NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Duduk di Sini

Naomi tahu ada yang tidak beres sejak langkah kaki itu berhenti terlalu lama di depan pintu kamarnya.

Lorong kos Tebet biasanya berisik. Ada suara rice cooker, ember diseret ke kamar mandi, televisi dari kamar sebelah, dan penghuni lain yang pulang shift malam. Namun malam itu, setelah hujan gerimis turun sejak magrib, lorong menjadi terlalu sepi.

Naomi sedang menyelesaikan terjemahan Jerman ketika bayangan seseorang lewat di bawah celah pintu.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berhenti.

Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

"Belum tidur, Na?"

Naomi tidak membalas.

Beberapa detik kemudian, pintu diketuk pelan.

"Naomi. Ini aku. Anak Ibu kos."

Naomi menahan napas.

Ia memang pernah bertemu laki-laki itu beberapa kali di dapur bersama. Usianya mungkin akhir dua puluhan, selalu tersenyum terlalu lama, sering bertanya jam pulang Naomi dengan alasan menjaga keamanan kos. Awalnya Naomi hanya menganggapnya orang yang tidak peka batas.

Malam ini, ketidaksopanan itu terasa berubah menjadi sesuatu yang membuat kulitnya dingin.

"Naomi, buka sebentar. Ibu minta aku cek listrik kamar."

Naomi menatap sakelar lampu yang masih menyala.

Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar, membuka chat Ayu.

"Yu, kamu di kamar?"

Balasan datang cepat.

"Kenapa?"

Ketukan terdengar lagi, lebih keras.

"Sebentar saja."

Naomi mengetik, "Anak Ibu kos di depan pintu. Aku takut."

Tidak sampai satu menit, suara langkah cepat terdengar dari tangga. Lalu suara Ayu meledak di lorong.

"Ngapain malam-malam di depan kamar cewek?"

Laki-laki itu tertawa canggung. "Loh, aku cuma cek listrik."

"Listrik apa? Kamu teknisi PLN?"

"Ini kos keluarga gue."

"Terus? Keluarga kamu punya kos, bukan punya penghuni."

Naomi berdiri di balik pintu dengan tangan menutup mulut. Jantungnya memukul terlalu keras. Ia mendengar suara pintu kamar lain terbuka satu per satu.

Laki-laki itu menurunkan suara. "Jangan bikin ribut."

"Yang bikin ribut kamu. Pergi."

Beberapa detik hening. Lalu langkah kaki menjauh dengan kasar.

Naomi membuka pintu sedikit. Ayu berdiri di depan, memakai kaus tidur dan celana pendek, rambutnya diikat asal, wajahnya marah sekali.

"Kamu nggak apa-apa?"

Naomi menggeleng, tapi matanya panas.

Ayu langsung masuk ke kamar, menutup pintu, lalu memeriksa kunci. "Mulai malam ini kamu tidur di kamarku."

"Tidak perlu."

"Nao."

Naomi diam.

Ayu menatapnya lebih lembut. "Aku serius. Orang kayak gitu kalau sekali berani, besok bisa lebih berani."

Kalimat itu membuat Naomi akhirnya duduk di lantai.

Ia tidak menangis. Mungkin karena tubuhnya terlalu sibuk gemetar.

Ponselnya kembali bergetar.

Kelvin.

"Besok datang jam berapa ke rumah?"

Naomi menatap pesan itu. Ia tidak ingin membuat masalahnya menjadi masalah orang lain. Tapi jari-jarinya masih gemetar, dan layar ponsel menjadi buram.

Ayu melihat nama di layar. "Balas. Bilang kamu ada masalah."

"Tidak."

"Kalau dia pacarmu, palsu atau asli, minimal bisa dipakai untuk fungsi darurat."

Naomi hampir tertawa, tapi suaranya pecah.

Ia mengetik:

"Mungkin besok saya tidak bisa datang. Ada masalah di kos."

Balasan Kelvin datang tidak sampai lima detik.

"Masalah apa?"

Naomi tidak menjawab.

Telepon masuk.

Kelvin.

Ayu langsung menekan tombol terima dan menaruh ponsel di tangan Naomi. "Bicara."

Naomi menempelkan ponsel ke telinga. "Halo."

"Kamu di mana?"

"Kos."

"Masalah apa?"

Naomi menutup mata. "Tidak apa-apa. Sudah selesai."

"Naomi."

Satu kata itu membuat pertahanannya retak sedikit.

"Anak Ibu kos mengetuk pintu kamar saya malam-malam," katanya pelan. "Ayu sudah bantu. Saya baik-baik saja."

Di seberang sana, Kelvin tidak langsung menjawab.

Sunyi itu lebih menakutkan daripada marah.

"Kunci pintu. Jangan keluar. Aku ke sana."

"Tidak perlu. Ini sudah malam."

"Kunci pintu."

Telepon terputus.

Naomi menatap layar.

Ayu bersiul pelan. "Pacar palsu kamu cepat juga."

Naomi tidak bisa menjawab.

Empat puluh menit kemudian, lorong kos yang biasanya hanya didatangi ojek online dan kurir paket mendadak dipenuhi dua laki-laki berbaju hitam dan Kelvin Hartono.

Ibu kos keluar dengan wajah panik.

"Ada apa ini?"

