NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Resmi Bersama Diam-Diam

Tiga hari setelah malam itu, Wenny akhirnya mengerti bahwa merahasiakan kebahagiaan jauh lebih sulit daripada merahasiakan luka.

Di depan kamera, ia dan REYN masih duduk dengan jarak aman. Masih berbicara secukupnya. Masih membiarkan Koko menggoda mereka tanpa memberikan jawaban yang bisa dipotong menjadi headline.

Tetapi semua hal kecil menjadi berbeda.

Saat kru meminta mereka berdiri berjajar, REYN tidak lagi hanya menjaga jarak profesional. Ia memastikan Wenny berdiri di sisi yang tidak terkena angin paling dingin. Saat snack disajikan, ia tidak perlu melihat label terlalu lama karena tangan REYN sudah lebih dulu memindahkan piring gluten free ke dekatnya. Saat Wenny hampir tersandung kabel kamera, jari REYN menyentuh punggung tangannya sepersekian detik sebelum menarik diri.

Tidak ada yang bisa disebut bukti.

Namun bagi Wenny, setiap sentuhan singkat itu seperti kalimat yang hanya mereka berdua bisa baca.

Aku di sini.

Aku tahu.

Aku tidak pergi.

Malam itu, setelah jadwal rekaman selesai, Wenny menerima pesan pendek dari REYN.

`Ruang piano. Kalau belum tidur.`

Wenny menatap layar selama beberapa detik sebelum tersenyum.

Sejak mereka saling menemukan, REYN tidak lagi menulis pesan yang terlalu panjang. Justru karena itu, setiap kalimat pendeknya terasa lebih jujur. Wenny mengambil cardigan tipis, memastikan koridor sepi, lalu berjalan menuju ruang piano kecil di sisi belakang villa.

Ruang itu tidak dipakai untuk rekaman utama. Hanya ada piano elektrik, beberapa kursi lipat, stand mic, dan jendela besar yang menghadap taman gelap. Lampunya redup. REYN duduk di bangku piano, tetapi belum memainkan apa pun.

Ketika Wenny masuk, ia langsung berdiri.

Wenny menutup pintu pelan. "Kalau kamu memanggilku ke sini cuma untuk memastikan aku pakai sandal, aku sudah pakai."

REYN menunduk melihat kakinya.

Benar, Wenny memakai sandal kamar.

Senyum kecil muncul di bibirnya. "Kemajuan."

"Aku bisa belajar."

"Aku juga."

Wenny memiringkan kepala. "Belajar apa?"

REYN menatapnya sebentar, lalu berkata, "Belajar meminta sesuatu tanpa menyembunyikannya di lagu."

Kalimat itu membuat suasana langsung berubah lembut.

Wenny tidak bercanda lagi. Ia berjalan mendekat, berhenti di depan piano.

"Minta apa?"

REYN mengusap ujung tuts dengan ibu jarinya. Untuk seseorang yang bisa berdiri di panggung raksasa tanpa gemetar, malam itu ia terlihat hampir canggung. Bukan karena takut kamera. Tidak ada kamera di sini. Justru karena yang ia minta kali ini tidak bisa disamarkan sebagai bagian dari acara.

"Kita sudah saling menemukan," katanya pelan. "Tapi dunia belum tahu. Program belum selesai. Ada banyak hal tentang keluargamu, pekerjaanku, masa laluku, yang belum aman dibuka."

Wenny mengangguk.

Ia sudah memikirkan itu.

Mereka bukan dua orang biasa yang bisa saling menggenggam tangan di kafe tanpa orang memotret. Satu tatapan mereka saja bisa menjadi trending. Satu langkah salah bisa menyeret nama keluarga Wenny, masa lalu REYN, dan kontrak program yang masih berjalan.

"Aku tidak mau menyembunyikanmu karena malu," lanjut REYN cepat, seolah takut Wenny salah paham. "Aku hanya ingin melindungi waktunya."

Wenny merasakan dadanya hangat.

"Aku tahu."

REYN menatapnya. "Kamu tidak keberatan?"

"Aku keberatan kalau kamu menjauh lagi."

"Tidak."

"Kalau begitu, aku bisa menunggu."

REYN berdiri sepenuhnya. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Ia tidak menyentuh Wenny dulu, tetapi matanya bertanya.

Wenny mengulurkan tangan.

REYN menggenggamnya seperti orang menerima jawaban.

"Jadi," Wenny berkata, mencoba membuat suaranya ringan meski pipinya mulai panas, "ini pembicaraan resmi?"

