NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 05

Maya pulang ke rumah dengan mobil Raka.

Mobil itu terlalu halus. Jok kulitnya terlalu lembut. Kaca gelapnya membuat jalanan Jakarta terlihat seperti dunia lain. Maya duduk tegak di kursi belakang, tas kain lusuhnya dipangku, sementara Raka duduk di sampingnya sambil membaca pesan di ponsel.

Di depan, asistennya, Bima, sesekali melirik kaca spion.

Maya merasa seperti noda di dalam mobil mahal.

“Berhenti di depan gang saja,” katanya ketika mobil mulai mendekati rumahnya.

Raka tidak mengangkat wajah. “Kenapa?”

“Jalannya sempit.”

“Mobil bisa masuk.”

“Tetangga akan melihat.”

Baru saat itu Raka menoleh.

“Kamu takut mereka melihatku?”

“Saya takut mereka melihat mobil ini, lalu besok seluruh gang membicarakan saya.”

“Mereka sudah membicarakanmu.”

Maya tidak bisa membantah.

Mobil tetap masuk sampai depan rumah. Seperti dugaan Maya, beberapa pintu langsung terbuka. Anak-anak berhenti bermain. Ibu-ibu yang tadi duduk di warung menoleh bersamaan.

Maya ingin menghilang.

Raka turun lebih dulu. Bima membukakan pintu untuk Maya, tapi Maya buru-buru keluar sendiri.

“Terima kasih sudah mengantar. Saya bisa masuk sendiri.”

Raka melihat rumah kecil itu.

Cat dindingnya mengelupas. Pagar besinya berkarat. Pot tanaman di depan pintu sebagian retak, tapi semuanya bersih. Ada kesederhanaan yang dirawat dengan keras kepala.

“Aku ikut masuk.”

“Tidak perlu.”

“Aku perlu melihat rumah yang sedang diperebutkan anakmu.”

Maya menghela napas. Ia terlalu lelah untuk berdebat.

Begitu pintu dibuka, udara pengap menyambut mereka. Maya menyalakan lampu. Ruang tamu kecil itu masih seperti kemarin, kecuali sobekan foto Pak Burhan sudah ia buang sebelum berangkat kerja.

Raka masuk tanpa komentar.

Tapi matanya bergerak cepat, memperhatikan kunci, jendela, lemari, sudut ruangan, seolah rumah itu laporan risiko.

“Sertifikatnya di mana?” tanya Bima dengan sopan.

Maya ragu.

Raka menangkap keraguan itu. “Kami tidak akan mengambilnya.”

Maya merasa malu karena terlihat curiga. Namun setelah apa yang dilakukan Dimas, curiga adalah satu-satunya sisa pertahanan yang ia punya.

Ia masuk kamar, membuka lemari tua, mengeluarkan kotak biskuit berisi dokumen. Sertifikat rumah, akta kematian suami, ijazah Dimas, foto lama, dan beberapa surat penting tersusun rapi dalam plastik.

Ketika ia menyerahkan sertifikat kepada Bima, tangannya tertahan sebentar.

“Ini satu-satunya peninggalan ibu saya.”

Bima menerima dengan dua tangan. “Saya hanya foto dan salin, Bu. Aslinya tetap di Ibu.”

Raka berdiri di dekat pintu kamar. Matanya sempat jatuh pada foto Maya muda di meja kecil. Dalam foto itu, Maya memakai kebaya sederhana, tersenyum malu di samping laki-laki muda. Dimas kecil duduk di pangkuannya.

“Suamimu?” tanya Raka.

Maya mengikuti pandangannya.

“Ya. Hendra.”

“Kapan meninggal?”

“Dua puluh lima tahun lalu.”

Raka menatap foto itu sebentar, lalu mengalihkan pandangan. “Kamu tidak menikah lagi setelah itu?”

“Dimas masih kecil. Saya tidak mau dia merasa punya ayah tiri yang mungkin tidak menyayanginya.”

Kalimat itu keluar tenang, tapi setelah selesai, Maya sendiri merasa ironis.

Ia menjaga perasaan anaknya selama separuh hidup.

Anaknya menjual perasaannya dalam satu sore.

Raka tidak berkomentar. Mungkin ia paham. Mungkin ia hanya tidak terbiasa menghibur orang.

