satu dan berharap Yan tidak bicara.

Tentu saja Yan bicara.

"Lo marah?"

"Nggak."

"Jawaban cepat."

Lily memejamkan mata. "Jangan ikut-ikutan mereka."

"Mereka siapa?"

"Yu dan roommate-nya yang sok detektor kebohongan."

Yan tertawa pelan. Suaranya memantul di dinding lift. "Gue serius, Lil. Tadi lo marah?"

Lily memegang strap tasnya. "Aku cuma nggak suka kamu datang mendadak."

"Tapi kalau gue kasih tahu dulu, lo pasti bilang jangan."

"Berarti kamu harus dengar."

"Kalau soal lo pulang malam, susah."

Pintu lift terbuka ke basement. Udara di bawah lebih dingin, berbau beton dan bensin. Yan berjalan di sisi luar seperti kebiasaan lama. Lily ingat, sejak mereka SMP, Yan selalu berjalan di sisi jalan yang lebih dekat kendaraan. Dulu ia pikir itu karena Yan suka pamer jadi pelindung. Sekarang ia tidak yakin.

Mereka masuk mobil.

Yan menyalakan mesin, tapi tidak langsung jalan. Ia mengambil satu botol air mineral dari cup holder dan memberikannya kepada Lily.

"Minum dulu. Tadi lo makan pedas."

"Aku bisa ambil sendiri."

"Gue sudah pegang."

Lily menatap botol itu, lalu mengambilnya. Jari mereka bersentuhan sebentar.

Tidak ada yang aneh, seharusnya.

Mereka sudah berkali-kali bersentuhan sejak kecil. Berebut angpao, dorong-dorongan di acara keluarga, tarik-tarikan payung waktu hujan. Tapi entah sejak kapan, sentuhan sekecil itu mulai terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan dari semua orang.

Yan menarik tangannya lebih dulu.

"Seat belt."

"Aku tahu."

"Pakai."

"Ko Yan."

Yan berhenti.

Lily juga.

Panggilan itu menggantung di antara mereka seperti aturan lama yang terlalu sempit. Yan menatap jalan di depan, bukan Lily.

"Kalau lo panggil begitu waktu marah," katanya pelan, "kedengarannya kayak hukuman."

Lily menggenggam botol air. "Memang kamu Ko Yan."

"Menurut siapa?"

"Semua orang."

"Lo?"

Pertanyaan itu terlalu langsung.

Lily membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang aman. Kalau ia bilang iya, ada sesuatu di dadanya yang berbohong. Kalau ia bilang tidak, jalan yang terbuka setelahnya terlalu menakutkan.

Akhirnya ia menoleh ke jendela. "Jalan. Aku mau pulang."

Yan tidak memaksa.

Mobil keluar dari basement.

Sepanjang jalan, Jakarta malam bergerak di luar kaca. Lampu toko, motor, hujan tipis yang mulai turun, orang-orang yang berteduh di depan minimarket. Yan menyetir dengan satu tangan di kemudi, tangan lain dekat tuas transmisi. Biasanya ia akan bercerita panjang, mengeluh tentang Zhen, atau menggoda Lily sampai ia marah.

Malam itu, ia diam.

Diamnya Yan ternyata lebih mengganggu daripada cerewetnya.

Lily akhirnya berkata, "Kenapa kamu kirim pesan terus?"

"Karena lo nggak jawab."

"Aku lagi sama Yu."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa masih?"

Yan menyalakan lampu sein. "Karena setiap kali lo nggak jawab, gue tetap mikir hal buruk."

"Aku bukan tanggung jawabmu."

"Gue tahu."

"Kamu selalu bilang tahu, tapi tetap begitu."

"Karena tahu tidak otomatis bikin gue bisa berhenti."

Lily menoleh.

Yan tetap menatap jalan. Rahangnya mengeras sedikit. Kalimat itu keluar begitu saja, dan setelah keluar, tidak bisa ditarik lagi.

Hujan mulai lebih deras. Wiper bergerak, menghapus air dari kaca depan, tapi jarak di antara mereka justru terasa makin buram.

"Yan," kata Lily pelan, kali ini tanpa Ko.

Tangan Yan di kemudi menegang.

Ia tertawa kecil, tapi tidak ada ringannya. "Nah. Kalau lo panggil begitu, gue lebih bahaya."

"Bahaya apa?"

"Bisa lupa harus jadi apa."

Mobil berhenti di lampu merah.

Lily menatap profil samping Yan. Laki-laki yang sejak kecil ia kenal sebagai kakak keluarga, teman berantem, orang yang selalu hadir di setiap Imlek dan ulang tahun, mendadak terasa seperti orang asing yang terlalu dekat.

Lampu berubah hijau.

Yan kembali menjalankan mobil.

Tidak ada pengakuan. Tidak ada kalimat jelas. Hanya satu celah kecil yang terbuka, cukup untuk membuat Lily takut melihat apa yang ada di baliknya.

Ketika sampai di apartemen Lily, Yan turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil. Lily keluar dengan cepat.

"Makasih," katanya.

"Sama-sama."

"Hati-hati pulang."

"Lo masuk dulu."

"Aku bisa sendiri."

"Gue tunggu sampai lo masuk lift."

Lily ingin marah, tapi lelah. Ia berjalan ke lobby. Di depan pintu kaca, ia menoleh.

Yan masih berdiri di dekat mobil, hujan tipis membasahi bahunya. Ia tidak memakai payung. Ia hanya menunggu sampai Lily benar-benar masuk.

Ponsel Lily bergetar ketika lift tertutup.

Ko Yan:

Maaf soal tadi.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Tapi gue memang nggak pernah merasa jadi kakak lo.

Lily menatap layar sampai angka lantai berubah.

Di apartemen Yu, pada saat yang sama, Yu menerima pesan dari Lily.

Yu.

Aku kayaknya dalam masalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!