Kelvin berdiri di lorong sempit itu dengan kemeja gelap dan wajah tanpa ekspresi. Kehadirannya membuat dinding kusam, jemuran, dan sandal-sandal di depan kamar terasa semakin menyedihkan.

"Naomi pindah malam ini," katanya.

Ibu kos terkejut. "Loh, tidak bisa begitu. Ada aturan kos. Deposit..."

Kelvin menoleh pada salah satu orangnya. "Urus."

Laki-laki itu maju dengan map dan suara formal. "Kami akan menyelesaikan administrasi dan meminta salinan CCTV koridor malam ini."

Wajah Ibu kos berubah.

Ayu berdiri di belakang Naomi, berbisik, "Aku suka bagian CCTV."

Naomi menggenggam tali tas. "Kelvin, saya belum bilang mau pindah."

Kelvin menatapnya. "Kamu mau tetap di sini?"

Naomi melihat lorong, pintu kamar, celah bawah pintu yang tadi dilewati bayangan. Perutnya kembali dingin.

Ia tidak mau.

Tapi menerima bantuan sebesar itu terasa seperti menandatangani utang yang tidak tahu kapan bisa dibayar.

"Saya tidak punya tempat," ucapnya akhirnya.

"Punya."

"Di mana?"

"Apartemenku."

Naomi langsung mengangkat kepala. "Tidak."

"Ada kamar kosong."

"Tetap tidak."

"Selama kontrak, kalau pacarku diganggu di kos, itu jadi masalahku."

"Jangan pakai kontrak untuk semua hal."

"Kalau begitu pakai logika. Kamu butuh tempat aman malam ini. Aku punya tempat aman. Selesai."

Naomi ingin membantah, tapi Ayu memegang bahunya.

"Nao," kata Ayu pelan, "keamanan dulu. Harga diri bisa kamu rawat besok pagi."

Kalimat itu membuat mata Naomi panas.

Malam itu, ia mengemas hidupnya dalam dua koper dan satu tote bag. Buku Jerman, pakaian, laptop, dokumen beasiswa, gantungan kunci murah, semuanya masuk tanpa urutan. Ayu membantu memasukkan kabel charger. Sinta datang setengah jam kemudian dengan wajah panik setelah membaca pesan Ayu, lalu langsung memeluk Naomi.

"Kamu harus cerita kalau ada apa-apa," kata Sinta.

"Aku tahu."

"Tidak, kamu tidak tahu. Kamu suka diam."

Naomi tidak bisa membantah.

Kelvin menunggu di depan pintu, tidak masuk ke kamar. Ia hanya berdiri di lorong, membuat laki-laki anak Ibu kos yang sempat muncul di ujung tangga langsung menghilang lagi.

***

Apartemen Kelvin di Sudirman terasa terlalu besar untuk disebut tempat tinggal satu orang.

Lift pribadi langsung membuka ke ruang tamu luas dengan jendela kaca menghadap lampu kota. Sofa abu-abu, rak buku rendah, meja bersih, dapur terbuka yang bahkan peralatannya tampak lebih mahal daripada seluruh isi kos Naomi.

Naomi berdiri di dekat pintu, memegang tote bag seperti jangkar.

Felix berlari dari arah ruang tengah.

"Felix?"

Doberman itu langsung menabrak pelan kaki Naomi, mengendus koper, lalu menggonggong senang.

Kelvin menutup pintu di belakang mereka. "Dia bilang, Mommy di rumah."

Naomi menatap Felix yang berputar-putar mengelilinginya. Untuk pertama kalinya sejak ketukan di pintu kos, dadanya terasa sedikit longgar.

"Kamar kamu di sana," kata Kelvin sambil menunjuk pintu di sisi kiri. "Kamar mandi dalam. Kunci ada. Aku di kamar ujung sana."

Naomi menatapnya. "Saya akan cari tempat lain secepatnya."

"Terserah."

Kata itu membuat Naomi menoleh.

Kelvin tampak sadar, lalu menambahkan, "Tapi malam ini, duduk dulu."

Ia berjalan ke sofa, menepuk sisi kosong di sebelahnya.

"Duduk di sini."

Naomi berdiri beberapa detik, lalu duduk di ujung sofa, menjaga jarak. Felix langsung naik separuh badan ke pangkuannya, seolah jarak itu tidak berlaku untuk anjing.

Kelvin mengambil air mineral dari meja dan meletakkannya di depan Naomi.

"Minum."

Naomi memegang botol itu dengan dua tangan. "Terima kasih."

"Besok kita urus barang lain."

"Tidak perlu. Semua sudah di koper."

Kelvin melihat dua koper kecil di dekat pintu. Matanya bergerak pelan, tapi ia tidak berkata apa-apa.

Beberapa jam kemudian, setelah Sinta dan Ayu memastikan lewat chat bahwa Naomi masih hidup, setelah Felix akhirnya tertidur di karpet, Naomi duduk di meja ruang tamu dengan laptop terbuka. Ia mencoba menyelesaikan terjemahan yang tadi terputus oleh ketukan pintu.

Kelvin berdiri di dapur, mengambil air.

Ia menatap punggung Naomi yang membungkuk serius di depan laptop, rambutnya diikat asal, koper kecilnya masih berdiri di dekat sofa, Felix tidur di dekat kakinya.

Untuk sesaat, wajah Kelvin melunak.

Naomi tidak melihat.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!