Pintu depan tiba-tiba digedor.

“Bu! Buka!”

Suara Dimas.

Tubuh Maya menegang.

Raka menoleh ke Bima. Bima segera bergerak ke ruang tamu.

“Jangan,” kata Maya cepat. “Biar saya.”

Raka menatapnya.

“Kamu yakin?”

Maya mengangguk, meski lututnya tidak sepenuhnya setuju.

Ia membuka pintu.

Dimas berdiri di luar bersama Vina dan Bu Ratna. Ibu Vina itu memakai gamis mahal, tas bermerek, dan wajah penuh amarah. Di belakang mereka, ada dua pria yang Maya kenal sebagai orang suruhan keluarga Vina.

Begitu melihat Raka di dalam rumah, langkah Dimas tertahan.

Bu Ratna tidak.

“Oh, jadi benar.” Matanya menyapu Raka dari kepala sampai kaki, lalu kembali ke Maya. “Baru kemarin menolak Pak Burhan, sekarang sudah membawa laki-laki lain ke rumah. Pantas saja sok suci.”

Maya merasa wajahnya panas.

Dimas berbisik, “Ma, jangan.”

“Diam kamu!” Bu Ratna membentak. “Gara-gara ibumu, Pak Burhan membatalkan kerja sama. Keluarga kita dipermalukan.”

Raka melangkah ke samping Maya.

Bu Ratna baru benar-benar melihat wajahnya.

Kesombongannya goyah.

“Tuan Raka Wijaya?”

Raka tidak menjawab sapaan itu.

“Anda siapa?”

Bu Ratna tampak tersinggung. “Saya Ratna, ibu mertua Dimas. Keluarga kami rekan beberapa kontraktor Wijaya Group.”

“Kalau begitu Anda harusnya tahu apa akibatnya mengirim orang untuk memaksa pemilik rumah menyerahkan aset.”

Wajah Bu Ratna berubah. “Aset apa? Ini urusan keluarga.”

“Rumah ini atas nama Maya Lestari.”

“Dia ibu Dimas. Wajar kalau rumah ini nanti untuk anaknya.”

Maya menggenggam ujung jilbabnya. “Nanti bukan sekarang. Dan kalau sikap kalian begini, mungkin tidak pernah.”

Dimas menatapnya tidak percaya. “Ibu?”

Bu Ratna tertawa sinis. “Dengar sendiri? Ibumu sudah dipengaruhi laki-laki kaya. Dia mau mencoret kamu dari warisan.”

“Warisan?” Maya mengulang. “Aku masih hidup, Bu Ratna.”

“Tapi sudah tua.”

Raka menoleh tajam.

Bu Ratna menelan kata-katanya sesaat, namun kesombongannya kembali.

“Dimas, ambil dokumennya. Kita selesaikan hari ini. Rumah ini akan diagunkan untuk proyek. Kalau ibumu masih keras kepala, kita urus lewat notaris. Banyak cara.”

Dimas ragu.

Vina mendorong lengannya. “Mas, cepat. Papa sudah marah.”

Maya berdiri di depan pintu kamar.

“Tidak ada yang masuk.”

Bu Ratna memberi isyarat kepada dua orangnya.

Sebelum mereka bergerak, dua pengawal Raka muncul dari luar pagar. Mereka berdiri diam, tapi cukup membuat orang-orang Bu Ratna berhenti.

Gang langsung ramai bisik-bisik.

“Apa ini?” Bu Ratna meninggikan suara. “Mau menakut-nakuti kami?”

“Tidak,” jawab Raka. “Kalau saya ingin menakut-nakuti, polisi sudah berdiri di sini.”

Bima keluar membawa sertifikat yang sudah dimasukkan kembali ke plastik. Ia menyerahkannya kepada Maya.

“Dokumen sudah aman, Bu.”

Dimas melihat sertifikat itu.

Matanya berubah.

“Bu, berikan ke aku.”

“Tidak.”

“Aku anak Ibu.”

“Justru karena kamu anak Ibu, seharusnya kamu yang paling tidak tega memaksa.”

Dimas mengepalkan tangan. “Ibu mau menghancurkan masa depanku?”

Maya menatapnya dengan mata perih.

“Masa depanmu tidak boleh dibangun dari mayat harga diri ibumu.”