"Sangat resmi."

"Dengan notaris?"

"Dengan piano sebagai saksi."

Wenny tertawa pelan.

Tawa itu membuat wajah REYN melembut. Ia menatap Wenny dengan cara yang masih membuat Wenny harus menahan napas, seolah semua tahun yang ia lalui akhirnya berhenti di depan perempuan yang berdiri memakai cardigan dan sandal kamar.

"Wenny Santoso," katanya.

"Formal sekali."

"Aku sedang serius."

Wenny langsung diam, tetapi sudut bibirnya tetap naik.

REYN menarik napas.

"Maukah kamu bersamaku, diam-diam dulu, sampai kita siap berdiri di depan semua orang?"

Untuk beberapa detik, Wenny hanya menatapnya.

Pertanyaan itu tidak membawa bunga, tidak ada cincin, tidak ada musik dramatis. Hanya ruang piano kecil, malam Bandung, dan tangan REYN yang menggenggamnya dengan hangat.

Tetapi justru karena sederhana, Wenny merasa jawabannya turun dari tempat paling jujur di dalam dirinya.

"Mau."

REYN tidak langsung bereaksi.

Seolah kata itu terlalu besar untuk diterima dalam satu kali dengar.

Wenny menggoyang tangannya. "Kamu dengar?"

"Dengar."

"Aku bilang mau."

REYN menunduk, lalu tertawa pelan. Bukan tawa dingin. Bukan tawa pendek untuk menutup malu. Tawa itu keluar ringan, hampir tidak percaya, dan membuat Wenny ingin menangis lagi karena bahagia.

Ia mengangkat tangan Wenny ke bibirnya.

Ciumannya jatuh di punggung tangan, singkat dan sangat hati-hati.

"Pacarku," katanya lirih, seperti mencoba kata yang baru.

Wenny menahan senyum. "Rahasia dulu."

"Rahasia dulu."

"Jangan terlihat terlalu senang besok di depan kamera."

REYN menatapnya.

"Itu sulit."

Kali ini Wenny yang tertawa.

"Kita tetap profesional," kata Wenny kemudian, lebih pelan. "Tidak membuat kru repot. Tidak memberi celah untuk orang yang ingin menyerang."

REYN memahami siapa yang mungkin ia maksud tanpa perlu nama.

"Kalau ada yang terlalu dekat denganmu di depan kamera?"

"Kamu boleh cemburu," jawab Wenny.

Alis REYN terangkat.

"Diam-diam," tambah Wenny cepat.

"Itu juga sulit."

Mereka berdiri beberapa saat dalam diam yang manis. Lalu REYN duduk kembali di depan piano. Jari-jarinya menyentuh tuts, tetapi belum menekan.

"Ada melodi yang muncul sejak malam itu," katanya.

"Malam yang mana?"

REYN menoleh.

Wenny tahu jawabannya bahkan sebelum ia bicara.

Malam saat ia membuka pintu.

Malam saat nama Rahmat pulang.

"Boleh aku dengar?"

REYN mengangguk.

Wenny duduk di kursi dekat pintu, tidak terlalu dekat agar ia bisa melihat wajah REYN dari samping. REYN menekan satu tuts. Nada pertama terdengar pelan, hampir ragu, lalu diikuti dua nada lain yang lebih hangat. Melodinya belum lengkap, tetapi sudah punya arah, seperti seseorang berjalan dalam kabut dan akhirnya melihat cahaya rumah.

REYN berhenti sejenak, mengambil buku catatan kecil di atas piano, lalu menulis beberapa kata.

Wenny berdiri untuk mengambil botol air di rak dekat pintu. Saat itu, REYN mulai bernyanyi sangat pelan, lebih seperti mencoba napas daripada tampil.

"Takdir bisa dicari tapi tak bisa dipaksa..."

Wenny berhenti.

REYN memainkan satu akor lagi.

"Pertemuan kitalah takdir terbaik..."

Senyum Wenny naik tanpa bisa ditahan.

Ia berdiri di dekat pintu, memeluk botol air ke dada, mendengarkan pria yang baru saja menjadi kekasih rahasianya menulis lagu pertama setelah mereka saling menemukan.

Di balik lorong yang lebih gelap, tidak jauh dari ruang piano, Rosa berdiri diam.

Matanya mengikuti senyum Wenny.

Lalu berpindah ke REYN yang masih menunduk di depan tuts piano.

Tidak ada suara dari sudut itu.

Hanya tatapan yang pelan-pelan berubah dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!