Vina mendecak. “Drama lagi.”

Maya menoleh kepadanya.

“Vina, kamu punya anak. Suatu hari kamu akan tahu bagaimana rasanya kalau anak yang kamu besarkan melihatmu hanya sebagai jalan pintas.”

Wajah Vina memerah.

Bu Ratna maju, menunjuk wajah Maya. “Jangan sok menasihati anak saya. Kamu itu dari dulu tidak punya kelas. Dimas masuk keluarga kami saja sudah kami terima baik-baik. Harusnya kamu tahu diri.”

“Cukup.”

Satu kata dari Raka membuat udara berubah.

Bu Ratna terdiam.

Raka mengeluarkan kartu nama dan memberikannya kepada Dimas, bukan kepada Bu Ratna.

“Mulai besok, semua komunikasi tentang rumah ini lewat firma hukum yang tertera di situ. Kalau ada orang dari keluarga kalian masuk tanpa izin, saya pastikan laporannya bukan sekadar perdata.”

Dimas melihat kartu itu seperti benda panas.

“Tuan Raka, saya tidak tahu hubungan Anda dengan ibu saya, tapi—”

“Dia sedang mengandung anak saya.”

Sunyi jatuh begitu keras sampai Maya merasa bisa mendengar napas tetangga.

Dimas membeku.

Vina membuka mulut.

Bu Ratna menatap Maya dari ujung kepala sampai kaki, lalu tertawa pendek.

“Perempuan lima puluh tahun hamil? Jangan bercanda.”

Maya memucat.

Raka melangkah maju setengah, tubuhnya menjadi pagar di depan Maya.

“Hati-hati dengan ucapan Anda.”

Bu Ratna tidak berani tertawa lagi, tapi mulutnya tetap tajam.

“Kalau benar, justru lebih memalukan. Belum jelas status, sudah hamil. Apa kata orang?”

Maya ingin menjawab, tapi Raka lebih dulu bicara.

“Statusnya akan jelas.”

Ia menoleh kepada Maya.

Di depan Dimas, Vina, Bu Ratna, para tetangga, dan seluruh gang yang menahan napas, Raka berkata tanpa ragu.

“Besok saya menikahi Maya.”

Jantung Maya seperti berhenti.

Dimas tampak seperti ditampar.

“Menikah?”

Raka menatapnya dingin.

“Ya. Jadi mulai sekarang, pikirkan baik-baik sebelum menyentuh rumah, nama, atau hidup ibumu. Karena setelah dia menjadi istri saya, urusannya juga menjadi urusan saya.”

Bu Ratna menarik Vina mundur. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak lagi penuh kuasa.

Dimas masih berdiri di sana, menatap Maya dengan campuran marah, bingung, dan sesuatu yang mirip takut.

“Ibu benar-benar akan menikah dengan dia?”

Maya memandang anaknya.

Ia belum memberi jawaban kepada Raka. Ia belum siap. Ia belum tahu bagaimana hidup sebagai istri pria sekaya dan sedingin itu.

Tapi ia tahu satu hal.

Jika ia tetap berdiri sendirian, Dimas akan terus kembali membawa alasan baru untuk menghabisinya pelan-pelan.

Maya memegang sertifikat rumahnya lebih erat.

Lalu ia berkata, suaranya pelan tapi jelas.

“Ya.”

Dimas mundur satu langkah.

Maya menutup pintu sebelum air matanya jatuh.

Di dalam rumah, ia berdiri dengan napas gemetar. Raka masih di sampingnya.

“Kamu menjawab terlalu cepat,” katanya.

Maya menoleh, bingung.

“Bukankah Anda yang mengatakannya dulu?”

“Aku memberimu pilihan.”

Maya tertawa kecil. Kali ini benar-benar pahit.

“Tuan Raka, selama dua hari terakhir semua orang mengambil pilihan dari saya. Kalau kali ini saya memilih berlindung, tolong jangan buat saya merasa bersalah.”

Raka menatapnya lama.

Nada suaranya lebih rendah ketika menjawab.

“Baik. Kalau begitu, mulai besok, kamu tidak berlindung di belakangku.”

Maya mengerutkan kening.

Raka berkata, “Kamu berdiri di sampingku.”

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!